NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BHARADASURA

Desir ombak besar Pantai Selatan menyambut kedatangan Sena. Dengan langkah tenang, pemuda itu menjejakkan kakinya di atas pasir hitam yang basah. Namun, belum sempat ia melangkah lebih jauh, puluhan makhluk gaib penjaga pesisir berwujud prajurit berbentuk hewan air tetapi badan manusia dan tombak langsung muncul dari buih ombak, menghalangi jalannya dengan aura permusuhan yang pekat.

"Manusia fana, Tempat ini terlarang bagi makhluk darat. Pergi atau lenyap." bentak pemimpin prajurit pantai.

Sena mengangkat kedua tangannya, menunjukkan gestur tak melawan. "Tenang. Aku datang secara baik-baik, hanya ingin menghadap penguasa sini secara baik-baik pula."

Alih-alih mendengarkan, para prajurit itu justru langsung melancarkan serangan serentak, menghujani Sena dengan tombak energi air yang mematikan.

Sena menghela napas panjang. "Sudah kubilang aku datang baik-baik. Kalau kalian menghalangi dan menyerang duluan... ya jelas bukan salahku kalau aku balas."

Sena melesat masuk menembus garis pertahanan, mendesak lebih dalam hingga ke jantung istana gaib bawah laut. Merasa terancam oleh lautan musuh yang terus berdatangan mengeroyoknya, Sena akhirnya mengamuk sejadi-jadinya. Kombinasi "Brajamusti", petir "Gelap Ngampar", dan "Lebur Saketi" dilepaskan tanpa ampun, menciptakan gelombang kejut dahsyat yang meretakkan pilar-pilar karang istana dan melukai ratusan prajurit pengawal.

Kekacauan itu akhirnya mereda ketika aura luar biasa menekan seluruh ruangan. Seorang wanita anggun berbusana kemben hijau kelam dengan karisma mutlak Sang Ratu Pantai Selatan muncul, menatap Sena dengan tatapan tajam yang penuh wibawa.

"Cukup." suara sang Ratu bergeming, menghentikan pertarungan. Ia menatap Sena yang berdiri di tengah reruntuhan. "Berani sekali kau membuat kekacauan di istanaku. Apa maksud kedatanganmu kemari?"

Sena merapikan jubahnya, menatap sang Ratu tanpa gentar sedikit pun. "Sudah kubilang dari awal aku datang baik-baik. Tapi anak buahmu malah sok jagoan menyerang duluan. Jadi, itu sama sekali bukan salahku."

Sena mendengus pelan, lalu menyilangkan tangan di dada. "Tapi karena aku sudah dikeroyok habis-habisan tanpa alasan yang jelas di sini, aku minta kompensasi atas kerugian fisik dan mental yang kudapat."

Sang Ratu tertegun sejenak, tak menyangka pemuda fana di hadapannya justru meminta ganti rugi setelah merusak istananya. Sudut bibir sang Ratu terangkat sinis. "Kompensasi? Kau merusak istanaku, dan sekarang kau meminta ganti rugi? Bagaimana jika aku menolak?"

Sena menyeringai tajam, matanya berpendar memancarkan cahaya energi Kawi Purba. "Langsung saja, kalau begitu kita bertarung mati-matian sampai rata dengan tanah."

Tanpa membuang waktu, Sena merapal deretan bait mantra destruktif warisan Mpu Ranajaya sambil mengalirkan Ajian Segara Asat. Dalam hitungan detik, seluruh air di sekitar istana gaib itu mendadak surut, membeku, lalu menguap drastis. Getaran mantra penghancur itu mengguncang seluruh struktur istana hingga dinding karangnya pecah berkeping-keping.

Tekanan batin yang luar biasa dari Sena membuat sang Ratu akhirnya mengangkat tangan, mengakui kekuatan destruktif di luar nalar yang dibawa pemuda itu.

"Cukup. Hentikan ilmu laknat itu." seru sang Ratu, napasnya sedikit memburu. Ia menatap Sena dengan kilatan jengkel bercampur takjub. "Baiklah. katakan, kompensasi apa yang kau inginkan?."

