NovelToon NovelToon
This Is Our Love

This Is Our Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:661k
Nilai: 5
Nama Author: Nila Wati

Kontrak kerja telah berakhir. Bella memutuskan pulang ke Indonesia setelah bertahun-tahun di luar negeri. Meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, juga keluarga angkat dan sahabatnya.

Harapan bisa hidup bahagia dengan nenek dan adiknya pupus kala bendera merah berkibar di depan rumah kampung halaman.

Kesedihan mendalam, ditambah beberapa fakta lagi. Tapi Bella tidak bisa terus bersedih. Ia harus mencari kerja demi menyambung hidup.

lah bagaimana ceritanya? Baru pulang sebentar langsung sibuk mencari kerja? Padahal ia adalah mantan GM perusahaan ternama dengan gaji fantastis dan hidup dalam kesederhanaan?

"Aku mencintaimu dengan tulus. Asalkan kau bahagia, aku juga bahagia. Tidak masalah kita tidak bisa bersatu, asalkan kita tetap bersama." ~ Louis.

"Maaf ... aku bukannya tidak ingin kembali. Maaf ... aku harus membunuh cinta ini." ~ Bella.

"Kau hanya alat yang diberikan Papa untuk membawaku ke puncak. Kau memang isteriku, tapi kau bukan hati dan cintaku!"~ Ken.

"Maaf jika aku egois. Aku hanya ingin kau dan aku bahagia. Bella adalah wanita yang cocok untukmu, terimalah dia dengan tulus. Kelak jika aku tiada, kau tidak akan terpuruk dan aku tidak akan merasa bersalah di sana. Tapi aku mohon, jangan lupakan aku dan semua tentang kita." ~ Cia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Bella 1

Rintik hujan mewarnai pemakaman nenek Marissa. Bella bersandar pada Anjani dengan mata sembab. Ia diam, hanya air mata yang menetes tanpa suara saat tubuh berbalut kain kafan nenek Marissa dimasukkan ke dalam liang lahat.

Anjani terus mengusap punggung Bella, seraya memanyungi dan membisikkan dukungan agar Bella tabah dan ikhlas. 

Tak menyangka, saat pertama kali pulang setelah sekian tahun, peristiwa dukalah yang menyambut kepulangan Bella.

Nenek Marissa memang punya penyakit bawaan dan itu semakin parah belakangan ini. Tadi malam, tetangga sebelah rumah menemukan nenek Marissa terbaring di depan pintu yang sedikit terbuka. 

Para tetangga curiga karena sudah malam tapi lampu rumah nenek Marissa tidak menyala. Pak RT yang ikut di dalamnya langsung membawa nenek Marissa ke klinik didepan gang. Sayangnya nyawanya sudah melayang jauh sebelum ditemukan.

*

*

*

Pandangan Bella masih kosong saat acara tahlilan. Anjani sudah pulang, wanita itu sudah menikah dan punya tanggung jawab lain.

Tetangganya yang tadi siang belum sempat memberi ucapan bela sungkawa menyalami dan memeluk Bella memberi semangat. 

"Bella kamu jangan terlalu sedih. Nenek kamu memang sering sakit. Allah lebih sayang padanya, penderitaannya sudah diangkat. Yang penting kamu doakan selalu nenekmu agar diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah," tutur Bik Susi, tetangga yang paling dekat dengan nenek Marissa. 

Hanya saja selama dua hari belakangan ia berada di tempat mertuanya, baru kembali sore ini.

Bella mengangguk pelan, hanya mengangguk dengan memeluk erat bingkai foto nenek Marissa.

"Susi, Bella belum makan dari tadi siang loh. Dibujuk makan juga nggak mau. Geleng terus," beritahu seorang ibu-ibu.

"Bella Bibi tahu kamu sangat sedih. Tapi pikirkan kesehatanmu juga. Nenekmu pasti akan sangat sedih jika kamu begini. Jangan lupa, kamu masih punya adikmu, Nesya."

Bella mengangkat pandangannya.

"Nesya?"gumam Bella menyebutkan nama adiknya.

