Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Penting Dari Papi
Keesokan harinya kepanikan Reyhan sudah mencapai ubun-ubun. Rasa penasaran dan ketakutan kehilangan Xena membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah sebuah tempat yang menyimpan memori beberapa tahun lalu, saat Xena pertama kali memperkenalkannya kepada orang tuanya.
Reyhan menghentikan mobil di depan sebuah rumah sederhana. Mengambil napas dalam-dalam, ia turun dan melangkah bersiap untuk bersujud dan memohon maaf kepada mertuanya jika perlu. Akan tetapi dahinya mengernyit saat melihat seorang pria paruh baya berkaus oblong sedang menyiram tanaman di halaman yang wajahnya tidak ia kenali.
"Permisi, Pak, maaf mengganggu. Apakah Xena ada di sini"
Pria itu mematikan selang air, menatap Reyhan dengan tatapan bingung. "Xena? Siapa itu? Dari dulu sampai sekarang pemilik rumah ini adalah saya. Saya sudah tinggal di sini hampir lima belas tahun, Mas."
Reyhan tersentak, jantungnya mencelos. "Lho, tidak mungkin, Pak. Beberapa tahun lalu, istri saya membawa saya ke sini untuk bertemu orang tuanya. Rumahnya ya di sini ini."
Pria itu terkekeh sambil menyeka keringat di dahinya. "Oh, kalau itu sih mungkin saja, Mas. Memang saya itu kerap menyewakan rumah ini untuk harian atau mingguan untuk keperluan syuting atau lainnya. Mungkin saja yang Mas maksud itu salah satu penyewa rumah saya dulu."
Reyhan manggut-manggut dengan wajah pias. Ia pamit dengan pikiran yang berputar. Di dalam mobil ia memukul setir dengan frustrasi. Reyhan mengira keluarga Xena miskin dan mengontrak rumah, padahal saat itu Xena hanya menyewa sebentar untuk keperluan mengenalkan Reyhan pada ibunya.
Dari situlah pengamatan ibunya Xena tak meleset soal Reyhan. Dan sialnya, dulu Xena masih begitu dibutakan oleh cinta hingga sulit sekali dinasehati, apalagi dipisahkan dari Reyhan.
Habis dari sana, Reyhan makin bingung harus mencari ke mana lagi. Di tengah keputusasaannya ia berpikir jika dalam waktu dua kali 24 jam Xena belum juga pulang, ia akan nekat melapor ke polisi atas dasar istri hilang tanpa kabar.
Namun niat itu langsung kandas saat ia menerima sebuah amplop berlogo resmi. Dengan tangan gemetar, Reyhan membuka amplop tersebut. Lembar demi lembar kertas di dalamnya membuat napasnya tercekat.
Itu adalah surat gugatan cerai dari Pengadilan Agama. Xena telah resmi menggugat cerai dirinya.
"Nggak mungkin... Nggak ada masalah apa-apa, kenapa tiba-tiba Xena gugat cerai?!" gumam Reyhan dengan mata membelalak syok. Ia langsung pulang ke rumah dan mencecar Nadine yang sedang duduk di ruang tamu.
"Nadine! Sini kamu!" bentak Reyhan, melemparkan surat gugatan itu ke meja. "Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa sebenarnya Xena tahu kita menikah siri?! Kamu kan yang sengaja membocorkannya?"
Nadine langsung menggeleng kuat-kuat, "Demi apapun, Mas! Aku juga kaget setengah mati waktu tahu Mbak Xena sudah tahu soal pernikahan siri kita. Aku bersumpah bukan aku yang membocorkannya! Aku tahu diri, Mas!"
Mendengar keributan itu, Bu Mirna yang baru keluar dari dapur langsung menghentikan langkahnya. Wajah wanita tua itu memucat mendengar perdebatan anaknya. Tanpa suara, Bu Mirna perlahan mundur, berniat menyelinap ke kamar untuk bersiap-siap pamit pulang ke rumahnya sendiri. Ia dirundung ketakutan jika ditanyai lebih lanjut, karena dialah yang sebenarnya membocorkan rahasia itu kepada Xena dengan tujuan agar wanita yang dianggapnya mandul itu mundur dan bercerai dari Reyhan.
Rencana Bu Mirna memang sukses besar, Reyhan dan Xena akan bercerai. Tetapi efeknya membuat Reyhan jadinya uring-uringan dan hancur seperti ini.
Reyhan kini tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak berdaya dengan perasaan suntuk yang teramat sangat. Pikirannya melanglang buana tanpa arah yang jelas. Sampai-sampai ia berpikiran enggan bermalam di rumah karena keberadaan Nadine.
Di sisi lain, sebuah pemikiran mulai merayapi benaknya. Apakah ia harus memercayai Xena begitu saja? Hasil tes DNA rahasia yang ia lakukan terhadap Aksara belum juga keluar. Bisa jadi ucapan Xena kemarin tentang menukar hasil tes hanyalah kebohongannya belaka, sebuah gertakan karena rasa kecewa dan sakit hati seorang wanita yang telah dikhianati pernikahan mereka.
Ya, pasti Xena hanya mengerjaiku karena ia sakit hati, pikir Reyhan berusaha menghibur diri.
Lama-kelamaan Reyhan mulai berpikir pragmatis. Apakah ia harus pelan-pelan menerima Nadine di hidupnya? Ia memang belum ada rasa dengan wanita itu, tapi memikirkan Nadine jadi pengganti Xena dirasa bukanlah ide buruk. Jika Xena memang betulan ingin pergi biarlah pergi, Reyhan berusaha mengikhlaskan cintanya pada Xena dan juga sebuah rumah.
Lha kok rumah?
