Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.
Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.
----------------------------
"Siapa ayah dari bayimu?"
"Itu bukan urusan Dokter."
"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."
Anisa hanya tersenyum getir.
"Maaf. Saya menolaknya."
-----------------------
Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seven Months
Ting Tong
Suara bel apartemen Reinhart membuat pria itu langsung beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan Riyan dan membukakan pintu.
"Selamat malam," ucap pria berpakaian salah satu perusahaan ekspedisi pengiriman barang.
"Selamat malam."
"Benar ini unit apartemen milik dokter Reinhart Kramawijaya?"
"Iya, saya sendiri."
"Ini ada paket, Pak. Silakan ditandatangani."
Reinhart menerima paket yang berupa amplop coklat besar.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Saya permisi dulu."
Reinhart kembali menutup pintu. Ia buka amplop coklat yang tidak ada nama pengirimnya itu. Mata Reinhart terbelalak saat membaca isi lembaran kertas yang ada di dalamnya.
Itu adalah surat perjanjiannya dengan Raya beberapa waktu lalu. Tak berselang lama ponsel Reinhart bergetar. Ia merogoh saku dan melihat nama si penelpon. Kak Raya, itu yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo," sapa Reinhart.
"Halo, Rein. Udah terima paket dari eike?"
"Iya, sudah."
"Bagus lah. Ingat ya, Rein. Kamu harus mematuhi perjanjian yang sudah kita sepakati. Jangan pernah kamu beritahukan tentang isi perjanjian itu pada siapapun, bahkan teman dekat kamu sekalipun."
DEG! Peringatan Raya membuat wajah Reinhart panik. Untung saja Reinhart belum mengatakan apapun pada Riyan.
"Iya, Kak. Baik."
"Oke, eike percaya sama kamu." Raya memutus sambungan telepon.
Reinhart mengembus napas lega. Ia langsung menuju ke kamar untuk menyimpan berkas perjanjiannya dengan Raya. Beruntung Riyan sedang sibuk bermain ponsel dan tidak memperhatikannya.
Saat Reinhart kembali ke ruang tamu, Riyan bersiap untuk pergi.
"Lo mau kemana?"
"Sorry, Rein. Gue cabut dulu ya." Riyan pergi dengan tergesa.
Reinhart hanya menatap bingung kepergian Riyan. "Kenapa tuh bocah?" Ia menggeleng pelan lalu memilih menuju ke balkon apartemennya.
Langit malam mulai menunjukkan tidak bersahabat saat petir mulai menyambar. Rintikan air hujan pelan membasahi bumi.
Reinhart menatap balkon kamarnya yang mulai dipenuhi oleh rintikan air hujan.
"Renata?" Tiba-tiba saja Reinhart teringat akan gadis itu. Tempat makan malam mereka tadi ada di tempat terbuka.
"Semoga saja Renata sudah pulang," harap Reinhart.
*
*
*
Riyan tiba di tempat yang disebutkan Renata tadi lewat telpon. Ternyata Riyan buru-buru pergi dari apartemen Reinhart karena mendapat panggilan dari Renata.
"Rena!" panggil Riyan saat melihat gadis itu berdiri dibawah guyuran air hujan. Riyan meminjam payung pada pelayan kafe.
"Maaf, Kak. Tadi kami sudah melerai Nona Renata agar cepat berteduh, tapi dianya gak mau," ujar seorang pelayan.
Riyan membuka payung dan menghampiri Renata.
"Renata, kamu ngapain berdiri di tengah hujan begini?"
Renata menatap nanar Riyan. Wajahnya sembab dan air matanya ikut luruh bersama air hujan.
"Ada apa?" tanya Riyan.
"Makasih Kak Riyan udah bersedia datang."
Riyan berdecak pelan. "Kita masuk dan keringkan badan kamu. Kamu bisa sakit kalau berdiri terus disini."
Riyan memeluk bahu Renata dan membawanya masuk ke kafe.
Setelah lebih tenang, Riyan memesan coklat hangat untuk Renata. Gadis itu hanya diam sejak masuk ke kafe. Untung saja tidak ada pengunjung lain yang datang ke kafe ini.
"Ren, kalau kamu udah tenang, kamu bisa cerita sama aku."
Renata menatap Riyan. Ia tersenyum pahit. Andai saja yang ada dihadapannya adalah Reinhart, Renata akan sangat bahagia.
"Aku baik-baik aja," jawab Renata lalu menyesap coklat hangat di cangkir. "Makasih Kakak udah mau datang."
Riyan tak memaksa Renata untuk bicara. Mungkin Renata hanya butuh teman saja tapi tidak untuk bercerita.