"Di mana Nesya?!" Bella berteriak, menghentikan acara tahlilan. Semua saling tatap dengan wajah kasihan. Bisik-bisik yang terdengar membuat hati Bella semakin tak karuan.

Bella mencengkeram erat bahu Bik Susi.

"Apa Nesya tidak ada di sini?" Bik Susi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menggeleng. 

"Di mana Nesya! Di mana adikku!" Emosi Bella semakin tidak terkontrol. Melihat Bella yang emosi, salah seorang ibu mengangkat tangannya. Bella menatap ibu tersebut.

"Kemarin Ibu lihat Nesya pergi sama kawan-kawannya. Kalau nggak salah bawa tas besar kayak anak-anak gunung itu loh."

"Nesya pergi mendaki gunung saat nenek sakit?"

Bella bertanya dengan nada tidak percaya. Tatapannya ragu, menyelidik mencari kebenaran di ucapan itu. Setahu Bella, Nesya sangat menyayangi nenek. 

Setiap video call selalu berkata lembut dan membuat nenek tertawa. Apa Nesya setega itu?

Apa semua hanya sandiwara? Sebenarnya apa yang selama ini terjadi di rumah ini? Sebenarnya bagaimana hubungan adik dan neneknya? 

Jika itu benar? Bella benar-benar terluka!

Kepala Bella terasa sangat pusing. Kesadarannya mulai hilang dan matanya menggelap. Bella tak sadarkan diri.

"Bella!"

"Bella!"

"Bella kamu kenapa? Bangun Sayang!"

*

*

*

Bella membuka matanya, mengerjap mengusir pusing juga kantuknya. Matanya masih terlihat sembab, kantung matanya juga menghitam. 

Bella duduk, sebuah handuk kecil yang dilipat jatuh ke pangkuannya. Bella mengabaikan hal itu.

Ini kamarnya, ia ingat saat sebelum pingsan. Bella menaikkan pandangannya, tatapan dingin dengan tangan mengepal.

Adik kurang ajar!

Mata Bella berkilat marah. 

Ceklek.

Bik Susi masuk, tersenyum lembut melihat Bella yang sudah sadar.

"Bagaimana keadaanmu? Masih pusing? Atau ada yang sakit?" Bertanya khawatir seraya menempelkan punggung tangan pada dahi Bella.

"Semalam kamu demam, tapi syukurlah sudah turun. Kamu kembalilah istirahat, Bibi akan membawa sarapan untukmu."

Bik Susi mengambil handuk dan baskom, bersiap untuk keluar.

"Tunggu Bik!"

Memanggil datar.

"Apa Nesya sudah pulang?" Bik Susi menggeleng.

"Aku ingin tahu hubungan nenek dan Nesya yang sebenarnya. Apa semua yang dilakukan saat video call itu benar atau palsu! Bibi adalah orang terdekat nenek setelah aku dan Nesya. Tolong beritahu aku dengan jelas tanpa ditutup-tutupi!" Bella menatap harap Bik Susi.

Tatapan Bella, Bik Susi tercengang sesaat. Bella, masih tetap sama dengan Bella yang ia kenal dulu sebelum Bella pergi keluar negeri. Anak yang tegas dan tidak plin-plan. 

"Jika Bibi tidak ingin memberitahuku, tidak masalah. Aku bisa mencari tahunya sendiri!"ucap Bella yang melihat Bik Susi masih diam.

Hah.

Menghela nafas kasar.

"Tunggulah sebentar. Bibi akan ambil sarapan untukmu dulu." Bik Susi melangkah keluar.

 Bella tersenyum dingin, menyiapkan hati agar tidak emosi jika ia mendengar sesuatu yang sangat ia tidak inginkan. Sebagai lulusan universitas ternama dan mantan GM perusahaan besar, Bella sudah bisa menerka apa yang terjadi, juga telah menyiapkan asumsi lain.

Ia lantas turun dari tempat tidur dan mengambil handuk serta pakaian ganti. Bella keluar dari kamar untuk membersihkan tubuh.

"Loh Bella kamu kok sudah keluar? Kalau mau mandi, tunggu sebentar biar Bibi rebuskan air dulu."

