GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pelabuhan Lumba-Lumba, Hutan Jamur, dan Zirah Renda
"Udah, udah, jangan bengong terus!"
Suara tepukan tangan Arka yang keras memecah keheningan absolut di dalam kokpit, menyadarkan seluruh krunya dari rasa takjub yang melumpuhkan akal sehat.
"Kembali ke posisi masing-masing, ayo! Kita langsung merapat ke sana sekarang," perintah sang Kapten tegas, mengambil alih kendali situasi.
Semua kru yang tadinya mematung menatap kaca jendela raksasa buru-buru berlarian kembali ke stasiun kerja mereka. Mesin pendorong-pendorong GPS Andromeda kembali menderu, memecah ruang hampa dan meluncur perlahan mendekati daratan di atas punggung sang paus kosmik raksasa.
Di sela-sela manuver pendaratan itu, Arka memanfaatkan waktu untuk mengadakan rapat singkat dengan Pipi, Null, dan YUI.
"Oke, perhatikan," ucap Arka sambil menggeser layar hologram di konsolnya. "Jadwal kita di portspace Kota Lumba-Lumba nanti adalah dock-service pengisian bahan bakar, sekaligus mengirim lima paket ke wilayah daratan ini."
YUI yang sedang melipat tangannya menyela cepat. "Empat, Bos."
Arka mengerutkan kening. "Lah, kok empat? Di manifest jelas-jelas ada lima paket."
Null menunjuk layar data dengan jarinya yang gelap. "Yang satu paket VIP lagi lokasinya bukan di dalam Kota Lumba-Lumba, Kapten."
"Oh, iya," Arka memijat pelipisnya, teringat pada detail yang sempat ia lewatkan. "Di Hutan Umbraflora itu, ya?"
"Hok oh," sahut YUI malas.
Mata Pipi seketika berbinar terang. Gadis Grovax itu langsung melompat dari kursinya. "Aseeek, petualangan! Aku ikut nganter yang ke Hutan Umbraflora kan, Kap?"
Arka menghela napas. "Kayaknya aku juga harus ikut turun, Pi. Ini paket VIP, dan area hutannya masuk klasifikasi zona liar berbahaya meskipun udah bawa security bar-bar macam kamu. Jadi..."
"Ya udah, kita turun bertiga aja," potong Null, memasukkan data rute ke sabaknya. "Sisa empat paket kan cuma di dalam batas kota, bukan paket khusus atau VIP juga. Biar Eve sama Febri aja nanti yang urus pengirimannya. Aku ikut kalian ke hutan buat ngawasi paket VIP-nya."
"Berempatlah!" erang YUI tiba-tiba, wajah gotiknya ditekuk kesal. "Haduuuh, malesnya! Kalau kapten manja ini ikut turun ke zona bahaya, aku otomatis juga harus ikut dong?"
Arka tertawa puas melihat AI-nya menderita. "Ya iyalah! Tubuh biologis manusia kan lemah, Mba YUI. Hehehe. Jadi nanti kamu harus aktifin mode GPS YUI Exosuit, ahahaha!"
YUI mendengus kasar, memutar bola matanya hingga nyaris putih semua. Ia sangat tidak suka memasuki wujud mode tempur itu, namun protokol perlindungan kapten di inti sistemnya tidak mengizinkannya menolak.
"Ya udah, ya udah, kita pikirin itu nanti," lerai Arka, masih terkekeh. "Kita mendarat dan urus administrasi pelabuhannya dulu aja."
Beberapa saat kemudian, kapal kargo GPS-731 Andromeda akhirnya mendarat dengan mulus di atas punggung Cosmobalaena.
Mereka berlabuh di Pelabuhan Antariksa Kota Lumba-Lumba (Spaceport), fasilitas sandar terbesar yang dibangun langsung di atas permukaan sang paus purba. Suara berat dari pengunci mekanis landasan bergema di sepanjang lambung kapal ketika kaki hidroliknya menapak mantap. Semburan uap panas dari mesin pendorong utama perlahan memudar, menandai berakhirnya perjalanan lintas galaksi mereka.
Begitu jendela observasi kokpit terbuka penuh, hamparan dunia yang terbentang di hadapan mereka membuat siapa pun akan sulit mengalihkan pandangan.
Di luar sana, menjulanglah Kota Lumba-Lumba. Sebuah metropolis yang memadukan dengan sempurna kemegahan arsitektur abad pertengahan dengan kecanggihan teknologi masa depan. Kastel-kastel dari batu putih kokoh berdiri anggun di antara menara-menara kristal dan pencakar langit bercahaya biru. Jembatan-jembatan lengkung raksasa menghubungkan setiap distrik yang dipenuhi papan iklan hologram. Jalur kendaraan antigravitasi bersilangan di udara, dipenuhi lalu-lalang berbagai ras alien dari seluruh penjuru galaksi yang berkumpul di atas punggung paus ini.
