Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bau Kematian dan Pria Menyebalkan
"Lalu aku harus bagaimana, Pak? Pasrah menunggu sampai dia datang lagi dan menggorok leherku?" suara Cala meninggi. Panik dan marah bercampur aduk di dadanya.
Komandan polisi itu berdiri dari kursinya. "Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Ikut aku sekarang. Kita pindah ke lantai bawah tanah. Ruangan ini tidak cukup aman untukmu."
Cala setengah berlari mengikuti langkah lebar komandan keluar dari ruang interogasi. Mereka masuk ke sebuah lift khusus di ujung lorong markas. Komandan menempelkan kartu akses dan menekan tombol paling bawah. Lift bergerak turun dengan cepat tanpa suara.
Pintu lift terbuka. Udara dingin langsung menusuk pori-pori kulit Cala. Lorong ini sangat berbeda dengan lantai atas yang penuh anggota polisi berlalu-lalang. Dindingnya serba putih bersih, lampunya terlalu terang menyilaukan mata, dan bau cairan pembersih lantai bercampur disinfektan tajam langsung menyerbu hidungnya.
"Ini area apa, Pak? Kenapa baunya seperti kamar mayat?" Cala menggosok-gosok kedua lengannya yang merinding kedinginan.
"Ini laboratorium forensik rahasia kepolisian. Hanya menangani kasus tingkat tinggi." Komandan mendorong pintu kaca geser otomatis di depan mereka.
Ruangan di balik pintu itu penuh dengan meja baja tahan karat, tabung-tabung kaca, dan layar monitor yang menampilkan grafik rumit. Di sudut ruangan, membelakangi pintu masuk, seorang pria berjas putih sedang menunduk fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop.
Langkah kaki Cala yang beradu dengan lantai keramik memecah keheningan ruangan steril itu.
Pria di depan mikroskop itu sama sekali tidak menoleh. Ia hanya mengangkat sebelah tangannya ke udara, memberi isyarat berhenti.
"Siapa pun yang Bapak bawa, tolong suruh dia bernapas lebih pelan atau tunggu di luar," ucap pria itu datar. Suaranya berat, dingin, dan sama sekali tidak ramah. "Tarikan napasnya berisik sekali. Mengganggu konsentrasiku."
Cala melongo. Mulutnya terbuka sedikit. Ia menoleh pada komandan dengan tatapan tidak percaya, lalu kembali menatap punggung pria berjas putih itu.
"Permisi? Katamu napasku berisik?" Cala berkacak pinggang. Emosinya yang sedari tadi ditahan langsung meledak. "Asal kamu tahu ya, Dokter. Aku baru saja dikejar pembunuh bayaran, dicekik, dan nyaris mati di lantai apartemenku sendiri setengah jam yang lalu! Wajar kalau napasku masih berantakan. Harusnya kamu bersyukur aku masih bisa bernapas!"
Pria itu akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia memutar kursi kerjanya perlahan menghadap ke arah mereka. Wajahnya terlihat jelas sekarang. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan matanya tajam setajam pisau bedah. Dia sangat tampan, tapi ekspresinya sedingin bongkahan es di kutub utara.
Pria itu menatap leher Cala yang dibalut perban sekilas, lalu menatap lurus ke mata Cala tanpa berkedip. "Orang yang panik memproduksi adrenalin berlebih. Itu memicu produksi kelenjar keringat. Keringat membawa bakteri luar. Ruanganku ini steril. Kamu mengontaminasi udaranya."
Cala kehabisan kata-kata. Ia benar-benar ingin melempar tabung reaksi ke kepala pria arogan ini. "Hei, Manusia Sempurna! Aku juga tidak sudi ada di ruangan yang baunya seperti tempat orang mati ini kalau bukan karena terpaksa!"
"Cukup, kalian berdua," potong komandan dengan suara tegas, menengahi sebelum adu mulut semakin panjang. "Cala, perkenalkan, ini Dokter Ronan Maheswara. Ahli forensik terbaik yang kita miliki. Ronan, ini Cala Danendra. Saksi kunci sekaligus korban penyerangan dari kasus penusukan CEO Valera Group."
