Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sudah setengah jam lamanya Luna menunggu kakaknya datang menjemput dirinya dirumah tapi tak ada tanda-tanda mobil kakaknya datang sampai ada ponsel Luna berdering dan muncul nama kakaknya.
"Halo kak, katanya mengajakku makan siang ini mana belum datang kakak jemput aku."ucap Luna sedikit kesal.
"Maaf Luna, kakak mendadak ada meeting penting. Bisakah kamu berangkat lebih dulu ke restoran yang di pusat kota nanti kakak akan menyusul kesana."ucap balas Edward.
"Emmm, baiklah Luna berangkat lebih dulu. Kakak janji susul Luna disana jangan ingkar."ucap Luna.
"Iya dek, kakak akan kesana setelah meeting penting ini."kata Edward.
Edrward lalu mematikan panggilan tersebut, Luna yang sedikit kesal menunggu kakaknya dari tadi hanya cemberut saja dan ia memilih berangkat lebih dulu dengan diantar supir yang sudah stand by dirumah kakeknya.
"Kek, Luna berangkat dulu diantar sama supir. Kak Edward ada meeting penting dikantor dulu baru menyusul Luna nanti."kata Luna pamit ke kakeknya yang sedang asik menonton tv.
"Iya berangkatlah dengan supir dulu."jawab kakeknya.
Luna pun berjalan keluar rumah dan menuju mobil yang sudah stand by di garasi.
"Jalan pak ke restoran biasa kak Edward berada di pusat kota."perinta Luna ke supir.
"Baik non.."jawab supir itu.
Jalanan tampak lengah tak terlalu macet di siang hari, jarak rumah Edward dengan restoran berada hanya memakan waktu dua puluh menit. Mobil yang ditumpangi Luna berhenti di salah satu restoran paling terkenal di pusat kota lalu ia pun turun dan masuk ke dalam restoran tapi saat masuk hendak masuk ke dalam Luna melihat ada seorang anak kecil yang seperti tersesat kehilangan orang yang menemaninya.
Luna menghampiri anak kecil yang sendirian itu duduk disampingnya.
"Sedang apa disini nak?"tanya Luna.
"Aku tersesat tante, tadi sama mama jalan-jalan tapi ini tak ada mama lagi."ucap anak kecil dengan air mata menetes.
"Mau tante bantu cari mamanya adek kecil."ucap Luna.
"Mau tante, tadi aku sama mama jalan dari arah sana."kata anak kecil.
"Nama adek kecil siapa, tante belum tau namanya."tanya Luna.
"Namaku Lexi, tante siapa?"kata gemas Lexi.
"Panggil tante Luna yah Lexi. Ayo tante temenin cari mamanya Lexi."ajak Luna menggandeng anak kecil itu dengan erat.
Luna dan Lexi berjalan menyusuri arah jalan yang ditunjuk Lexi, dan tak lama kemudian Luna melihat ibu-ibu muda yang terlihat gelisah melihat ke kanan dan kiri seperti kehilangan sesuatu.
"Maa..mama.."teriak Lexi dari jauh melihat mamanya sedang gelisah.
"Ya tuhan, Lexi kemana saja kamu nak. Dari tadi mama cari kamu enggak ada disamping mama, takut kamu diculik nak."ucap khawatir mamanya Lexi.
Lexi berlari kecil menghampiri mamanya dan memeluk kaki mamanya. Luna yang melihat itu jadi sedikit meneteskan air matanya.
Tes..
"Andai mama masih ada disini."gumam Luna dalam hati.
Lekas menghapus air mata itu dan mendekati ibu dan anak yang sudah bertemu kembali.
"Maaf mamanya Lexi, tadi saya melihat anak ini di depan restoran satu blok dari disini. Saya khawatir melihat Lexi sendiri dan saya pun menemaninya mencari mamanya."ucap Luna pada mamanya Lexi.
"Iya dek enggak apa-apa, saya ini sering kali terlepas dari Lexi jika jalan-jalan begini. Anak ini enggak bisa diam rasa ingin tau tinggi sekali."kata mamanya Lexi dengan sedikit khawatir.
"Baik kalau begitu, Lexi sudah bertemu dengan mamanya. Saya ijin kembali lagi mamanya Lexi."ucap Luna.
"Lexi, tante balik lagi yah. Jangan bandel sampai terpisah dengan mamanya lagi."kata Luna yang sudah berdiri sejajar dengan Lexi.
"Siap tante, terima kasih yah tante cantik sudah bantu aku cari mama."kata Lexi dengan gemas dan Lexi pun memeluk Luna sebentar sebagai tanda terima kasih.
