"Aku tampan dan memiliki banyak harta. Semua wanita akan sangat tertarik pada pria seperti ku. Sebaiknya kamu jangan terlalu curiga dan mengekang ku Adara. Cukup jadi wanita penurut dan tak banyak menuntut!" Ucap Arkan dengan penuh kesombongan. Ia yang tak terima dengan pertanyaan dari sang istri yang meminta kejelasan hubungannya bersama sang sekretaris sekaligus sepupu yang dulu merupakan mantan kekasihnya,mencoba berdalih agar wanita itu diam dan tak lagi bertanya. Namun satu hal yang tak ia sadari,bahwa perkataan nya itu justru menjadi sebuah motivasi bagi Adara untuk kembali bangkit menjadi wanita yang cerdas serta kembali terjun ke dunia bisnis. Adara diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam pada Arkan sang suami yang selama ini selalu mempermainkannya.
Karya ini sangat menarik,bagi readers yang menginginkan hiburan yang tak membosankan,silahkan simak cerita ini hingga selesai. Terima kasih and happy reading 🤗🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinly Secret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Memutuskan Untuk Mencari Tahu
Meskipun tahu bahwa sang suami telah berbohong,Adara tak berniat sedikitpun untuk menghubungi Arkan untuk meminta penjelasan atau sekedar memberitahu bahwa dirinya telah mengetahui kebohongan pria itu. Ia lebih memilih membiarkan saja. Bukankah jika Adara terlalu mengejar dan mencari pembenaran,justru akan membuat Arkan semakin menjauh dan bahkan akan merasa benar dengan membalikkan fakta bahwa Adara terlalu mengekangnya. Lebih baik,membiarkan kebohongan tersebut terungkap dengan caranya sendiri,sambil menjaga diri agar tak terjebak dengan masalah ke depannya yang mungkin sebentar lagi akan sangat menguji kesabaran.
Akhirnya malam pun tiba. Jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun tak Arkan belum juga pulang. Adara menunggu suaminya pulang sambil melakukan rutinitasnya setiap malam untuk mengoles krim wajah. Di umurnya yang telah menginjak dua puluh tujuh tahun,ia tetap terlihat awet muda. Wajahnya yang mungil memberikan kesan imut sehingga semakin membuatnya terlihat seperti seorang remaja.
Jika dibandingkan dengan kely,Adara terlampau lebih cantik. Hanya saja,Kely adalah wanita karir. Selama ini,Adara mendengar kabar bahwa kely bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Sebenarnya,Adara merasa bingung,kenapa kely ingin tinggal bersama kedua mertuanya dan bagaimana dengan pekerjaannya. Apakah wanita itu telah lama tak bekerja atau mungkin pindah kerja ke tempat baru.
"Assalamualaikum...." Suara Arkan terdengar bersamaan dengan bunyi pintu kamar yang di buka. Adara yang sedang asik berpikir sambil mengoles krim wajah langsung menoleh. Ia tetap tersenyum dan menyambut sang suami seperti biasa.
"Waalaikumsalam Mas." Balas Adara dan kembali sibuk memoles wajahnya.
"Maaf sayang,aku pulangnya telat. Soalnya tadi ayah dan ibu menahan ku agar makan bersama." Tanpa ditanya,Arkan langsung memberikan alasan.
"Gapapa Mas. Berarti Mas udah kenyang ya ? Aku nggak perlu siapkan makan malam ?"Tanya Adara. Matanya menatap wajah sang suami dengan teliti. Wajah pria yang dicintainya itu tampak berseri meskipun telah melakukan perjalanan jauh pulang balik. Persis seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Iya sayang. Mas udah kenyang. Capek banget. Pingin langsung tidur." Jawab Arkan. Namun yang tidak ia sadari adalah,sang istri melihatnya tak seperti orang yang lelah dan ingin tidur. Di mata Adara,Arkan terlihat sangat segar dan mungkin tak ada tanda-tanda kantuk di wajahnya.
"Oiya Mas. Tidur saja. Aku masih ingin membaca sebentar." Balas Adara setelah selesai memoles krim. Wanita itu tetap duduk di depan meja rias dan langsung sibuk menatap layar handponenya. Tak dipedulikan lagi suaminya yang mungkin benar-benar hendak tidur. Dan Arkan tahu bahwa istrinya itu sangat senang membaca atau berselancar di dunia Maya untuk sekedar mencari informasi. Ia hanya menganggukkan kepala dan juga ikut sibuk menatap layar handpone. Padahal tadinya ia berkata bahwa sangat lelah serta ingin segera tidur.