Ronan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia mengambil sebuah pinset dari atas meja, menjepit sehelai benang hitam kecil dari atas kaca pengamatan, dan mengangkatnya ke udara.
"Saksi kuncimu ini membawa pulang hadiah kecil," ucap Ronan tanpa nada simpati sama sekali. "Benang ini menempel di jaket pelakunya, lalu tertinggal di karpet apartemen saksi saat mereka bergulat. Anggotamu yang menemukannya. Ini bukan serat kain biasa. Ini serat karbon sintetik kelas militer yang ditenun khusus. Hanya dipakai oleh serikat pembunuh bayaran profesional di pasar gelap."
Cala menelan ludah. Rasa takut kembali merayapi tulang belakangnya. Pria berjaket hitam tadi benar-benar bukan penjahat sembarangan.
"Lalu apa rencanamu, Komandan?" Ronan meletakkan kembali serat kain itu dengan hati-hati. "Pelaku profesional tidak pernah meninggalkan jejak bodoh. Dia menggunakan masker khusus, sarung tangan tanpa pori, dan melarikan diri lewat jalur buta. Kita tidak bisa melacaknya lewat kamera lalu lintas biasa."
Komandan melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya tampak berpikir keras. "Pelaku ini punya satu kelemahan besar. Dia punya target yang belum selesai." Komandan menoleh menatap Cala. "Dia tahu wajah Cala, dia tahu nama Cala. Dia pasti akan kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya malam ini atau kapan pun dia punya kesempatan."
Ronan mendengus pelan, seolah meremehkan. "Logika yang sangat sederhana. Jadi Bapak mau menjadikan wanita berisik ini sebagai umpan?"
"Tepat sekali."
Cala langsung memundurkan langkahnya ngeri. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. "Tunggu dulu! Umpan? Maksud Bapak, aku harus jalan-jalan di luar sana menunggu orang gila itu datang menusukku lagi?"
"Kamu tidak akan sendirian, Cala," bujuk komandan dengan nada menenangkan. "Kami akan memberikan pengawalan paling ketat. Pembunuh itu sangat licin. Jika kita mencarinya, dia akan terus bersembunyi. Tapi jika kita memancingnya keluar dengan mangsanya, dia pasti akan menyerang. Saat itulah kita tangkap dia."
Ronan mengambil pena peraknya dari atas meja, memutar-mutarnya di sela jari dengan santai. "Ide yang sangat klasik. Gunakan saja umpan standar. Siapkan rumah aman yang banyak dipasangi kamera pengintai, taruh dia di sana bersama tim kepolisian. Selesai. Laporannya bisa Bapak taruh di mejaku secepatnya. Sekarang, tolong bawa dia keluar agar aku bisa bekerja lagi."
Komandan polisi itu menatap Ronan dengan sorot mata yang tidak terbantahkan. Ia berjalan perlahan mendekati meja baja milik Ronan.
Sayangnya, rumah aman polisi sudah tidak bisa diandalkan, Ronan," kata komandan perlahan. "Dalang di balik pembunuhan CEO Valera itu punya jaringan yang sangat luas. Kita harus siap untuk kemungkinan apapun. Mereka bisa saja punya banyak mata-mata di dalam kepolisian. Jika kita menaruh Cala di rumah aman kepolisian, sama saja menyerahkan nyawanya ke kandang singa."
Gerakan jari Ronan yang memutar-mutar pena seketika berhenti. Ia menatap komandan dengan curiga. "Lalu Bapak mau menaruh dia di mana?"
Cala juga menatap komandan dengan waswas. Ia benar-benar tidak punya tempat tujuan. Keluarganya jauh di luar kota dan ia tidak mau melibatkan teman-temannya dalam bahaya maut ini.
Komandan menarik napas panjang. Wajahnya tegang namun keputusannya sudah bulat. Ia menatap Cala dan Ronan bergantian.
"Cala akan menjadi umpan. Dan Dokter Ronan, dia akan tinggal di apartemenmu, dalam pengawasanmu 24 jam."
BRAK!
Ronan membanting pulpennya ke atas meja baja dengan sangat keras.
berasa nonton adegan action