Novel ini adalah karya pertama yang saya yakini bikin kepala pusing disebabkan typo, alur membagongkan, hal hal diluar nurul, dan cerita klise yang freak. saya sangat ingin merevisi karya ini tetapi rasa malas ini menguasai tubuh tanpa ampun. jadi maafkan cerita yang memusingkan ini rakyat ku!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ina corlet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar 107
Waktu terus berjalan, hari terus berlalu, dan setiap perjalanan yang kini Kiara lewati terasa semakin bermakna.
Empat belas hari, dua belas jam, sudah ia habiskan bekerja sebagai pengantar minuman di Bar Skye—
Waktu yang singkat, namun cukup untuk membuatnya memahami bahwa tempat itu menyimpan lebih banyak cerita dari yang tampak.
“Bagaimana harimu? Kita, sudah lama tidak makan bersama,” suara seorang perempuan terdengar lembut dari seberang telepon.
Kiara menghela napas pelan.
Ia menyusun kata-kata agar tak melukai hati sahabatnya. “Aku baik. Maaf, akhir-akhir ini hotel dan bar sedang ramai sekali?”
“Tentu, aku tahu. Aku hanyaa!!” Bella menggantung kalimatnya.
Ada kecewa yang tak terucap, lalu tersesap menjadi diam. Dua minggu sibuknya Kiara membuat gadis itu dipeluk kesepian.
“I’m really sorry. I’m not a good friend.”
“Hei… aku tidak pernah bilang begitu. Aku hanya sedikit kesepian. Itu saja.” gegasnya menimpali.
Kiara menundukkan kepala. Wajahnya muram. Ia benci mengabaikan sahabat yang selama ini menjadi sandarannya.
Tapi apa daya? Ia harus bertahan hidup.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari balik pintu, disusul panggilan lantang. “Kiara! Kau di dalam? Cepat keluar!”
“Ya, aku datang!” Kiara menjawab serempak.
Ketukan sepatu pantofel itu menjauh. Kiara kembali ke telepon.
“Bell, maaf… aku harus pergi sekarang.”
“Tentu. Jangan terbebani. Aku akan mampir kalau sempat.”
“Baik. Aku menunggu.”
Panggilan pun ditutup.
Kiara segera berganti ke seragamnya. Ia terlambat kali ini.
Di sela pergantian shift ini, ia harus menyisihkan waktu untuk berbincang dengan Bella. Rasanya hari ini semakin padat, semakin berat.
Saat tiba, Kiara heran. Semua orang tampak panik. Raut mereka tegang, seolah sesuatu mengerikan sedang menanti.
“Ada apa?” tanya Kiara pada gadis berambut bob di sampingnya, teman sebayanya, Vio.
“Nyonya Sill panggil kita semua. Makanya tadi aku suruh kau cepat.”
“Tapi kenapa wajah mereka begitu tegang?”
Vio mengangguk kecil. “Entahlah. Aku cuma dengar ada sesuatu yang penting.”
Sebelum mereka sempat mencerna lebih jauh, suara seseorang memotong. “Jangan terlalu santai girls. Nyonya Sill akan segera datang!” celetuknya.
Kiara menoleh, lalu bertanya "Sera… kau tidak pakai seragammu?”
“Tidak. Hari ini aku jadi gadis penghibur.” Senyum bangga terpampang di bibir merahnya.
“Bagaimana bisa?”
Sera membusungkan dada. “Kadang kau harus melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Meski menjijikkan, aku harus mengakuinya, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan diriku.”
Vio semakin mengernyit. Tidak mengerti makna yang tersirat dalam ucapan seniornya.
"Ada tamu penting. Junior seperti kalian memang dikumpulkan. Nanti Nyonya Sill yang akan menjelaskan,” lanjutnya santai .
“Bukannya semua tamu di sini penting?” ucap Kiara dengan polosnya.
“Tentu. Tapi yang satu ini sangat penting. Maksudku, SANGAT-sangat penting. Kalian pasti terkejut.”
Vio bersedekap, menghela napas dramatis. “Sebelum tamu yang ini pun, kami sudah sering terkejut. Ada yang botaknya cuma separuh, ada yang perutnya kayak balon bocor, ada yang mukanya, aduh tuhaaan. Masih kurang mengejutkan bagaimana lagi?”
Sera melotot. “Hei! Kau mau mati? Kalau terdengar Nyonya Sill, habislah kau.”
