Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kabur Dari Rumah
Bab 3
Kabur Dari Rumah
"Apa kamu tidak menyukai makanannya?" tanya Andra menatap isi piring Mila yang hanya di aduk-aduk saja.
"Oh suka kok, Pak, ini masih panas. Biar cepet dingin harus di aduk-aduk dulu," sanggah Mila cepat. Untung saja dia tidak ketahuan sedang melamun.
"Cepat habiskan, kalau dingin mana enak lagi!" titah Andra. Dia terus mengawasi Mila di sela-sela makannya. Tatapan Mila terkadang tampak kosong membuatnya semakin penasaran. Pasti wanita di hadapannya ini sedang memikirkan sesuatu.
Mila mulai menyuapkan makanannya dengan buru-buru karena melihat piring Andra telah kosong. Hingga tak di sadarinya ada sisa saos yang melenceng masuk di bibirnya.
Pria di hadapan Mila pun berinisiatif untuk menyeka bibir Mila yang terkena belepotan saos. Andra menarik tisu dan mengusapnya pelan membuat Mila seketika mematung karena mendapat perlakuan romantis dari atasannya. Seumur-umur dia makan belum pernah bibirnya di lap sama Arjun yang statusnya adalah suami. Malah Mila sering di omeli kalau makan tuh jangan kayak anak kecil, belepotan.
"Maaf," ucap Andra yang segera menyingkirkan tangannya dari bibir Mila. Wajah Mila tampak bersemu, dia pun dengan segera merapikan posisi duduknya yang sama sekali tidak berubah. Sepertinya dia salting, hehehe.
"Oh, emm, itu... Soal yang mau Bapak bicarakan tadi, seperti apa. Ini kebetulan kita sudah selesai makan," ujar Mila gugup. Dia berusaha mengalihkan suasana yang menurutnya bikin akward.
"Santai aja, kenapa kamu gugup seperti itu, Mil. Saya hanya meminta usulmu kalau saya mau membangun toko furniture yang besar di luar kota," ujar Andra dengan santai. Dia ingin sekali tertawa melihat ekspresi Mila saat gugup. Bersemu merah menggemaskan, untung binik orang, kalau binik sendiri udah di terkam langsung.
Mila merilekskan diri setelah mendengar pernyataan dari Andra. Dia pikir ada hal penting lainnya, bahkan dia takut jika dia sedang berbuat salah tanpa di sadari.
"Kalau itu sih bagus, Pak. Apa lokasinya sudah Bapak tentukan?" tanya Mila serius.
"Sudah, saya harap kamu bisa ikut untuk melihatnya nanti," pinta Andra.
Usai dari makan siang, Mila kembali ke kantor seperti biasa. Sementara Andra harus menghadiri rapat penting.
*
Andra pulang ke rumah tepat jam makan malam. Di lihatnya ruang makan tersebut tampak ramai tak seperti biasanya. Dia pun berjalan santai melewati ruangan tersebut menuju ke kamar yang berada di lantai atas.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang menyerukan namanya.
"Andra, sini kamu!" panggil bu Maya yang gegas menyusul putranya tersebut.
"Aku capek, Ma, mau istirahat," kilah Andra untuk menghindar.
"Kamu tidak menghargai pak Wagio sebagai supplier di toko kamu? Ayo cepat sapa mereka. Jangan buat malu Mama!" titah bu Maya. Andra terpaksa menuruti perintah ibunya meski dia sangat malas. Dia sangat tahu dengan maksud dan tujuan orangtuanya mengundang pak Wagio beserta keluarga makan malam di rumah mereka.
Pria tampan itu menyapa lalu duduk di samping bu Maya yang kembali melanjutkan acara makan malam bersama.
"Bagaimana urusan pekerjaan kamu, Ndra?" tanya pak Wagio.
"Lancar, Pak," jawab Andra singkat. Bu Maya sengaja menyikut lengan Andra agar menyapa seseorang yang duduk di samping pak Wagio, tapi Andra malah cuek saja. Dia sangat paham dengan hal itu.
Gadis bergaun ungu itu tersenyum malu-malu saat Andra sekilas menatapnya karena menghargai keberadaannya di samping pak Wagio. Untuk mengetahui lebih dalam tentang gadis itu, tidak ada dalam daftar harian Andra.
