Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sebelum berangkat ke rumah Roni, Nek Nilam, dan sepasang suami istri baru itu duduk bersama di kursi kayu.
Mereka menikmati makanan sederhana, penuh kehangatan.
Sinar matahari pagi menerobos celah-celah ventilasi kayu rumah Nek Nilam, membiaskan garis-garis cahaya ke atas meja makan. Sepiring nasi hangat, sambal terasi, dan tumis kangkung sederhana tersaji di tengah keheningan yang menyelimuti sepasang pengantin baru dan sang nenek.
Nina mengunyah makanannya perlahan. Setiap suapan terasa begitu berharga. Kebersamaan bersama wanita tua yang merawatnya sejak kecil ini adalah sesuatu yang akan selalu dirindukannya. Meski hatinya berat untuk melangkah pergi, wejangan sang nenek semalam telah menguatkan tekadnya. Nina berjanji pada diri sendiri untuk sering berkunjung.
Namun, dahi Nina berkerut halus ketika menyadari sang nenek tak henti-hentinya tersenyum simpul sembari menikmati teh hangatnya.
"Nenek kelihatannya bahagia sekali pagi ini?" tanya Nina pelan, meletakkan sendoknya.
Nek Nilam terkekeh pelan, melirik Roni yang duduk di sebelah cucunya. "Gimana tidak bahagia, Nduk? Semalam Nenek mendengar suara gaduh sekali dari kamarmu. Seperti ada benda berat yang roboh."
Uhuk!!
Roni yang baru saja hendak menelan air putih mendadak tersedak hebat. Wajahnya merona merah padam hingga ke telinga. Dengan sigap, Nina menepuk-nepuk pelan punggung suaminya sembari menyodorkan gelas.
"Pelan-pelan, Mas," bisik Nina menahan malu.
Setelah sisa air tertelan, Roni tertawa kecil yang disusul oleh tawa canggung Nina. Nek Nilam memandangi sepasang sejoli itu dengan kerutan heran di dahinya. Di pikiran sang nenek, guncangan hebat semalam tentu diidentikkan dengan malam pengantin baru. Padahal, kenyataannya jauh dari kata romantis.
Mengingat kejadian semalam, Nina tak tahan untuk tidak tersenyum dalam hati.
Flashback Semalam
"Gimana ini, Mas? Ranjang ini roboh." bisik Nina panik, memandangi kerangka kayu yang patah terkulai di lantai.
Roni mengusap tengkuknya, lalu terkekeh menenangkan. "Tidak apa-apa. Yang penting kita tidak terluka."
Tanpa banyak mengeluh, Roni melangkah ke sudut kamar. Ia mengambil karpet kain tebal yang terlipat rapi, mengibaskannya, lalu menggelarnya di atas lantai papan. Dengan cekatan, ia menyusun dua bantal dan membentangkan selimut tipis, menyulap sudut kamar menjadi tempat peraduan darurat.
Nina tertegun memperhatikan kesigapan suaminya. Sikap tenang dan ketulusan Roni dalam menerima keterbatasan membuat rasa kagum di hatinya makin membuncah.
"Selesai! Ayo tidur, kasihan kamu pasti lelah," ajak Roni sembari menepuk-nepuk karpet yang sudah siap.
"Mas, apa Mas Roni tidak keberatan tidur di lantai? Dingin sekali," tanya Nina sungkan, menatap pria kota yang terbiasa hidup nyaman itu.
Roni tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Nina, menariknya lembut hingga wanita itu ikut berbaring di sampingnya, lalu menyelimuti tubuh mereka berdua. "Sudah malam, ayo tidur. Ada Mas di sini, tidak akan dingin."
Malam itu, di atas lantai papan yang keras dan dingin, Nina menemukan kehangatan yang tak pernah ia bayangkan. Kehadiran Roni di sisinya sudah lebih dari cukup untuk membuat tidur nyenyaknya tak terganggu.
Flashback Selesai
"Ranjang Nina roboh, Nek. Semalam itu suara dipan yang patah karena tidak kuat menahan beban kami berdua," jelas Nina dengan kekehan geli.
Nek Nilam terbelalak kaget. Rasa sungkan mendadak memenuhi dadanya. "Duh, maafkan Nenek ya, Nak Roni. Dipan kayu itu memang sudah sangat tua, peninggalan almarhum kakeknya Nina."