Kiara, yang masih diliputi rasa penasaran, bertanya lagi, “Mungkin ini tidak sopan… tapi kenapa hanya junior yang dikumpulkan? Bukankah lebih baik senior?”
“Itu justru poinnya.” Sera merapat di tengah tengah keduanya. Suaranya merendah. “Tamu ini… temannya bos besar. Temperamennya buruk! Kasar. Tatapannya mengerikan. Selalu marah-marah dan—” Ia menelan ludah. “Pernah ada kejadian heboh.”
Kiara dan Vio sama-sama bertanya, “Kejadian apa?”
Sera memejamkan mata sejenak mengepulkan asap me udara, seakan mengingat sesuatu yang teramat pahit.
“Dulu… ada yang hampir terbunuh di ruangannya.”
Kiara dan Vio terpaku. Tubuh mereka menegang.
Pertengkaran, makian, tamu mabuk—itu biasa. Tapi nyaris terbunuh?
Sera mendesah dan segera melenggang pergi. “Aku harus pergi. Tamuku sudah datang. Semoga kalian beruntung.”
Kiara dan Vio saling memandang. Seolah kematian baru saja berbisik di antara mereka.
Tak lama kemudian, Nyonya Sill muncul. Sorot matanya tajam, menghantam suasana yang telah tegang.
“Selamat malam.”
Suaranya tegasnya menggema, “Aku mengumpulkan kalian karena ada tamu penting. Seseorang yang sudah menjadi pelanggan tetap bahkan sebelum bar ini berdiri besar. Ia royal pada Bos, dan punya peran besar dalam perkembangan Bar Skye. Aku ingin kalian melayaninya dengan baik.”
Para junior langsung diam, mendengarkan penuh cemas.
“Aku hanya tekankan satu hal: jangan usik dia. Jangan membuatnya marah.”
Kiara mengangkat tangan, ragu namun terpaksa bertanya. “Maaf, tapi kenapa hanya junior yang diberi tugas?”
Nyonya Sill tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Pertanyaan menarik. Tidak pernah ada yang menanyakannya. Kiara, kau teliti.”
Ia melangkah melewati barisan junior. Berdiri di hadapan Kiara dengan gagah.
“Alasannya sederhana para senior menolak. Itu saja"
"Mengapa mereka menolak?" tanya Vio dengan lantang. Membuat semua orang tertuju padanya. Mengisyaratkan dia amat berani.
Nyona Sill hanya tersenyum, lalu mengatakan "Mereka sudah pernah berada dalam posisi itu, dan mereka tidak mau lagi.”
Semua junior tercengang. Itu artinya, mau tidak mau memang mereka dikorbankan.
“Aku tahu ini terdengar jahat,” lanjut Sill. “Tapi percayalah… ini tidak berlangsung lama.”
Senyumnya kali ini seperti ancaman manis.
“Kalian akan mengambil kertas pesanan secara acak. Dan kamar 107 adalah kamar tamu yang… sedang kita bicarakan.”
Ketegangan membuncah. Amplop merah dibagikan. Disanalah tersembunyi nomor kamar si pemarah.
“Kamar 203, Brendy dan bir.” ucap gadis mungil memilih amplop pertama. Ia menarik nafas lega.
Satu per satu amplop dibuka. Hasilnya aman, namun kecemasan dan ketegangan terus berdenting.
Sampailah pada giliran Vio, teman sebaya Kiara di bar.
Ia membuka amplop dengan tangan gemetar. “S-satu… nol… sembi—”
“Kenapa kau bacanya satu-satu?! Bikin jantung mau copot!” keluh seseorang.
Nyonya Sill tertawa kecil. “Itu bukan kamar yang kita maksud. Pergilah.” ucapnya kemudian.
Vio terjatuh lega.
Kini tinggal lima orang.
Kali ini Kiara maju.
Ia membuka amplop dengan wajah yang—anehnya—tenang. Lalu ia membaca:
“Pesanan: segelas vodka, wiski, margarita. Camilan manis dan asin. Burger keju tanpa tomat. Kamar 107.”
Empat junior di belakangnya hampir pingsan.
Dan Kiara… meski tampak tenang… air matanya jatuh tanpa suara.
Nyonya Sill tersenyum miring.
“Dia menangis,” katanya seolah menikmati pemandangan itu.
apa Kiara hilang ingatan
apa
kelakuan deff