NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Pilihan Nenek

“Ya Tuhaaaaan anak ini!!”

BUGH!

"BANGUN!“

Dewa menggumam tak jelas dan menutup kembali kepalanya dengan selimut yang ditarik oleh Nenek.

"Ck. Bangun Nggak?!“

"Apasih, Nek. Biarin Dewa tidur dulu.” Ia baru terlelap pukul tiga subuh tadi dan sekarang nenek dengan tidak berperasaannya membangunkannya. Apa tidak bakal gempa bumi dunianya.

"Tidur mulu. Janji nenek sama teman nenek gimana?”

"Kan nenek yang janji kenapa Dewa yang harus ribet sih.” Dewa menggumam malas. Setengah kesadarannya sudah hilang entah kemana. Tolong siapapun, biarkan ia terlelap dulu sejenak.

"Kan kamu yang akan menikah bukan nenek, gimana anak ini.” Ujar Nenek gemas. Kembali ia menarik selimut Dewa dan pria matang itu memilih untuk pura-pura mati saja. Lagi-lagi urusan nikah. Tidak tahukah neneknya ini bahwa bagi Dewa pernikahan itu hanyalah sebuah omong kosong?Sebuah penjajahan terselubung yang dilegalkan oleh agama dan negara atas nama cinta.

“DEWA!!!” Nenek sudah tak sabar lagi. Kali ini bantal yang menganggur di layangkan pada sang cucu. Sudah beberapa bulan terakhir ini Dewa banyak menghabiskan waktunya di rumah. Sesekali ia ke asrama itupun jika di panggil oleh teman-temannya. Sudah jarang ia melihat sang cucu pulang dalam keadaan mabuk apalagi bau perempuan. Sebenarnya ini sebuah hal baik tapi perubahan Dewa terlalu aneh, seperti ada sesuatu yang telah mengambil kewarasannya. Tapi bukankah waras yang sesungguhnya adalah menjalani hidup dengan baik?Untuk siapapun yang telah memberikan energi positif pada sang cucu ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Well, terkecuali tidurnya yang mirip orang nati ini tentunya. Nenek Ida menggelengkan kepala sembari menghela nafas pendek.

BUGH! BUGH! BUGH!

"Awww!Nenek!“ Dewa mengaduh sambil terduduk, ”Apasih Nek?“ Ia memegang kepalanya yang pusing gara-gara bangun tiba-tiba. Di samping ranjang Nenek Ida menatapnya galak.

"Siap-siap sekarang atau motor kamu nenek bakar.” Ancam Nenek Ida lalu keluar dari kamar cucunya itu dengan langkah cepat.

"ARGHHH!!” Dewa menggeram mengacak rambutnya frustasi. Untung sayang kalau tidak, sudah di bawa ke penjual barang antik neneknya itu. Akhirnya dengan terpaksa ia beranjak dari ranjangnya dan masuk kamar mandi. Bukannya ia khawatir motornya di bakar tapi membuat nenek-nenek marah tidak baik untuk kesehatan si nenek itu sendiri. Sesayang itu Dewa pada neneknya.

Dewa keluar kamar tidak lama berselang dan langsung menghampiri nenek yang sudah siap di ruang tengah. Nenek Ida tampak bling-bling dengan semua aksesoris warna gold yang dikenakannya. Dewa bahkan butuh kacamata hitam agar bisa melihat dengan jelas.

"Nah gitu dong ganteng. Kalau udah mandi gini kan jadi mirip orang.” Puji Nenek Ida tersenyum lebar. Sedangkan yang di puji hanya mendengus sebal.

"Jadi selama ini Dewa mirip apa kalau bukan mirip orang?!“ Lelaki itu duduk di samping sang nenek, sangat malas sebenarnya untuk keluar rumah apalagi kalau urusannya tentang perjodohan yang tidak ada akhir-akhirnya ini.

"Mirip buaya. Udah, jangan banyak omong nanti kita terlambat ketemu teman nenek.” Nenek Ida menarik tangan Dewa mengabaikan wajah masamnya yang baru saja di puji mirip buaya. Yah, kalau dia buaya berarti yang sedang menggeretnya ini adalah neneknya buaya. Persis.

"Nenek harusnya hidup nyaman, nggak usah ngeribetin jodohnya aku.” Ujar Dewa saat keduanya sudah berada dalam mobil.

Nenek menggeleng, ”Nenek akan hidup dengan nyaman dan tenang kalau kamu sudah menikah. Huuuf, sayangnya kehidupan nyaman dan tenang itu terasa sulit sekali nenek gapai gara-gara kamu nolak melulu. Lagian Wa,---” Nenek menoleh pada sang cucu yang sedang menyetir, ”Alasan kamu nolak wanita-wanita berbakat yang nenek sodorin itu nggak masuk akal. Adalah yang jalannya miring kayak crab. Adalah bibirnya terlalu tebal kayak buku sejarah, adalah suaranya mirip suara iblis kejepit seng. Nggak ngerti lagi nenek sama kamu. Apa sih masalah kamu ini hm?Coba jawab Nenek. Atau jangan-jangan---” Nenek menyipit, lalu tiba-tiba wajahnya berubah horor. Nenek tua itu menutup mulutnya syok yang mengundang kernyitan di wajah Dewa. Kenapa lagi sekarang?

"Apa?“ Tanya Dewa waspada. Arah pikiran neneknya ini terkadang terlalu ajaib memikirkan hal-hal dibatas pikiran seorang nenek pada umumnya.

"Kamu masih suka kue apem kan, Nak?“ Tanya Nenek hati-hati. Bisa putus turunannya kalau cucu satu-satunya malah doyan yang lain.

Yaelaaaah. Dewa melongos. Mengabaikan wajah penasaran sang nenek ia memilih konsentrasi dengan kemudi. Jadi selama ini neneknya sendiri meragukan orientasi seksualnya?ASTAGA!!!

"Wa?” Panggil Nenek Ida menggoyang-goyangkan lengan Dewa yang wajahnya sudah keruh. Ayolaaaah, ia masih suka, sangat suka kue apem tapi--- tapi--- ah sudahlah. Bagaimana ia berkata jujur pada sang nenek bahwa selama ini ada satu nama yang telah memenjarakannya. Entah itu karena rasa bersalah atau rasa yang lain tapi Dewa lupa rasanya tertarik pada seorang wanita sejak kesalahannya waktu itu.

"Nenek mau gigit lidah sampai mati kalau sampe kamu doyan sosis. Nenek gak mau hidup lagi.” Ujar Sang Nenek penuh ancaman dan kekhawatiran. Dunia semakin tua dan orang-orang pun makin aneh jadi wajar jika ia khawatir akan keadaan cucunya. Bisa saja kan cucu kesayangannya ini terkontaminasi para pemuja pelangi. Apalagi belum lama ini ada berita di tv yang menyiarkan bahwa penyakit itu sudah masuk dalam tubuh para kesatria bangsa ini. Duh, jangan sampe. Amit-amit.

Dewa menatap Nenek Ida jengah. Dari semua tuduhan dan prasangka yang bisa dilayangkan kenapa harus itu yang ditujukan padanya. Astaga, bahkan membayangkannya saja membuatnya ingin muntah.

"Nenek gak usah khawatir. Dewa masih doyan apem atau apalah itu.” Ujarnya. Disampingnya nenek Ida menarik nafas lega.

"Syukurlah.”

***

"Kali ini nenek nggak mau tau, Kamu harus jadi sama anaknya teman nenek.” Bisik nenek pada Dewa yang duduk dengan tidak bersemangat. Restoran mewah kaum sultan dipilih nenek untuk bertemu dengan teman sekomunitasnya dalam perjodohan Dewa dengan putrinya yang katanya pilihan terbaik dari yang terbaik. Dewa belum juga menemukan alasan yang tepat untuk menolak kali ini. Terus terang saja pernikahan selama ini tidak masuk dalam list rencana hidupnya. Dewa hanya ingin menjalani hidupnya seperti air mengalir. Banyak bermain selama ini membuatnya lelah. Suster Devi yang sudah lama tak di dengar kabarnya baru-baru ini mulai menyapanya lagi lewat DM. Sebagai makhluk sosial yang ramah tamah Dewa tentu menyapa sebagaimana mestinya.Dan terakhir-terakhir ini wanita itu seperti kembali ingin mengulang kisah yang belum kelar. Tapi Dewa masih menanggapinya biasa karena yang kerap mengganggunya adalah wajah gadis beliau pencinta polkadot yang entah dimana rimbanya. Dewa bahkan tidak berani bertanya pada orangtua Gendis meskipun hubungannya dengan keluarga itu selama beberapa bulan belakangan ini lebih dekat. Tepatnya Dewa yang selalu menyempatkan diri ke rumah Gendis untuk sekedar bermain catur atau memindah-mindahkan pot milik mami Gendis.

"Anaknya baik, pinter, rajin ibadah, dan yang pasti sangat cantik. Kamu tidak ada alasan lagi untuk menolak.”

Dewa mendengarkan sembari mengangguk-angguk kurang antusias. Neneknya tidak cocok jadi tim marketing karena jualannya tidak bervariasi. Sejak mengenalkan seorang gadis, kalimat itu sudah di dengarnya sampai rasanya ia sudah hafal mati kalimat jualan itu. Sangat tidak membantu sama sekali.

"Itu lengan bajunya jangan di gulung-gulung gitu. Duuuh anak ini.” Nenek Ida dengan gemas menarik kedua lengan Dewa dan menurunkan lengan bajunya yang ditarik sampai di siku.

Dewa yang lelah plus mengantuk membiarkannya saja. Asal nenek bahagialah. Lagian ia sama sekali tak bertujuan menarik perhatian siapapun. Seperti yang sudah-sudah, ia akan kenalan, basa basi sebentar, makan lalu setelah itu bye-bye. Keganasan nenek nantilah ia tangani setelah berada di rumah. Paling-paling dapat omelan 2 kali 24 jam setelahnya dunia akan kembali damai meski tak selamanya sebab perjodohan ini tak akan berhenti sampai ia mengucapkan kata ya atau sampai nenek Ida pikun.

"Jam berapa sih nek janjiannya?Setengah jam nunggu apa nggak keterlaluan?Kalau Dewa nilai sih cewek yang nanti nenek sodorin pasti tidak menghargai waktu orang lain.” Ujar Dewa sengaja memancing neneknya agar mempertimbangkan kembali ide perjodohan ini, syukur-syukur dibatalkan.

"Ck, masih lama. Sejam lagi.”

"HAH?SEJAM LAGI?“ Dewa melotot kaget. Yang benar saja dong, dia bahkan keliru membedakan shampo dan sabun pencuci muka karena nenek begitu terburu-buru ingin segera kepertemuan ini tapi katanya apa tadi?Sejam lagi?What the --- Dewa melirik jam di pergelangannya yang masih menunjukan pukul sebelas, berarti janjiannya pas jam makan siang dong?!

"Iya, lebih baik menunggu daripada di tunggu.” Jelas Nenek Ida tak merasa bersalah sama sekali. Sementara disampingnya Dewa sudah terkapar karena baru saja di prank oleh Nenek jalur tiri ini. Ah selalu saja!

"ASTAGA!“ Dewa menarik rambut cepaknya kebelakang. Tahu begini ia traveling dulu tadi.

"Sabar ih!Kamu ini, jodoh itu harus di perjuangkan. Jemput bola.” Ujar Nenek sembari sibuk melihat-lihat hpnya. Entah apa yang menarik perhatian nenek-nenek separuh abad ini di gawainya, semoga saja bukan aplikasi joget-joget yang sekarang marak digunakan oleh para bayi baru netas sampai orang-orang tua yang sudah bau tanah. Ia yang seorang darah muda setengah matang malah jarang sekali melirik hpnya.