Sudah satu jam lamanya Adara sibuk membaca beberapa informasi bagaimana caranya menjadi seorang Desainer yang sukses. Rasa kantuk tiba-tiba mulai mendera hingga dengan spontan ia pun mematikan handpone dan bersiap untuk naik ke ranjang. Namun pandangannya langsung terpaku pada Arkan yang sedang fokus menatap layar handpone sambil tersenyum. Senyum bahagia bercampur malu. untuk beberapa detik,Arkan tak menyadari bahwa sang istri sedang menatapnya.
"Eh,sayang. Ada hal lucu di grup wa makanya ngantuk aku hilang. Hahaha... Ada-ada saja teman ku." Lagi-lagi Arkan memberikan alasan tanpa di minta.
"Oiya Mas. Lanjutkan saja. Aku mau tidur." Pamit Adara. Tanpa menunggu balasan suaminya,ia pun segera menaiki ranjang dan berbaring di sebelah Arkan.
"Sayang. Aku juga mau tidur." Melihat istrinya telah berbaring,Arkan dengan cepat mematikan handpone dan ikut berbaring. Namun Adara tak menyahut. Entah mengapa,setelah mengetahui suaminya berbohong,ia tak ingin lagi bersikap hangat seperti biasa. Tanpa bisa ia tahan,hatinya yang kecewa membuatnya langsung bersikap dingin pada pria yang selama ini selalu dipujanya. Tak ada lagi niat untuk sekedar memberikan perhatian kecil. Bahkan untuk menatap matanya dirinya merasa enggan.
Meskipun hanya sebuah kebohongan,namun bagi Adara hal tersebut tak bisa ia terima. kebohongan adalah pintu menuju sebuah pengkhianatan menyakitkan. Jika seorang suami telah berani membohongi istrinya,maka bersiaplah pada kemungkinan buruk yang cepat atau lambat akan segera terjadi.
Sejak dulu,Adara tak pernah mentoleransi sebuah kebohongan. Sekecil apapun. Dan Arkan sang suami telah mengetahui hal itu. Karena pernah sekali mereka bertengkar hanya karena pria yang dicintainya itu berbohong sedang bekerja,padahal Arkan sedang mengambil cuti dan pergi memancing bersama teman-temannya.
Dan kini,Arkan kembali berbohong hanya untuk menghabiskan waktunya bersama wanita lain yang notabene nya adalah mantan kekasihnya. Bagaimana pun juga,hal ini sangat menyakitkan bagi Adara.
Malam itu,Adara melewatinya tanpa ada canda tawa bersama Arkan. Ia diam sambil berusaha menenangkan diri,menjemput rasa kantuk yang akan membuatnya tidur nyenyak sehingga bisa melupakan beberapa hal yang mulai mengganggunya. Perlahan-lahan, pada akhirnya Adara pun tertidur.
...****************...
"Sayang,maaf aku buru-buru ni. Nggak bisa ikut sarapan. Kamu sarapan aja sendiri ya ? Gapapa kan ?" Arkan dengan cepat berjalan menuruni tangga. Tanpa menunggu respon sang istri,ia langsung berlalu pergi meninggalkan Adara yang hanya bisa menatap dingin kepergiannya dengan beberapa sarapan hangat yang telah tersedia di atas meja.
"Baru pukul enam pagi. Tapi Mas Arkan terlihat sangat terburu-buru." Gumam Adara dalam hati. Seketika hatinya merasa gelisah. Sebagai seorang istri,ia semakin merasakan suaminya berubah dan tak lagi memperhatikannya.
"Ini sangat aneh. Baru sehari kedatangan wanita itu,dunia Mas Arkan seolah-olah sudah teralihkan. Aku harus menyelediki apa yang sebenarnya terjadi. Perubahan Mas Arkan yang sangat signifikan,sangat menggangguku. Hal ini tak bisa dibiarkan." pikir Adara. Ia larut dalam pikirannya tentang kemungkinan apa saja yang saat ini terjadi pada suaminya itu.
"Bu,ayam gorengnya sudah jadi." Suara Bi Ani membuat Adara tersadar.
"Oh iya Bi,buat bibi sama yang lain saja. Aku sedang ada urusan mendadak. Bibi tolong jaga rumah sebentar ya ?" Pamit Adara yang tiba-tiba saja kepikiran ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya saat ini. Bukan apa,ia hanya ingin memastikan bahwa kegelisahan yang ia rasakan bukanlah sebuah pertanda bahwa Arkan melakukan sesuatu hal buruk.
"Baik Bu." Jawab Bi Ani dan kembali membawa pulang ayam goreng hangat di piring.
Adara dengan cepat segera menyetop taksi yang lewat dan berharap bisa segera menyusul sang suami. Meskipun memiliki mobil lainnya di rumah,ia tak ingin suaminya curiga jika ia menggunakan kendaraan tersebut.
Kok lama tidak up Thoor, jangan berhenti, sayang ceritanya bagus, jika diputus di tengah jalan
mrk tinggal serumah Kan?