Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHADIRI PESTA ULANG TAHUN IBU SURI
“Ia tidak membalas dengan kata, tetapi dengan kemenangan.”
Happy reading>.<.....
.
Tok. Tok. Tok.
“Nona, pengawal pribadi Anda menyampaikan bahwa besok malam Anda harus menghadiri pesta ulang tahun Ibu Suri,” ucap Fu Xian dari balik pintu.
“Besok?” Xiao Mei mengangkat wajahnya.
“Baiklah. Apa saja yang harus dipersiapkan?”
“Yang utama adalah gaun, Nona. Biasanya para gadis bangsawan melakukan perawatan selama satu minggu sebelum menghadiri pesta istana. Namun karena Nona sudah cantik, Nona hanya perlu menyiapkan gaun saja,” jelas Fu Xian panjang lebar.
“Hm… gaun, ya?” gumam Xiao Mei pelan.
“Baiklah. Ambilkan aku kertas, kuas, dan tinta.”
Meski bingung, Fu Xian tetap menunduk hormat. “Baik, Nona.”
Tak lama kemudian, Xiao Mei mulai menggambar. Goresan tangannya tegas namun anggun. Sebuah desain gaun sederhana, tetapi memancarkan keanggunan yang tak biasa.
“Berikan ini pada penjahit keluarga. Gunakan sutra terbaik. Gaun ini harus selesai besok,” titahnya tenang.
“Baik, Nona.”
Keesokan harinya, menjelang sore, gaun itu telah selesai. Karena desainnya sederhana, pembuatannya tidak memakan waktu lama.
Pesta dimulai pukul delapan malam.
Pukul enam, Xiao Mei mulai bersiap. Setelah mandi, ia membiarkan Fu Xian membantunya mengenakan gaun.
“Buat tatanan rambut yang sederhana. Sedikit kepangan di depan, tapi tetap formal.”
“Baik, Nona. Apakah ingin digerai semua atau setengah diikat?” tanya Fu Xian.
“Setengah diikat saja.”
Riasannya pun tipis—bedak halus, sedikit perona pipi, dan pelembap bibir. Tidak berlebihan.
“Selesai, Nona…” Fu Xian terdiam, terperangah. “Nona sangat cantik… seperti bidadari.”
Xiao Mei tersenyum tipis. “Terima kasih. Tapi masih kurang satu hal. Ambilkan aku cadar. Aku belum ingin semua orang melihat wajahku.”
Di ruang tengah kediaman Marquis, kedatangannya diumumkan.
“NONA MUDA KEDUA MEMASUKI RUANGAN!”
Semua menoleh.
Marquis Xiao Cheng berdiri. “Karena semua sudah berkumpul, mari kita berangkat.”
Tepat pukul tujuh malam, rombongan kereta keluarga Marquis melaju menuju istana.
Saat tiba di gerbang istana, antrian panjang sudah mengular. Ketika keluarga Marquis turun dari kereta, bisikan segera terdengar.
“Itu Nona Xiao Wei… pantas disebut kecantikan nomor dua setelah Putri Pertama Kaisar Wang.”
“Benar sekali, sungguh memukau.”
Xiao Wei mengangkat dagunya tinggi, menikmati pujian.
Sementara Xiao Mei berjalan tenang di belakang, wajahnya tertutup cadar tipis.
Lampion-lampion emas menggantung tinggi di langit-langit aula, memantulkan cahaya hangat ke lantai marmer yang mengilap.
Aroma dupa cendana memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi parfum para bangsawan.
Gaun-gaun sutra berwarna cerah berkilau di bawah cahaya, sementara bisikan halus terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Di aula istana, kasim mengumumkan kedatangan keluarga Marquis.
Mereka duduk sesuai posisi, perempuan di sisi kiri, laki-laki di kanan.
Tak lama kemudian—
“IBU SURI MEMASUKI AULA!”
“KAISAR, PERMAISURI, DAN PUTRA MAHKOTA MEMASUKI AULA!”
Semua bangsawan bersujud serentak.
“HIDUP KELUARGA KEKAISARAN! SEMOGA PANJANG UMUR SEPULUH RIBU TAHUN!”
“Silakan duduk,” titah Kaisar.
