Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. A Tribute To Si Boi
Entah apa yang ada di otak Erwin. Selalu saja muncul ide-ide yang katanya brilian mendengar kematian si Boi.
Malam Minggu pertama setelah kami masuk sekolah, dia mengajak Aku, Firman dan Juli berkumpul di rumahnya. Selain berjanji akan menyetel filem Warkop DKI di videonya, dia terang-terangan akan memaparkan rencana penggalangan tim keduabelas versi dirinya.
Turnamen sepakbola yang semakin dekat di bulan Agustus memang melibatkan Aku dan Firman dalam kerangka tim. Apalagi Pak Dimin pelatih kami, sudah memantau kami sejak SMP. Sehingga dapat dipastikan Aku dan Firman akan menjadi andalan tim sekolah kami.
Walau turnamen bocah SMA, pak Tarjo Kepala Sekolah kami yang kebetulan adik ibu Erwin punya target tinggi untuk membawa tim SMA kami ke level Propinsi seperti yang sudah-sudah.
Di situlah Erwin memanfaatkan target tinggi turnamen dengan menyanggupi akan selalu memberikan dukungan lewat pinggir lapangan setelah menemui pak Tarjo di rumahnya.
Sebenarnya Aku tahu akal bulus si jabrik sialan itu yang selalu ribut urusan pembentukan suporter. Ujung-ujungnya pasti dia akan berusaha menarik Arin ke dalam tim suporter bentukannya.
"Untuk mengenang kesetiaan-nya, bagaimana kalau suporter sepakbola sekolah kita juluki Black Boi." Dengan berapi-api dia mulai menerangkan konsep militan suporter kami sesudah kami berkumpul di rumahnya.
Kata Erwin, ide julukan itu terbersit di kepalanya setelah mendengar ceritaku tentang si Boi yang selalu setia di samping ku sejak Aku masih belum sekolah sampai masuk SMA.
"Apa gak ada nama lain Win." Aku masih tak terlalu serius menanggapi ide gilanya. Perhatianku lebih tertuju ke arah filem Warkop DKI yang diputar video di ruang tamu dekat kamarnya.
"Bleki aja Win, kayak kulitmu yang eksotis." Firman terbahak menanggapi ocehan Erwin.
"Bleki ndasmu !" seperti biasa mulut si Jabrik mulai melontarkan sumpah serapah jika ada yang menggodanya.
"Dah Jul, kamu kan jago gambar. Bikinkan dulu gambar yang bikin ketakutan lawan kita." Dia berpaling ke arah Juli, berharap dukungan idenya, "kita bagi tugas Jul, aku sedang siapkan struktur organisasi nya .... Biar dua kunyuk ini suruh fokus aja main bola yang bener .... Percuma ngajak mereka berpikir." Muka kesalnya kini beralih lagi ke arahku dan Firman yang masih terbahak.
"Sudahlah, nanti ku ajak Arin dan Eliza meramaikan pinggir lapangan jika kita main." Tak mau tontonan videoku terus terganggu dengan gerutuan Erwin, Aku memancing reaksinya dengan menyinggung nama tadi.
Seperti dugaanku, mata Erwin langsung berbinar setelah Aku menyebut dua bocah perempuan itu. "Eh si Sarah ajak juga Pras." Sialnya, kali ini dia malah menyebut bocah perempuan lain yang dulu mendelik sengit ke arah Aku dan Erwin saat memimpin barisan perploncoan kami.
***
Gara-gara nama Arin, Eliza, dan Sarah yang kami sebut, ide brilian tentang suporter bola Erwin menjadi bubar.
Kami kini sibuk memperdebatkan daya tarik masing-masing bocah perempuan itu tepat setelah filem Warkop DKI di video selesai.
Konsep suporter militan dengan tema a tribute to si Boi terbang entah kemana dari kepala Erwin. Kini dia malah sibuk nyerocos tentang persoalan perempuan.
Apalagi dia malah sekelas dengan Eliza musuh bebuyutannya sejak TK.
"Besok aku menghadap om Tarjo ah, minta pindah kelas." Kali ini Erwin menyebut ide yang mendadak melintas di kepalanya. "Baru seminggu bareng Eliza malah bikin wibawa ku remuk," keluhnya.
"Remuk bagaimana ?" Berpura-pura ikut terenyuh dengan keluhannya, Aku menengok ke arah Erwin.
Jika bukan karena bocah Jabrik itu sangat royal dan baik kepada kami, sudah pasti Aku, Firman, dan Juli tak akan menanggapi semua polah Erwin.
Aku dan Firman yang sudah sangat kenyang dengan kelakuan Erwin sudah paham ending kacau semua ide-ide liar Erwin. Tapi entah bagaimana kami malahan lebih sering terbawa mengikuti ide-ide miringnya alih-alih membantahnya.
Bisa jadi aura brotherhood in crime bocah Jabrik itu sudah melekat di jiwa orang-orang yang terlalu lama dekat dengannya.
"Dia memfitnah ku memelet Arin Pras " Erwin memulai malam Minggu kami dengan persekongkolan jahatnya terhadap bocah-bocah perempuan tadi. "Padahal si Arin lah yang sepertinya memelet ku loh .... Membuatku siang malam selalu terusik dengan wajah sensualnya."
Tentu saja kami terbahak mendengar ocehan ngawur-nya itu. Apalagi Aku sebenarnya sudah tahu apa yang menjadi sumber pertengkaran terbaru Eliza dan Erwin.