*
*
*
Di kediaman Reni dan Ridho akan diadakan pengajian untuk tujuh bulanan kehamilan Raisa. Namun, yang akan didoakan malah tidak bisa hadir di tengah-tengah sukacita keluarga Sanjaya.
"Kamu ini gimana sih, Sa? Apa gak bisa pulang meski sebentar?" Reni mengungkapkan kekecewaan hatinya saat melakukan panggilan video dengan Raisa.
"Maaf banget ya, Mah. Mama Rindi dan Mas Rendra udah datang?" Raisa terlihat menyesal. "Yang penting disini aku baik-baik aja. Bayiku juga baik-baik aja kok." Raisa memposisikan ponselnya untuk menunjuk perutnya yang membuncit.
Reni menghela napas berat. "Mama ingin menjaga kehamilan kamu, tapi kamu malah memilih pergi."
Ridho menguatkan hati sang istri. "Jaga kesehatan kamu selalu ya, Nak."
"Iya, Pah."
Setelah panggilan video berakhir, seorang ART memberitahu jika Rendra dan Rindi sudah datang. Mereka juga membawa beberapa anak yatim piatu untuk turut mendoakan kehamilan Raisa.
Reni dan Ridho harus bersikap seolah semua baik-baik saja. Senyum mengembang mereka perlihatkan saat menyambut besan dan menantu mereka.
Acara pengajian telah berakhir. Rendra dan Rindi berpamitan pada Reni dan Ridho. Saat di perjalanan pulang, Rindi menatap putranya cemas.
"Ren, kamu gak khawatir Raisa jauh dari kamu dan cuma ditemenin si Raya?" Sebagai ibu mertua, tentunya Rindi cemas dengan kondisi Raisa yang sedang hamil.
"Raisa baik-baik aja kok, Mah. Mama aja yang terlalu cemas."
"Ya tapi kan ... dia disana sama pria lain."
Rendra malah tertawa. "Ma, Mama tau kan Raya itu seperti apa?"
Rindi berdecak kesal. "Meski si Raya berdandan seperti wanita, tetap saja kodratnya dia itu laki-laki, Ren."
Rendra mencoba memberi pengertian pada Rindi. "Mama tenang aja ya. Raisa gak ada hubungan apapun dengan Raya selain pekerjaan. Aku akan ambil cuti lagi buat ketemu sama Raisa."
"Mama boleh ikut gak?"
Rendra berpikir sejenak. Kalau Rindi ikut, maka mamanya ini akan tahu kalau Raisa tidak tinggal di luar negeri.
"Sebaiknya jangan, Ma. Mama tau sendiri kan Raisa gimana."
Rindi tak membalas lagi dan menatap jalan di sebelahnya. Bicara dengan putranya sama susahnya bicara dengan Raka, ayah mertuanya.
*
*
*
Reinhart mengajak Anisa dan Rahayu pergi ke suatu tempat. Anisa mau-mau saja diajak Reinhart padahal ia tak tahu kemana tempat tujuannya.
"Nah, sudah sampai."
Mobil Reinhart berhenti di depan sebuah bangunan yang bertuliskan 'Panti Asuhan Kasih Bunda'.
Anisa turun dari mobil diikuti Rahayu.
"Kita mau apa kesini, Dok?" tanya Anisa.
"Nanti kamu juga tahu. Ayo masuk!"
Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka. Anisa tak pernah menduga jika Reinhart akan mengadakan pengajian tujuh bulanan kehamilan Anisa di sebuah panti asuhan.
"Masya Allah." Anisa menutup mulutnya saking terharu.
Anak-anak panti sudah duduk bersila dan menunggu kedatangan mereka.
"Duduklah, Anisa."
Anisa duduk di tengah-tengah anak-anak panti. Lantunan ayat-ayat suci Alquran mulai menggema di ruangan itu.
Mata Anisa berkaca-kaca mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari Reinhart. Bagaimana bisa hati Anisa tidak tersentuh dengan kebaikan Reinhart?
"Terima kasih banyak, Dokter. Saya gak nyangka kalau dokter bakal repot-repot melakukan hal ini."
Reinhart mengulas senyum. "Ini bukan hal besar, Anisa. Oh ya, besok jadwalnya kamu ketemu sama dokter Ridha kan? Saya akan antar kamu."
"Ha?!"
"Jangan kaget gitu. Kak Ridha gak akan membocorkan hal ini pada Kak Raisa. Begitu juga dengan saya."
Anisa tersipu malu. Malam ini sungguh membahagiakan untuknya.
"Anisa..."
"Ya?"
"Apa saya ... boleh memegang perut kamu?"
