NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seni Memasak dan Seni Bertahan Hidup

Satu bulan telah berlalu sejak Meylani dan Bima menempati rumah sewa mereka di Wonocolo. Jika minggu pertama adalah masa kejutan budaya, maka bulan pertama ini adalah masa "pertarungan" domestik yang sesungguhnya. Bukan pertarungan fisik, melainkan pertarungan antara ekspektasi Meylani yang terbiasa dengan kemewahan dan realitas Bima yang serba praktis.

Pagi itu, alarm di ponsel Meylani berbunyi pukul 05.30 WIB. Ia bangun dengan segar, mengenakan robe sutranya, dan berniat membuat sarapan sehat ala hotel bintang lima: avocado toast dengan telur poached dan jus jeruk segar. Ia membuka kulkas dua pintu yang baru saja mereka beli kompromi antara keinginan Meylani akan ruang penyimpanan besar dan anggaran terbatas Bima.

Namun, saat ia membuka rak telur, kekecewaan menghantamnya. Telur-telur itu tidak tersusun rapi dalam wadah karton eksklusif, melainkan dimasukkan begitu saja ke dalam mangkuk plastik bekas wadah es krim. Dan yang lebih parah, hanya ada tiga butir tersisa.

"Mas!" teriak Meylani dari dapur, suaranya sedikit tinggi karena kaget.

Bima, yang sedang mandi di kamar belakang, menjawab dengan suara bergema. "Iya, Mey? Kenapa?"

"Telurnya kok cuma sisa tiga? Kemarin kan kita beli satu rak!"

"Oh, itu udah habis, Mey. Tadi malam aku bikin nasi goreng buat makan malam sama Bu Siti dan Pak RT pas mereka numpang nonton bola. Lumayan lah, biar akrab," jawab Bima santai sambil keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk di pinggang dan kaos oblong basah.

Meylani menghela napas panjang. "Mas, kita kan sudah sepakat. Barang-barang pribadi jangan dipinjamkan sembarangan. Apalagi bahan makanan. Itu privasi kita."

Bima menggaruk kepalanya yang masih basah. "Waduh, maaf, Mey. Aku lupa bilang. Di sini, kalau punya makanan lebih, ya dibagi-bagi. Itu namanya gotong royong. Kalau kita pelit, nanti dikira sombong. Nggak enak hidup di lingkungan kayak gitu."

Meylani merasa frustrasi. Baginya, batas antara "berbagi" dan "melanggar privasi" sangat tipis. Di dunianya dulu, memberi hadiah itu dilakukan dengan kemasan cantik dan kartu ucapan. Di sini, memberi berarti menyodorkan piring berisi nasi goreng langsung dari wajan.

"Sudahlah," kata Meylani akhirnya, menutup kulkas dengan agak keras. "Aku beli telur lagi aja nanti pulang kerja."

Siang harinya, di kantor cabang Surabaya, Meylani menghadapi tantangan lain. Tim marketing lokal mengusulkan kampanye promosi untuk proyek "Ruang Pulang" versi Surabaya dengan tema "Surabaya Hebat, Warga Nyaman". Ide itu bagus, namun eksekusinya terlalu ramai, penuh warna-warna mencolok, dan menggunakan bahasa slang yang terlalu kasar bagi standar branding nasional perusahaan Meylani.

"Mbak Meylani, ini kan target pasarnya anak muda Surabaya. Mereka suka yang blak-blakan, nggak suka yang kaku-kaku," argumen Rian, kepala tim marketing lokal, seorang pria muda berkacamata tebal yang energik.

Meylani mengerutkan kening. "Tapi tetap harus ada estetika, Rian. Jangan sampai terlihat murahan. Kita jual properti kelas menengah atas, bukan kontrakan mahasiswa."

Diskusi berjalan alot. Meylani merasa ide-idenya ditolak karena dianggap "terlalu Jakarta". Rian dan timnya merasa ide Meylani "terlalu kaku" dan tidak menyentuh hati warga Surabaya.

