ini adalah kelanjutan cerita dari Dinda dan sistem,,dimana ini tentang kehidupan akhir bahagia wanita yang bernama Dinda Kirana,,setelah banyak rintangan dalam hidupnya,, akhirnya dia menemukan cinta yang benar-benar dia harapkan.
jangan lupa mampir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah tingkah dan kedatangan gara
Di sisi lain. setelah melihat semua pengawalnya tewas dalam sekejap, dia langsung berjongkok dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Wajahnya pucat pasi.
"Ampun... ampun, Nona... Saya menyerah. Tolong jangan bunuh saya. Saya benar-benar mengaku kalah. Saya bukan apa-apa dibandingkan Anda yang hebat," ucapnya sambil menangis tanpa suara. Lututnya gemetar.
Dinda menatapnya dingin, lalu beralih menatap Teo dan Sam yang masih berdiri kaku.
"Bawa dia. Jangan biarkan dia kabur. Dan kamu...!" Dinda menunjuk Darko dengan tatapan tajam. "Kalau kamu berani lari, aku akan menembak mu dari jauh."
Darko mengangguk cepat berkali-kali seperti boneka.
"Ya, Nona. Saya berjanji tidak akan kabur. Saya bersumpah. Tapi tolong jangan bunuh saya," ucapnya sungguh-sungguh, keringat dingin membasahi kemejanya.
Sam dan Teo yang tersadar dari keterkejutannya langsung bersikap.
"Baik, Nona Komandan," jawab mereka agak konyol. Dengan ragu mereka berjalan mendekati Darko dan memborgol tangannya dengan cepat.
"Sebaiknya kalian pergi lebih dulu. Jangan khawatirkan Komandan kalian. Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Mas Komandanku," ucap Dinda sambil menatap wajah Nathan yang masih pingsan di pelukannya. Tatapannya melunak.
Mereka hanya mengangguk, lalu berbalik meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk.
"Semoga Komandan pulang dengan selamat. Aku harap wanita itu tidak melukai Komandan," ucap Sam serius sambil berjalan di lorong kapal.
"Bodoh. Mana mungkin dia melukai Komandan kita! Apa kamu tidak dengar tadi? Dia juga bilang mencintai Komandan. Jadi dia pasti akan menjaganya, bukan menyakitinya," sahut Hansel sinis. Dia sudah siuman dari tadi.
Sam menepuk jidatnya sendiri sambil cengengesan.
"Hehehe... Aku hampir lupa. Aku cuma shock lihat aksinya yang di luar nalar. Dia bukan orang sembarangan. Apalagi pas dia melayang tadi. Sumpah, aku benar-benar syok," ucap Sam sambil masih mengingat kejadian itu.
"Aku juga begitu. Sampai aku kucek mata berkali-kali, tapi memang benar dia melayang. Kasihan sekali orang yang berurusan dengannya. Untung saja dia bukan musuh kita," kata Teo sambil melirik Darko yang berjalan tertunduk di antara mereka.
Sam yang menangkap lirikan Teo ikut mengangguk.
"Benar. Aku tidak bisa membayangkan kalau wanita itu jadi musuh. Apalagi cara dia membunuh pengawal Darko tadi... tanpa menyentuh, mereka semua tewas seketika. Dia sungguh luar biasa," ucap Teo dingin, masih terngiang aksi Dinda yang tidak masuk akal.
Darko yang mendengar percakapan mereka hanya bisa diam. Keringat dinginnya semakin deras. Dalam hati dia bergidik ngeri.
"Aku memang sial bertemu wanita seperti dia. Lebih baik dipenjara daripada mati atau jadi tumbalnya. Wanita siluman itu benar-benar mengerikan," gumam Darko. Tubuhnya merinding.
*_*_
Sementara itu, Dinda sudah berada di dalam kamar Nathan. Dengan hati-hati dia menaburkan bubuk obat ke luka di tangan Nathan yang robek. Setelah itu, dia meneteskan cairan dari botol kecil ke mulut Nathan yang masih terpejam.
"Aku harap kamu cinta terakhirku, dan aku juga yang terakhir untukmu. Aku harap kamu mencintaiku dengan tulus," ucap Dinda lembut sambil tersenyum.
Kemudian dia berbaring di samping Nathan. Kepalanya dia letakkan di lengan sang Komandan yang kekar. Tak lama, napasnya teratur. Dia tertidur pulas.
Nathan yang ternyata sadar sejak tadi mendengar semua ucapan Dinda. Perlahan dia membuka mata dan menatap wajah wanita yang kini memeluknya. Ada senyum tipis di bibirnya.