"Ha?!" Mata Anisa membola. Selama ini tidak pernah ada pria yang menyentuh perut buncitnya. Bahkan Rendra yang adalah ayah dari bayinya juga tidak pernah mengelus perutnya.
"Gak boleh ya?" Reinhart terlihat kecewa.
"Boleh kok." Anisa menatap Reinhart diiringi senyum manis.
"Beneran?"
Anisa mengangguk. Ia mempersilakan Reinhart untuk memegang perut buncitnya.
Tangan Reinhart terulur lalu menempel di perut Anisa.
Reinhart membulatkan mata saat merasakan sebuah tendangan di telapak tangannya.
"Dia menendang!" serunya.
"Assalamu'alaikum, Jagoan. Ini Uncle Reinhart. Kamu baik-baik saja kan di dalam sana?" Reinhart bicara dengan perut Anisa. Reinhart merasakan satu tendangan lagi di tangannya.
"Sepertinya dia menyukai saya, Nis." Reinhart berbinar senang.
Anisa terharu dengan sikap Reinhart yang selalu baik padanya.
"Saya akan selalu menunggumu, Anisa. Kamu percaya kan sama saya?"
Anisa mengangguk. Buliran cairan bening mengalir di pipinya.
"Kenapa menangis?" Reinhart menyeka air mata Anisa.
"Saya ... hanya terharu, Dok. Ini tangisan bahagia."
Rahayu menghampiri Anisa dan Reinhart. "Nak Reinhart, ini sudah malam. Mungkin sebaiknya kita pamit pulang pada Ibu Rosma. Anak-anak panti kan juga mau beristirahat."
"Iya, Bu. Anisa, kamu ada pengen mampir ke tempat lain gak?"
Anisa menggeleng. "Kita langsung pulang aja, Dok."
*
*
*
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Anisa. Sesuai dengan janjinya, Reinhart mengantar Anisa untuk bertemu dokter Ridha. Seperti biasa Anisa memakai cadar agar tidak dikenali oleh orang lain.
"Tapi saya tetap mengenalimu meski kamu menutupi wajahmu," bisik Reinhart saat mereka menunggu di ruangan khusus. Dokter Ridha belum tiba karena ada pasien darurat yang harus segera ditangani.
Anisa terkekeh mendengar pengakuan Reinhart.
"Anisa, apa kita sudah pantas menjadi pasangan suami istri yang akan menimang momongan?"
DEG!
Pertanyaan Reinhart membuat Anisa terhenyak. Bisakah mereka bersama setelah Anisa melahirkan bayi kembar ini? Anisa masih ragu dengan keputusan yang akan diambilnya di masa depan. Bisakah ia bersama dengan Reinhart setelah drama ini berakhir?
Lamunan Anisa buyar saat seorang perawat memanggil namanya. Reinhart menunggu di depan ruangan karena ia bukan wali Anisa ataupun suaminya.
"Sabar, Rein. Akan ada saatnya kamu menimang bayimu sendiri dan Anisa." Reinhart akan setia menanti momen itu datang padanya.
*
*
*
Kehebohan terjadi di kampus Harapan Bangsa saat foto-foto Reinhart tersebar di grup chat penggemar Reinhart. Para penggemar Reinhart membicarakan foto Reinhart bersama gadis bercadar yang sedang berjalan bersama.
"Jangan-jangan dia itu ceweknya dokter Reinhart."
"Wah, ternyata selera dokter Rein itu spek ukhti-ukhti solekha gitu ya."
"Kayaknya mereka udah nikah deh. Dilihat dari gesturnya mereka itu udah kayak pasangan suami istri."
Dan masih banyak lagi spekulasi yang dibicarakan oleh para mahasiswi. Anisa baru tiba di kelas dan ia melihat Rhea sudah heboh dengan Renata.
"Kamu kenal cewek ini, Ren?" Rhea menunjukkan layar ponselnya.
Renata menggeleng. Renata melirik Anisa yang baru saja datang. Batin Renata berkata jika gadis di foto itu hampir mirip dengan Anisa meski wajahnya tertutup cadar.
"A-ada apa?" tanya Anisa bingung saat Renata menatapnya intens.
"Nis, aku beneran patah hati nih. Kamu lihat ini! Dokter Reinhart ternyata udah punya cewek." Kini giliran Rhea menyerahkan ponselnya pada Anisa.
Mata Anisa membola melihat foto dirinya dan Reinhart kemarin setelah menemui dokter Ridha.
"Kamu kenapa, Nisa? Apa kamu ... kenal dengan cewek ini?" Pertanyaan Renata membuat Anisa membeku.
Apakah Renata tahu tentang hubungannya dan Reinhart? Batin Anisa mulai cemas jika saja ada yang mengetahui kedekatannya dengan Reinhart.
daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