NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu di Balik Pintu

Hendra masih berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintu.

Tetapi ia belum juga membukakan pintu.

“Tok… tok…tok.”

Suaranya berbunyi lagi.

Hendra langsung tersadarkan dan membukanya.

Begitu pintu di buka, ia langsung terdiam.

Seorang pria sedang berdiri di hadapannya.

Pria itu menatap Hendra beberapa saat, lalu tersenyum.

“Lama tidak bertemu Hendra”

Wajah Hendra langsung berubah pucat.

“Kamu “

Pria itu mengangguk

“Iya ini aku, jangan kaget.”

Hendra melihat sekelilingnya memastikan tidak ada orang yang melihatnya.

“Kenapa kamu datang kesini?”

“Aku sudah mengirim pesan beberapa kali tapi kamu tidak menjawabnya , maksud Lo apa”

“Aku sudah bilang, aku gak mau bertemu denganmu”

“Aku tahu”

Pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Hendra.

Seketika Hendra langsung menahannya.

“Jangan masuk” ucap Hendra tegas.

Pria itu tersenyum.

“Kanapa tidak boleh masuk ,takut?”

Hendra menatap tajam dengan pria itu.

“Jangan macam macam denganku”

“santai,  tenang bro kali ini aku gak bikin keributan.”

Lalu Hendra menurunkan tangannya.

Pria itu perlahan masuk kedalam, kemudian duduk di kursi Hendra.

“Ayo kawan kita ngobrol dulu , jangan tegang mukanya.”

“Aku gak mau ngomong sama kamu “

Sayangnya aku punya urusan denganmu.”

"ya sudahlah kalau itu maumu , mau bicara apa"

Pria itu tersenyum.

"nah gitu dong, masalah ini tidak akan berakhir kalau kamu terus menghindar."

Hendra menghela napas.

"namamu saja aku gak mau denger."

"namaku"

Pria tertawa kecil.

"Hendra, Hendra, kamu ini masih seperti dulu ya"

Hendra mengepalkan tangannya.

"jangan bawa masa lalu di sini"

"aku justru datang kesini karena masa lalu itu sudah mulai muncul."

Hendra terdiam.

Beberapa saat kemudian suara kaki terdengar dari luar ruangan, mereka berdua pun menoleh kearahnya.

Pak Bambang muncul sambil membawa beberapa dokumen.

Pak Bambang melihat pria itu , langsung langsung berhenti.

Wajah pak Bambang berubah menjadi pucat.

"Bambang,pas banget kamu datang, rupanya sekarang kamu kerja sama Hendra ya"

Pak Bambang tidak menjawab.

Hendra terkejut.

"kamu juga kenal sama orang ini?"

Pak Bambang hanya mengangguk.

"iya,pak"

"sudah lama juga ya, kita tidak bertemu."

pak Bambang mendengar perkataan itu sambil menelan ludah.

"kenapa kamu kesini?"

"Karena ada sesuatu yang belum selesai."

Hendra langsung memukul meja.

"sudah jangan di sini"

pria itu melihat ke arah Hendra.

"santai kawan gak usah emosi, kalau gak mau di sini kita bicara di tempat lain."

Hendra menatap tajam kearah pria itu .

"maumu apasih ,yang jelas dong"

Pak Bambang mendekati Hendra.

"pak sebaiknya kita pergi saja , biarkan si Arman itu mau apa"

Hendra mengangguk.

"baik kita pergi saja ."

"Hei kamu mau kemana urusan kita belum selesai."

Mereka berdua tidak menghiraukan ucapan itu .

"kalau kamu mau kita selesai, malam ini datang ke coffee, kalau tidak aku akan datang ke rumahmu."

Arman kemudian keluar dari ruangan Hendra.

Sementara Hendra dan Bambang sudah jauh meninggalkan ruangan tersebut.

“Pak... kenapa Arman kesini ?"

Hendra menghela napas.

“Aku juga tidak tahu.”

“Tapi dia sudah menemui Husnan.”

“Jangan sebut nama Husnan di sini,aku sudah tahu kalau dia sudah bertemu dengannya.”

Pak Bambang terdiam.

“Maaf, Pak.”

Hendra berjalan kembali ke dalam ruangannya.

Pak Bambang mengikutinya.

“Pak, kalau dia benar-benar mulai mendekati Husnan, kita harus bagaimana?”

Hendra duduk di kursinya.

“Kita harus memastikan Husnan tidak tahu apa pun.”

“Kalau dia bertanya?”

“Jangan jawab.”

Pak Bambang mengangguk.

“Tapi sampai kapan kita bisa menyembunyikannya?”

Hendra tidak menjawab.

Ia hanya menatap meja di depannya.

Sementara itu, di sekolah, Husnan masih berada di kelas bersama Fajar, Ferdi, dan Naura.

Pelajaran sudah selesai beberapa menit yang lalu.

Para murid mulai memasukkan buku ke dalam tas.

Ferdi langsung berdiri.

“Akhirnya selesai juga.”

Fajar menoleh.

“Baru selesai pelajaran sudah senang banget.”

“Ya iyalah. Otak gue juga butuh istirahat.”

Naura tertawa kecil.

“Memangnya selama pelajaran kamu pakai otak?”

Ferdi langsung menatap Naura.

“Wah, mulai ikut-ikutan.”

Husnan tertawa.

“Sudah, jangan ribut.”

Fajar kemudian menoleh kepada Husnan.

“Hus.”

“Iya?”

“Tadi kamu dipanggil Pak Guru itu sebenarnya ada apa?

Husnan terdiam.

Ia sempat melihat ke arah pintu kelas.

“Gak tahu.”

“Serius?”

“Iya.”

“Terus orang yang mau bertemu kamu siapa?”

Husnan menggeleng.

“Namanya Pak Arman.”

Ferdi langsung menyahut.

“Arman?”

“Iya.”

“Orang tua?”

“Kayaknya.”

Fajar mengerutkan dahi.

“Dia ngomong apa sama kamu?”

Husnan tidak langsung menjawab.

“Dia tanya tentang Om Hendra.”

Fajar langsung terdiam.

“Kenapa?”

“Aku juga gak tahu.”

Ferdi yang mendengar itu langsung ikut penasaran.

“Jangan-jangan Om Hendra punya utang.”

Husnan menatap Ferdi.

“Ngawur.”

“Ya siapa tahu.”

Naura tertawa.

“Ferdi memang kalau ngomong suka asal.”

“Lah gue cuma bercanda.”

Husnan tersenyum kecil.

Namun sebenarnya pikirannya masih memikirkan pertemuannya dengan Arman.

Ada sesuatu yang aneh.

Pria itu tahu tentang Hendra.

Dan yang lebih membuat Husnan penasaran, Arman mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia ketahui.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Para murid langsung keluar dari kelas.

Husnan memasukkan bukunya ke dalam tas.

“Yuk, Jar.”

Fajar mengangguk.

“Ayo.”

Ferdi juga ikut berjalan bersama mereka.

Sesampainya di depan sekolah, Husnan melihat mobil Pak Bambang sudah menunggu.

Ia langsung berjalan ke arah mobil.

Pak Bambang turun dan membukakan pintu.

“Ayo, Hus."

“Iya, Pak.”

Husnan masuk ke dalam mobil.

Fajar dan Ferdi masih berdiri di depan sekolah.

“Hus!”

Husnan menoleh.

“Besok jangan lupa tugas!”

“Iya!”

Ferdi langsung berteriak.

“Kalau lupa traktir gue!”

Husnan tertawa.

“Ngimpi!”

Mobil kemudian mulai berjalan meninggalkan sekolah.

Di dalam mobil, Pak Bambang terlihat lebih diam dari biasanya.

Husnan memperhatikannya dari kursi belakang.

“Pak.”

“Iya?”

“Kenapa diam terus?”

Pak Bambang tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Husnan kembali teringat kejadian sebelumnya.

“Pak.”

“Iya, Hus?”

“Bapak kenal orang bernama Arman?”

Tangan Pak Bambang yang memegang kemudi langsung sedikit menegang.

Namun ia berusaha tetap tenang.

“Arman?”

“Iya.”

Pak Bambang diam beberapa detik.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Dia tadi datang ke sekolah.”

Pak Bambang menelan ludah.

“Dia bicara apa?”

“Dia tanya tentang Om Hendra.”

Pak Bambang tidak langsung menjawab.

Husnan semakin curiga.

“Pak?”

“Iya?”

“Bapak kenal dia, kan?”

Pak Bambang melihat Husnan melalui kaca spion.

“Tidak terlalu.”

“Bohong.”

Pak Bambang terdiam.

Husnan kemudian kembali bersandar.

“Kalau Bapak tidak mau cerita, tidak apa-apa.”

Pak Bambang menghela napas lega.

Namun di dalam pikirannya, ia justru semakin khawatir.

Husnan mulai mengetahui terlalu banyak.

Malam harinya, Hendra akhirnya pulang.

Husnan yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh.

“Om.”

“Iya, Hus.”

“Dari mana?”

“Dari kantor.”

Husnan memperhatikan wajah Hendra.

Ada sesuatu yang berbeda.

“Om kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kelihatannya capek.”

Hendra tersenyum.

“Cuma banyak pekerjaan.”

Husnan mengangguk.

Ia hampir menanyakan tentang Arman.

Namun ia mengurungkan niatnya.

“Om.”

“Iya?”

“Kalau ada orang dari masa lalu yang datang lagi, menurut Om harus bagaimana?”

Hendra langsung terdiam.

Husnan tidak menyadari perubahan wajah Hendra.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“Cuma bertanya.”

Hendra duduk di samping Husnan.

“Kalau orang itu datang membawa masalah,

 sebaiknya jangan ikut campur.”

Husnan mengangguk.

“Kalau orang itu mencari Om?”

Hendra menatap Husnan.

“Siapa yang mencari Om?”

Husnan terdiam.

“Tidak ada.”

Hendra memperhatikan wajah Husnan beberapa saat.

“Kalau ada apa-apa, cerita sama Om.”

“Iya.”

Hendra kemudian berdiri dan masuk ke kamarnya.

Begitu pintu kamar tertutup, wajahnya langsung berubah serius.

Ia mengambil ponselnya.

Ada satu pesan baru.

“Aku sudah bertemu dengan Bambang.”

Hendra membaca pesan itu.

Kemudian muncul pesan kedua.

“Dan sekarang aku tahu Husnan sudah mulai curiga.”

Hendra langsung membeku.

Ia menatap layar ponsel cukup lama.

“Jangan sampai...”

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamarnya.

Tok... tok...

Hendra langsung menyimpan ponselnya.

“Siapa?”

“Husnan, Om.”

Hendra menarik napas.

“Iya, masuk.”

Pintu terbuka.

Husnan berdiri di sana.

“Om.”

“Iya?”

“Aku mau tanya sesuatu.”

Hendra menatapnya.

“Apa?”

Husnan terdiam sebentar.

“Om kenal seseorang bernama Arman?”

Ruangan langsung terasa sunyi.

Hendra tidak menjawab.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Husnan.

Lalu perlahan ia berdiri.

“Dari mana kamu tahu nama itu?”

Husnan semakin bingung melihat reaksi Hendra.

“Pak Arman tadi datang ke sekolah.”

Wajah Hendra berubah.

“Kamu sudah bertemu dengannya?”

“Iya.”

Hendra menundukkan kepalanya.

Husnan semakin penasaran.

“Om... sebenarnya Pak Arman itu siapa?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, Husnan melihat wajah Om Hendra yang benar-benar terlihat khawatir.

“Hus... ada beberapa hal tentang masa lalu Om yang seharusnya tidak perlu kamu ketahui.”

Husnan terdiam.

Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, ponsel Hendra berbunyi.

Ting...

Hendra melihat layar.

Sebuah pesan baru muncul.

“Kalau kamu tidak mau menjelaskan kepada Husnan, biar aku yang menjelaskannya.”

Hendra langsung mematikan layar ponselnya.

Husnan menatap wajahnya.

“Ada apa, Om?”

Hendra tidak menjawab.

Malam itu, untuk pertama kalinya Husnan merasa bahwa pertanyaan tentang masa lalu Hendra mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!