NovelToon NovelToon
FANI ARSENAL DIONANDO MILIKKU

FANI ARSENAL DIONANDO MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arsella

Sinopsis:

Fani Arsenal Dionando, gadis 17 tahun yang baru memulai hidup di sekolah barunya, berusaha melupakan mimpi buruk yang terus menghantuinya. Namun tanpa ia sadari, kehadirannya justru menyeretnya ke dalam rahasia lama dan rencana balas dendam yang melibatkan namanya. Di tengah konflik dan bahaya yang perlahan mendekat, ada seseorang yang diam-diam selalu melindunginya dari balik bayangan—sosok misterius yang belum ia ketahui apakah akan menjadi penyelamatnya… atau justru alasan hidupnya semakin rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang songong

Entah kenapa, sikap Andra yang songongnya minta ampun itu justru membuatku teringat kembali pada MOS waktu SMP dulu. Gara-gara dia, kenangan memalukan itu muncul lagi begitu saja di kepalaku.

Setelah mengembalikan botol itu, dia pergi dengan langkah santai dan ekspresi menyebalkan khasnya. Benar-benar menyebalkan, gumamku dalam hati. Tapi sudahlah. Yang penting sekarang aku tidak perlu maju duluan dan menerima hukuman.

Namun, tiba-tiba rasa penasaran muncul.

Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan tantangan itu?

Itulah yang terus berputar di pikiranku.

Aku pun segera kembali ke lapangan, tempat para siswa baru berkumpul. Suasananya sudah ramai dan penuh kegaduhan kecil. Untung saja aku langsung berlari dan berhasil menyelinap kembali ke barisan, seolah tak terjadi apa-apa.

Sekarang tinggal menunggu… siapa yang akan jadi korban berikutnya.

(Senior berdiri di depan barisan dengan suara lantang.)

“Oke, semuanya sudah berkumpul dan mendapatkan botolnya?”

Beberapa siswa mengangguk serempak.

“Kalau begitu, saya tidak perlu basa-basi lagi. Sekarang angkat botol kalian! Para senior, silakan periksa botol mereka dan pastikan nama yang ada di dalamnya sesuai, ya!”

Para senior mulai berkeliling. Suasana mendadak terasa menegangkan. Satu per satu botol diperiksa.

Dan yang berjalan ke arahku adalah… Kak Aldo.

Ya ampun.

Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Kak Aldo Bagaskara. Siapa sih yang tidak mengenalnya? Dia siswa kelas 12 MIPA 1 dan menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Kertawijaya. Di sekolah ini, namanya sudah seperti legenda kecil. Banyak gadis yang terang-terangan menyatakan perasaan mereka demi mendapatkan perhatian darinya.

Tapi Kak Aldo? Dia tetap dengan sikap tegas dan cool-nya. Tatapannya tajam, pembawaannya berwibawa. Sebagai pemimpin, dia dikenal disiplin dan serius. Soal percintaan remaja? Sepertinya itu bukan hal yang menarik baginya.

Dan sekarang… dia berdiri tepat di depanku.

Tangannya mengambil botol dari genggamanku. Ia membukanya dengan tenang, memeriksa kertas di dalamnya. Aku hanya bisa menahan napas, berusaha terlihat biasa saja meskipun dalam hati sudah teriak-teriak histeris.

Ya ampun, senior ganteng banget… ini gila. Kenapa harus sedekat ini sih? batinku panik.

Ia mengeluarkan kertas itu, melihatnya sekilas, lalu menyerahkannya kembali padaku.

“Kertasnya disimpan baik-baik,” ucapnya singkat namun tegas.

“I-iya, Kak. Makasih,” jawabku sedikit gugup.

Dan kemudian

Dia tersenyum tipis.

Senyum itu sederhana, tapi cukup membuat pipiku terasa panas. Aku hampir saja lupa cara bernapas.

Huwwaa… aku jadi tersipu malu dibuatnya!

Walaupun pagi tadi aku harus berdebat dengan orang tidak jelas seperti Andra, setidaknya sekarang aku mendapat “hadiah” kecil senyuman gratis dari Kak Aldo.

Aneh sekali. Dulu waktu SMP, aku tidak pernah benar-benar tergila-gila pada senior, padahal banyak juga yang tampan. Tapi entah kenapa, melihat Kak Aldo hari ini rasanya berbeda.

Mungkin karena dia bukan hanya tampan.

Dia juga punya wibawa.

