NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menara yang Dilupakan

Perjalanan menuju Menara Barat terasa seperti sebuah ziarah menuju pengasingan.

Silas berjalan di depan, punggung bungkuknya membelah bayang-bayang koridor yang remang-remang. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari obor-obor yang terpasang di dinding batu setiap lima meter, apinya berkedip-kedip gelisah tertiup angin yang menyelinap entah dari mana. Setiap kali mereka melewati sebuah obor, bayangan Silas memanjang dan memendek di lantai batu, menciptakan ilusi hantu yang sedang menari.

Elara berjalan di belakangnya, langkahnya terseret. Kakinya yang masih terbungkus sepatu satin tipis kini terasa mati rasa, bukan hanya karena dinginnya salju di halaman tadi, tetapi karena dinginnya lantai batu kastil yang seolah menyerap seluruh kehangatan dari tubuhnya. Suara langkah kaki mereka bergema di lorong yang sunyi itu—tapak, tapak, tapak—sebuah irama kesepian yang memantul di dinding-dinding yang lembap.

Kastil Blackiron sangat besar, namun terasa kosong. Tidak ada permadani hangat yang menghiasi dinding seperti di istana ayahnya. Tidak ada vas bunga atau lukisan pemandangan yang indah. Yang ada hanyalah deretan baju zirah tua yang berdiri kaku dalam ceruk-ceruk gelap, helm besi mereka menatap kosong ke arah Elara seolah sedang menilai kelayakan nyonya baru mereka.

Di beberapa bagian dinding, tergantung panji-panji lambang House Draxos—serigala hitam dengan latar perak—yang sudah memudar dan robek di bagian ujungnya, saksi bisu dari kejayaan dan kekejaman masa lalu yang tak terurus.

"Hati-hati, Nyonya," suara Silas memecah keheningan, nadanya rendah dan berhati-hati. "Lantai di bagian ini sedikit tidak rata."

Mereka sampai di ujung koridor sayap barat. Di hadapan mereka, terdapat sebuah pintu kayu ek yang tebal dan berat, diperkuat dengan besi berkarat. Silas mendorongnya terbuka dengan usaha keras, engselnya menjerit nyaring, suara logam beradu logam yang menyakitkan telinga.

Di balik pintu itu bukanlah sebuah ruangan, melainkan sebuah jembatan batu terbuka.

Elara terkesiap saat angin malam langsung menampar wajahnya. Jembatan itu menghubungkan bangunan utama kastil dengan sebuah menara silinder yang berdiri menyendiri di tepi tebing curam. Di bawah jembatan sempit itu, jurang gelap menganga, dan jauh di dasarnya, Elara bisa mendengar suara gemuruh sungai es yang mengalir deras. Tidak ada atap yang menaungi jembatan itu, hanya pagar batu setinggi pinggang yang licin tertutup lapisan es tipis.

"Ini... jalan satu-satunya?" tanya Elara, suaranya hilang ditelan angin.

Silas menoleh, wajah tuanya tampak menyesal di bawah cahaya lantern yang ia bawa. "Benar, Nyonya. Menara Barat dulunya dibangun sebagai pos pengamat, terpisah dari kastil utama untuk keamanan. Jarang ada yang menggunakannya dalam sepuluh tahun terakhir."

Jarang digunakan. Kata-kata itu menusuk dada Elara. Kaelen tidak sekadar memberinya kamar tamu yang buruk; dia menempatkannya di gudang tua yang terpisah dari peradaban kastil.

Elara menguatkan hati, mencengkeram rok gaun pengantinnya agar tidak terseret di tanah basah, dan melangkah ke jembatan itu. Angin bertiup kencang, mencoba mendorongnya jatuh. Ia harus berjalan sambil menunduk, melawan arus udara yang membekukan, sementara Silas berusaha melindunginya dengan tubuh rentanya yang tak seberapa. Perjalanan melintasi jembatan itu hanya memakan waktu satu menit, namun bagi Elara, rasanya seperti selamanya.