"Dan aku juga berharap kamu wanita terakhir di hatiku. Aku mencintaimu dan ingin hidup bersamamu, dalam suka maupun duka," gumamnya dalam hati. Dia membalas pelukan Dinda, mengeratkan dekapan itu dengan lembut.
Keduanya tertidur dengan nyenyak, saling berpelukan di dalam kamar yang sederhana tapi terasa hangat.
*_*
Di apartemen Dinda, seorang pemuda terlihat mondar-mandir di depan pintu dengan wajah cemberut. Sesekali dia mengintip dari lubang kunci.
"Ck... Di mana Kak Dinda? Kenapa belum pulang juga? Apa dia keluar? Tapi ke mana? Hari ini dia juga tidak masuk kantor," gerutunya sambil terus berjalan bolak-balik.
"Aku ngantuk banget lagi. Ck... Kak, apa kamu tidak kasihan sama adikmu ini? Sudahlah, lebih baik aku tunggu di depan pintu saja," ucapnya pasrah. Akhirnya dia duduk bersandar di dinding dekat pintu apartemen Dinda.
Pemuda itu adalah Gara, adik Dinda. Dia ingin memberi kejutan untuk kakaknya, tapi yang ditunggu belum juga datang. Setelah beberapa menit, terdengar dengkuran halus. Dia tertidur karena kelelahan.
*_***
Malam harinya, Nathan terbangun. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Dinda yang masih tertidur damai di sampingnya. Terdengar suara dengkuran pelan, dan dari bibir Dinda muncul gelembung kecil.
Nathan yang melihat itu terkekeh geli. Dengan lembut dia menghapus gelembung itu menggunakan jarinya.
"Kenapa kalau tidur dia jadi menggemaskan begini? Lihat tingkahnya, seperti anak kecil," gumamnya sambil mengusap rambut Dinda yang halus.
"Hei, Nona. Bangun. Hari sudah malam. Apa kamu tidak ingin pulang, hmm?" Suara lembut Nathan membuat bulu mata Dinda bergetar. Perlahan Dinda membuka mata dan menatap Nathan, lalu tersenyum manis.
"Mas Komandan, kamu tampan sekali. Bagaimana kalau banyak wanita lain yang menginginkanmu?" ucap Dinda dengan nada konyol sambil mengucek matanya.
Dengan tenang Nathan menahan tangan Dinda. Dia lalu meniup matanya pelan.
"Jangan dikucek. Nanti sakit," ucapnya datar, tapi ada nada khawatir di sana.
Dinda mengangguk dan tersenyum. Tiba-tiba dia melingkarkan tangannya ke leher Nathan dengan tatapan menggoda.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku, Mas Komandan?" tanya Dinda, matanya berbinar.
Nathan langsung membuang muka. Dia berdehem, wajahnya memerah karena malu.
"Itu... hmm... Apa kamu lapar? Kalau iya, aku akan masakkan sesuatu," ucapnya kaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dinda terkekeh geli melihat tingkahnya. Dia duduk dan menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak lapar. Kamu tahu kenapa aku tidak merasa lapar?" tanyanya serius.
Nathan ikut duduk. Dia mengernyit bingung mendengar pertanyaan Dinda.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Karena berada di dekatmu membuatku lupa segalanya. Bahkan rasa laparku hilang kalau ada kamu," ucap Dinda sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Sontak telinga Nathan memerah. Jantungnya berdebar kencang. Tanpa bicara lagi dia langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Dinda yang melihat itu hanya tertawa kecil.
"Ya ampun, dia lucu sekali. Kenapa dia kaku begitu? Aku benar-benar terhibur melihat tingkahnya," ucap Dinda sambil terkekeh.
Di dalam kamar mandi, Nathan berdiri di depan cermin dengan napas tersengal.
"Sialan, kenapa aku bisa grogi kalau dekat dia? Bodoh! Kenapa kamu kalah darinya, Nathan? Harusnya aku yang lebih dulu merayunya," gumamnya. Dia menegakkan badan, menatap bayangannya di cermin dengan wajah datar, mencoba latihan.
"Nona, apa kamu tahu? Kamu sangat cantik dan indah dipandang. Kamu itu seperti bulan yang bersinar di malam hari," ucap Nathan dengan ekspresi kaku.
Melihat wajahnya sendiri yang terlihat konyol di cermin, dia mendengus dingin.
"Kenapa aku seperti robot? Sialan, ada apa dengan wajahku ini?" gumamnya frustrasi sambil mengacak rambutnya kasar.
berbagai peran dan kisah di ceritakan menjadi 1 dengan peran yang tegas dan sakti..
suka banget sama ceritanya, recommended deh pokoknya..
dan aneh nya aku menyukai tingkah mereka 🤣
apa kah dia sudah beranak-pinak
semangat thor