Roni menyenggol lengan Nina pelan dengan senyum. "Tidak apa-apa, Nek. Tidur kami tetap nyenyak. Malah terasa lebih bersatu dengan alam," kelakar Roni yang membuat suasana meja makan pecah oleh tawa hangat.
Keceriaan di meja makan tak mampu membendung mendung yang bergelayut di hati Nina saat waktu keberangkatan tiba. Tas pakaian sederhana milik Nina telah rapi di bagasi mobil.
Di ambang pintu, Nina memeluk Nek Nilam dengan derai air mata yang tak sanggup lagi ditahannya. "Nek, Nina pamit dulu. Jaga kesehatan ya, Nek. Nina janji bakal sering pulang melihat Nenek." suaranya parau, tercekik rasa sedih.
Nek Nilam merengkuh tubuh cucunya erat-erat. Ditepuk-tepuknya punggung Nina dengan jemarinya yang keriput. "Iya, Nduk. Taati suamimu. Ingat, ridho suamimu adalah surgamu sekarang. Semoga pernikahan kalian dilimpahi kebahagiaan."
Dengan berat langkah, Nina memasuki mobil. Sepanjang roda kendaraan berputar meninggalkan halaman, matanya tak lepas memandangi sosok Nek Nilam yang berdiri mematung di ambang pintu, kian lama kian mengecil hingga hilang di balik belokan jalan hutan.
Sepeninggal mobil Roni, Nek Nilam menutup pintu kayu rumahnya rapat-rapat. Dalam kesunyian rumah tua itu, tangis wanita renta itu akhirnya pecah. Ia terduduk di balik pintu, terisak pelan meratapi sepinya hari-hari yang harus ia jalani tanpa senyum cucu kesayangannya lagi.
Di dalam mobil, Roni menyadari kepedihan istrinya. Tanpa banyak mengumbar kata, ia menggenggam erat jemari Nina, mengusapnya perlahan sembari mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang.
"Jangan menangis lagi ya." bisik Roni lembut.
Nina menyapu air matanya dengan ujung lengan baju, mengangguk pasrah meski hatinya dipenuhi kerinduan yang bergolak.
Perjalanan berjam-jam membawa mereka memasuki kawasan perumahan elit di tengah kota. Mata Nina menatap nanar deretan rumah megah berarsitektur modern dengan pagar besi menjulang tinggi. Perbedaan yang begitu mencolok dari desanya memunculkan rasa minder dalam dada Nina. Ia merasa bagaikan kerikil di tengah hamparan permata. Bayangan tentang keluarga Roni yang menolak hadir di pernikahan mereka makin memperberat himpitan di dadanya.
Merasakan genggaman Nina yang mendadak dingin dan gemetar, Roni makin mempererat pegangannya. "Semua akan baik-baik saja. Ada Mas di sampingmu," bisiknya menguatkan.
Mobil berhenti di pelataran rumah dua lantai bergaya minimalis. Roni melangkah mantap menuntun Nina menuju pintu utama, lalu mengetuknya.
"Assalamualaikum," ucap Roni.
Pintu terbuka lebar. Rukmini berdiri di sana dengan senyum mengembang melihat putra kesayangannya. "Roni! Anak Ibu sudah pulang."
Namun, dalam hitungan detik, senyum hangat itu lenyap tanpa sisa begitu manik matanya menangkap sosok Nina yang berdiri canggung di belakang Roni.
Dengan sopan, Nina mengulas senyum terbaiknya dan mengulurkan tangan untuk menyalami sang mertua. "Ibu."
Bukannya menyambut, Rukmini justru menarik kasar lengan Roni masuk ke dalam, membiarkan tangan Nina mengudara tanpa balasan. Hati Nina mencelos, serasa dihantam batu besar.
"Bu, tidak boleh begitu," tegur Roni setengah berbisik, mencoba melepaskan pegangan ibunya sembari melirik Nina dengan raut serba salah.
Rukmini hanya memutar bola matanya malas, melangkah pergi meninggalkan Nina yang berdiri mematung di ambang pintu.
