Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Lebih Cardas
Maria benar-benar emosi dengan menantunya itu.
"Pa, setelah ini sudah pasti banyak wartawan yang akan kembali menemui Lavanya dan akan mempertanyakan perkembangan penyelidikan polisi. Lavanya meminta untuk secepatnya ditemukan siapa pelaku yang sebenarnya agar teka-teki ini tidak terus menjadi rahasia dann ini juga bisa mengurangi spekulasi masyarakat apakah kejadian ini untuk mencari keuntungan semata, atau memang ini berkaitan dengan hal lain," ucap Lavanya.
"Ya, pasti papa akan melakukannya, kamu jangan khawatir pihak kepolisian sampai saat ini masih menyelidiki, kamu jangan khawatir, kamu sebaiknya tetap berdiam diri di rumah dan jangan temui media. Papa khawatir apa yang ada di kepala kamu langsung kamu sampaikan di media. Lavanya untuk saat ini keluarga kita harus berhati-hati tidak bisa asal berucap sedikit saja karena bisa menjadi fatal," sahut Brahmana.
"Lavanya saat ini tidak bisa menghindari media, Lavanya harus tetap mengajar, jadi mau tidak mau Lavanya pasti akan bertemu dengan media," sahut Lavanya.
"Lavanya kenapa saya melihat kamu setiap hari semakin menentang, tidak pernah menurut dan semua sesuai dengan keinginan kamu," sahut Maria.
"Mama terlalu berlebihan jika menganggap seperti itu. Lavanya merasa seperti biasa saja," sahut Lavanya.
"Sudahlah jangan diperpanjang apapun lagi. Kamu sebaiknya ke kamar dan istirahat," sahut Brahmana.
Lavanya mengganggukan kepala dan berdiri dari tempat duduknya langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Sial!" umpat Maria tampak begitu emosi dengan penuh kemarahan.
"Anak itu benar-benar tidak tahu diri, kenapa semakin hari dia hanya semakin membuatku kesal, marah seperti ini!" ucap Maria.
"Mari kamu bisa tidak apa-apa jangan langsung ditarik kesimpulan, kamu jangan marah-marah terus kepada Lavanya, sudahlah tidak pergi besar-besarkan hal ini," sahut Brahmana.
"Mike ke kamar dulu!" ucap Mike berdiri dari tempat duduknya.
"Apa Lavanya tidak mengatakan apapun kepada kamu tentang apa yang terjadi?" tanya Brahmana.
"Kami tidak pernah mengobrol dan konferensi pers tadi juga membuat saya kaget," jawab Mike menjawab apa adanya.
Mike tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian Mike langsung pergi.
******
Lavanya saat ini berada di dapur yang tampak meneguk air putih.
"Main artis-artisan sekarang," tiba-tiba saja celetukan itu membuatnya menoleh ke belakangnya dan ternyata Clara yang menegur dirinya.
"Maksud kamu bagaimana?" tanyanya.
"Tiba-tiba saja berpenampilan berbeda, berbicara lantang di depan media, apakah sudah mulai bosan dengan penampilan yang dulu dan sekarang benar-benar ingin menikmati menjadi menantu keluarga besar Brahmana," sahut Clara.
"Kenapa tidak? memang apa yang salah jika menikmati fasilitas untuk menjadi keluarga besar Brahmana, bukankah tidak ada yang salah dengan hal itu, dan bukankah harus memanfaatkan kesempatan?" Lavanya ternyata menjawab dengan jujur yang membuat Clara mengerutkan dahi.
"Kau...." umpat Clara merasa kesal dengan jawaban itu.
"Clara saat ini Papa sedang menyelidiki atas apa yang terjadi padaku, kamu boleh jujur kepadaku daripada nanti kamu ketahuan," ucap Lavanya.
"Apa maksudmu? Kau menuduhku menjadi orang yang ingin membunuh kamu?" tanya Clara.
"Tidak! tetapi kamu melihatku sebagai ancaman, padahal aku juga tidak tahu apa tujuan kamu memasuki ruang kerja Papa, kamu tampak takut sekali sampai tidak mengakui bahwa kamu terakhir kali yang masuk ke ruang kerja Papa. Anggap saja aku menarik kesimpulan jika kamu menjadikanku orang yang berbahaya dan sehingga harus kamu lenyapkan," jawab Lavanya.
"Jangan sembarangan kamu menuduh Lavanya!" Clara emosi dengan mendorong tubuh Lavanya dan bahkan gelas yang dipegangnya terlalu licin sehingga terpecah.
"Kamu bukan siapa-siapa menurutku, dan aku tidak perlu apa yang telah kamu ketahui dan apa yang tidak kamu ketahui, jaga bicara kamu dan jangan terlalu lancang kepadaku!" tegas Clara menunjuk tepat di wajah Lavanya.
