Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RED FOX
Tak lama kemudian, Adrian, Zion, Ezra, Gavin, dan Ariana memasuki kantin. Seperti biasa, kedatangan mereka langsung menyita perhatian para siswa. Berbagai bisikan terdengar di segala penjuru, tetapi kelimanya sama sekali tidak memedulikannya.
Mereka berjalan santai menuju meja langganan di sudut kantin—meja yang sudah lama dianggap 'milik' mereka sehingga tak pernah ada siswa lain yang berani menempatinya.
"Kalian tahu mereka siapa?" tanya Viana tiba-tiba, saat melihat kedatangan inti Black Demon.
Aleta dan Aura sama-sama menggeleng. Sementara Keira dan Ravian hanya memperhatikan interaksi ketiganya.
"Mereka itu adalah inti Black Demon."
"Black Demon?" tanya Aleta dan Aura bersamaan.
"Iyaa... Kenapa kaget?"
"Oh enggak..." ucap Aura, berusaha menetralkan ekspresi nya.
"Namanya familiar," Ucap Aleta dingin.
"Lah iya, kan mereka satu sekolah sama kita."
"What?" tanya Aura.
"Kalian berdua ga sadar? inti Black Demon pindah ke sini udah cukup lama," ucap Keira, ikut nimbrung.
"Tuh dengar. Keira aja tahu kok," ucap Viana.
"Kita berdua manusia, bukan tahu," ucap Aleta membela diri.
"Yaudah coba jelaskan tentang mereka dari a sampai z. Gue sama Aleta kan ga tahu sedikitpun tentang mereka," ucap Aura sambil menatap viana, seolah menantang.
"Nih, ya. Kalian perhatiin cowok ama cewek yang mukanya rada mirip," ucap Viana, menunjuk Adrian dan Ariana.
"Mereka itu kembar. Yang cowok namanya Adrian, dia ketua Black Demon. Ganteng banget kan? Mata setajam silet, bibir semerah ceri, bulu mata lentik, hidung–"
"Lanjut," ucap Aura, memotong ucapan Viana. Viana hanya menyengir.
"Sementara yang cewek itu Ariana. Wajahnya benar-benar kayak Adrian kan?"
"Hmm," dehem Aleta.
"Adrian versi cewek," ucap Keira, sedikit terkikik.
"Trus cowok yang pendiam dan cool mirip Adrian, namanya Zion. Trus dua cowok yang gabisa diam itu namanya Ezra sama Gavin. Tapi yang paling berisik itu adalah Gavin. Dia juga yang ngajak gue kenalan kemarin."
"Uhuk..." Ravian tiba-tiba tersedak es teh, membuat Keira sedikit panik.
Keira menepuk-nepuk belakangnya khawatir, "Lo kenapa?"
Ravian mengangkat tangannya sedikit, "gapapa."
"Yang benar?"
"Hmm."
"Lanjut Vi," ucap Aura mempersilahkan.
"Kalian mau tahu apalagi? Kan udah disebutin semua nama mereka," bingung Viana.
"Tahu nama itu hal basic, Na," ucap Aura.
"Jelaskan siapa mereka," ucap Aleta to the point.
Viana melirik ke arah meja di sudut kantin, lalu mendekatkan wajahnya kepada Aleta dan Aura.
"Katanya sih, mereka geng motor yang baru muncul beberapa bulan terakhir. Anehnya, dalam waktu singkat mereka langsung jadi yang paling berpengaruh di kota kita."
Aura ikut melirik sekilas, "Serius?"
Viana mengangguk.
"Di sekolah ini juga banyak anak buah mereka."
"Kabarnya mereka semua berasal dari keluarga kaya. Cuma..." Viana kembali mendekatkan wajahnya sambil berbisik, "yang paling kaya itu orangtuanya Adrian sama Ariana."
Aleta hanya mengangguk tipis, seolah tidak terlalu tertarik. Viana pun kembali berbisik, kali ini dengan senyum jahil.
"Tapi... masih lebih kaya lo kok, Let. Walaupun selisihnya sedikit."
Sudut bibir Aleta terangkat nyaris tak terlihat, sementara Aura hanya menahan tawa melihat tingkah Viana.