Roni bergegas menghampiri istrinya, mengusap bahu Nina lembut. "Maafkan Ibu ya, dek. Ayo masuk."
Di ruang keluarga, tampak Ruhi sedang berbaring santai di sofa sembari menonton televisi dan mengunyah camilan. Ketika Roni dan Nina melintas, Ruhi hanya melirik dari sudut matanya, lalu mendesis pelan tanpa niat menyapa sedikit pun.
Membawa Nina ke lantai dua, Roni membuka pintu kamarnya yang luas. Ruangan itu tertata rapi dengan pencahayaan yang hangat dan aroma terapi yang menenangkan. Mereka melangkah masuk.
"Kamu suka kamarnya, dek?" tanya Roni saat melihat Nina sibuk menata pakaian dari tas kainnya ke dalam lemari kayu mahoni.
"Suka sekali, Mas. Kamarnya sangat bagus dan bersih," sahut Nina pelan, berusaha mengukir senyum walau hatinya remuk redam.
Roni mendekat, menatap dalam mata Nina. "Mas minta maaf atas sikap Ibu dan Mbak Ruhi tadi, ya. Tolong beri mereka waktu."
"Tidak apa-apa, Mas Roni. Nina mengerti," jawabnya tulus.
Malam harinya, aroma masakan lezat memenuhi ruang makan. Mbok Siti, asisten rumah tangga yang telah lama bekerja di sana, menyiapkan hidangan di atas meja. Tadi sore Nina sempat ingin membantu di dapur, namun Roni melarangnya karena ingin sang istri beristirahat.
Ketika Roni dan Nina turun menyusuri tangga menuju meja makan, Rukmini dan Ruhi sudah duduk menanti.
"Enak ya, baru datang tinggal duduk manis menyantap makanan," sindir Rukmini tajam begitu Nina menarik kursi di samping Roni. "Jangan mentang-mentang statusnya pengantin baru, lalu merasa bisa bermalas-malasan mengurung diri di kamar!"
"Bu, Roni yang melarang Nina turun tadi. Nina masih lelah perjalanan jauh," bela Roni cepat.
Ruhi meletakkan sendoknya dengan dentang keras. "Kalau sudah memutuskan tinggal di rumah ini, tidak ada alasan capek! Harus tahu diri."
Nina menunduk dalam. "Maafkan Nina, bu. Lain kali Nina yang akan menyiapkan makan malam."
Sisa makan malam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hanya denting alat makan yang terdengar. Begitu makanannya habis, Rukmini dan Ruhi bangkit begitu saja tanpa memindahkan piring kotor mereka.
Dengan cekatan, Nina mengumpulkan piring-piring bekas itu dan membawanya ke dapur. Di sana, Mbok Siti sedang bersiap mencuci.
"Mbok, perkenalkan, saya Nina... istrinya Mas Roni," sapa Nina ramah sembari menyingsingkan lengan bajunya. "Mari Nina bantu cuci piringnya."
Mbok Siti terkejut, bergegas menahan tangan Nina. "Eh, jangan Non Nina! Biar Mbok saja, ini kan memang tugas Mbok."
"Tidak apa-apa, Mbok. Nina sudah terbiasa kerja di dapur. Lagipula, melihat Mbok membuat Nina teringat pada Nenek di desa," tutur Nina lembut, mengulas senyum tulus yang meruntuhkan jarak di antara mereka.
Kedua wanita beda generasi itu pun mulai mengobrol hangat sembari membersihkan sisa makan malam. Kehadiran Nina yang begitu rendah hati membuat Mbok Siti merasa senang sekaligus kagum.
Namun, kehangatan kecil di dapur itu tak bertahan lama. Sebuah bayangan berdiri di ambang pintu dapur. Ruhi bersedekap dada, menatap Nina dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.
Saat Nina berbalik untuk mengambil lap kering, Ruhi mendekat. Dengan nada berbisik yang dingin dan menusuk tulang, ia berucap tepat di samping telinga Nina.
"Lihat saja, gadis kampungan. Aku akan memastikan hidupmu seperti neraka di rumah ini."
Sudut bibir Ruhi terangkat membentuk senyuman iblis, sebelum akhirnya ia berbalik meninggalkan dapur, meninggalkan Nina yang terpaku dalam suasana mencekam.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