Ketika mereka akhirnya sampai di pintu menara dan masuk ke dalamnya, keheningan kembali menyergap. Namun kali ini, keheningan itu berbeda. Itu adalah keheningan dari sesuatu yang telah lama mati dan ditinggalkan.

Bau debu tua dan udara apek langsung menyambut hidung Elara. Ruangan di lantai dasar menara itu bundar, dengan tangga spiral batu di tengahnya yang menuju ke lantai atas. Tidak ada perabotan di sini, hanya tumpukan peti kayu yang tertutup kain kanvas berdebu.

"Kamar Anda ada di lantai dua, Nyonya," ucap Silas pelan, seolah takut suaranya akan meruntuhkan debu-debu yang menggantung di langit-langit.

Mereka menaiki tangga spiral itu. Setiap pijakan batu terasa dingin dan licin. Sesampainya di lantai dua, Silas membuka sebuah pintu kayu yang lebih kecil.

"Ini kamarnya."

Elara melangkah masuk, dan harapannya yang tersisa—sekecil apa pun itu—hancur berkeping-keping.

Kamar itu luas, namun suram. Dinding batunya telanjang, tanpa hiasan apa pun selain noda rembesan air yang kehijauan di beberapa sudut. Di tengah ruangan, berdiri sebuah tempat tidur berangka besi dengan kelambu yang sudah menguning dan bolong di sana-sini. Tidak ada karpet tebal untuk menahan dinginnya lantai. Hanya ada satu lemari kayu besar yang terlihat miring, sebuah meja tulis kecil yang kakinya diganjal batu, dan sebuah perapian batu yang kosong dan gelap.

Jendela kamar itu sempit dan tinggi, kaca-kacanya buram oleh kotoran tahunan, bergetar pelan setiap kali angin di luar menghantam dinding menara.

Silas buru-buru meletakkan lantern di atas meja, lalu bergegas menuju perapian. "Maafkan kondisinya, Nyonya. Saya... kami tidak diberitahu bahwa Menara Barat akan digunakan. Saya akan mencoba menyalakan api."

Pria tua itu berlutut di depan perapian, tangannya yang keriput dengan cekatan menyusun kayu bakar yang ada di sana. Namun, kayu-kayu itu terasa lembap saat disentuh. Silas mencoba memantik api berkali-kali. Percikan api muncul, menyambar serabut kayu, namun asap tebal langsung mengepul keluar alih-alih api yang hangat. Cerobong asap itu jelas tersumbat atau tertiup angin balik dari atas.

Uhuk! Uhuk!

Asap memenuhi ruangan dengan cepat. Silas terbatuk-batuk, matanya berair. "Maaf! Maafkan saya, Nyonya! Angin utara sedang kencang, cerobongnya..."

"Tidak apa-apa, Silas," potong Elara lembut. Ia berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun pengantinnya yang kotor di bagian bawah. Wajahnya pucat, namun matanya kering. Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya merasa lelah yang luar biasa, sejenis kelelahan yang merasuk hingga ke tulang sumsum.

"Biarkan saja," lanjut Elara. "Jangan memaksakan diri. Asapnya hanya akan membuat sesak."bulan

Silas berhenti, wajahnya yang cemong terkena abu menatap Elara dengan rasa bersalah yang mendalam. "Tapi, Nyonya akan membeku..."

"Saya punya jubah," jawab Elara, menunjuk tumpukan barang bawaannya yang baru saja diletakkan oleh dua pelayan pria yang langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Dan selimut. Itu cukup untuk malam ini."

Silas tampak ingin membantah, ingin menawarkan kamar pelayan atau apa pun yang lebih hangat, tapi ia tahu ia tidak bisa melanggar perintah Duke Kaelen. Di Blackiron, titah Kaelen adalah hukum alam, seabsolut matahari terbit dan terbenam.

"Saya akan... saya akan membawakan makanan dan air hangat untuk membasuh diri," kata Silas akhirnya, suaranya serak. Ia membungkuk dalam, lebih dalam dari yang seharusnya dilakukan seorang kepala pelayan kepada majikan yang tidak diinginkan, lalu mundur keluar ruangan.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!