Dewa menghela nafas. Ia menyandarkan punggungnya dengan berat. Rasa kantuk dan bosan memperparah keadaan moodnya. Dewa melarikan pandangannya keluar jendela kaca yang di jejeri banyak tanaman hias. Tak banyak kendaraan berlalu lalang sebab kawasan restoran ini cukup tenang dan hanya kaum berkartu unlimited yang datang ke tempat ini. Sesaat mata Dewa menangkap sosok yang tak asing keluar dari mobil sedang berbicara dengan seseorang. Dewa menyipitkan mata memperjelas penglihatannya lalu saat orang itu tersenyum, Dewa menegang. Gendis?

Dewa beranjak dari kursinya tiba-tiba menimbulkan bunyi derit yang mengagetkan nenek.

"Ada apa?“ Tanya Nenek melihat arah tatapan Dewa. ”Wa?“ Nenek Ida menarik-narik lengan Dewa yang mengabaikan pertanyaannya karena fokusnya sudah terpecah.

Dewa hendak pergi namun lengannya ditahan oleh Nenek Ida yang juga sudah berdiri dari kursinya. Tatapan Nenek Ida mengancam, ”Jangan kabur.”

Dewa melihat tangan Nenek yang menahannya, ”Nek, Dewa--”

"Selamat siang, Jeng Ida.”

Baik Dewa maupun Nenek Ida kini teralihkan oleh kedatangan tamu yang sejak tadi di tunggu-tunggu. Nenek langsung tersenyum lebar, ”Selamat siang, Jeng Kadek. Aduh, makin cantik aja. Ini--”

"Selamat siang, Nek. Lama nggak ketemu. Nenek apa kabar?“

Nenek Ida tersenyum hangat sembari melirik cucunya yang ekspresinya tak terbaca sama sekali yang pasti ia sudah mirip patung pancoran.

"Baik, Baik sekali sayang. Gendis makin cantik saja. Nggak nyangka anak manis ini ternyata putri Jeng Kadek.” Ujar Nenek Ida tak kalah terkejut dengan kebetulan ini. Mami Gendis terkekeh. Ia melirik Dewa yang masih membantu di tempatnya.

"Nak Dewa apa kabar?Minggu kemarin nggak datang di rumah. Di tungguin Papi Gendis padahal.” Mami Gendis tersenyum hangat. Sementara Dewa, pria itu masih tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Perhatiannya tak teralihkan dari sosok manis yang bisa-bisanya bersikap biasa saja seolah ini bukan hal yang bisa membuat bumi gonjang ganjing.

"Wa?“ Tegur Nenek Ida kala melihat cucunya tak menjawab pertanyaannya Mami Gendis.

Dewa mengerjap, ”Ah ya. Baik, Tante. Iya minggu kemarin ada pelatihan lapangan.” Terang Dewa sesaat setelah menemukan kesadarannya.

"Udah tante tebak.” Mami Gendis tersenyum lembut. Dewa membalas senyum itu lalu kembali melirik Gendis yang raut wajahnya tak berubah, murah senyum.

"Aduh sampe lupa, duduk Jeng, Sayang.” Nenek Ida menuntun Gendis duduk di sampingnya tepat dihadapan Dewa sementara Mami Gendis duduk di samping Pria itu.

"Maaf ya Jeng kami terlambat. Macet bangat tadi.” Kata Mami Gendis tak enak. Waktu sangatlah berharga dan membuat orang lain menunggu bukan tradisi dalam keluarga Mahesa.