Lavanya dengan santai memegang jari-jari tersebut dan menurunkannya.
"Jangan terlalu berlebihan bersikap kepadaku, aku juga tidak takut kepada kamu," ucap Lavanya dengan sangat tenang menghadapi iparnya itu.
"Kurang ajar kamu!" Clara semakin terpancing emosi dan bahkan ingin menampar Lavanya.
Bukan Lavanya yang menghentikan tangan itu sehingga tidak menempel pada pipinya tetapi justru Mike yang tiba-tiba saja datang dan menahan adiknya untuk tidak melukai istrinya.
"Apa-apaan ini!" tegas Mike.
"Lepaskan!" Clara langsung menurunkan tangannya dengan kekesalan.
"Jangan ikut campur! ini urusanku dengan wanita kampungan ini!" tegas Clara.
"Bagaimana mungkin ini tidak menjadi urusanku, Clara kamu juga sikap dan jangan terlalu berlebihan!" tegas Mike.
"Hah! Tumben sekali berpihak dan membelanya," sinis Clara.
"Kamu sebaiknya pergi dan jangan pernah melakukan hal ini lagi!" tegas Mike.
"Sama saja keduanya!" umpat Clara menatap sinis Lavanya dan langsung pergi.
"Kamu baik-baik saja Lavanya?" tanya Mike.
"Ya," jawab Lavanya.
"Apa yang Clara lakukan kepada kamu? Kenapa dia sampai semarah itu?" tanya Mike.
"Entahlah, mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kami, tapi itu tidak menjadi masalah dan membuatku pusing," jawab Lavanya dengan santai.
"Aku harus membersihkannya!" Lavanya langsung berjongkok ingin membersihkan pecahan kaca tersebut.
"Auhhhh....." baru saja menyentuh beling, jari-jarinya sudah terluka yang Mike langsung berjongkok dan melihat jari-jari sang istri tampak berdarah.
"Lavanya....." Mike khawatir dan spontan mengisap darah pada jari-jari tersebut. Lavanya memperhatikan bagaimana kekhawatiran suaminya itu.
"Dirumah ini memiliki banyak pelayan, seharusnya tidak perlu melakukannya," ucap Mike membantu Lavanya berdiri mendekati pelatih dan mengambil kotak obat.
Mike mengambil hansaplast yang kemudian langsung melilitkan pada jari-jari tersebut.
"Terima kasih. Kak," ucap Lavanya.
"Lain kali kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini," ucap Mike.
"Iya," sahut Lavanya.
Mike berlalu dari hadapan Lavanya, langkahnya terhenti ketika ditahan oleh Lavanya.
"Ada apa?" tanya Mike.
"Boleh Lavanya kembali tidur di dalam kamar Kakak?" tanyanya tampak gugup dan berhati-hati.
"Maksud kamu?" Mike sudah pasti kaget dengan permintaan istrinya, mereka sudah 1 tahun lebih tidak satu kamar.
"Kejadian yang menimpa papa benar-benar sangat mengerikan, Lavanya juga tidak menyangka masih diberi kesempatan untuk hidup kembali. Lavanya merenungi selama ini hidup sepertinya atas yang terjadi adalah teguran dari Allah, mungkin karena Lavanya tidak hormat kepada suami, tidak menghargai suami dan tidak menghargai pernikahan kita, ini sama saja kebodohan dan dosa besar yang telah dilakukan,"
"Lavanya berpikiran untuk memperbaiki pernikahan ini, lebih taat lagi pada suami dan melakukan hal-hal kewajiban yang harus dilakukan seorang istri, mungkin ini adalah jawaban kenapa Lavanya masih diberikan kesempatan untuk hidup," jawabnya memberi penjelasan atas alasannya ingin kembali tidur bersama dengan Mike.
"Maafkan Lavanya kak, Lavanya tidak pernah menghargai kakak selama pernikahan, padahal kakak selama ini berusaha untuk membangun chemistry dalam pernikahan kita, Lavanya tidak memberi kesempatan apapun dan justru larut dalam kesedihan yang tidak terima akan terjadinya pernikahan kita,"
"Lavanya berharap mendapat kesempatan untuk menjadi istri yang lebih baik lagi, seperti apa yang dulu yang Kakak ucapkan, kita tidak mungkin berpisah karena menjaga image keluarga ini, tetapi tidak mungkin juga terus membiarkan pernikahan kita hambar seperti ini," ucap Lavanya mengeluarkan semua keinginannya.
Mike sampai saat ini masih tidak percaya dengan permintaan istrinya dan semua kata-kata yang diucapkan istrinya, dia selama ini hanya mengenal bagaimana Lavanya yang diam dan tidak menginginkan pernikahannya, tetapi pada nyatanya pernikahan itu tetap dijalankan.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga