Area 21+
Harap bijak untuk membaca di bawah usia.
Clara wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak laki-laki. Keadaan rumah tangganya tak seperti rumah tangga yang lain, penuh dengan penderitaan dan kesusahan.
Suatu hari, saat mereka berdua bertengkar lagi ada seorang pria yang masuk tanpa permisi dan membeli Clara dan Reno.
Clara yang tersentak kaget dan bingung, "Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa aku di beli oleh pria yang tidak aku kenal sama sekali?"
"Aku di jual oleh suamiku sendiri! Apa aku sehina itu?"
"Kesetiaan ku yang ku berikan padanya dengan ketulusanku dibalas dengan hina seperti ini."
"Apa kesetiaan ku berujung Cerai seperti mimpi yang tak ku inginkan." Kata Clara dengan menangis sambil menidurkan Reno anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triya Widodo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Betapa rasa sakit hati saya membina rumah tangga dan sekarang di khianati olehnya. Saya sangat sedih dan terpukul, tak bisa melanjutkan pernikahan karena perjodohan dari kedua belah pihak. Jelasnya dengan memasang wajah sedih serta kecewa.
"Benarkah rumah tangga anda setelah menikah sampai sekarang berantakan?" tanya wartawan.
"Benar, dia tidak pernah mencintaiku. Dia terpaksa karena perjodohan." bebernya.
"Pak Riko Hilman, anda mempunyai seorang putra. Apakah putra anda akan ikut dengan anda?" tanya wartawan lain.
"Tidak, karena anak di bawah umur masih di bawah asuhan ibunya. Tapi, saya hanya bisa mengunjunginya setiap Minggu sekali. Tidak ada tanggungjawab seorang ayah yang lepas dari putranya." jelasnya dengan tersenyum.
"Pak Riko Hilman ini sangat baik dan bijak ya..." gumam wartawan yang lain.
"Iya, masih mementingkan putranya walau istrinya bermain di belakang dan menyakiti perasaannya." bisik pelan salah satu wartawan.
"Pesan terakhir anda setelah bercerai untuk mantan istri anda, Pak." ucap wartawan.
"Pesan saya, semoga hubungan kalian tetap baik hingga tua. Dan jangan pernah melakukan kesalahan lagi untuk yang kedua kalinya. Berbahagialah dengan suami kamu yang sekarang. Terimakasih. Selamat pagi." tuturnya mengakhiri jumpa pers hari ini dan berlalu pergi dari ruang tersebut.
Di ruang itu masih terdapat dua orang yang tak dikenal selesai merekam video jumpa pers Riko Hilman, mereka segera keluar dan kembali.
...****************...
...****************...
...****************...
Di ruang kerja Asisten Lee melihat jumpa pers Riko Hilman yang live di TV. Dengan wajah kesal ia mengepalkan kedua tangannya, "Kurang ajar kau, Riko. Tuan ku telah memberikan banyak keuntungan padamu. Dan sekarang kau membalasnya dengan seperti ini. Sungguh gila dan bodoh kamu, cari mati dengan kita." umpat Asisten Lee marah dan kesal.
Asisten Lee segera ke kamar Tuan Abbas dan mengetuk pintu, "Tuan, apa anda sedang istirahat?" tanyanya.
"Masuklah!" Perintah Tuan Abbas dari dalam.
Asisten segera masuk dan melihat Reno bermain di samping Tuan Abbas memberhentikan kata yang akan di lontarkan olehnya.
"Ada perlu apa kamu sampai tergesa seperti itu?" tanya Tuan Abbas menatapnya.
"Tuan, apa anda sudah menonton TV hari ini." ucapnya dengan menahan marah.
"Sudah, selesaikan dulu pekerjaan hari ini. Kamu urus semua pertemuan hari ini kecuali datang di anniversary nanti malam." balasnya pada asistennya dan ia memberikan Bow pada Tuannya.
Melihat Reno yang sedang asyik bermain membuat Tuan Abbas tersenyum. Sedari kesal pada Riko Hilman segera menghilang karena Reno putranya ada di sampingnya yang selalu berada di sisinya dan sudah kembali.
Benar-benar pria bodoh. Sebentar lagi kamu akan hancur lebur dan bersimpuh sujud di depan ku. Batinnya kesal dan murka.
"Reno, papa tinggal mandi dan tunggu di sini." ucapnya beranjak berdiri dan pergi.
"Iya, Papa." balas Reno melanjutkan main.
Di dapur Clara sedang sibuk membantu Bibi Ani, walaupun sudah di larang dia masih tetap membantu karena sudah kebiasaan sehari-harinya.
"Nyonya, sudah selesai anda silahkan beristirahat." perintah Bibi Ani seraya meminta piring yang di cuci.
