....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja no 7
Pukul 17.20. Kafe Luna Bloom berada di area kampus Eastbridge. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi selalu ramai mahasiswa. Interiornya hangat, dengan lampu kuning dan rak buku di sudut ruangan.
Hari itu Cheyrin bekerja rangkap sebagai kasir sekaligus waiters. Rekan kerjanya sedang berhalangan masuk. Ia tetap menjalankan tugasnya dengan teliti. Meskipun lelah setelah kuliah dan percakapan dengan ayahnya, Cheyrin tidak pernah menunjukkan raut letih kepada pelanggan.
Cheyrin memang gadis yang cantik. Senyumnya manis dan tulus. Sikapnya yang sopan membuat banyak pelanggan menyukainya. Bahkan ketika buru-buru mencatat pesanan atau membawa nampan penuh, ia tetap menyapa dengan senyum.
Seorang pelanggan wanita paruh baya menghampiri kasir. "Nak, kamu cantik sekali kalau senyum. Rajin ya kerjanya. Semoga lancar kuliahnya."
Cheyrin membungkuk sedikit. "Terima kasih, Bu. Silakan duduk, pesanannya segera saya antar."
Setelah itu, ia membawa nampan berisi kopi dan roti panggang menuju meja nomor 7. Di sana duduk empat orang pria seusianya. Mereka mengenakan jaket klub motor. Tawa mereka terdengar keras sejak Cheyrin mendekat.
Cheyrin meletakkan pesanan satu per satu dengan gerakan hati-hati. Ia tersenyum ramah seperti biasa. "Pesanan lengkap, Kak. Silakan dinikmati."
Salah satu pria dengan tato di lengan sengaja menahan pergelangan tangan Cheyrin saat ia menarik nampan. Sentuhannya disengaja dan berlangsung beberapa detik. "Wih, tangannya halus banget. Mbak kasir emang beda ya," ujarnya sambil menyeringai.
Cheyrin terkejut. Ia segera menarik tangannya dengan cepat. Bagi Cheyrin, tindakan itu tidak sopan bagi nya. Wajahnya yang biasanya datar seketika menegang.
Namun para pria itu justru tertawa terbahak-bahak. "Ah, bercanda doang kali, Mbak. Jangan baper gitu. Lagi kerja harus senyum dong," canda pria lainnya.
Cheyrin tidak menjawab. Ia menunduk sebentar, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah kasir di belakang. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Senyum manisnya lenyap, digantikan ekspresi kaku yang ia sembunyikan dengan baik.
Di balik meja kasir, Cheyrin menarik napas panjang. Tangannya mengepal sebentar sebelum kembali merapikan struk. Ia terbiasa menanggung hal seperti ini sendirian. Baginya, menangis atau marah di depan pelanggan bukanlah pilihan.
Suara pintu kafe terbuka cukup keras.
Steven masuk bersama Juno. Mereka baru selesai latihan basket di lapangan kampus. Keringat masih membasahi kaosnya. Namun sorot matanya langsung tajam begitu melihat meja nomor 7.
Steven melihat jelas dari pintu tadi. Ia melihat pria bertato menahan tangan Cheyrin. Ia juga melihat Cheyrin menarik tangannya dan berbalik ke kasir tanpa sepatah kata.
Tanpa berkata pada Juno, Steven langsung berjalan cepat ke meja para pria itu. Langkahnya berat, rahangnya mengeras. Ia berhenti tepat di samping meja, menatap mereka dari atas.
"Gue dengar dari sini," ucap Steven, suaranya rendah tapi dingin. "Tangan lo panjang amat, ya?"
Keempat pria itu terdiam sesaat. Salah satunya, yang bertato, menyenderkan punggung ke kursi sambil terkekeh. "Lah, siapa nih? Abang-abangan? Bercanda doang bang, santai."
"Bercanda?" Steven mencondongkan tubuhnya sedikit. "Nyentuh orang tanpa izin itu namanya pelecehan. Bukan bercanda. Minta maaf sekarang."