Di sekeliling pelabuhan, menara-menara pengawas menjulang tinggi membawa spanduk biru bergambar lumba-lumba. Kapal Andromeda yang berukuran nyaris satu kilometer itu tampak begitu gagah bersandar di pelataran logam pelabuhan, dikelilingi oleh kesibukan para pekerja darat, kendaraan loader, dan drone kargo yang terlihat seperti semut di bawah lambung raksasanya.
Di batas luar kota, padang rumput hijau membentang luas hingga menyentuh kaki pegunungan bersalju. Sungai-sungai berair jernih membelah daratan, bermuara menjadi air terjun raksasa yang jatuh langsung ke lautan di tepian punggung Cosmobalaena.
Di langit, cincin gravitasi sang paus membentuk lintasan cahaya keemasan. Matahari biologis dan bulan biologis terus beredar dengan tenang pada jalurnya, menjadikan pemandangan negeri di atas punggung makhluk kosmik itu terasa luar biasa magis dan indah.
***
Setelah semua urusan birokrasi dan administrasi pelabuhan selesai, serta menugaskan Eve dan Febri untuk mengantarkan empat paket ke berbagai sudut kota, tim ekspedisi Hutan Umbraflora akhirnya berangkat. Arka, YUI, Pipi, dan Null menaiki sebuah kendaraan dinas antigravitasi GPS jenis rover beratap terbuka. Mereka melesat meninggalkan hiruk-pikuk metropolis menuju zona liar di ujung daratan.
Semakin jauh kendaraan mereka meninggalkan kota, pemandangan di hadapan mereka berubah drastis menjadi hamparan alam yang nyaris mustahil dipercaya.
Mereka memasuki Hutan Umbraflora. Pepohonan raksasa menjulang setinggi gedung pencakar langit, dengan dedaunan tebal berwarna ungu kebiruan yang berpendar lembut. Jamur-jamur kolosal berbentuk payung tumbuh subur di sepanjang tepian danau yang airnya sebening kristal. Bunga-bunga liar bermekaran lebat memenuhi padang rumput, memancarkan spektrum warna-warna cerah yang berpadu indah dengan cahaya matahari biologis dari langit cincin di atas mereka.
Di kejauhan, kawanan makhluk bersayap transparan tampak beterbangan di antara menara-menara jamur raksasa, sementara aliran sungai yang memancarkan cahaya pirus membelah hutan menuju lembah yang semakin rimbun.
Kendaraan rover antigravitasi itu perlahan melambat, lalu berhenti sepenuhnya di sebuah batas jalan berbatu.
Keempatnya melompat turun. Null, yang membawa kotak paket VIP berlapis baja di tangannya, memutar pusaran materi gelapnya ke sekeliling.
"Harus di sini kita berhentinya?" tanya Null heran, melihat lebatnya hutan di depan mereka.
"Mau gimana lagi," jawab Arka sambil mengecek radar di pergelangan tangannya. "Peraturan konservasi hutannya mengharuskan kita jalan kaki dari titik ini ke rumah penerima. Aku juga nggak tahu persis kenapa." Arka menoleh ke asistennya. "Kamu tahu alasannya, YUI?"
"Hutannya nanti rusak kena radiasi mesin gravitasi kendaraan kita paling," jawab YUI asal sambil merenggangkan pinggangnya.
"Hmm, masuk akal sih, tapi..." Null menimbang-nimbang.
"Halah, banyak omong kalian!" potong Pipi tak sabar, sudah mengepalkan tinjunya dengan antusias. "Ayo kita jalan sekarang!!!"
YUI menghela napas panjang yang terdengar sangat berlebihan. "Haaaaah... malasnya. Tunggu sebentar. Aku harus berubah ke mode GPS YUI Exosuit dulu biar kapten lemah kita ini nggak mati mendadak digigit serangga alien."
"Oh, iya!" Arka langsung tersenyum lebar, matanya berbinar layaknya anak kecil yang akan diberi mainan baru. "Yes! Akhirnya aku bisa ngerasain pakai baju tempur!"
YUI melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Arka. Ia memejamkan kedua mata ungunya perlahan.
"GPS YUI Exosuit... Activate."
Bzzzzzz...
