Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda.
Sebenarnya, suasananya tidak banyak berubah. Orion dan Arina tetap makan dalam diam tanpa banyak bicara. Arina tampak setenang biasanya, dengan wajah datar yang seolah tidak pernah berubah.
Namun, Orion sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan percakapan mereka sore tadi.
Peringatan Arina terus terngiang di benaknya.
Bahkan saat mandi, ia berkali-kali mengutuk wanita itu dalam hati. Setelah mengatakan hal yang begitu mencurigakan, Arina malah pergi begitu saja dan meninggalkannya dengan segudang pertanyaan.
Ini tidak adil.
Selama ini, meskipun selalu kesal, Orion tetap menjawab setiap pertanyaan Arina.
Sebaliknya, ketika ia membutuhkan jawaban, wanita itu justru menghindarinya dengan segala cara.
“Ada apa?”
Saat makan malam hampir usai, Arina akhirnya mengangkat pandangan dari piringnya.
“Ada yang mengganggumu?” tanyanya.
Orion mendengus pelan. Wanita ini benar-benar menyebalkan.
Jadi, Arin baru menyadari perubahan sikapnya sekarang?
“Kurasa kau harus mulai lebih banyak bergaul,” ujar Orion ketus. “Mengurung diri di kamar tidak akan membuatmu memahami manusia.”
Gerakan tangan Arina yang sedang memotong Tart Blueberry Hutan langsung terhenti. Ia menatap Orion beberapa saat sebelum menjawab dengan tenang.
“Kalau begitu, kurasa kau juga harus mengurangi kebiasaan makan daging.”
Orion mengernyit.
“Amarahmu terlalu mudah tersulut.”
Tak!
Orion meletakkan sendoknya cukup keras di atas meja hingga menimbulkan suara nyaring.
Ia berdiri sambil menatap Arina.
“Kau manusia paling menyebalkan yang pernah kutemui.”
Tanpa menunggu jawaban, Orion berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan langkah lebar.
Arina menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.
“Ada apa dengannya?” tanyanya kepada salah seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
Pelayan itu berbeda dari yang lain. Ia sangat pendiam dan hampir tidak pernah berbicara. Bahkan, Arina sempat mengira wanita itu bisu. Namun ternyata, ia hanya berbicara jika memang diperlukan.
“Sepertinya Tuan sedang kesal, Nona,” jawab pelayan itu pelan.
“Aku tahu.” Arina memiringkan kepala sedikit. “Maksudku, kenapa dia selalu kesal setiap saat?”
Pelayan itu terdiam.
Ia tahu betul penyebab suasana hati Orion yang buruk.
Namun, bagaimana mungkin ia berani mengatakan bahwa sumber kekesalan itu adalah wanita yang ada di hadapannya?
“Mungkin karena kedua tahanan itu berhasil kabur, Nona,” jawab pelayan itu.
“Begitu ya.” Arina menghabiskan makanan penutupnya, lalu tidak lagi memikirkan suasana hati Orion. Pandangannya beralih kepada pelayan pendiam yang sedang membantu membereskan meja.
“Oh, ya. Siapa namamu?”
Pelayan itu berhenti sejenak, lalu menundukkan kepala.
“Saya Alhena, Nona. Saya berasal dari wilayah utara.”
“Hmm...” Arina mengangguk pelan.
“Nanti, tolong antarkan Teh Daun Perak ke kamarku.”
“Baik, Nona.”
Arin pun meninggalkan ruang makan.
...\=\=\=...
Keluar dari ruang makan, Arina berjalan santai menyusuri lorong menuju kamarnya.
Namun, ketika melewati jalan setapak yang mengarah ke taman belakang, langkahnya terhenti.
Entah mengapa, ia tiba-tiba ingin berjalan-jalan sebentar di sana.
Malam itu taman tampak begitu tenang. Cahaya lampu menerpa dedaunan dan bunga-bunga yang masih dipenuhi embun, membuatnya berkilauan lembut.
Arina mengulurkan tangan, menyentuh perlahan kelopak bunga yang dingin.
Saat hendak duduk di bangku panjang di tengah taman, ia melihat dua sosok telah lebih dulu berada di sana.