"Tidak apa-apa Jeng. Kami juga baru sampe kok.” Ujar Nenek Ida membuat Dewa geleng-geleng kepala. Baiklah kalau neneknya menganggap setengah jam lewat bukanlah waktu yang lama untuk menunggu tapi kalau yang ditunggu-tunggu adalah makhluk manis yang duduk di depannya ini, Dewa rela bahkan meski harus seribu tahun lagi. Diam-diam Dewa menyembunyikan senyumnya. Huf, untunglah ia tidak buru-buru menolak rencana perjodohan ini karena ternyata wanita yang di maksud adalah Gendis, si tuyul manis yang sudah berbulan-bulan tak ditemuinya. Tapi tunggu dulu, jika Gendis datang ke perjodohan ini, itu artinya dia setuju kan di jodohkan?Apa Gendis tau lelaki yang dijodohkan dengannya adalah dirinya?Atau Gendis menerima siapapun lelaki itu?Dewa tiba-tiba saja merasa kesal sendiri memikirkan kemungkinan bahwa Gendis tak menolak sama sekali ide perjodohan ini meskipun itu bukan dirinya. Karena jika Gendis tahu, sudah pasti gadis ini akan menolak mengingat begitu niatnya dia menghapus jejaknya sendiri agar tidak ditemukan oleh Dewa.

”Kami sudah pesan menu yang recommended di resto ini. Rasanya juara.” Nenek Ida memanggil seorang pelayan sembari memberi tahu Gendis dan Maminya menu andalan resto ini.

"Iya, dengar-dengar resto ini milik artis.” Sambung Mami Gendis tak kalah antusias. Dia wanita beda generasi itu tampak sangat akrab berbeda dengan dua anak muda yang tampak asik diam-diaman. Baik Gendis maupun Dewa tak ada yang berniat membuka obrolan. Meskipun tampak santai dan tak terganggu sama sekali dengan keberadaan Dewa di depannya, jelas Gendis tak sedang ingin berpura-pura ramah dengan pria itu.

"Jadi Wa, ini loh Gendis. Gadis pilihan Nenek yang pasti kamu beruntung bangat bisa sama dia. Udah kenal juga kan sebelumnya?” Nenek Ida memulai proses jodoh-jodohannya. Dewa yang sejak tadi hanya menatap Gendis tak menjawab ataupun mengangguk. Nenek tidak boleh terlalu optimis mengingat rekor kejahatan yang pernah dilakukan pada gadis yang entah dalam enam bulan ini menghilang kemana.

"Padahal awalnya masih ragu-ragu gitu kan Jeng tapi semakin mengenal Dewa kami yakin dia pemuda yang baik yang bisa menjaga dan mendukung Gendis.” Tukas Mami Gendis. Sebenarnya ia belum lama mengetahui bahwa Dewa adalah cucu dari Nenek Ida yang menjadi teman komunitasnya. Foto Dewa baru ia lihat seminggu lalu saat perjodohan yang semula tak berlanjut karena Gendis memutuskan kuliah di luar negeri dilanjutkan kembali dengan alasan bahwa dua anak muda itu harus mencoba dekat terlebih dulu. Mami Gendis bisa yakin pada Dewa melihat bagaimana Dewa bersikap terhadap mereka. Pria itu sangat ramah dan selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah mereka meskipun tanpa Gendis disana. Mereka bisa melihat langsung bahwa pemuda itu adalah pemuda baik-baik karena daripada menghabiskan malam minggunya dengan kekasih atau teman-temannya ia lebih memilih bermain catur bersama Papi Gendis atau membantunya mengatur taman.

"Makasih loh Jeng. Cucu saya ini memang agak bandel sedikit tapi nggak nakal kok.” Terang Nenek Ida tersenyum senang mendengar testimoni Mami Gendis akan cucu kesayangannya. ”Apa nenek bilang, kali ini pasti cocok.” Lanjutnya menggoda Dewa sementara yang di goda hanya menunjukan wajah lempeng. Pikiran Dewa sudah berpikir kemana-mana. Masalahnya dan Gendis harus segera diselesaikan. Setelah itu terserah Gendis mau melanjutkan perjodohan ini atau tidak karena Dewa sendiri belum bisa memutuskan apa-apa.

"Tan, Nek, saya boleh bicara dengan Gendis?Berdua.” Dewa membuka suara. Terlihat Gendis yang tadinya acuh mengangkat kepalanya dengan kening bertaut. ”Ada yang perlu diobrolin.” Lanjutnya saat tiga perempuan di dekatnya itu menatapnya lekat,"Boleh?“

Nenek Ida menatap Dewa waspada. Jangan sampai cucunya ini membuat gara-gara.