Suara dengungan halus seketika terdengar beresonansi dari dalam inti tubuh robotiknya. Garis-garis cahaya ungu neon mulai menyala terang di sepanjang sendi-sendi mekanis gaun gotiknya. Lalu, hal yang menakjubkan terjadi. Seluruh fisik YUI perlahan terurai, pecah menjadi miliaran partikel nano-module berwarna hitam, putih, dan ungu.
Dari kejauhan, pemandangan itu menyerupai badai kunang-kunang logam yang bercahaya, berputar mengelilingi tubuh Arka dalam sebuah pusaran badai mini.
"Woah..." gumam Pipi takjub, memandangi pusaran partikel tersebut.
Partikel-partikel nano itu langsung melesat mendekati dan menempel pada tubuh Arka. Dimulai dari kedua kakinya, lapisan logam ringan bermanuver dan membungkus telapak sepatunya, lalu merambat naik dengan cepat mengikuti postur tubuh sang kapten. Pelindung betis, paha, sabuk pinggang taktikal, pelat pelindung dada, pauldron di bahu, hingga gauntlet di kedua lengannya terbentuk satu demi satu dengan presisi nyaris tanpa celah.
Setiap kepingan zirah itu saling mengunci berbunyi clak-clak menggunakan sambungan magnetik dan nano-fusion, merakit diri hingga tampak seperti satu kesatuan kulit kedua yang utuh. Di tengah pelat dada, lambang kebanggaan GPS berbentuk inti kristal menyala sangat terang dengan cahaya ungu yang berdenyut selaras dengan detak jantung Arka.
Partikel nano terakhir mengumpul di sekitar kepala Arka. Headset komunikasi di telinga kirinya bermutasi menjadi modul antarmuka AI YUI, disusul oleh sebuah visor holografik transparan berwarna ungu yang merambat keluar dan menutupi kedua matanya. Rambut hitam Arka tetap dibiarkan bebas tertiup angin padang rumput.
Hanya dalam hitungan detik, transformasi sinkronisasi itu selesai. Wujud fisik robot YUI telah menghilang sepenuhnya. Kini ia telah berubah menjadi GPS YUI Exosuit, menyelimuti tubuh Arka dari ujung kaki hingga bahu.
《GPS YUI Exosuit online. Semua sistem sensor dan pertahanan siap digunakan, Kapten.》Suara datar YUI menggema jernih langsung dari dalam headset di telinga Arka.
Arka perlahan mengangkat kedua lengannya yang kini berbalut zirah canggih. Ia membuka dan menutup kepalan tangannya, merasakan hidrolik pelindungnya merespons sempurna. Data-data telemetri hutan, suhu, dan radar ancaman bergulir rapi di balik visor ungu kacamata holografiknya.
"Wooaaah... keweeeeeeen!!" puji Arka takjub, merasa dirinya sudah semengancam pahlawan super pelindung galaksi. Ia bahkan berpose melebarkan kaki layaknya jagoan di komik aksi.
Namun, di depannya...
"BWAHAHAHAHAHAAHA!"
Pipi dan Null tiba-tiba meledak dalam tawa lepas yang luar biasa keras. Pipi sampai berjongkok memegangi perutnya, sementara Null, jika ia punya mulut, pasti sudah tertawa sampai menangis.
Arka menurunkan lengannya dengan bingung. "Lah? Kenapa kalian ketawa?!"
Pipi menunjuk ke arah pinggang dan kaki Arka dengan tangan bergetar karena menahan tawa.
Arka akhirnya menunduk untuk memperhatikan detail zirahnya secara menyeluruh. Benar saja, eksosuit itu memancarkan aura futuristik yang luar biasa, dengan pelat baja putih, perak, dan hitam yang mengilap.
Namun... di bagian ujung bahu, pergelangan tangan, dan pinggang... terdapat detail yang sangat salah tempat. Nano-module itu membentuk pita-pita ungu kecil. Lebih parah lagi, di bagian pinggang hingga lutut Arka, pelat zirah tempur itu dirakit bertumpuk-tumpuk, mekar, dan merumbai ke bawah... dilengkapi dengan renda-renda besi tipis berwarna hitam, menjadikannya persis seperti rok gaun Gothic Lolita versi mecha.
Eksosuit canggih itu murni merupakan proyeksi selera fesyen YUI yang dijejalkan secara paksa ke tubuh sang kapten.
"Sialan..." gumam Arka pasrah, harga dirinya sebagai pahlawan galaksi hancur lebur sebelum sempat bertarung. "YUIIIIIII!!!!!!!!!!."
《Sistem estetika terkunci, Kapten. Selamat menikmati.》 balas YUI sinis dari dalam kepalanya.