Punya kharisma.

Dan aura pemimpin yang sulit diabaikan.

Tanpa sadar, aku menggenggam kertas itu lebih erat.

...----------------...

“Oke, semuanya sudah mendapatkan botolnya,” suara Senior Randika kembali menggema di lapangan. “Tapi… di sini kita menemukan seseorang yang cukup menarik.”

Barisan langsung mulai berbisik.

“Dia bukannya mencari botol, malah bilang itu tidak ada gunanya. Artinya… dia berani menerima tantangan tanpa perlindungan apa pun.”

Suasana makin riuh.

“Pasti kalian penasaran, kan siapa orangnya?” Randika tersenyum penuh arti. “Baiklah… sambut siswa pemberani kita Andra Alfarabi! Silakan naik ke atas panggung!”

Apa?!

Aku spontan menegakkan badan.

Jadi dia yang dapat tantangan?

Tunggu… apa mungkin dia sengaja memberiku botol tadi supaya aku tidak maju? Ah, tidak mungkin. Dia itu orangnya songong dan tengil. Mana mungkin sebaik itu. Lagipula, wajar saja kalau orang seperti dia dapat tantangan memalukan begitu, batinku berusaha masa bodoh.

Dengan langkah santai terlalu santai malah Andra berjalan menuju panggung. Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya setenang orang yang mau jalan-jalan, bukan orang yang akan diberi hukuman di depan satu sekolah.

Sok ganteng banget, gumamku.

…Tapi memang ganteng sih.

Ia menerima mikrofon dari Senior Randika tanpa ragu. Di depannya sudah tersedia sebuah toples berisi gulungan kertas tantangan.

“Ambil satu. Jangan pilih-pilih,” ujar Randika.

Andra terkekeh kecil. “Tenang aja, Kak. Gue nggak pernah takut.”

Tanpa berpikir panjang, ia langsung meraih satu gulungan. Dibukanya perlahan, lalu ia membaca isinya. Ekspresinya sempat berubah—sedikit terangkat alisnya—tapi hanya sepersekian detik.

“Bacakan!” teriak beberapa siswa.

Randika mengambil alih dan membacakan isi tantangan itu dengan suara lantang:

“Andra harus memperkenalkan dirinya, lalu mengucapkan ‘I love you’ kepada salah satu senior perempuan, dan mencium tangannya seperti sedang menyatakan cinta.”

Lapangan langsung heboh.

“Wooooooo!”

“Berani nggak tuh?!”

Aku ikut terkejut. Itu benar-benar memalukan.

Namun Andra? Dia malah tersenyum miring, seolah tantangan itu hanya lelucon kecil.

Ia mengangkat mikrofon.

“Kenalin. Gue Andra Alfarabi. Orang tertampan di sini, jadi nggak usah ada yang iri kalau emang tampan dari lahir.”

Semua orang langsung tertawa. Bahkan beberapa senior sampai menepuk jidat.

Aku hanya diam memperhatikannya. Entah kenapa, meski ucapannya tengil dan penuh percaya diri berlebihan, dia tetap terlihat… karismatik.

Dan tiba-tiba

Dia menatapku.

Pandangan kami bertemu beberapa detik. Tatapannya tajam, seperti sengaja mencari reaksiku. Aku cepat-cepat mengalihkan wajah, pura-pura tidak peduli.

Setelah itu, Andra turun dari panggung kecil dan berjalan mendekati deretan senior perempuan. Tanpa ragu, ia berhenti di depan Senior Tasya salah satu yang paling cantik dan populer.

Ia memegang tangan Tasya dengan sopan, lalu berlutut sedikit.

“Aku mencintaimu, Tasya,” ucapnya lantang.

Lalu… ia mencium punggung tangan senior itu.

Lapangan langsung meledak.

“WAAAAA!”

“BERANI BANGET!”

“GILA!”

Senior Tasya tertawa terkejut, lalu ikut memainkan perannya. “Aku juga mencintaimu,” katanya sambil tersenyum lebar.

Sorakan semakin menjadi-jadi. Para senior bahkan terlihat tak menyangka junior baru sudah seberani itu.

Andra bangkit dengan santai, mengembalikan mikrofon, lalu berjalan turun panggung dengan ekspresi puas—seolah baru saja memenangkan sesuatu.

Tengil.

Sok keren.

Percaya diri setinggi langit.

Tapi satu hal yang tidak bisa kupungkiri dia benar-benar tidak terlihat malu sedikit pun.