"Boleh.” Mami Gendis menjawab lebih dulu sembari tersenyum pada Nenek Ida seolah menenangkan agar memberi mereka kepercayaan pada dua anak muda itu.

"Jangan lama-lama ntar makanannya keburu dingin.” Ucap Nenek Ida akhirnya.

Dewa mengangguk lalu dengan kesadaran penuh menggenggam tangan Gendis meninggalkan tempat itu. Saat cukup berjarak dari kedua orangtua mereka, Gendis langsung melepaskan diri.

"Nggak usah pegang-pegang!“ Ujarnya sinis. Dewa menatap Gendias datar lalu lanjut keluar dari Resto diikuti oleh Gendis.

"Sudah puas kaburnya?” Tembak Dewa sesaat setelah keduanya sudah berada di luar resto tepatnya di gazebo taman tak jauh dari parkiran.

"Siapa yang kabur. Aneh.” Jawab Gendis melipat tangannya di dada. Ia tak sudi menatap Dewa yang sejak pertemuan awal tadi tak lepas menatap lekat padanya seolah baru pertama kali bertemu jenis seperti Gendis.

"Kalau bukan kabur apa namanya?Kamu memblokir semua akses saya untuk menemuimu.” Dewa terlihat menahan Gemas saat Gendis asik dengan gawainya. Entah benar-benar sibuk membalas chat atau sengaja ingin mengabaikannya.

"Saya minta maaf untuk semua apa yang saya lakukan saat itu. Saya mabuk dan saya--”

"Brengsek?“ Sambung Gendis dengan senyum sinisnya.

Dewa mengangguk, ”Ya. Saya brengsek. Bahkan lebih dari itu, saya seorang penjahat dan seharusnya kamu menghukum penjahat ini bukan malah melarikan diri.” Ucap Dewa sungguh-sungguh.

"Saya tidak ingin berurusan dengan anda.” Ucap Gendis dingin. ”Malam itu saya anggap antara anda--“

"Abang.“ Potong Dewa.

Gendis menatap sekilas lalu abai, ”sudah selesai semuanya. Jadi anggap tidak terjadi apa-apa karena saya pun sudah lupa. Mengenai perjodohan ini, saya akan bilang pada mami kalau saya dan anda--”

"Abang.”

Gendis meloloskan nafas lelah, ”Saya dan Abang tidak cocok sama sekali.” ucapnya mengalah. Menghadapi Dewa tak pernah mudah. Yang waras yang mengalah. Dewa tersenyum melihat wajah sebal Gendis.

"Maafkan saya.” Kata Dewa sungguh-sungguh. ”Saya sudah sangat menyakiti kamu. Saya sangat menyesal. Kamu pasti sangat ketakutan saat itu.”

Gendis diam. Diam-diam gadis itu menghalau airmata yang siap lolos dari sudut matanya. Ia bahkab tak bisa tidur nyenyak selama awal-awal bulan sejak kejadian itu. Ia bahkan harus mendatangi psikiater untuk menyembuhkan diri karena setiap kali mengingat bagaimana Dewa menyentuh badannya ia tanpa sadar merasa dirinya sangat kotor dan harus di bersihkan. Tak memilih cuaca panas atau dingin, siang atau malam Gendis akan selalu mandi tiap ingatan itu datang. Separah itu trauma yang disebabkan oleh Dewa.

"Jangan pernah muncul di depan saya lagi.” Ucap Gendis menghapus bulir-bulir airmata di pipinya.

Dewa tertegun lalu melihat Gendis yang begitu rapuh, ia mendekat dan memeluknya. ”Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf, Ndis.” Dewa mengetatkan pelukannya meskipun sempat mendapat penolakan Gendis tapi tenaganya yang kuat membuat gadis itu pasrah. “Saya akan menebus semua. Tolong izinkan saya melakukannya.” Dan tangisan Gendis yang pecah benar-benar memukul keras kesadaran Dewa bahwa apa yang ia lakukan meninggalkan luka bagi gadis itu.

***

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!