Mereka duduk membelakanginya. Arina langsung mengenali keduanya.
Orion.
Dan Stella.
Stella belum pulang?
Bukankah seharusnya dia sudah kembali ke kediaman keluarga Bootes?
Arina melangkah mendekat tanpa mengeluarkan suara. Ia berhenti beberapa langkah di belakang mereka.
“Kenapa kau datang malam-malam begini?” suara Orion terdengar datar, tetapi jelas tidak senang.
“Ada apa denganmu, Orion?” Stella menoleh kepadanya. “Kenapa kau tidak senang melihatku datang?”
Orion mengembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum mengacak rambut peraknya dengan kasar.
“Apa lagi yang bisa kita lakukan?” katanya lirih. “Kau yang memilih menikah dengan pria lain. Setelah itu, ayahmu justru memberikan kakakmu sebagai calon istriku.”
Ia tertawa hambar.
“Padahal akulah yang lebih dulu melamarmu.” Tatapan Orion perlahan meredup. “Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau aku memang tidak pernah cukup baik untukmu?”
“Orion...” Suara Stella bergetar. “Aku juga tidak pernah menginginkan semua ini.”
“Tapi semuanya tetap terjadi, bukan?” Orion memotong ucapannya. Ia berdiri dari bangku, lalu memandang Stella dengan wajah yang kembali tegas. “Kalau kau terus datang ke sini seperti ini, orang-orang akan mulai curiga.”
“Jika sampai muncul skandal perselingkuhan, keluargaku tidak akan sanggup menanggung malu sebesar itu.” Tatapannya semakin tajam. “Begitu pula keluargamu.”
Stella hanya menundukkan kepala.
“Belum lagi keluarga suamimu,” lanjut Orion. “Menurutmu, keluarga Bootes akan tinggal diam jika mengetahui menantu mereka masih sering menemui pria lain?”
Suasana mendadak hening.
Jadi hubungan mereka mulai merenggang...
Arin mengamati keduanya tanpa mengubah ekspresi.
Kalau begitu, kenapa dulu Orion sama sekali tidak peduli jika hubungan mereka terbongkar? Mengapa sekarang justru dia yang menjaga jarak?
“Maaf, Orion.” Stella menundukkan kepala semakin dalam. “Andai saja aku bisa menolak perjodohan itu... aku pasti sudah melakukannya.”
“Tidak apa-apa.” Nada suara Orion terdengar lebih tenang. “Aku sudah menerima kenyataannya.”
Ia menghela napas pelan.
“Tapi mulai sekarang, kuharap kita sama-sama menjaga batas.”
“Aku mengerti.” Suara Stella hampir tak terdengar.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepala dan tersenyum tipis. “Bagaimana Kak Arina? Apa dia baik-baik saja?”
Orion mengangguk singkat. “Kau bisa menemuinya setelah ini.”
“Aneh ya. Setiap kali aku ingin menghabiskan waktu di taman, aku selalu bertemu kalian.”
Suara datar Arina membuat Orion dan Stella sama-sama menoleh. Tanpa mereka sadari, Arina sudah berdiri di samping Stella.
“Kak Arin...” Stella tersenyum canggung. Ini sudah kedua kalinya Arina memergoki dirinya berbicara berdua dengan Orion.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Orion dengan wajah semakin garang. Kemunculan Arina benar-benar merusak suasana hatinya.
“Stella, bagaimana kalau kau menginap saja malam ini?” tanya Arina, sengaja mengabaikan tatapan tajam Orion.
“Menginap?” Stella tampak ragu. “Apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak.” Arina menjawab lebih dulu sebelum Orion sempat membuka mulut. “Ayo masuk. Aku ingin mengobrol sebentar denganmu.”
“Arin—”
“Terima kasih, Kak.” Stella tersenyum tipis, lalu menoleh kepada Orion. “Aku masuk dulu.”
Orion hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya menghentikan mereka sekarang.
Arina dan Stella pun berjalan berdampingan memasuki manor.
Orion memandangi punggung Arina yang semakin menjauh sambil mengepalkan tangannya pelan.
“Wanita itu...” gerutunya kesal. “Dia memang selalu tahu cara membuatku naik pitam.”
...***...
...Like, komen dan vote ...