"Tidak perlu, Bik. Bella sudah baikkan. Maaf merepotkan Bibi." Bella menjawab dengan senyuman.

Tinggal seorang diri di luar negeri tanpa sanak saudara membuat Bella benar-benar menjadi wanita mandiri dan pekerja keras. Kesehatan adalah hal yang paling ia utamakan. Selama ini Bella sangat jarang sakit, jikapun sakit sebentar saja pasti sudah sembuh.

***

Selesai mandi dan sarapan Bik Susi menceritakan semua hal yang Bella ingin ketahui, selama masih dalam pengetahuannya.

"Jadi selama ini …."

Bella memejamkan matanya, mengepal menetralkan emosi yang membumbung tinggi.

"Sialan! Adik sialan! Tidak tahu malu! Kurang ajar!" 

Amarah tetap tidak bisa ditahan. Gelas di tangan pun menjadi korban. 

Pyar.

Bik Susi terperanjat kaget dengan gelas di genggaman Bella yang pecah. Bik Susi yang menutup mata, mengintip dari sela darinya.

Bella, mengapa rasanya ia sangat berbeda walau masih terasa sama? batin Bik Susi takut. 

"Hahaha! Aku tertipu! Aku tertipu oleh adikku sendiri! Kurang ajar! Beraninya dia! Nesya mengapa kamu jadi seperti ini?!"

Bella tertawa, tertawa pedih tak mempedulikan tangannya yang berdarah dan sisa pecahan gelas di telapak tangan. Melihat darah yang menetas, Bik Susi segera mencari obat untuk luka Bella.

Bella masih tertawa, tak bisa menutupi kesedihan di dalam hati. Bertahun-tahun, ia pikir hubungan nenek dan Nesya sangatlah baik. Ia pikir semua persis seperti yang ia bayangkan, nyatanya itu hanyalah harapan yang sia-sia.

Melawan, sering keluar hingga larut malam kadang tidak pulang, tak segan memaki ataupun memukul nenek jika keinginannya tidak terwujud. Adiknya tumbuh menjadi wanita liar yang sering melanggar norma dan aturan. Dan Bella baru tahu kalau Nesya di DO dari kampus. Kepala Bella serasa ingin meledak.

Lihat! Lihat caraku menghukummu, Nesya! Kau berhasil! Berhasil membuatku marah!

1
Puspa Ayundari
kk thor....kok byk typo yaa.....dr bab bab sebelumnya jg 🙏🏻🙏🏻
Salsabilla Salsa
dangke artix terima kasih
Lestari Setiasih
bagus ceritanya
Esi Ana
🥰
Zuraida Zuraida
pasti Nesya hamil
Arshafi Ray
bpbbphg
Fitri cute
manteppp jiwaaaa
anne yolanda tarigan
seru kali baca nya kk
Aumy Re
halo ka....
salam kenal
aku mampir baca ya
salam di batas cakrawala
bunda syifa
haaahhh... dn akhirnya ending...

d tunggu selalu karya terbaru nya Thor, aq kasih vote sama buket bunga 💐🥀🥀
bunda syifa
lama banget ngulang ka', eh Dateng" malah ending 😭😭
Eka Arti
overal ceritanya bagus, cuma kadang nama pemerannya kebolak balik, jadi agak membingungkan.
But tetep semangat dalam berkarya, dan "kesayangan presdir" nisa dilanjutkan lagi...
bunda syifa
untuk Brian selogan "KB dua anak cukup" gc berlaku y, karena cukup satu anak aja🤭🤭
Sul Lasih
happy ending ya Thor 😍
Risfa
mangatt berkarya ka, sukses ya 🤗🤗🤗
Nilaaa🍒
Surabaya Kakak😆
bunda syifa
ini kuliah nya d Bandung apa Surabaya Thor, ko' ganti"
Nilaaa🍒: Surabaya Kakak
Ada typo😅🥰
total 1 replies
Mazzahir 9
terharu sama ending nya thor
💠 Coco 💠
senengnya bisa baca lg Bella-Ken
Ayi Ummi PutriAnnisa
akhirnya.... next Thor 😘😍😘😍😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!