...****************...
Sementara itu, di meja Black Demon...
Ezra meletakkan ponselnya di atas meja sebelum mengembuskan napas pelan.
"Gue udah tahu."
Keempat temannya langsung menoleh.
"Tahu apa?" tanya Gavin sambil menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Kelompok yang ngeroyok kita waktu itu."
"Siapa?" tanya Adrian, mengangkat alis.
Ezra menyebutkan nama kelompok tersebut dengan suara pelan. Mendengar itu, raut wajah Adrian dan Zion langsung berubah serius.
"Pantas..." gumam Zion.
"Berani juga mereka," ucap Gavin.
"Jadi, kapan kita mau beresin mereka, Dri?" tanya Ezra.
"Nanti malam," jawab Adrian singkat.
Suasana kembali hening beberapa saat. Adrian tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke arah meja Aleta.
"Kalau soal dua gadis itu?" tanyanya.
"Tetap nggak ada." Ezra menggeleng.
"Data mereka bersih banget. Bahkan riwayat yang gue temuin cuma sebatas identitas sebagai siswa."
"Kalau begitu kita cari tahu langsung dari orangnya." Zion menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Maksud lo?" tanya Gavin.
"Kita dekati mereka," jawab Zion santai.
"Setuju sih. Kalau terus mengandalkan data, hasilnya bakal tetap nol," ucap Ezra.
"Masuk akal." Gavin mengangguk setuju.
Zion tersenyum tipis sambil menyeruput minumannya. Ariana yang memperhatikannya sejak tadi pun terheran-heran melihat tingkah sahabatnya yang tak biasa.
"Lo kenapa, Zi? Kesambet?"
"Gue... Udah kepikiran cara yang menarik buat deketin mereka."
Keempat rekannya langsung menoleh.
"Rencana apa?" tanya Gavin penasaran.
Zion hanya terkekeh kecil, "Lihat aja besok."
Hening.
"Kalian semua mau deketin mereka? Serius?" tanya Ariana.
"Iya," jawab keempatnya kompak.
"Trus gue gimana?" tanya Ariana.
"Ikut," jawab Gavin.
"Tapi gue nggak suka mereka." Ariana menyilangkan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Ezra.
"Gadis yang rambut panjang itu..." gumamnya sambil melirik Aleta.
"Kelihatan sok tenang."
"Dih," decih Gavin. Sementara Zion hanya memutar bola matanya. Kebiasaan Ariana memang begitu—terlalu cepat menilai orang bahkan sebelum mengenal mereka.
"Daripada bikin hidup orang ga tenang," sindir Ezra.
"Diam Zra! Lalu yang satunya..." Tatapannya beralih kepada Viana, "Berisik."
"Kalian kalau dipertemukan pasti berisiknya kayak toa," ucap Ezra.
"Ga akan," ucap Ariana dingin.
"Padahal belum kenal," ucap Gavin, lalu tertawa.
"Gue nggak butuh alasan buat nggak suka seseorang."
"Jangan cari masalah," ucap Adrian memperingatkan.
"Gue nggak minat." Ariana menyandarkan dagunya di atas telapak tangan.
"Tapi kalau mereka cari masalah duluan... Gue juga nggak akan diam."
Di saat yang sama, tanpa sengaja Aleta menoleh ke arah meja mereka.
Tatapan Adrian dan Aleta bertemu selama beberapa detik. Tak ada senyuman ataupun sapaan. Keduanya hanya saling menatap singkat sebelum kembali mengalihkan pandangan masing-masing.
...****************...
Malam menyelimuti kawasan gudang tua di pinggiran kota.
Suara langkah kaki bergema pelan di antara bangunan-bangunan kosong. Di ujung lorong, anggota inti Black Demon dan Red Fox saling berhadapan, sementara puluhan anggota kedua organisasi berdiri di belakang pemimpin mereka masing-masing.
"Jadi... kalian benar-benar datang." Pria bertubuh besar yang berdiri paling depan menyeringai sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Aku kira Black Demon cuma jago nama."
Adrian tersenyum tipis, "Anda salah besar."
"Harusnya anda berkaca," ucap Ezra.