"Aku butuh Naga Peliharaanmu untuk mendiami senjataku" jawab Sena santai.

Sena mendelik tajam. Sang Ratu langsung menggeleng tegas. "Tidak! Naga itu sudah berabad-abad menemaniku dan menjadi penjaga utama tempat ini. Lagi pula, dia memiliki jiwa yang liar; jika kau memaksa mengambilnya, dia akan memberontak dari dalam dan justru membunuhmu sampai kau tidak mendapat apa-apa."

Sena terdiam sejenak, menimbang risiko dari ancaman sang Ratu. "Hmm.. benar juga. Kalau aku mati konyol gara-gara kadal raksasa mengamuk, urusannya jadi panjang." Sena berdecak pinggang. "Ya sudah, daripada aku tidak dapat apa-apa sama sekali, berikan aku naga muda anak dari naga purba itu!"

Sang Ratu menghela napas panjang, merasa terjebak menghadapi manusia anomali ini.

Mengingat istananya bisa rata dengan tanah jika ia menolak, ia akhirnya melambaikan tangan. Seekor naga kecil bersisik keemasan dengan tanduk bercabang muncul dari balik pilar, mendesis pelan sebelum diserahkan kepada Sena sebagai bentuk kompensasi yang diminta.

Setelah urusannya selesai, Sena berpamitan dan melangkah keluar meninggalkan istana samudra.

Di tengah perjalanan daratnya kembali ke utara, Sena tiba-tiba merasakan sensasi ganjil di tengkuknya. Dengan seringai meremehkan, ia menyalurkan hawa murni ke jari tangannya dan merusak sebuah energi pelacak gaib tak kasat mata yang diam-diam dipasang untuk memantaunya.

"Mereka pikir aku gampang ditarget ya," gumam Sena dingin. Tanpa membuang waktu lagi, ia mengerahkan "Ajian Saipi Angin" dan melesat lurus menuju Lulumbang untuk melihat hasil tempaan senjatanya.

Langkah kaki Sena terhenti di depan pondok penempaan Lulumbang. Hawa panas dari tungku api menyambutnya, berpadu dengan bau logam pijar yang pekat.

Mpu Sura yang tengah duduk menyeka keringat langsung berdiri begitu melihat sosok Sena muncul di ambang pintu. Sang empu tua itu tampak kelelahan, matanya merah kurang tidur, namun ada binar kepuasan yang jelas terpancar di wajahnya.

"Kau tepat waktu, Sena," seru Mpu Sura sambil menunjuk sebuah meja kayu di tengah ruangan. "Pedangmu sudah selesai."

Sena melangkah mendekat. Di atas meja itu, terbaring sebuah pedang yang memancarkan aura mengerikan namun indah luar biasa. Bentuk bilahnya menyerupai keris berlekuk tajam, tempaan dari Besi Meteorit Hitam dan Besi Kuning menghasilkan pola pamor bergelombang bagai riak air berdarah yang mematikan. Gagangnya kokoh, diukir dengan detail tingkat tinggi. Tak hanya itu, sebuah sarung pedang/wrangka berukir kayu jati hitam legam dengan ukiran naga melingkar juga sudah siap membungkus bilah tersebut.

Sena tertegun. Ia mengambil senjata itu, merasakan keseimbangan yang sempurna di genggamannya. "Kau benar-benar mengerjakannya dengan sempurna, Mpu," puji Sena, matanya takjub menatap kilau logam magis di tangannya.

"Tentu saja," balas Mpu Sura bangga. "Tapi wadahnya saja tidak ada artinya jika kosong.

Sena mengangguk. Ia mengeluarkan naga muda bersisik keemasan dari kantong gaibnya. Makhluk kecil itu mendesis was-was, melingkar gelisah di atas lantai pondok, menatap senjata di tangan Sena dengan rasa ngeri.

Sena berlutut perlahan, menyetarakan tinggi pandangannya dengan sang naga muda. Ia tidak menggunakan "Ajian Pangiket Sukma" atau paksaan gaib apa pun. Sebaliknya, Sena mengulurkan tangannya dengan lembut.