Dan entah kenapa… justru itu yang membuatnya semakin sulit untuk diabaikan.

...----------------...

Setelah Andra menyelesaikan tantangan dari para senior, suasana langsung ricuh. Semua orang berteriak histeris, terutama para senior yang tak menyangka para junior sudah mulai berani.

“Baik! Itu tantangan yang hebat!” seru salah satu senior. “Dan karena Andra sudah berani maju, sekarang kalian semua harus ingat baik-baik namanya! Jangan sampai lupa!”

Beberapa senior lain ikut menegaskan agar kami benar-benar saling mengenal. MOS hari itu pun terasa berjalan begitu cepat. Dari tegang, malu, sampai tertawa bersama, semuanya bercampur jadi satu. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan sore hari.

Setelah sesi permainan terakhir selesai, para senior akhirnya membubarkan kami.

“Baik, MOS hari ini selesai! Kalian boleh pulang!”

Sorakan lega terdengar di mana-mana. Satu per satu siswa mulai meninggalkan lapangan.

Aku berjalan menuju koridor sekolah untuk menunggu jemputan. Langit mendung sejak tadi, dan kini gerimis mulai turun perlahan. Aku memilih duduk di bangku koridor, memandangi halaman sekolah yang mulai basah.

Tak lama kemudian, aku menyadari ada seseorang duduk tak jauh dariku.

Kak Aldo.

Ia duduk dengan tenang, tatapannya lurus ke depan. Sikapnya tetap terlihat cool dan tidak banyak bicara. Sepertinya ia sengaja menunggu gerimis reda. Aku tahu ia datang ke sekolah menggunakan motor Ninja-nya yang super keren itu. Mungkin ia tidak ingin mengambil risiko basah-basahan.

Suasana terasa canggung.

Hanya suara rintik hujan dan angin sore yang menemani.

Tiba-tiba, tanpa menoleh, ia berbicara dengan nada datar.

“Sepertinya wajahmu sangat familiar.”

Aku yang sedang melamun langsung tersentak.

“Eh? Ada apa, Kak Al? Kak Aldo bicara sama aku?” tanyaku gugup.

Ia akhirnya menoleh sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang basah.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Lalu hening lagi.

Ya ampun… ini orang benar-benar seperti es batu berkedok anak OSIS, batinku.

Aku jadi salah tingkah sendiri. Deg-degan tanpa alasan yang jelas, padahal dia bahkan tidak banyak bicara. Justru sikap dinginnya itu yang membuat suasana makin canggung.

Tak lama kemudian, gerimis mulai mereda. Kak Aldo berdiri, merapikan jaketnya.

“Sudah reda,” ucapnya pelan.

Ia berjalan menuju parkiran, tempat motor Ninja hitamnya terparkir gagah. Mesin motor itu menyala dengan suara halus namun tegas. Tanpa banyak kata, ia hanya mengangguk kecil ke arahku sebelum melaju meninggalkan sekolah.

Dan entah kenapa…

Aku masih memperhatikannya sampai motor itu benar-benar hilang dari pandangan.

Kenapa rasanya aneh begini, sih?

Tak lama setelah itu, mobil jemputanku datang. Aku segera masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku malah sibuk memutar ulang kejadian barusan.

Padahal tadi seharian aku kesal karena Andra.

Tapi sekarang...

Kenapa malah jadi kepikiran Kak Aldo terus?

Astaga, Fani. Jangan mulai aneh-aneh dulu deh.

...----------------...

Sesampainya di rumah, aku langsung berlari ke kamar dan menjatuhkan tubuhku ke atas kasur.

Pluk.

Aku menatap langit-langit kamar sambil tanpa sadar tersenyum sendiri.

Ya ampun… kenapa senyuman Kak Aldo terus terbayang di kepalaku, sih?

Sikapnya yang cool, cara bicaranya yang datar, sampai tatapannya waktu di koridor tadi sore… semuanya seperti terulang lagi di pikiranku.

“Fani, sadar… sadar…” gumamku pelan sambil menutup wajah dengan bantal.

Setelah cukup lama mengkhayal tidak jelas, aku akhirnya bangkit. Aku mandi, mengganti pakaian, lalu merapikan sedikit kamar sebelum turun ke bawah.

Dari ruang keluarga sudah terdengar suara efek game yang khas.

Aku mengintip.

Benar saja.