"Untuk apa?" tanya pria itu.
"Red Fox lah yang jago nama. Menantang klan lain untuk duel, malah membawa banyak pasukan. Kalian mau duel atau keroyokan?" ucap Ezra pedas.
"Mana pemimpin aslinya sembunyi lagi," celetuk Gavin.
Pria itu mengepalkan tangannya.
"Berani-beraninya kalian menghina pemimpin kami! Kalian hanya bocah ingusan! Kalian tidak tahu apa-apa tentang dunia bawah tanah!"
Pria itu lalu mengangkat tangannya, "Maju! Habisi mereka!"
Belasan orang langsung berlari bersamaan.
Bugh!
Adrian bergerak lebih dulu. Satu orang langsung terlempar ke samping akibat serangan cepatnya.
Di sisi lain, Zion memutar tubuhnya menghindari kepungan sebelum melumpuhkan dua lawan sekaligus dengan gerakan yang presisi.
"Hah... segini doang?" gumam Gavin sambil menghindari sebuah pukulan.
"Ternyata lebih lemah dari yang gue kira."
"Fokus!" bentak Ariana.
Beberapa lawan kembali menyerbu. Ezra yang sejak tadi berdiri di belakang hanya melirik layar tabletnya.
"Adrian, sebelah kiri."
Tanpa menoleh, Adrian langsung menghindar. Seorang penyerang yang hendak menyergap dari belakang gagal mengenai sasaran.
"Kanan."
Bruk!
Satu lawan lagi berhasil dilumpuhkan.
"Enak juga punya ahli it tapi ahli strategi," Gavin terkekeh.
"Tiga orang lagi menuju pintu belakang." Ezra hanya menaikkan kacamatanya.
"Ariana."
"Gue urus."
Ariana berlari memotong jalur mereka, memaksa ketiganya mundur.
Dalam hitungan menit...
Formasi lawan mulai berantakan. Kepercayaan diri mereka perlahan menghilang.
"Kok... bisa sekuat ini?"
"Bukannya mereka hanya lima orang?!"
Adrian melangkah perlahan ke depan. Tatapannya tetap tenang.
"Kalian melakukan satu kesalahan."
Pria bertubuh besar itu mengepalkan tangan, "Maksud mu?"
"Kalian memilih lawan yang salah," jawab Ariana.
Suara siulan nyaring tiba-tiba memecah keheningan malam. Adrian tersenyum tipis. Dalam hitungan detik, puluhan anggota Black Demon mengepung seluruh pintu keluar.
Wajah bos Red Fox langsung berubah.
"Sialan! Mereka selangkah lebih maju daripada kita!"
"Anda tidak lupa, kan, kami siapa?" ejek Gavin.
"Sial! Serang!"
Anak buah Red Fox mencoba menerobos kepungan, tetapi barisan Black Demon sudah lebih dulu menutup seluruh jalur pelarian. Bentrokan pun pecah di berbagai sudut gudang. Suara benturan besi, langkah kaki yang berlarian, dan teriakan komando saling bersahutan, sementara Adrian dan rekan-rekannya terus bergerak maju tanpa kehilangan ritme.
Awalnya Red Fox berpikir, malam ini adalah kesempatan untuk menghabisi inti dan ketua Black Demon sekaligus. Karena mereka berhasil memancing Adrian dan rekan-rekannya ke gudang tua telah berhasil.
Namun...
Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa sejak awal, merekalah yang sedang berjalan masuk ke dalam jebakan.
Seorang pria bertubuh tinggi menatap Adrian dengan rahang mengeras.
"Jadi... Kaulah pemimpin sebenarnya," gumam Adrian.
Adrian melangkah maju, "Leo."
Mendengar namanya disebut, pria itu tersenyum tipis.
"Sepertinya kau sudah mencari tahu banyak hal."
"Aku juga tahu kau adalah seorang pengecut yang selalu bersembunyi," ucap Adrian.
"Tumben keluar dari tempat persembunyian?" tanya Adrian dengan nada penasaran, padahal ia saat ini sedang mengejek pemimpin Red Fox yang sedang berdiri di hadapannya. Leo yang mendengar pertanyaan itu merasa sedikit kesal.
