NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Maya si Petarung

Nadia keluar dari rumah sakit dengan wajah lebih buruk daripada saat masuk restoran.

Dokter hanya menyuruh istirahat total dan kontrol ulang. Tidak ada pernyataan kemenangan. Tidak ada ucapan selamat dari keluarga Tanuwijaya. Kevin bahkan tidak menemaninya sampai lobi. Ia hanya menyuruh sopir mengantar, lalu pergi dengan alasan rapat.

Bagi Nadia, itu lebih menyakitkan daripada sakit di perut.

Ketika mobilnya berhenti di depan apotek dekat rumah sakit, ia melihat Surya di seberang jalan.

Surya sedang membeli obat luka untuk pipinya yang masih menyisakan bekas kecil dari insiden Benny. Ia tidak melihat Nadia pada awalnya. Ia berdiri di trotoar, memakai kemeja putih sederhana, membawa tas kerja Sentana, tampak seperti orang yang hidupnya bergerak maju tanpa meminta izin siapa pun.

Itu membuat dada Nadia terbakar.

Ia turun dari mobil.

"Surya!"

Surya menoleh.

Sebelum Nadia bisa menyeberang, sebuah Mercedes-AMG G-Class putih berhenti di tepi jalan. Pengemudinya seorang perempuan berambut pendek sebahu, memakai jaket hitam dan sepatu datar. Ia keluar dengan tangan membawa helm motor sport, seolah mobil mahal itu hanya kendaraan biasa.

Pintu G-Class terbuka terlalu dekat dengan Nadia.

"Hati-hati!" Nadia membentak. "Kamu buta?"

Perempuan itu menoleh. Matanya tajam. Namun, suaranya santai. "Pintu saya tidak menyentuh Anda."

"Kamu pikir karena mobilmu mahal, kamu bisa seenaknya?"

"Saya pikir karena Anda berdiri di jalur kendaraan, Anda sebaiknya mundur."

Kalimat itu membuat beberapa orang di depan apotek menoleh.

Nadia paling benci ditatap ketika ia tidak sedang menang.

Ia melangkah maju dan menunjuk wajah perempuan itu. "Jangan sok."

Perempuan itu menurunkan helm ke kursi mobil. "Jari Anda terlalu dekat."

"Lalu?"

"Lalu saya tidak suka."

Nadia tertawa tajam, lalu melihat Surya di belakang perempuan itu. Dalam kepalanya yang kacau, semua hal berubah menjadi satu gambar: Surya bebas, Meilu kaya, perempuan asing bermobil mahal, dan dirinya ditinggalkan Kevin di lobi rumah sakit.

Ia mengulurkan tangan dan mencengkeram rambut perempuan itu.

Orang-orang berteriak.

Gerakan perempuan itu berubah secepat kilat.

Ia memutar pergelangan Nadia, melepaskan cengkeraman, lalu mendorong bahu Nadia agar menjauh. Nadia tidak mundur. Ia malah mengangkat tas dan mengayunkannya ke wajah perempuan itu.

Pada saat itu, tubuh perempuan itu bergerak karena refleks latihan bertahun-tahun. Kaki kanannya naik, menendang lurus untuk menjaga jarak.

Tendangan itu menghantam perut bagian bawah Nadia.

Nadia terlempar mundur dan jatuh ke aspal.

Semua suara berhenti.

Surya sudah berlari sebelum ia sadar dirinya bergerak.

Nadia memegang perutnya. Wajahnya pucat seperti kertas.

"Anakku..." bisiknya.

Perempuan berambut pendek itu membeku. Untuk pertama kalinya, wajah santainya retak.

"Dia hamil?"

Surya menatapnya. "Panggil ambulans."

Perempuan itu langsung mengambil ponsel. "Sekarang."

Nadia menatap Surya dengan mata penuh kebencian dan ketakutan. "Kamu... kamu suruh dia, ya?"

"Diam dan bernapas," kata Surya.

"Kamu ingin anakku mati!"

"Aku ingin kamu tetap sadar sampai dokter datang."

Darah mulai terlihat di ujung rok Nadia.

Kerumunan mundur dengan ngeri. Sopir Nadia panik. Namun, tidak berani mengangkatnya sembarangan. Surya mengambil jaket dari tasnya dan menutup bagian bawah tubuh Nadia agar orang-orang tidak menonton kehancurannya seperti tontonan jalanan.

Perempuan berambut pendek itu melihat gerakan Surya. Tatapannya berubah.

Ambulans datang tujuh menit kemudian.

Nadia dibawa masuk sambil terus memaki Surya, perempuan itu, Kevin, dan dunia yang menurutnya selalu berutang kepadanya.

Malamnya, kabar itu sampai ke Surya lewat Wulan.

Nadia keguguran.

Anak yang ia jadikan mahkota belum sempat menjadi alat tawar.

Surya duduk lama di apartemen Tebet, memandang layar ponsel yang sudah gelap. Ia tidak bersorak. Ia tidak merasa suci. Ia hanya merasa sejarah memberi Nadia rasa dari pisau yang selama ini ia arahkan ke orang lain.

Pukul sembilan, nomor asing menghubunginya.

"Pak Surya Prasetyo?" suara perempuan.

"Ya."

"Maya Wirawan. Perempuan yang tadi hampir menghancurkan hidup seseorang di depan apotek."

Surya berdiri. "Anda dapat nomor saya dari mana?"

"Dari orang yang lebih tahu Anda daripada Anda tahu diri sendiri."

Kalimat itu membuat Surya langsung teringat Irene.

Maya mengirim alamat.

Vila di Kemang itu tidak seperti rumah orang kaya yang ingin pamer. Pagar hitam tinggi, kamera kecil di sudut, halaman luas, dan ruang tamu dengan matras latihan di satu sisi. Di dinding tergantung sabuk hitam taekwondo dan foto turnamen.

Maya Wirawan menunggunya dengan kaus abu-abu. Di bawah cahaya lampu, ia terlihat lebih muda daripada kesan garangnya di jalan. Namun, matanya tidak kehilangan tajam.

"Saya tidak tahu dia hamil," kata Maya tanpa basa-basi.

"Saya tahu."

"Kalau saya tahu, saya tetap akan menahan tangannya. Tapi saya tidak akan menendang."

Surya duduk di kursi yang ditunjuk. "Dia menyerang dulu."

"Tetap saja, berita besok bisa jadi pewaris Dharma Group menendang ibu hamil."

Surya mendengar nama itu.

Dharma Group.

Salah satu konglomerasi properti, logistik, dan manufaktur yang namanya sering ia lihat di berita bisnis. Maya Wirawan bukan sekadar perempuan bermobil mahal.

"Kenapa memanggil saya?"

Maya duduk di depannya. "Karena Nadia Kusuma adalah mantan istri Anda. Karena Kevin Tanuwijaya adalah alasan saya pernah terlihat bodoh. Dan karena saya butuh seseorang yang paham cara menghancurkan orang tanpa terlihat seperti preman."

Surya menatapnya.

Maya tersenyum, dingin. "Kevin mantan pacar saya."

Potongan gambar langsung tersusun di kepala Surya: Nadia, Kevin, Maya, keluarga besar, dendam yang saling bersilangan.

"Dia meninggalkan Anda untuk Nadia?"

"Dia meninggalkan saya untuk status yang menurutnya lebih mudah dikendalikan." Maya memiringkan kepala. "Lalu ketika saya tahu, saya hampir melakukan hal bodoh. Untung teman saya menghentikan."

"Teman?"

Pintu samping terbuka.

Irene Tanuwijaya masuk membawa dua cangkir kopi.

Surya berdiri tanpa sadar.

"Bu Irene."

Irene meletakkan kopi di meja. "Pak Surya. Kita sering sekali bertemu untuk orang yang katanya hanya berpapasan."

Maya melihat mereka bergantian. "Jadi kamu benar-benar belum ingat dia?"

Surya menoleh. "Ingat apa?"

Irene tersenyum tipis. "Belum waktunya."

Jawaban itu membuat ruang terasa lebih sempit.

Maya mengetuk meja dengan kuku. "Fokus. Aku tidak suka Nadia. Aku lebih tidak suka Kevin. Tapi setelah kejadian hari ini, aku tidak bisa menyerang sembarangan. Aku butuh jalur yang bersih."

"Saya masih magang," kata Surya.

"Aku tahu. Karena itu aku tidak meminta kamu tanda tangan kuasa. Aku meminta kamu menyusun cara. Advokat kantormu boleh bergerak sesuai aturan."

Surya menatap Irene. "Ini rencana Anda?"

Irene mengangkat alis. "Saya hanya membawa kopi."

Maya tertawa pendek. "Musuh dari musuhku adalah temanku. Itu pepatah lama. Tapi aku lebih suka versi baru."

"Apa?"

"Musuh dari musuhku adalah alat, sampai dia membuktikan diri sebagai sekutu."

Surya tidak tersinggung. Justru ia menyukai kejujuran itu.

"Apa yang Anda inginkan?"

Maya membuka map di meja.

Di dalamnya ada struktur perusahaan kecil bernama Permata Kreasi, daftar klien, kontrak pemasok, dan foto Nadia masuk ke kantor dengan wajah pucat tetapi masih memegang ponsel seperti memegang senjata.

"Nadia punya perusahaan kecil," kata Maya. "Permata Kreasi. Selama ini hidup dari koneksi keluarga Kusuma dan sisa uang Kevin. Kalau dia tidak bisa memakai anak untuk masuk Tanuwijaya, dia akan memakai bisnis untuk bertahan."

Surya membaca cepat.

"Anda ingin menyerang perusahaannya?"

Maya tersenyum.

"Aku punya rencana untuk menghancurkan Nadia. Tapi aku butuh seorang pengacara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!