Pak Wagio pun mengajak Andra mengobrol kembali setelah usai makan malam. Sementara gadis bergaun ungu itu hanya duduk diam menyimak obrolan orang tuanya seraya mencuri-curi pandang pada Andra. Sepertinya di menyukai Andra dalam pandang pertama.
"Gimana pak Wagio, sepertinya anak-anak kita ini sangat cocok ya, satu tampan dan satu cantik," kata bu Maya.
"Iya bu, Maya, apalagi karir Andra sangat bagus sekali!" puji pak Wagio.
"Ehm, Tante... Kamar mandinya di sebelah mana ya?" sela Weny.
"Oh di belakang itu, sayang. Andra, tolong kamu tunjukkan arahnya," titah bu Maya pada Andra yang merasa tidak nyaman dengan posisinya.
Andra berjalan mendahului Weny dan menunjuk arah kamar mandi, begitu Weny masuk ke dalam Andra menatap ke depan dan ibunya itu sedang asik mengobrol dia pun langsung gegas kabur lewat pintu belakang.
"Mending gue kabur dari pada harus dengerin cerita mama sama pak Wagio itu. Enak aja mau jodoh-jodohin. Emangnya ini jaman Siti Nurbaya!" sungut Andra setengah kesal.
Rasa lelah yang tadi menyapa kini lenyap seketika saat Andra melihat seseorang yang sangat dia kenali sedang duduk di taman.
Andra membayar ongkos taksi dan segera menghampiri sosok wanita yang tengah duduk sambil menangkupkan tangan di wajahnya.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara isak tangis dari si wanita. Andra ingin mendengar omelan-omelan serta makian yang keluar dari bibir wanita itu. Dia bersembunyi di balik kursi taman.
"Apa sih maunya keluarga Arjun Pengukus ini, masak aku di usir dari rumah sendiri. Keterlaluan mereka! Udahlah aku yang ngasih makan mereka, biayai hidup mereka, malah ngusir pake tuduhan selingkuh! Arggghhh!" maki wanita itu dengan suara tertahan. Dia sedang curhat dengan sahabatnya melalui telepon ternyata.
Andra terus mendengarkan hingga suara tangis wanita itu mereda. Ingin sekali dia berlari dan memeluk Mila yang saat ini sedang membutuhkan bahu untuk bersandar.
Sisa-sisa sesenggukan dari Mila masih terlihat jelas. Andra yang sudah tidak tahan lagi keluar dari persembunyiannya dan perlahan duduk di samping Mila.
"Loh, Bapak! Ngapain di sini?" kaget Mila, dia berusaha mengusap air matanya yang banjir di pipinya itu dengan lengannya. Lalu Andra menyodorkan sapu tangan ke hadapannya.
"Lap ingus kamu pakai ini."
"Makasih, Pak." Mila langsung menyemprotkan ingusnya yang menyesakkan napasnya itu tanpa rasa malu sedikitpun. Kekesalan dalam hatinya sudah sangat menggunung hingga membuat otaknya beku tak dapat berpikir dengan baik.
Frruuuutghhh frrykutttfthh
Suara Mila menyusut hidungnya hingga terasa lebih lega. Hilang sudah mukanya di hadapan bosnya itu. Biasa dia bisa menjaga sikap bahkan menyembunyikan masalahnya. Tapi untuk kali ini dia tak lagi bisa menutupinya.
"Nih!" Andra menyodorkan sebotol minuman pada Mila.
"Makasih sekali lagi, Pak. Meski masalahnya ini bersumber dari Bapak, tapi saya tidak bisa menyalahkan Bapak. Ini salah saya," ungkap Mila. Uneg-uneg itu seolah harus segera di keluarkan hingga ke akarnya. Padahal dia tadi sudah cerita ke sahabatnya.
Andra bingung saat Mila menuduhnya sebagai pusat masalah. Entah di bagian mana dia bersalahnya, Andra belum mau menambah luka di hati Mila. Wanita itu jika sedang marah hanya perlu di dengarkan hingga tuntas lalu di beri pelukan manja, lalu ucapkan kata maaf dengan tulus maka hatinya sejenak akan melunak.
"Apa tawaran bapak waktu itu masih berlaku?"