Viora Zealodie Walker, seorang gadis cantik yang memiliki kehidupan nyaris sempurna tanpa celah, namun seseorang berhasil menghancurkan segalanya dan membuat dirinya trauma hingga dia bertekad untuk mengubur sikap lemah, lugu, dan polosnya yang dulu menjadi sosok kuat, mandiri dan sifat dingin yang mendominasi.
Bahkan dia pindah sekolah ke tempat di mana ia mulai bangkit dari semua keterpurukan nya dan bertemu dengan seseorang yang diam-diam akan mencoba merobohkan tembok pertahanan nya yang beku.
Sosok dari masa lalu yang dia sendiri tidak pernah menyadari, sosok yang diam-diam memperhatikan dan peduli pada setiap gerak dan tindakan yang di ambilnya.
Agler Emilio Kendrick ketua geng motor besar yang ada di jakarta selatan sana... Black venom.
Dia adalah bad boy, yang memiliki sikap arogan.
Dan dia adalah sosok itu...
Akankah Agler berhasil mencairkan hati beku Viora dan merobohkan dinding pertahanan nya, atau cintanya tak kunjung mendapat balasan dan bertepuk sebelah tangan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satropa
Pagi di kediaman keluarga Walker datang dengan suasana yang jauh berbeda dari malam sebelumnya.
Hujan yang semalaman mengguyur Jakarta kini telah berhenti, menyisakan udara sejuk yang masuk melalui celah jendela. Cahaya matahari pagi perlahan menyelinap masuk ke dalam kamar Viora, menerangi ruangan bernuansa putih dan pink yang tampak rapi seperti biasanya.
Di depan cermin besar yang berdiri di sudut kamar, Viora tengah mematut dirinya.
Seragam khas Satropa sudah melekat sempurna di tubuhnya.
Kemeja putih yang disetrika tanpa satu pun lipatan. Blazer navy eksklusif dengan emblem Satropa tersemat rapi di dada. Rok plisket yang jatuh tepat di atas lutut, dipadukan dengan kaus kaki putih panjang dan sepatu hitam mengilap.
Untungnya, demam ringan yang sempat menyerangnya semalam sudah banyak berkurang. Meski kepalanya masih terasa sedikit berat, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi semalam.
Viora mengoleskan lip balm tipis ke bibirnya, lalu meraih botol parfum favorit yang terletak di atas meja rias.
Jemarinya menekan nozzle botol kristal itu dengan pelan. Tsss...
Suara itu nyaris tak terdengar.
Kabut aroma lembut melayang di udara, membelai leher dan bahunya sebelum meninggalkan jejak wangi vanilla yang begitu khas___aroma yang seolah telah menjadi identitas seorang Viora.
"Hm..." gumamnya pelan sambil tersenyum puas.
Setelah memastikan tidak ada yang kurang, ia mengambil tas sekolah yang sudah disiapkan nya tadi malam dan menyampirkannya ke bahu.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka. Viora melangkah keluar, menuruni anak tangga menuju lantai utama.
Berbeda dengan biasanya, meja makan keluarga Walker pagi itu terlihat lebih sepi.
Leonard___papahnya, sudah berangkat pagi-pagi sekali. Hari ini ada meeting penting yang mengharuskannya datang lebih awal ke kantor.
Ryuga pun tidak berada di rumah. Dokter muda itu sudah berangkat menuju rumah sakit tempatnya bertugas.
Yang paling mengejutkan tentu saja Zevan.
Pemuda yang terkenal sebagai raja kesiangan di rumah itu justru menjadi orang ketiga yang pergi pagi ini.
Entah angin apa yang membawanya.
Biasanya Claretta harus berkali-kali mengetuk pintu kamar agar putranya bangun.
Namun hari ini ia sudah menghilang bahkan sebelum Viora turun dari kamar.
Menyisakan Claretta yang sedang menikmati secangkir teh hangat di meja makan.
Serta satu sosok lain yang setia menunggu.
Zegra.
Pemuda itu duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Seragam Satropa yang sama persis dengan Viora sudah melekat rapi di tubuhnya.
Bagaimanapun, mereka memang satu sekolah. Bahkan satu kelas.
Saat melihat adiknya turun dari tangga, Zegra langsung mengangkat kepala. "Lama banget." Protesnya.
Viora mendelik. "Baru juga turun."
"Ya udah, cepet. Gue tunggu di mobil," katanya sambil berdiri.
"Iya, iya," sahut Viora malas.
Zegra hanya menggeleng sebelum berjalan keluar rumah.
Sementara itu, Viora melangkah menuju meja makan.
"Duduk dulu, Sayang," ujar Claretta. "Mau sarapan apa?"
Di atas meja sudah tersaji berbagai menu yang disiapkan Bi Inah.
Roti panggang, telur dadar, sosis, serta aneka buah segar tertata rapi menggugah selera.
Namun Viora hanya meraih segelas susu hangat dan meneguknya hingga tandas.
Setelah itu, ia bangkit dari kursinya.
"Vio berangkat ya, Mam."
Claretta mengerutkan kening. "Lho? Nggak sarapan dulu, Sayang?"
Viora menggeleng kecil. "Nggak usah deh. Nanti Zegra marah lagi kalau harus nunggu Vio makan."
"Ya tuhan, anak itu..." gumam Claretta sambil menghela napas.