Suasana kafe yang tadinya ramai mendadak hening. Beberapa pelanggan menoleh.
Pria bertato itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Apaan sih, lebay banget. Dia juga senyum-senyum tadi. Berarti suka dong."
Steven mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. "Gue ulang sekali lagi. Minta maaf."
Di balik meja kasir, Cheyrin berdiri diam. Ia mendengar semuanya. Namun ia tidak ikut campur. Wajahnya tetap datar. Tangannya merapikan struk dengan gerakan teratur. Bagi Cheyrin, ini bukan urusannya lagi. Ia sudah menjauh dari situasi itu.
Ia hanya menatap nampan kosong di depannya, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.
Juno yang dari tadi berdiri di belakang Steven akhirnya bersuara, mencoba meredam. "Udah, Ven. Jangan bikin ribut di tempat orang."
Steven tidak menoleh. Matanya tetap mengunci pria bertato itu. "Gue nggak akan diem kalau ada cewek dilecehin di depan mata gue."
Suasana kafe Luna Bloom mendadak tegang.
Pria bertato itu berdiri dari kursinya. Tubuhnya lebih besar dari Steven. Ia mendorong dada Steven pelan. "Woi, jangan sok jagoan lo. Ini kafe umum, bukan lapangan basket lo."
Dorongan itu membuat Steven mundur setengah langkah. Matanya menyipit. "Jangan sentuh gue."
Kata itu seperti pemantik. Pria bertato mendorong lagi, kali ini lebih keras. Steven tidak terima. Ia membalas dengan mendorong balik bahu pria itu.
Situasi langsung memanas. Pria lainnya ikut berdiri. Meja nomor 7 bergetar karena sikut dan kursi bergeser.
Juno yang dari tadi memperhatikan langsung maju. "Waduh waduh, slow bro slow. Ini kafe, bukan ring tinju UFC. Kalo mau gelut, bayar sewa lapangannya dulu," ucapnya sambil nyelip di antara mereka dengan gaya konyol. Ia mengangkat kedua tangannya seperti wasit.
Tapi Steven sudah keburu naik darah. Ia mengayunkan tangan ke arah kerah pria bertato. Pukulan itu meleset karena pria itu menangkis.
Keributan kecil pecah. Gelas di meja bergetar, beberapa tumpah.
Dari balik kasir, Cheyrin langsung bereaksi. Ia berlari kecil ke arah mereka. Wajahnya tetap datar, tetapi langkahnya cepat dan tegas.
"Berhenti," suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk memotong keributan.
Cheyrin menyelipkan tubuhnya di antara Steven dan pria bertato. Ia mendorong pelan dada Steven dengan kedua tangannya. "Steven, cukup."
Steven tertegun. Ia tidak menyangka Cheyrin yang diam sejak tadi tiba-tiba maju dan memisahkan mereka.
Cheyrin lalu menoleh ke pria bertato. Tatapannya dingin, tanpa ekspresi. "Kalian udah nggak boleh pesan di sini lagi. Silakan keluar."
Pria bertato meludah ke lantai. "Cih, drama banget. Mbaknya juga senyum manis tadi. Nggak usah munafik." Ia dan teman-temannya keluar sambil mengumpat.
Juno menghela napas panjang lalu menepuk bahu Steven. "Nah kan, gara-gara muka lo yang kayak hakim garis, kafe jadi sepi. Lain kali pake jurus ngelawak gue aja, Ven. Dijamin aman," katanya sambil nyengir, berusaha mencairkan suasana.
Steven tidak menjawab. Ia menatap Cheyrin yang berdiri di depannya. Napasnya masih sedikit tidak beraturan.
Cheyrin hanya menunduk, lalu membungkuk sedikit ke arah Steven. "Makasih udah belain gue. Tapi lain kali, jangan berantem di tempat kerja gue."
Suaranya datar. Tidak marah, tidak berterima kasih berlebihan. Seperti biasa.
Steven mengangguk pelan. Juno hanya bisa garuk-garuk kepala di belakang mereka.
STEVEN ALVARO