Di tengah kebuntuan, ponsel Meylani berdering. Nama "Mas Bima" muncul di layar.

"Halo, Mas?"

"Mey, kamu lagi sibuk nggak? Aku ada ide buat desain brosur proyek kamu. Boleh kirim filenya ke email aku? Nanti aku kasih masukan," kata Bima cepat.

Meylani terkejut. "Kamu? Tapi kamu kan bukan desainer grafis, Mas."

"Iya, tapi aku tahu apa yang mau dilihat orang Surabaya. Percaya deh. Kirim aja. Nanti sore aku pulangkan revisinya," kata Bima percaya diri sebelum menutup telepon.

Meski ragu, Meylani mengirimkan file desain tersebut. Ia tidak berharap banyak. Namun, sore harinya, saat ia kembali ke rumah, Bima sudah menunggu di meja makan dengan laptop terbuka.

"Nih, lihat," kata Bima menunjuk layar.

Desain yang semula penuh dengan font tebal dan warna merah menyala kini diubah menjadi lebih minimalis. Warna dominannya diganti menjadi biru laut dan putih, dengan foto-foto candid warga Surabaya yang sedang tersenyum natural, bukan pose kaku. Tagline-nya diubah dari "Surabaya Hebat" menjadi "Pulang ke Rumah, Pulang ke Hati".

"Kenapa kamu ganti taglinenya?" tanya Meylani penasaran.

"Karena orang Surabaya itu keras di luar, tapi lembut di dalam," jelas Bima. "Mereka nggak butuh dibilang 'hebat'. Mereka butuh dibilang 'nyaman'. Kata 'pulang' itu magis buat siapa pun, apalagi buat orang Surabaya yang sering kerja jauh dari keluarga. Ini nyentuh emosi, Lan. Bukan cuma jualan tembok."

Meylani menatap desain itu lama. Ia menyadari bahwa Bima benar. Pendekatan emosional yang sederhana itu jauh lebih kuat daripada gimmick marketing yang heboh.

"Kamu jenius, Mas," puji Meylani tulus.

Bima tertawa malu-malu. "Bukan jenius. Cuma pengalaman hidup aja. Aku tahu apa yang bikin orang betah di rumah. Bukan fasilitas mewah, tapi rasa diterima."

Malam itu, Meylani membawa revisi Bima ke kantor besok paginya. Hasilnya? Desain itu disetujui bulat oleh direksi pusat di Jakarta. Bahkan, CEO perusahaan memuji pendekatan "humanis" yang dibawa Meylani.

Kemenangan kecil itu membuat Meylani melihat Bima dengan kacamata baru. Suaminya mungkin tidak mengerti teori pemasaran modern, tapi ia memahami manusia. Dan dalam bisnis properti, memahami manusia adalah kunci utama.

Minggu berikutnya, giliran Bima yang mendapat pelajaran berharga.

Bima mendapat tawaran proyek besar dari seorang pengembang perumahan elit di kawasan Barat Surabaya. Klien ini dikenal sangat perfeksionis dan menuntut standar kebersihan serta ketepatan waktu yang ekstrem. Bima, yang terbiasa bekerja dengan sistem "yang penting selesai", merasa tertekan.

Suatu malam, Bima pulang dengan wajah kusut. Ia melempar tas kerjanya ke sofa dan langsung duduk lesu.

"Apa kabar, Mas?" tanya Meylani sambil menyajikan teh hangat.

"Beres, Mey. Projek itu... ribet banget. Kliannya ngeluh terus. Katanya lantai belum kinclong, cat belum rata, jadwal molor sehari aja dia marah-marah. Aku stres, Mey. Aku nggak biasa diperlakukan kayak robot," keluh Bima, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Meylani duduk di sebelahnya, memegang tangan suaminya yang kasar. "Mas, kamu ingat nggak waktu kamu ngajarin aku soal 'rasa nyaman' di brosur?"

Bima menoleh. "Ingat. Kenapa?"