"Bibi... Biar saya bantu sampai selesai. Saya yang tidak enak sama Bibi." balas ku melanjutkan mencuci piring.
"Aduh... Nyonya, nanti saya yang kena marah Tuan Abbas." resah Bibi Ani memelas.
"Hm... Baiklah Bi. Terimakasih!" seru ku seraya membasuh tangan dan berlalu pergi ke atas.
Sampai di ambang pintu kamar Tuan Abbas aku membuka tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Reno..." panggil ku dengan pelan.
"Iya, Ma." sahutnya berhenti sejenak bermain.
"Papa Abbas dimana, Sayang?" tanyaku berbisik pelan.
"Sedang mandi Mama." jawabnya berbisik serta menunjuk ke arah kamar mandi.
Aku menoleh ke arah yang di tunjuk Reno, "Ayo, ikut Mama keluar," ujar ku, "kalau jalan pelan-pelan ya." imbuh ku pada Reno seraya berjalan berjinjit.
"Mama, kenapa harus pelan-pelan?" tanya Reno berbisik.
"Syut... Nanti Mama jelasin ya..." balas ku menempelkan telunjuk ku ke bibir Reno. Balas Reno dengan mengangguk. Sampai di luar rumah bertemu dengan beberapa pengawal yang berjaga di luar.
"Nyonya, anda mau kemana?" tanya pengawal itu.
"Saya mau pergi ke tempat bermain bersama Reno dan tadi saya juga sudah dapat ijin dari Tuan Abbas." balas ku seraya tersenyum kaku seperti ketahuan akan kabur.
"Saya antar Nyonya..." seloroh salah satu pria yang memakai pakaian sopir.
"Tidak perlu, saya naik taksi saja." kilah ku tak menyetujui tawaran nya.
"Ini sudah tugas saya untuk mengantar Nyonya kemana pun Anda pergi." jelasnya dengan rasa hormat padaku.
Kenapa semua orang di sini sudah di tugaskan untuk melayani ku. Aku tidak bisa tenang berada di sini lama-lama. Batin ku dengan resah.
Tanpa panjang lebar berpikir akhirnya aku menyetujui tawaran nya. Lalu sopir itu mengambil mobil dan berhenti tepat di depan ku serta aku segera masuk bersama Reno.
"Anda mau kemana, Nyonya?" tanya sopir itu mengemudi dan keluar dari pelataran rumah Tuan Abbas.
"Ke jalan Tunggul Ametung blok 5." jawab ku.
Semoga sopir ini tidak banyak tanya.
"Ma, hari ini Reno mau jalan sama papa Abbas." ucap Reno menarik lengan baju ku.
Seketika aku menoleh padanya," Reno, kita ke rumah nenek dan kakek dulu. Setelah selesai kita langsung pulang." jelas ku padanya mengusap pipi Reno.
"Iya, Ma." balasnya lalu sibuk bermain dengan mainan yang di bawanya.
"Pak sopir, bisakah anda tidak memberitahu Tuan Abbas tentang keberadaan saya." tekad ku mengatakan ini pada sopir Tuan Abbas.
"Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya. Semua yang berhubungan dengan aktivitas anda, saya harus memberitahu Tuan Abbas. Walaupun saya sudah di tugaskan sebagai sopir pribadi Nyonya dan Tuan muda Reno tapi saya sudah berjanji padanya." terang sopir itu.
Ya Tuhan...
Kenapa semua bisa berubah menjadi begini.
Sama saja aku tak bisa bebas dari siapapun.
Aku hanya ingin ke rumah orang tua ku saja dan memberitahukan bahwa berita live yang di bicarakan oleh Riko Hilman itu tidak benar adanya. Gumam ku cemas dan rasa sesak di dada ini tak kuat ku untuk menahannya.
Aku terdiam sejenak melihat ke arah luar mobil.
Ponsel ku berdering tanda pesan masuk. Aku melihat pesan yang di kirim oleh teman ku serta beberapa foto yang di kirimnya.
Sebuah pesan singkat darinya,
Clara, kamu harus bertindak.
Riko Hilman itu sangat jahat, kamu tahu kalau Reno bukan anaknya. Dia adalah anak dari seseorang yang tidak di kenal.
Aku belum tahu jelas anak siapa dia.
Lalu aku tersentak dengan informasi darinya dengan sigap aku membuka beberapa foto. Beberapa bukti yang tertera dari penyetujuan proses bayi dari penyuntikan ****** dan akta kelahiran yang bernamakan ayah Riko Hilman dan namaku. Dan yang terakhir akta kelahiran bernamakan ayah Abbas Lais Jareel dan namaku Clara Annesa.