Reyhan sebenarnya diam-diam tahu bahwa Xena sedang mempersiapkan hadiah sebuah rumah atas nama Reyhan untuk anniversary pernikahan mereka yang akan datang. Reyhan mengetahuinya tak sengaja saat menguping percakapan telepon Xena dengan seseorang. Soal latar belakang Xena yang sebenarnya kaya raya, dan banyak hadiah yang dipersiapkan Xena untuk Reyhan, benar-benar laki-laki itu tidak tahu sama sekali. Reyhan pikir hadiah rumah itu pun dibeli Xena dari tabungan wanita itu bekerja semasa lajang.
Makanya, ia merasa sangat sayang jika harus berpisah dengan wanita sepengertian dan seloyal Xena. Hal itulah yang membuat jiwanya semakin uring-uringan.
Namun nasi telah menjadi bubur. Selebihnya Reyhan berpikir, sudah ada pengganti seperti Nadine pun tidak terlalu buruk, kan? Tinggal bagaimana ia nanti membersamai Nadine yang tampaknya juga tumbuh menjadi orang yang loyal terhadap laki-laki yang dicintainya, macam Xena juga. Soal rasa cinta, ia yakin pelan-pelan akan tumbuh sendiri seiring berjalannya waktu.
Dilihat dan diingat-ingat juga, Nadine orangnya lumayan penurut. Reyhan yakin Nadine pasti bisa diatur untuk mengurus rumah tangga dan bersikap seperti Xena. Reyhan terus menghibur diri dengan pemikiran egois seperti itu, sembari menaruh harapan besar bahwa hasil tes DNA nanti akan menunjukkan 100% bahwa ia dan Aksara adalah ayah dan anak kandung.
...***...
Malam hari di Mansion mewah keluarga Xena.
"Papi bersyukur sekali kamu sudah balik lagi ke rumah, Xena. Lebih bersyukur lagi karena kamu akhirnya mau nurut sama orang tua dan bersedia bantu jalani bisnis keluarga kita," ucap Papinya.
"Aku yang harusnya minta maaf, Pi. Karena sudah keras kepala selama ini."
Papi berdehem, lalu melipat tangannya di atas meja. Tatapannya berubah serius. "Nah, karena kamu sudah kembali, ada maksud lain yang ingin Papi utarakan. Ini sebenarnya agenda besar keluarga kita. Sudah lama sekali Papi dan Mami ingin mengutarakannya, tapi selalu terhalang oleh kamu yang pada saat itu merengek ingin menikah dengan Reyhan."
Papi menatap lekat-lekat manik mata putrinya. "Ada yang mau Papi omongin, tapi bisakah sekarang tidak ada penolakan dari kamu?"
Xena menjawab, "Karena selama ini semua nasihat Papi dan Mami benar dan aku yang salah, maka sekarang apa pun keputusan Papi, aku iyakan saja."
Mendengar itu senyum Papi mengembang lebar. "Baiklah. Sebenarnya kamu itu sudah dijodohkan sedari bayi oleh Papi dan Mami dengan anak sahabat Papi. Maukah sekarang kamu memenuhi jodoh itu dan menikah dengannya?"
"Lho, Papi? Aku ini sekarang masih dalam proses cerai. Lagian, hitungannya nanti aku ini janda, Pi. Emangnya dia cowok yang mau menerima wanita dengan status seperti aku?"
Papi terkekeh. "Kita tanya saja langsung sama dia nanti, mau menerima keadaanmu atau tidak? Tapi kalau tebakan Papi sih, dia pasti menerima. Dia anak yang sangat berbakti."
Xena menopang dagunya mulai penasaran.
"Bujang atau duda, Pi?"
"Bujangan dong. Dia belum pernah menikah sama sekali. Kata teman Papi alias bapaknya nih ya, ciuman aja belum pernah tuh anak. Ayolah Xena, nanti pas kamu sudah resmi cerai secara hukum dan masa iddahmu sudah habis, sebaiknya kamu menerima untuk menikah dengannya, ya?"
Xena menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak menimbang-nimbang. Kepercayaannya pada laki-laki memang sedang berada di titik nadir, tetapi ia sudah berjanji tidak akan membantah orang tuanya lagi.
"Terserah Papi saja, aku nurut. Tapi kalau dia selingkuh lagi dan pernikahan aku kandas untuk kedua kalinya, bagaimana? Hancur sekali pasti hidupku, Pi."
Papi langsung tertawa renyah mendengar kekhawatiran putrinya. "Tenang saja, Xena. Calon suamimu ini bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan selingkuh. Kamu nanti akan sibuk urus perusahaan, tapi dia? Dia itu jauh lebih sibuk, sampai Papi pun kesulitan buat atur jadwal pertemuan mu dengannya. Kamu akan menikah dengan orang yang seluruh dedikasi hidupnya habis buat pekerjaan. Papi bahkan tak yakin kamu punya waktu untuk sekadar romantisan dengan dia. Sangat tidak seperti mantanmu yang punya banyak waktu luang untuk bermain api itu."
Xena mengernyitkan alisnya, "Papi mau menjodohkan aku dengan pria dingin?"
"Tidak dingin juga, hanya kaku dan tidak punya banyak waktu luang. Tapi justru cocok buat kamu yang nanti juga akan sibuk memimpin perusahaan kita. Kalian bisa maju bersama."
Xena memijit pelipisnya yang mendadak terasa pening. Ujian apalagi ini? Baru mau lepas dari kadal, sekarang malah mau diceburkan dengan pria robot. Sebaiknya aku tak membuka hati untuknya. batin Xena pasrah.
Melihat binar bahagia di mata orang tuanya, Xena akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu terserah Papi dan Mami saja."
Papi dan Mami langsung tersenyum puas.
Bersambung.