NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Tempat Asing

Bab 3- Tempat Asing

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Raisa yang tadi jatuh pingsan saat ini sedang berada di dalam mobil Senopati. Senopati bisa merasakan kalau Raisa sepertinya benar-benar kurang sehat.

"Bagaimana Tuan, kita antarkan dia pulang atau kerumah sakit saja?" Radit, asisten Senopati bingun harus apa tanpa adanya persetujuan dari sang Tuan.

"Bawah dia kerumah."

Radit masih bingung, "baiklah kalau begitu kita kerumahnya terlebih dahulu." Mobil telah meninggalkan parkiran.

"Bukan rumahnya, tapi rumahku." Radit yang mendengarnya cukup terkejut. Senopati yang menyadari kebingungan Radit segera melanjutkan. "Apa perlu saya ulangi lagi kata-kata saya?"

"Baik Tuan, saya paham."

Raisa bersandar pada pundak Senopati. Pria itu bisa merasakan tubuh Raisa yang sedang demam tinggi, jika tau akan terjadi kejadian seperti ini, ia tak akan membawa Raisa malam ini hanya untuk mencoba gaun pernikahan. Jadi jika begini ia kerepotan sendiri.

Sesampainya di rumah pribadinya, Senopati segera menggendong Raisa masuk lalu membawanya kekamar tamu. Dengan sangat pelang ia meletakkan Raisa di atas ranjang seakan takut tubuh wanita itu terluka.

"Hubungi dokter pribadi keluarga Aditama?" Lalu setelah itu ia melangkah meninggalkan kamar tamu tempat Raisa. Senopati berjalan menuju dapur. "Siapkan makanan dan minuman hangat untuk wanita itu setelah ia sadar." Perintahnya kepada para pembantu yang masih ada di dapur.

Beberapa saat kemudian, suasana di rumah besar itu kembali tenang. Tak lama berselang, dokter pribadi keluarga Aditama tiba dengan membawa perlengkapan medisnya. Ia segera dipandu Radit menuju kamar tamu tempat Raisa terbaring lemah.

Senopati berdiri bersandar di ambang pintu, matanya tak lepas memperhatikan setiap gerakan dokter. Wajahnya masih terlihat datar.

“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Senopati begitu dokter selesai memeriksa, suaranya tetap rendah namun tegas.

“Tidak ada hal yang serius, Tuan. Wanita ini hanya mengalami kelelahan berat dan kurang sehat. Demamnya muncul karena tubuhnya sudah dipaksakan beraktivitas seharian, lalu terkena suhu dingin saat di luar tadi. Tidak ada cedera atau gangguan fisik lainnya,” jelas dokter sambil membereskan peralatannya.

“Berapa lama ia akan pulih kembali?”

“Cukup istirahat yang cukup selama satu hingga dua hari saja. Pastikan ia cukup minum, makan makanan yang ringan dan bergizi, serta tidak banyak bergerak dulu. Saya sudah tinggalkan obat penurun panas dan vitamin untuk memulihkan tenaganya.”

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengantar dokter keluar, Senopati kembali masuk ke kamar. Ia duduk perlahan di sisi ranjang, menatap wajah Raisa yang terlihat pucat dan keringat dingin masih membasahi dahinya.

“Kalau aku tahu kondisinya sudah seterburuk ini, tak akan aku ajak dia keluar malam ini. Sekarang justru merepotkan diriku sendiri,” gumamnya pelan, meski nada bicaranya terdengar mengeluh, tapi tatapannya tetap tak lepas dari wajah Raisa.

Tak lama kemudian, seorang pembantu mengetuk pintu sambil membawa nampan berisi air hangat, teh madu, dan bubur hangat yang sudah disiapkan. Senopati mengambilnya sendiri, lalu menyuruh pembantu pergi. “Serahkan padaku saja nanti kalau dia sudah sadar,” ujarnya singkat.

Jam terus berputar hingga lewat tengah malam. Senopati tak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang itu. Ia masih duduk di sana, sesekali menyentuh dahi Raisa untuk memeriksa apakah demamnya sudah mulai turun, menunggu dengan sabar hingga wanita itu membuka matanya kembali.