Bang Arif sedang duduk santai di depan TV sambil memegang stik PS, wajahnya serius tapi tetap saja kelihatan tengil.

“Bang, main game terus… nggak capek?” tanyaku sambil menyender di dinding.

Ia menoleh sekilas.

“Eh, si anak baru udah pulang ternyata. Gimana?

MOS-nya disuruh push up seratus kali nggak?” godanya.

“Apaan sih! Enggak lah!” balasku kesal. “Abang doang kali yang kayak gitu zaman dulu.”

Bang Arif tertawa kecil.

“Sini, main bareng abang. Dari tadi main sendiri terus, nggak ada yang bisa diajak mabar.”

Aku mendekat.

“Lah, kenapa nggak ajak Pak Supir aja?”

“Udah abang ajak,” jawabnya santai. “Tapi katanya pusing lihat tombolnya kebanyakan.”

Aku tertawa.

“Ya jelas lah, Bang…”

Bang Arif menggeser sedikit duduknya.

“Udah sini. Tapi jangan nangis kalau kalah.”

“Hah? Siapa yang nangis! Kita squad ya, Bang. Jangan musuhan.”

“Yee… maunya aman. Yaudah squad.”

Aku duduk di sampingnya, mengambil stik yang satunya. Seperti biasa, kalau di rumah Bang Arif memang tengilnya kebangetan. Tapi justru itu yang bikin suasana seru.

“Eh fokus dong, Fani! Jangan melamun. Lagi mikirin siapa, nih?” godanya tiba-tiba.

Aku langsung salah tingkah.

“Nggak mikirin siapa-siapa!”

“Hmm… jangan-jangan ada senior ganteng, ya?” lanjutnya dengan senyum jahil.

“Bang!” seruku sambil melempar bantal kecil ke arahnya.

Ia tertawa puas.

“Kena! Abang tahu itu muka orang lagi berbunga-bunga.”

“Ih, abang cerewet banget sih!”

Walaupun begitu, aku tetap tertawa. Bermain game dengannya selalu menyenangkan, meski kadang dia suka curang dan sengaja bikin aku kesal.

Sore itu terasa hangat dan penuh tawa.

Tapi di sela-sela permainan…

Entah kenapa bayangan seseorang dengan jaket OSIS dan tatapan cool itu masih saja muncul diam-diam di pikiranku.

Astaga, Fani.

Fokus game dulu, ya.

1
Bintang Langit
bagus 👍👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ𝐑𝐚𝐩𝐮𝐧𝐳𝐞𝐥𝐥💘: makasiii 🤗🤗🌸🌸
total 1 replies
Merlin
menarik
Oma yeni*🦋
mampir , slm knl
풏 _`~••aʟ_`~•√`옂
😊❤️❤️
Nathan: Alhara?
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ𝐑𝐚𝐩𝐮𝐧𝐳𝐞𝐥𝐥💘
“This is where my story begins with fear, laughter, and a heart that wasn’t ready for what was coming.”
SUKARDI HULU
Nih sudah mampir kk y, jangan lupa mampir juga d ceritaku like, follolw dan beri hadiah y❣️❣️🫰
฿฿Șαмυєℓ ₭łⱡⱡɇɽ฿฿
semangat thor
𝐀𝐳𝐤𝐚®©
luar biasa mengingat gue masa muda
Darah Biru (Bangsawan)
fav, Rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ and boomlike 14 episode 😘 jangan lupa mampir Thor 😇👌
Darah Biru (Bangsawan)
follback Thor 👌
..
lanjut dek semngat ea...😄
..: masama dek..😳
total 2 replies
..
like like like like like dek widy...😘😘
..: masama dek...😳
total 2 replies
..
hebat k
smngat...
LUENA KURASHI [HIATUS❣️]
Ue pas pertama masuk sklh itu g menyenangkan karena ue pas lari masuk itu cium tanah mungkin sakin sayang ma tanah air kli ye😅
Novita_🍁°ᴳᴹ
sudah like thor...jngan lupa mmpir balik k chat story aku "Kamu Milikku❤"
..
makin seru k
smngat ea k 😊
🍀 Imelda Yudistira 🍀
Mampir... Semangat Thor
..
lnjut kk smngat
𝆯Ꭱyana 𝓐𝓭𝓮停顿时刻 𝓢𝓻࿐
inget jaman sekolah jadiny🤣🤣
|•••\SadBoy/•••|
gua udah mampir...ditunggu feedback nya, ya...bagus kok novelmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!