Luna tak menjawab hanya mengangguk dan dirinya berdiri kembali lalu berjalan kembali menjauhi ibu dan anak itu, disepanjang jalan Luna kembali ke restoran itu ia terlihat melamun mengingat kembali saat dulu masih ada mamanya.
"Andai mama masih ada mungkin aku tak akan sendiri seperti ini dan mengalami banyak kejadian yang membuatku kecewa."gumam Luna dalam hati.
Sepanjang jalan Luna melamun dan tak sadar sudah melewati restoran dan ia pun jalan terus sampai tiba-tiba bunyi truk yang keras jarak sangat dekat dengan Luna.
Tiiinn......
Luna menoleh dan kaget ia berada hampir ditengah jalan raya.
"Aaaarrrrggghhhh........"teriak Luna.
Braakkk...
Tabrakan yang di alami Luna tak dapat di hindarkan lagi, tabrakan cukup keras menghantam tubuh Luna dan terserat sejauh 30 meter dari tempat kejadian, Luna mengalami luka cukup serius di kepala dan kakinya, akhirnya Luna tak sadarkan diri.
Mobil Edward kejebak macet cukup panjang ia sudah berada tak jauh dari restoran tempat makan siang bersama Luna, Edward merasa kesal mobil tak jalan-jalan.
"Ada apa di depan kenapa jadi macet begini?"tanya Edward pada supirnya.
"Maaf tuan sepertinya ada kecelakaan didepan sana."ucap supir itu.
Tak jauh dari sana, beberapa orang mengerumi jalanan itu dan Edward sekilas mendengar dari beberapa orang disana jika terjadi kecelakaan seorang wanita yang tertabrak truk. Edward mendengarnya kaget ia langsung berpikir seorang wanita.
"Tak mungkin itu Luna, tidak bukan itu. Aku harus memastikannya dulu."gumam Edward.
Edward pu memilih turun dari mobil dan berjalan melihat siapa wanita itu, lagi pula jarak mobil dengan restoran cukup dekat jika jalan kaki.
Deg..
Edward dengan jelas melihat seorang wanita tergeletak bersimbah darah di kepala yang dan ada mobil ambulance yang mendekat di dekat wanita itu.
"Lunaaaa..."teriak Edward.
Ia pun lekas berlari mendekat ke arah Luna yang sudah diatas brankar ambulance, cukup kaget melihat korban tabrakan truk itu adalah Luna.
"Luna bangun Luna ini kakak, apa yang terjadi denganmu."kata Edward berteriak melihat Luna sudah tak sadarkan diri.
"Ayo pak bawa adik saya ke rumah sakit cepat."pinta Edward.
Edward ikut masuk ke dalam ambulance menemani Luna yang dibawa ke rumah sakit terdekat. Disepanjang jalan Edward selalu mencoba membangunkan Luna memegang tangan adik kecilnya, air mata menetes sedari tadi melihat luka yang dialami Luna. Tiba di rumah sakit Luna dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan pertama oleh dokter.
"Tuan tunggu diluar saja, biarkan dokter memberikan penanganan pertama untuk pasien."pinta suster yang berada di UGD.
Edward pun menunggu diluar ruangan tindakan, pikirannya kalut ia memilih mengabari kakeknya dirumah.
"Halo kek, kakek kesini Luna mengalami kecelakaan kek. Edward tak tega melihatnya kek."ucap sendu Edward menghubungi kakeknya.
Panggilan itu pun terputus, dokter yang menangani Luna keluar mengabari kondisi Luna kepada Edward.
"Permisi, apa anda keluarga pasien tabrakan didalam?"tanya dokter itu.
"Iya dok, bagaimana keadaan adik saya disana."kata Edward.
"Saya minta tanda tangan persetujuan untuk melakukan operasi pada kepala dan kakinya. Luka yang di alami pasien cukup serius, banyak berdoa untuk pasien didalam ya tuan."kata dokter pada Edward.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya, berapapun saya bayar dok untuk kesembuhan adik saya."pinta Edward dengan sendu.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien, tuan lebih baik banyak berdoa untuk kesembuhan pasien. Maaf saya permisi dulu."ucap dokter dan ia meninggalkan Edward sendiri.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, tampilannya saat ini sangat berantakan.
"Ya tuhan, tolong selamatkan adik kecil saya. Luna sudah mengalami banyak kejadian selama masa hidupnya tolong jangan ambil dia tuhan, berikan kesembuhan untuk Luna sehingga ia bisa merasakan kebahagiaannya kembali."gumam Edward memejamkan matanya.
Tes..tes...