"Nah, sekarang kamu yang perlu belajar soal 'standar'. Bukan karena kliannya rewel, tapi karena kualitas kerja kamu memang bisa lebih baik. Kamu punya integritas, Mas. Jangan biarkan egomu merasa tersinggung kalau dikoreksi. Anggap itu sebagai cara untuk naik level. Kalau kamu bisa memuaskan klien sesulit itu, reputasi kamu akan melonjak. Kamu nggak akan cuma jadi agen properti biasa, tapi konsultan terpercaya."

Bima mendengarkan dengan saksama. Kata-kata Meylani tajam, namun tepat sasaran. Ia menyadari bahwa selama ini ia mengandalkan kecepatan dan kejujuran, tapi kurang memperhatikan detail teknis yang sering dianggap remeh oleh orang lapangan.

"Kamu bener, Mey. Aku terlalu defensif. Besok aku akan minta maaf ke kliannya, dan aku akan perbaiki semua kekurangan itu. Aku akan tunjukin kalau orang Surabaya juga bisa teliti dan profesional," tekad Bima.

Meylani tersenyum. "Aku bantu cek laporannya malam ini? Kamu fokus istirahat."

Bima menggeleng. "Nggak usah. Kamu juga capek kerja. Kita kerjain bareng-bareng. Kamu yang cek angka-angkanya, aku yang cek kondisi lapangannya via foto. Kita tim, kan?"

Mereka menghabiskan malam itu berdampingan di meja makan, surrounded by kertas kerja, kalkulator, dan secangkir kopi yang semakin dingin. Tidak ada keluhan, tidak ada saling menyalahkan. Hanya ada kolaborasi dua kepala yang berbeda, namun menyatu dalam satu tujuan.

Di tengah kesibukan itu, Bu Siti tetangga sebelah datang lagi, kali ini membawa tanaman hias dalam pot kecil.

"Mbak Meylani! Ini bunga peace lily. Bagus buat udara di dalam rumah. Taruh di ruang tamu ya," kata Bu Siti ramah.

Meylani, yang kali ini sudah lebih siap, tersenyum lebar. Ia menerima pot itu dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Bu Siti! Cantik sekali. Nanti saya siram setiap hari."

Bu Siti tampak senang. "Wes, gitu dong. Nggak kaku-kaku lagi. Oh iya, Minggu depan ada kerja bakti di gang. Mas Bima ikut ya? Bawa cangkul atau sapu aja. Nanti siang-siang ada sate ayam gratis."

Meylani menoleh pada Bima. Bima mengangguk antusias. "Siap, Bu! Saya bawa cangkul paling tajam!"

Setelah Bu Siti pergi, Meylani menatap Bima. "Kamu serius mau kerja bakti? Padahal kamu lelah sekali minggu ini."

Bima tertawa. "Ya namanya juga hidup bermasyarakat, Mey. Lagian, sate ayam gratis itu nggak boleh dilewatkan. Itu rezeki nomplok."

Meylani tertawa renyah. Ia mulai menyadari bahwa kebahagiaan di Surabaya tidak ditemukan di dalam kemewahan yang terisolasi, tapi di tengah kekacauan yang hangat, di antara bau sate bakar, suara klakson, dan tetangga yang kepo namun peduli.

Dan di sisi lain, Bima belajar bahwa ketelitian dan standar tinggi bukanlah bentuk pengekangan, melainkan bentuk penghargaan terhadap profesi dan klien.

Mereka saling mengajar. Meylani mengajarkan Bima tentang struktur dan visi jangka panjang. Bima mengajarkan Meylani tentang fleksibilitas dan koneksi manusia.

Di bawah langit Surabaya yang mulai gelap, dua pasangan ini terus tumbuh. Bukan menjadi orang lain, tapi menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, bersama-sama.

Dan malam itu, saat mereka tidur berpelukan, Meylani tidak lagi mendengar suara klakson sebagai gangguan. Ia mendengarnya sebagai lullaby kota yang kini ia sebut rumah.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!