"Eumm maksud ku, kenapa baru muncul" tanya Adrian, membenarkan ucapannya.
"Aku tidak punya alasan untuk terus bersembunyi. Dan satu hal yang harus kau tahu. Aku bukan pengecut, bajingan!"
Bugh!
Satu pukulan dari Leo, mendarat di perut Adrian. Adrian mundur beberapa langkah sambil memegang perut, menikmati rasa sakitnya. Adrian tidak terkejut saat mendapat serangan tiba-tiba dari Leo. Karena ia bisa membaca pergerakan Leo. Hanya saja, ia memilih diam dan menerima serangan itu untuk mengetahui seberapa kuat lawannya itu.
Bugh!
Bugh!
Adrian membalas serangan itu sebanyak dua kali, dan pastinya dua kali lipat lebih kuat. Keduanya mulai bertarung. Gerakan mereka cepat dan terukur. Keduanya saling mengumpat satu sama lain.
Bugh!
Adrian berhasil meninju pipi kiri Leo. Membuat giginya berdarah dan terasa ingin lepas.
"Hah..." Leo mundur selangkah sambil tersenyum. Senyuman yang membuat siapapun merinding melihatnya.
"Aku akan membunuhmu malam ini!"
Leo kembali menyerang Adrian, kali ini lebih brutal. Diam-diam, ia mengeluarkan belati dari sakunya. Hal itu tak luput dari perhatian Adrian.
Adrian langsung menggeser langkahnya ke samping sesaat sebelum bilah belati itu menyambar ke arah perutnya.
Swooshh...
Ujung pisau hanya membelah udara, gagal mencapai sasaran.
Tanpa membuang waktu, Adrian menangkap pergelangan tangan Leo yang memegang belati. Cengkeramannya mengeras, memaksa arah tusukan berbalik menjauh. Leo berusaha melepaskan diri sambil menggeram, tetapi Adrian memutar pergelangan tangannya dengan cepat hingga genggaman Leo melemah. Belati itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Leo masih belum menyerah. Dengan tangan kosong, ia menerjang lagi, melayangkan pukulan bertubi-tubi. Adrian menangkis satu demi satu serangan itu.
"Apa hanya itu yang kau punya?" tanya Adrian datar.
Hal itu membuat rahang Leo mengeras. Dengan napas memburu dan amarah yang memuncak, ia mengepalkan kedua tangannya, bersiap menerjang sekali lagi.
"Buang-buang waktu," ucap Adrian dingin.
"Apa kata mu?"
Keduanya kembali bertarung. Leo menyerang Adrian dengan emosi yang menggebu-gebu. Namun, Adrian selalu unggul dalam setiap bentrokan. Menyadari dirinya tak mampu mengimbangi lawannya, Leo akhirnya memilih melarikan diri.
"Kami akan kembali!" teriaknya keras, agar semua anggota Red Fox mendengarnya.
Setelah mengatakan itu, Leo langsung melemparkan sebuah bom asap kecil secepat kilat. Bom itu jatuh di antara mereka.
Puff!
Asap tebal langsung mengelilingi Adrian. Membuatnya tidak bisa melihat apa-apa dan terpaksa menutup mata serta hidung.
"uhuukk... uhukk..." Adrian terbatuk.
"uhuukk... uhukk... "
"uhuuk... "
Beberapa menit kemudian, Adrian kembali membuka matanya. Saat asap mulai menghilang, Leo sudah tidak ada. Ternyata bukan hanya Leo yang menghilang, tapi juga seluruh anggota Red fox yang ada disana, kecuali yang sudah sekarat dan mati.
"Mereka semua melarikan diri. Benar-benar pengecut," cibir Gavin.
"Apa yang harus kita lakukan, King?" tanya Zion sopan. Untuk saat ini, posisi mereka bukan dua sahabat yang bisa bercanda sesuka hati. Tapi hanya seorang pemimpin dan anggotanya.
"Kembali," jawab sang leader singkat.
"Semua, kembali ke markas!" ulang Ezra yang menerjemahkan ucapan Adrian. Kali ini ia mengatakannya pada anggota Black Demon lainnya.
mana dipanggil honey lagi /Doge/