NovelToon NovelToon
After The Winter Ends

After The Winter Ends

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.

Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.

Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.

Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?

Sequel Novel Elara & Leo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tembok tinggi

Manhattan mulai memasuki masa transisi yang paling muram. Langit kelabu menggantung rendah di atas menara-menara gotik universitas, dan angin musim gugur yang tadinya hanya sejuk, kini mulai membawa tusukan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, bagi Anne Margaretha, dinginnya cuaca New York tak sebanding dengan kekosongan yang terpancar dari lantai empat perpustakaan pusat.

Setelah insiden tamparan di kantin—sebuah peristiwa yang secara tidak resmi menobatkan Anne sebagai "Gadis Belanda Pemberani"—Liam Vance justru melakukan sesuatu yang tidak terduga. Alih-alih memberikan apresiasi atau sekadar ucapan terima kasih, Liam justru menarik diri lebih dalam. Ia membangun tembok raksasa yang tidak kasat mata, sebuah benteng isolasi yang lebih kokoh dari beton mana pun di Manhattan.

Liam menjadi sosok yang benar-benar tidak tersentuh. Jika sebelumnya ia adalah es yang tenang, kini ia adalah badai salju yang membisukan. Kehadirannya di koridor universitas selalu diikuti oleh aura melankolis yang begitu pekat, membuat kerumunan mahasiswa yang biasanya berisik mendadak bungkam saat ia lewat. Ia tidak lagi menatap siapa pun. Matanya hanya tertuju lurus ke depan, hampa, seolah-olah dunia di sekelilingnya hanyalah rangkaian proyeksi film bisu yang membosankan.

Sore itu, Anne kembali duduk di sudut kafe kampus yang strategis. Kafe ini memiliki jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah sayap barat perpustakaan. Dari tempat duduknya, Anne memiliki pandangan tanpa penghalang ke arah jendela lantai empat, tempat siluet Liam biasanya berada.

Anne menyesap cokelat panasnya yang sudah mendingin, matanya terpaku pada sosok pria di seberang sana. Liam tampak sedang duduk sendirian, dikelilingi oleh tumpukan buku yang seolah berfungsi sebagai barikade. Dari jarak ini, punggung Liam terlihat sangat kokoh, representasi dari nama besar Vance yang ia pikul. Namun, bagi Anne yang selalu mengamati dengan hati, punggung itu menyimpan kerapuhan yang luar biasa—seperti selembar kaca tipis yang dipaksa menahan beban berton-ton baja.

"Kau tahu, Anne? Melihatnya sekarang benar-benar membuatku sesak napas."

Suara Sophie, teman satu jurusan Anne, memecah lamunan itu. Sophie adalah warga asli New York yang tahu hampir semua rahasia gelap dan terang di kampus ini. Ia menarik kursi di samping Anne, meletakkan tasnya, dan ikut menatap ke arah perpustakaan dengan tatapan penuh simpati yang dalam.

"Dia bukan Liam yang dulu, Anne," lanjut Sophie pelan. "Liam yang kau lihat hari ini hanyalah bayangan pucat dari sosok yang pernah kami puja. Dulu, dia adalah definisi dari pria paling sempurna di Manhattan. Dia tidak hanya tampan dan kaya, tapi dia memiliki hati yang begitu hangat... terutama untuk Gretha."

Sophie menghela napas panjang, lalu mulai bercerita. Suaranya rendah, seolah ia sedang menceritakan sebuah tragedi klasik yang dilarang untuk dibicarakan dengan keras.

"Liam menjaganya seperti memegang porselen paling mahal dan rapuh di dunia, Anne. Kau mungkin tidak akan percaya betapa romantisnya dia sebelum hatinya hancur berkeping-keping. Aku ingat saat hari jadi mereka yang pertama, Liam menyewa seluruh toko bunga di sudut jalan hanya untuk memastikan Gretha bangun dan melihat ribuan mawar putih menghiasi jalannya menuju kampus."

Sophie menjeda ceritanya, matanya sedikit berkaca-kaca. "Pernah suatu malam, saat badai salju hebat melanda New York dan kereta bawah tanah terhenti, Liam rela berdiri berjam-jam di luar gedung teater hanya untuk memastikan Gretha pulang dengan selamat menggunakan mobil pribadi ayahnya. Dia tidak pernah menuntut apa pun. Dia tidak pernah menyentuh Gretha lebih dari sekadar genggaman tangan yang tulus atau kecupan di kening."