Acara dimulai dengan pemberian hadiah.
Setelah keluarga kerajaan, para adipati, dan duke selesai, tibalah giliran keluarga Marquis.
“Selamat ulang tahun, Ibu Suri. Semoga panjang umur. Ini adalah giok Ruan Yu dan sutra terbaik dari keluarga kami,” ucap Marquis Xiao Cheng.
“Terima kasih, Marquis,” balas Ibu Suri.
Acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni para nona bangsawan.
Satu persatu para nona bangsawan maju ke depan aula dengan menampilkan bakat masing masing,hingga tiba giliran Xiao Wei.
Xiao Wei maju dengan anggun.
“Hamba ingin memainkan guqin.”
Petikan nadanya lembut dan indah, setiap nada menggema di aula luas. Aula terpukau.
“Luar biasa… benar-benar calon istri idaman.”
Tepuk tangan menggema. Xiao Wei tersenyum puas, lalu berkata manis, “Ah, penampilanku masih kalah jauh dari Meimei. Bukankah begitu, Meimei?”
Sorot matanya licik, menandakan cemburu dan ambisi.
Semua mata tertuju pada Xiao Mei.
Xiao Mei berdiri perlahan dan maju ke tengah aula.
“Hamba ingin menampilkan tari pedang… dengan iringan guqin dari Kak Xiao Wei.”
Aula seketika hening.
Tarian dimulai pelan, lembut, penuh kendali.
Namun ketika tempo guqin dipercepat oleh Xiao Wei, gerakan pedang Xiao Mei justru semakin tajam dan memukau.
Pedangnya berputar di udara, kilau baja memantulkan cahaya lampion.
Setiap ayunan pedang mengingatkannya pada kehidupan lamanya—pengkhianatan, darah yang pernah ia lihat mengalir di tangannya sendiri.
Langkahnya tegas, tidak goyah.
Kali ini, ia tidak akan menjadi korban.
Monolog batin Xiao Mei berputar seiring pedangnya menari:
“Setiap gerakan ini adalah pelajaran. Setiap ayunan adalah kekuatan. Aku tidak akan lagi tunduk pada pengkhianatan atau hinaan. Kali ini, aku yang menentukan permainan.”
Pedangnya membelah udara, mengimbangi setiap tempo guqin yang kadang dipercepat, kadang diperlambat oleh kakaknya.
Sorot mata penonton terpaku, tak ada yang berani mengalihkan pandangannya.
Di kursi kehormatan, Putra Mahkota yang sejak tadi tampak bosan, kini duduk lebih tegak. Tatapannya tak lagi beralih.
“Menarik,” batinnya.
Saat tarian berakhir—
Seluruh aula berdiri dan bertepuk meriah.
“Luar biasa!”
“Bahkan bangsawan pria belum tentu bisa menari pedang seindah itu!”
Wajah Xiao Wei menegang.
Tangannya gemetar di balik lengan sutra.
Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga nyaris meninggalkan bekas.
Senyum palsu di bibirnya mulai retak.
Senyumnya yang manis berubah menjadi geram, rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh cemburu.
Ia melangkah maju dan menarik cadar Xiao Mei.
Dan—
Aula kembali sunyi.
Wajah di balik cadar itu begitu memesona. Kulit bersih, sorot mata tajam dan tenang.
Sama sekali tidak seperti rumor tentang “nona buruk rupa”.
Seorang bangsawan bergumam cukup keras,
“Jika ini disebut buruk rupa… lalu aku ini apa?”
Beberapa bangsawan lain mengangguk setuju.
Xiao Mei hanya tersenyum tipis.
Permainan baru saja dimulai.
Setiap tatapan di aula baginya adalah pion, dan setiap pujian atau bisikan adalah medan tempur baru yang akan ia menaklukkan—dengan kata, atau dengan kemenangan.
✨ Bersambung…
_____________________________
Hai author up lagi nih semoga suka sama cerita ini
kucingku aja yg pulang dengan kepala bocor aku borehin dengan kunyit.
tp terlambat krna Bakterien sudah masuk ke jantung.
luka emng kering.
itu mpuuus ampe jejeritan nahan pediih dr borehan kunyit
mana prajurin bayanganx strategix jgk