Claretta segera mengambil beberapa potong roti bakar, lalu memasukkannya ke dalam kotak bekal kecil dan menyerahkannya kepada putrinya. "Nih, bawa. Makan nanti di mobil."
"Tapi mam__"
"Bawa! Jangan sampai nggak dimakan," potong Claretta tegas. "Biar lambung nya nggak kumat."
"Oke." Akhirnya Viora hanya bisa pasrah tanpa bantahan.
"Kalau gitu Vio berangkat dulu, ya."
Claretta mengangguk. "Hati-hati di jalan. Ingetin Zegra supaya gak ngebut bawanya." Teriak Claretta di sela langkah cepat putrinya.
"Oke. Bye mam! Asalamualaikum?!"
"waalaikumsalam.
Viora segera keluar rumah menuju mobil hitam yang sudah menunggunya di halaman.
Zegra telah duduk di balik kemudi dengan ekspresi tidak sabaran.
Begitu pintu terbuka, Viora langsung masuk dan menempati kursi di sampingnya.
Mesin mobil menyala. Perlahan, kendaraan itu meninggalkan kediaman keluarga Walker dan bergabung dengan arus lalu lintas Jakarta yang mulai padat.
Kota metropolitan itu telah kembali hidup.
Deretan kendaraan memenuhi jalan raya. Motor, mobil pribadi, hingga bus kota bergerak perlahan mengikuti ritme pagi yang sibuk.
Gedung-gedung tinggi menjulang di berbagai sisi jalan, sementara lampu lalu lintas silih berganti mengatur ribuan kendaraan yang berusaha mencapai tujuan masing-masing.
Di dalam mobil, suasana terasa tenang. Viora sesekali memandangi pemandangan di luar jendela.
Sedangkan Zegra fokus pada kemudi.
Tiba-tiba, Zegra membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Gimana kondisi lo?"
Viora yang sejak tadi menatap keluar jendela menoleh ke arahnya. "Udah mendingan."
"Yakin?" tanya Zegra sambil meliriknya sekilas, memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja.
Viora mengangguk kecil. "Iya."
"Kalau pusing, bilang."
Viora kembali mengangguk, "Iya."
"Kalau di rasa badan lo mulai nggak enak, jangan maksain diri ikut kelas. Istirahat aja di UKS."
"Oke." Jawabnya patuh.
Zegra kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya. "Jangan lupa___"
"Banyakin minum air putih?" Sela Viora cepat. Kali ini pandangan nya sepenuhnya menghadap Zegra.
Zegra langsung menoleh dengan satu alis terangkat.
Viora terkekeh pelan.
"Kebiasaan. Tiap gue demam pasti kalian protektif kayak gini."
Pemuda itu menggeleng kecil sebelum kembali fokus mengemudi.
"Bukan protektif, itu namanya ngingetin. Lo kan ceroboh, kalau gak di ingetin mustahil lo lakuin."
"Iya deh. Si paling perhatian."
Zegra meliriknya sekilas. Tak berniat memperpanjang perdebatan.
Tak terasa beberapa puluh menit perjalanan, akhirnya gerbang utama Satropa mulai terlihat.
Sekolah elit itu berdiri megah di salah satu kawasan prestisius Jakarta.
Bangunannya memadukan desain modern dan arsitektur elegan yang memberi kesan eksklusif sejak pandangan pertama.
Hamparan taman yang tertata sempurna mengelilingi area sekolah. Rumput hijau terpangkas rapi. Jalur pedestrian bersih tanpa satu pun sampah terlihat.
Air mancur artistik di tengah courtyard utama menjadi salah satu ikon sekolah yang selalu menarik perhatian.
Mobil-mobil mewah berjejer memasuki area drop-off.
Sebagian siswa datang menggunakan kendaraan pribadi dengan sopir. Sebagian lagi diantar orang tua mereka.
Para siswa Satropa berjalan melewati koridor luas dengan seragam yang rapi dan penampilan yang terjaga.
Suara obrolan ringan, tawa para murid, serta langkah kaki yang berirama menciptakan suasana khas sekolah elit yang sibuk namun tetap tertata.
Di kejauhan terlihat gedung akademik utama yang menjulang beberapa lantai dengan dinding kaca modern yang memantulkan cahaya matahari pagi.
Bendera sekolah berkibar pelan diterpa angin.
Suasana pagi yang penuh ambisi, prestasi, dan gengsi akademik terasa begitu kuat di lingkungan Satropa.
Mobil Zegra perlahan memasuki area parkir siswa.
Begitu kendaraan berhenti sempurna, Viora membuka sabuk pengamannya.
Ia menoleh ke arah kakaknya. "Yuk."
Zegra mengangguk.
Keduanya turun hampir bersamaan.
Saat kaki mereka menginjak pelataran Satropa, beberapa pasang mata langsung melirik ke arah mereka.
Bukan hal yang aneh.
Bagaimanapun juga, keluarga Walker termasuk salah satu keluarga yang cukup dikenal di lingkungan sekolah tersebut.
Viora merapikan tali tas di bahunya.
Sementara Zegra memasukkan kunci mobil ke saku blazer.
Dengan langkah santai dan penuh percaya diri, keduanya kemudian berjalan berdampingan menuju gedung utama Satropa, memulai hari baru yang sebentar lagi akan dipenuhi berbagai aktivitas, pelajaran, seperti biasanya.
lanjut Thor ceritanya