Anne mendengarkan dengan dada yang semakin sesak. Setiap detail cerita Sophie terasa seperti pisau kecil yang mengiris hatinya.

"Liam sangat menghormatinya. Dia memegang prinsip bahwa cinta sejati adalah pengorbanan dan kesucian. Dia tidak ingin bercinta dengan Gretha karena dia ingin malam pertama mereka terjadi di bawah sumpah pernikahan yang sah. Dia ingin semuanya suci, sebuah janji yang sangat langka di kota yang serba bebas seperti ini. Tapi apa balasannya?" Sophie mencibir dengan nada geram.

"Gretha justru menganggap ketulusan itu sebagai kelemahan. Dia menganggap kesucian Liam sebagai kebosanan. Dia berselingkuh tepat di belakang punggung pria yang sudah memuliakannya setinggi langit, dan dia melakukannya dengan pria yang selama ini Liam anggap teman."

Anne tetap terdiam, matanya masih terpaku pada jendela perpustakaan itu. Di sana, Liam baru saja bangkit dari kursinya. Gerakannya lambat, hampir mekanis. Ia menutup bukunya, mengenakan mantel panjangnya, dan berjalan pergi tanpa pernah menoleh ke arah jendela—tanpa pernah tahu bahwa ada seorang gadis yang sedang mencoba memahami rasa sakitnya dari kejauhan.

"Jadi jangan heran kalau dia tidak tersentuh sekarang, Anne," Sophie menambahkan sambil menepuk bahu sahabatnya dengan lembut. "Dia sudah tidak percaya pada cinta. Baginya, setiap wanita yang mendekat mungkin hanyalah akan menjadi 'Gretha' yang lain—parasit yang menyamar jadi malaikat untuk mengisap ketulusannya. Dia sudah mati rasa, dan sepertinya dia tidak berencana untuk menghidupkannya kembali. Tembok es itu bukan untuk mengurung diri, tapi untuk memastikan tidak ada lagi duri yang bisa masuk dan melukainya untuk kedua kali."

Sophie kemudian berpamitan, meninggalkan Anne sendirian dalam keheningan kafe yang mulai sepi.

Anne merenung. Ia menyadari bahwa dinginnya Liam saat ini bukanlah sifat aslinya, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Liam tidak lahir sebagai patung es; ia dibekukan oleh pengkhianatan. Bagaimana rasanya ketika prinsip hidup yang paling kau agungkan justru menjadi alasan kau ditertawakan oleh dunia?

Namun, bukannya merasa takut atau ingin menjauh seperti saran Sophie, tekad dalam hati Anne justru semakin mengeras. Ia melihat melampaui "Pangeran Es" Manhattan. Ia melihat seorang pria yang memiliki kapasitas mencintai begitu besar hingga ia rela menghancurkan dirinya sendiri demi menjaga kehormatan orang yang ia cintai.

"Kau salah, Sophie," bisik Anne pada dirinya sendiri. "Dia tidak mati rasa. Dia hanya sedang menunggu seseorang yang cukup sabar untuk menunggu es itu mencair dengan sendirinya, bukan dengan paksaan."

Hari-hari berikutnya menjadi ujian bagi kesabaran Anne. Ia tidak lagi mendekati Liam secara langsung seperti saat di lorong atau kantin. Ia memahami bahwa jika ia terus mendesak, Liam hanya akan mempertebal temboknya. Sebagai gantinya, Anne menjadi "saksi bisu" musim dingin pria itu.

Setiap pagi, Anne akan meninggalkan secangkir kecil kopi hitam tanpa gula—selera Liam yang ia ketahui dari pengamatan—dan sepotong kecil kue kering Belanda di sudut meja tempat Liam biasa duduk di perpustakaan, lengkap dengan catatan kecil tanpa nama: "Dunia mungkin pahit, tapi kopi ini akan menemanimu melaluinya."

Liam selalu menemukan benda-benda itu. Awalnya, ia hanya menatapnya dengan kening berkerut, seolah-olah kopi itu adalah bom yang siap meledak. Ia akan membuang catatannya ke tempat sampah, namun entah mengapa, ia selalu meminum kopinya hingga tandas.

...****************...