"Hm...?" Raisa menggeliat tanpa menyadari Senopati di sampingnya.

"Kau sudah sadar?" Ucapnya dengan nada dingin, kembali menjadi Senopati sebelum Raisa pingsang.

"A-aku dimana?" Melihat sekeliling menyadari tempat itu sangat asing baginya, lalu tatapannya berhenti pada Senopati yang duduk di sofa sambil menyilang kaki dan tangannya menatap ke arah Raisa yang baru saja sadar.

"Kamu dirumah saya, kamu tadi pingsan lalu di bawah kemari." Ia lalu berdiri bersiap untuk pergi, tapi. "Makan makanan itu lalu minum obatnya." Senopati lalu pergi dari sana, namun saat akan sampai pintu.

"Kenapa aku tidak di bawah pulang saja kerumah-ku?" Tanyanya sambil memegangi sebelah kepalanya yang masih terasa pusing.

"Karena sudah larut."

Tanpa menunggu jawaban Senopati keluar lalu menutup pintu rapat-rapat, ia tak ingin terlalu lama berbicara dengan Raisa. Itu membuatnya tidak nyaman dan suka.

Di rumah Raisa, Ardi terbangun dan menyadari kalau putri pertamanya tidak ada di dalam kamarnya. "Apa dia belum pulang, tapi ini sudah jam dua malam?" Ardi berbicara sendiri dan bingung kenapa Raisa belum juga kembali. Ia mencoba menghubungi putrinya akan tetapi tak dapat terhubung. "Astaga Raisa kamu dimana Nak?" Ucapnya dengan cemas.

"Papa... Ada apa kenapa ada di sini?" Marla ikut keluar kamar karena menyadarinya suaminya menghilang dari kamar mereka.

"Ini mah, Raisa belum kembali juga."

"Alah, paling juga dia lagi senang-senang dengan calon suaminya?" Marla tak ingin ambil pusing soal anak tirinya. Baginya apapun yang ia lakukan di luar sana ia tak peduli mau mati sekalipun Marla tak peduli.

"Mama, ini bicara apa sih dia itu anak kita?"

"Sudahlah mama mengantuk, toh dia nanti bisa pulang sendiri, dia itu bukan lagi anak-anak pah!" Wanita berumur hampir lima puluh tahun itu pergi meninggalkan suaminya kembali kekamarnya.

"Mah...?" Namun yang di panggil tak menghiraukan tetap melenggos masuk kedalam kamarnya.

Karena masih bingung dan tidak tau harus bagaimana Ardi terpaksa menghubungi Radit asisten Senopati, dan benar saja telponnya di angkat oleh Radit.

Suara dering ponsel Radit berbunyi pelan di ruang tengah rumah besar itu. Ia segera mengangkatnya setelah melihat nama penelepon, berusaha tidak membuat keributan mengingat sudah larut malam.

"Halo, selamat malam. Ini Radit berbicara," ujarnya sopan.

Di ujung sana, suara Ardi terdengar cemas dan sedikit tergagap. "Selamat malam, Pak Radit. Saya Ardi, ayah Raisa. Mohon maaf sekali mengganggu jam istirahat Anda, tapi saya sangat khawatir. Raisa belum pulang sampai jam segini, dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Apakah dia masih bersama Tuan Senopati?"

Radit menghela napas pelan, lalu menjawab dengan tenang agar tidak menambah kekhawatiran pria di seberang sana. "Tenang saja, Pak Ardi. Raisa baik-baik saja. Tadi dia merasa tidak enak badan dan demam, jadi Tuan Senopati memutuskan untuk membawanya ke sini untuk beristirahat dan diperiksa dokter. Sekarang kondisinya sudah mulai membaik."

Mendengar penjelasan itu, rasa cemas di hati Ardi sedikit mereda, meski masih ada rasa khawatir yang tersisa. "Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak sudah memberitahu dan menjaganya. Kalau begitu, boleh saya menjemputnya besok pagi saja?"

"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan pada Tuan Senopati. Sebaiknya biarkan Raisa istirahat malam ini agar tenaganya pulih sepenuhnya," jawab Radit sebelum mengakhiri pembicaraan dengan salam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!