"Sialan Pras, mentang-mentang jadi ketua suporter. Seenaknya saja sohib tengik mu menyuruhku berdandan sexy pakai rok span dan kaos mini yang dibasahi sedikit di pertandingan nanti !" gerutu Eliza saat bertemu dan mengadu kepada ku di sekolah Dion.
Tentu saja Aku tak langsung membeberkan omongan Eliza itu saat Erwin mulai membual lagi.
"Terus bagaimana kamu menanggapi fitnahan Eliza Win ?"
"Ku coret dia dari tim inti cheerleader, biar dia mau menghormati ku," ujar Erwin. Berlagak kalem seperti tak ada beban.
"Wah kamu sangat tegas dan kuat," sela Firman yang sebenarnya sama seperti diriku .... Sangat hapal tentangnya .... Dari seratus persen omongan si Jabrik, dapat dipastikan hanya nol persen yang dapat dipertanggungjawabkan jika bersama kami.
"Baiklah Win. Nanti Aku sampaikan ke Arin dan Sarah untuk ber audisi menggantikan posisi Eliza." Dan kini Aku malah ikut-ikutan berfantasi liar tentang bocah-bocah perempuan itu.
"Arin suruh pakai kaos transparan Win," celetuk Firman sambil ngakak.
Begitulah malam Minggu pertama kami sejak masuk SMA.
Kami semua tergagap dengan daya tarik perempuan yang menyenangkan tanpa punya keberanian di depan mereka untuk menyatakan kekaguman isi hati masing-masing.
Tentang pertemanan, rasa aneh, dan segala macam perandaian mulai mengganggu kami. Ada kompetisi tersembunyi untuk saling menelikung dan menyingkirkan pesaing .... Dan akhirnya kami berempat kompak untuk menjaga Eliza, Arin, dan Sarah dari jamahan licik kakak kelas yang menurut kami sedang buas-buasnya mengintai mereka.
Aku yang satu kelas dengan Arin dan Sarah tentu saja terikat dengan komitmen itu.
"Lebih baik Arin, Eliza, dan Sarah jatuh ke pelukan kita daripada kesucian mereka terjamah kakak kelas sialan itu !" ujar Erwin berapi-api.
"Ya betul. Semoga Sarah mau denganku, Eliza dengan Pras, dan Arin dengan Firman .... Hureeee ...!" Juli yang dari tadi diam akhirnya ikut-ikutan bersuara.
"Asuuuu .... Lah aku sama siapa !" bantah Erwin terbahak.
"Sama kakak kelas lah," seru Juli tak mau kalah.
"Males .... kejamnya sangat biadab."
Kami semua masih tertawa dengan perbantahan akrab dan guyonan anak baru gede saat sosok mungil centil tiba-tiba saja nongol dari tangga loteng.
"Mas Erwin dipanggil bapak !" teriakan Dewi adik Erwin menghentikan keriuhan senda gurau kami.
"Wah kita terlalu berisik ya Win," kata Juli.
"Gak lah .... Tenang aja .... Ini kan malam Minggu." Erwin beringsut menyusul adiknya meninggalkan kami.
***
"Sudah dapat ganti si Boi Pras ?" Firman masih ingin tahu kelanjutan ceritaku setelah si Boi mati.
Sepeninggal Erwin, suasana loteng rumah Erwin menjadi waras kembali.
"Belum tahu Man. Sepertinya lingkungan juga gak terlalu mendukung jika kami memelihara anjing lagi," jawabku pelan. "Tahu sendiri kan rumah dinas Bapak sekarang tidak terlalu luas halamannya. Dan belum tentu pengganti Boi akan anteng tidak mengejar siapa saja yang berkunjung ke rumah."
"Iya juga sih. Apalagi kita sekarang sudah sibuk berlatih. Mana cukup waktumu jika masih urus binatang peliharaan lagi."
Aku mengangguk membenarkan ucapan Firman.
Minggu depan, sepulang sekolah tim sepakbola kami sudah mulai berlatih.
Main bareng lagi bersama Firman sudah tak sabar kutunggu, jika di SMP dulu kami saling berhadapan, kini kami dalam tim yang sama.
"Kuharap kamu gak cedera nanti Man. Lawan kita nanti ada STM Wiber loh. Mereka main otot dan keras jika bermain," singgung Firman tentang calon lawan sekolah kami nanti.
"Moga-moga saja kita tidak berhadapan dengan mereka di awal." Seperti Firman, Aku juga tidak berharap bertemu dulu dengan sekolah khusus laki-laki itu di awal turnamen.
Suporter gahar dengan atribut dan genderang tambur yang diusung tim STM itu pernah ku tonton.
Main keras dimana saja mereka bermain tak jarang mengakibatkan perkelahian antar pemain dan tentu saja suporternya.
"Nah itulah fungsi si Jabrik .... Sampai mana nyalinya jika nanti kita berhadapan dengan mereka." Membicarakan kegarangan suporter sepakbola tentu saja mengembalikan topik pembicaraan kami ke arah Erwin.
"Ada apa kalian memanggil manggil nama ketua !" teriakan Erwin dari tangga loteng mengalihkan pandangan kami.
Ada dua bungkusan besar ditentengnya. "Nih sate dan lontong Tiga Saudara dari bapak .... Pesta dulu kita !" ajaknya lekas.
Aku yang sudah lama akrab dengan keluarga Erwin tak heran jika tiba-tiba saja segala macam jajanan dan penganan dikeluarkan bapak atau ibu Erwin .... Mereka senang selama Aku mau anteng menemani bocah itu di rumahnya tanpa harus keluyuran gak jelas ke mana-mana ....
***
*Memelet : dari kata dasar pelet, sejenis ilmu hitam untuk memikat lawan jenis.