Suatu malam yang sangat larut, hujan deras mengguyur Manhattan. Anne baru saja menyelesaikan tugasnya di perpustakaan bawah tanah dan hendak pulang. Saat ia melewati lobi, ia melihat Liam berdiri di dekat pintu keluar besar. Pria itu tidak membawa payung. Ia hanya menatap air hujan yang jatuh dengan tatapan kosong, tangannya terbenam dalam saku mantel.

Aura kesepian yang terpancar dari Liam saat itu begitu kuat hingga Anne merasa sulit untuk bernapas. Pria itu tampak seperti raja tanpa takhta, berdiri di tengah kerajaannya sendiri yang kini terasa asing.

Anne menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Liam, menjaga jarak yang cukup agar tidak dianggap mengganggu. Ia membuka payung kuningnya yang cerah—sebuah kontras yang mencolok di tengah kegelapan malam.

"New York selalu terlihat lebih jujur saat hujan, bukan?" ucap Anne pelan, tidak menatap Liam, melainkan menatap rintik hujan. "Semua orang berlari mencari tempat berteduh, tapi hujan tetap jatuh tanpa peduli apakah kita siap atau tidak."

Liam tidak menjawab. Ia tetap diam seperti patung. Namun, ia tidak pergi. Itu adalah kemajuan bagi Anne.

"Aku tahu ceritanya, Liam," lanjut Anne, suaranya nyaris berbisik. "Tentang Gretha. Tentang prinsipmu. Tentang pengkhianatan itu."

Kali ini, Liam bereaksi. Kepalanya menoleh perlahan, matanya yang biru berkilat dengan kemarahan yang tertahan. "Jika kau di sini hanya untuk mengasihani aku, lebih baik kau pergi, Anne Margaretha. Aku tidak butuh penonton untuk kegagalanku."

"Aku tidak mengasihanimu," balas Anne, kini menatap langsung ke dalam mata biru itu. "Aku mengagumimu. Di dunia di mana semua orang ingin memiliki secara instan, kau memilih untuk menjaga. Itu bukan kegagalan, Liam. Itu adalah kemuliaan yang salah alamat. Kau memberikan mutiara kepada seseorang yang hanya menginginkan plastik."

Rahang Liam mengeras. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu yang tajam, sesuatu yang akan membuat Anne menangis dan pergi. Namun, saat ia melihat mata cokelat Anne yang begitu tenang dan tulus—tanpa ada sedikit pun jejak kepalsuan atau niat jahat—kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Liam, suaranya serak. "Kenapa kau terus mengikutiku? Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, Anne. Hatiku sudah menjadi gurun pasir yang dingin."

Anne tersenyum kecil, senyum paling sedih sekaligus paling indah yang pernah Liam lihat. Ia menyodorkan gagang payungnya ke arah Liam.

"Karena aku percaya bahwa di balik gurun yang paling dingin sekalipun, masih ada benih yang menunggu untuk tumbuh. Aku tidak minta kau memberiku apa pun, Liam. Aku hanya ingin menjadi payungmu saat hujan turun, sampai kau cukup kuat untuk memegang payungmu sendiri lagi."

Anne kemudian menyelipkan gagang payung itu ke tangan Liam yang kaku, lalu ia melangkah keluar menuju hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup saat ia berlari menuju halte bus.

Liam Vance berdiri terpaku di sana, memegang payung kuning cerah di tengah kegelapan Manhattan. Ia menatap punggung Anne yang menjauh, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasakan sesuatu yang lain selain rasa sakit. Ada sebuah getaran kecil di dadanya—sebuah gema dari bagian hatinya yang ia pikir sudah mati.

Malam itu, di bawah payung milik seorang gadis Belanda yang keras kepala, Liam Vance menyadari bahwa mungkin, hanya mungkin, ia tidak ingin membeku selamanya. Gema itu masih lemah, tapi itu adalah sebuah permulaan. Dan bagi seorang pria yang telah kehilangan segalanya, sebuah permulaan adalah hal paling luar biasa yang pernah ia miliki.

🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading 🥰

1
MissCuek🍂
nangiss banget😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
baguss bangettt tau" udah end ajah
Rosdianah 🌷: heheh singkat padat jelas ya kak🤭🥰
jangan lupa baca Novel ku yang lain kak. "The End of Before" Ndak kalah seru kak 🙏🏼
total 1 replies
Sulati Cus
ending yg manis
Triana Oktafiani
Selalu menunggu karya2mu thor 👍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!