"Hei, kecil," ucap Sena dengan nada tenang dan meyakinkan. "Aku tahu tempat ini asing buatmu. Tapi dengar. di luar sana, dunia ini kejam dan penuh orang-orang yang ingin memanfaatkan kita. Aku tidak akan memperlakukanmu sebagai budak atau peliharaan yang disuruh bertarung lalu dibuang."

Sang naga muda melingkar, matanya yang keemasan menatap Sena penuh selidik.

"Mulai sekarang, kita adalah partner" lanjut Sena memberikan janji-janji manisnya. "Kau membantuku merobek musuh, aku melindungi mu dan memberimu makanan energi terbaik. Kita ukir cerita kita bersama. Bagaimana?"

Mendengar kata-kata itu, bintik-bintik cahaya emas mulai berpendar dari tubuh naga kecil tersebut. Rasa tulus dan ambisi besar yang mengalir dari jiwa Sena menciptakan resonansi kuat. Tanpa ada paksaan setetes pun, naga muda itu mendesis pelan, lalu berubah menjadi kilatan cahaya keemasan yang melesat masuk ke dalam bilah senjata.

Binar terang menyala, lalu meredup.

Seketika, senjata bergelombang itu bergetar hidup di tangan Sena. Hawa panas dan dingin bergolak selaras di dalam bilahnya, menandakan roh naga telah menyatu sempurna, siap dilepaskan kapan pun ia menghendakinya.

Mpu Sura bertepuk tangan pelan, takjub melihat ikatan batin yang begitu cepat terbentuk antara manusia dan siluman. Sang empu tua lantas menyeringai usil.

"Kerja bagus, Sena. Senjatanya sudah sempurna. Nah, sekarang... siapa nama yang pantas untuk pusaka mengerikan itu?" tanya Mpu Sura.

Tanpa butuh waktu lama untuk berpikir, Sena tersenyum menyeringai. Bibirnya melafalkan sebuah nama yang merangkum seluruh perjalanan dan kekuatan di baliknya.

"Bharadasura" ucap Sena tegas.

Mpu Sura tertegun sejenak, lalu tawanya meledak. Senyum bangga yang amat lebar merekah di wajah sang empu tua. Nama itu sangat pas diambil dari Mpu Ranajaya selaku pewaris trah Mpu Bharada yang memberinya ilmu, disatukan dengan nama sang pembuat senjata itu Mpu Sura. "Bharadasura". Nama yang kelak akan membuat seluruh tanah Jawa gemetar.

Namun, sebelum Sena menyarungkan pedang barunya, Mpu Sura berdeham canggung sambil menggaruk-garuk jenggotnya.

"Ekhem... Sena. Soal sarung pedang ukir mewah itu..." Mpu Sura nyengir kuda. "Itu tidak termasuk dalam perjanjian awal bahan-bahan yang kau bawa kemarin. Itu kerja ekstra."

Sena memicingkan mata, menatap curiga. "Lalu? Kau mau minta upah apa lagi? Emas? Batu mulia?"

Mpu Sura menggeleng cepat. "Aku tidak butuh harta duniawi. Aku sudah tua. Sebagai gantinya untuk sarung pusaka itu... maharnya adalah sebuah janji."

"Janji apa?" tanya Sena.

"Berikan aku sumpahmu... bahwa suatu saat nanti, jika aku atau keturunanku di masa depan berada di ambang kehancuran atau membutuhkan pertolongan mutlak, kau atau kekuatan yang kau miliki harus datang membantu mereka sekali saja," pinta Mpu Sura sungguh-sungguh.

Sena menatap Mpu Sura lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. Sebuah investasi masa depan yang murah meriah untuk sebuah sarung pusaka kelas dewa.

"Baiklah, aku berjanji," jawab Sena mantap.

"Sekali pertolongan, kapan pun dirimu atau keturunanmu mencariku di masa depan."

Mpu Sura mengangguk puas, menyerahkan sarung senjata itu sepenuhnya kepada Sena. Dengan mantap, Sena menyarungkan "Bharadasura" ke pinggangnya, bersiap melangkah keluar.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!