Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Terbongkar sudah
Atmosfer di ruang makan yang mewah itu mendadak membeku kaku. Suara pecahan kaca kristal yang berdenting keras di atas marmer masih menyisakan gaung mencekam.
Bibi Sumi sudah tersungkur di lantai, tubuhnya gemetar hebat dengan wajah sepucat mayat. Bram dan Melinda saling pandang dengan raut panik yang coba disembunyikan, sementara Valerie membungkam mulutnya sendiri, tak berani lagi melayangkan tatapan manja ke arah Areksa.
"A-apa maksudmu, Areksa?!" Kakek Danuel menceracau panik, menggebrak meja hingga cangkir-cangkir di hadapannya bergoyang. Matanya yang renta menatap nanar ke arah cairan yang merembes di lantai, lalu beralih pada Bibi Sumi. "Sumi! Apa yang kau lakukan?!"
"B-bukan saya, Tuan Besar... S-saya cuma menjalankan perintah..." bisik Bibi Sumi terputus-putus, terisak ketakutan di bawah tekanan aura membunuh yang dipancarkan Areksa.
Zevanna hanya diam, namun dadanya bergemuruh hebat. Tangannya di bawah meja mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Benda cokelat yang diberikan Areksa tadi pagi kini terbukti nyata. Wanita tua yang selama ini menyambutnya dengan senyum hangat setiap kali ia berkunjung ke kediaman ini... ternyata adalah salah satu eksekutor yang merenggut nyawa ibunya belasan tahun lalu dan malam ini, mencoba melenyapkannya juga!
Areksa berdiri perlahan dari kursinya. Langkah kakinya yang tenang namun mantap terdengar begitu mengancam di tengah keheningan. Ia melangkah mendekati Bibi Sumi, lalu menunduk, mencengkeram rahang wanita tua itu tanpa belas kasihan.
"Perintah siapa, Sumi?" tanya Areksa dengan suara berat yang turun beberapa oktaf. "Perintah Paman Bram yang panik karena rahasia penggelapan dananya terbongkar? Atau..."
Mata tajam Areksa bergulir menatap Paman Bram yang kini mandi keringat dingin.
"J-jangan asal menuduh, Areksa! Kau tidak punya bukti!" teriak Bram gagap, mencoba membela diri meski tubuhnya jelas-jelas gemetar. "Dia cuma pelayan gila! Jangan bawa-bawa namaku!"
"Aku belum selesai bicara, Paman," potong Areksa dingin, menghempaskan rahang Bibi Sumi hingga wanita itu tersungkur kembali.
Areksa berbalik, menatap Zevanna yang masih duduk tegak dengan tatapan membeku. Pria itu mengikis jarak, mengulurkan tangannya pada Zevanna di depan seluruh keluarga Valerius yang sedang didera ketakutan.
"Berdiri, istriku," panggil Areksa lembut, namun tak menerima penolakan.
Zevanna menyambut uluran tangan Areksa. Saat jemari mereka saling bertaut, Zevanna merasakan genggaman Areksa begitu erat dan protektif—seolah menegaskan bahwa pria ini berdiri sepenuhnya di belakangnya malam ini.
Areksa menarik Zevanna ke dalam dekapannya, merangkul pinggang wanita itu dengan penuh kepemilikan di hadapan Kakek Danuel.
"Kakek Danuel," ujar Areksa menatap pria tua di kepala meja. "Makan malamnya sangat mengesan secara dramatis. Tapi aku tidak bisa membiarkan istriku berada satu ruangan lebih lama dengan para penjahat yang bersembunyi di balik nama besar Valerius."
Kakek Danuel tak mampu berkata-kata. Rasa bersalah yang mendalam kembali menghantam dadanya melihat Zevanna yang menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Mulai malam ini, Sumi dan orang yang bersangkutan akan berada di bawah penanganan tim hukum serta kepolisian milik keluargaku," lanjut Areksa tegas tanpa kompromi. "Dan soal bukti kematian mama mertua... semuanya sudah lengkap. Siapapun yang terlibat, tidak akan lolos."
Valerie yang sejak tadi terdiam, akhirnya memberanikan diri bersuara dengan mata berkaca-kaca. "Areksa! Bagaimana bisa kau merusak acara keluarga demi wanita panti asuhan ini?! Aku ini teman kecilmu—"
"Tutup mulutmu, Valerie," potong Areksa tajam tanpa menoleh sedikit pun padanya. "Kau bahkan tidak punya sepeser pun harga diri dibandingkan istriku."
Kata-kata menohok itu membuat Valerie bungkam seribu bahasa, menahan malu yang luar biasa di depan kedua orang tuanya.
Areksa memimpin langkah Zevanna keluar dari ruang makan megah yang kini kacau balau itu. Langkah kaki mereka berdenting tegas di lorong kediaman Valerius, meninggalkan kepanikan dan kehancuran di belakang mereka.
"Kalian yang telah membunuh Zefanya?! Apa yang kau pikirkan Bram? Dia adikmu! Walaupun bukan adik kandungmu, tapi kalian tumbuh bersama atau jangan-jangan selama ini kalian yang membuatku mengusir anak kesayangan ku sendiri?!" Teriak Kakek Danuel menggema di ruang makan itu. Dia pikir putrinya mati karena kelaparan di rumah kontrakan, tapi nyatanya putrinya mati di bunuh. Pembunuhnya malah anak sulung nya sendiri.
"Pertanggung jawabkan perbuatan kalian berdua. Dan Valerie... Kau juga akan di asingkan ke Afrika. Jangan menginjak kakimu kesini tanpa se izin dariku, apalagi ada rencana untuk mencelakai Nana" tegas pria tua itu.