Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sudah empat hari berlalu sejak kejadian itu. Dian selalu pergi ke kamar Cindy setiap pagi, semata-mata untuk menghindari Joshua. Ia baru keluar saat ada yang memanggil untuk berangkat ke kantor. Meski tetap harus bertemu di dalam mobil, setidaknya mereka hanya akan berdua sebentar saja.
Sepanjang perjalanan, Dian hanya menatap ke luar jendela, atau berpura-pura sibuk dengan pekerjaan di laptop. Ia memilih duduk di kursi depan, di sebelah sopir. Syukurlah Joshua tidak menahannya atau bertanya apa pun sejak awal.
“Kamu kan asistenku. Tapi kenapa setiap pagi selalu ada di kamar Cindy?”
“Apakah saya tidak boleh mengunjunginya, Pak?”
“Bukan begitu. Hanya saja, kadang aku butuh bantuanmu lebih awal.”
“Lebih baik nanti saja di kantor, Pak. Daripada saya malah dipermainkan lagi.”
Joshua tertawa renyah. “Ternyata gara-gara kejadian hari itu ya? Makanya kamu terus menghindariku begini.”
“Ya, terus kenapa?” sahut Dian kesal, mendengar pria itu malah tertawa.
“Jangan terlalu serius begitu… nanti aku malah makin gemas padamu.”
Wajah Dian memerah menahan marah serta malu. Apalagi di sebelahnya ada sopir juga. Ia memalingkan wajah, berpura-pura tidak mendengar ucapan itu.
“Ngomong-ngomong, aku lihat rencanamu itu sudah berjalan baik.”
“Syukurlah kalau begitu, Pak. Semua staf Bapak bekerja sangat rajin. Pekerjaanku jadi jauh lebih ringan—mereka cepat paham penjelasanku, dan kini sudah bisa menangani hampir semuanya sendiri.”
Mereka tiba di kantor lebih cepat dari perkiraan. Dian mengikuti Joshua menuju lift khusus milik Direktur Utama—lift yang selalu dipakai pria itu sejak awal.
Begitu pintu tertutup, Dian menarik napas panjang. Ia selalu melakukan hal ini setiap kali masuk ke dalamnya, seolah berusaha menenangkan hati yang tidak pernah benar-benar tenang.
“Bagaimana jadwalku hari ini? Sudah kau atur semuanya?” tanya Joshua tanpa menoleh.
“Sudah, Pak. Tenang saja, semuanya sudah beres,” jawabnya pelan.
Tiba-tiba lift berbunyi pendek lalu berhenti total di tengah jalan. Tidak bergerak sedikit pun. Detik berikutnya lampu di dalamnya padam sepenuhnya, menyisakan cahaya samar dari lampu darurat.
Dian langsung membeku di tempat. Kenangan lama menyerbu masuk begitu saja. Meski ia dikenal tegar, rasa trauma itu tidak pernah benar-benar hilang.
Sementara itu, Joshua tetap tenang. Ia segera menekan tombol komunikasi.
“Halo?”
“Iya, Pak. Ada yang bisa kami bantu?”
“Lift saya tiba-tiba berhenti. Coba periksa apakah ada kerusakan atau gangguan apa pun.”
“Baik, Pak. Kami akan segera hubungi tim teknisi.”
“Baik, saya tunggu kabarnya.”
Joshua meletakkan telepon itu, lalu melonggarkan ikat dasinya yang terasa semakin sempit dan membuat tubuhnya terasa panas. Saat pandangannya jatuh ke arah Dian, ia langsung sadar ada yang salah. Gadis itu berdiri kaku, wajahnya pucat pasi.
Joshua segera melangkah mendekat dan meraih tangan Dian. Kulitnya sedingin es.
“Tangannya sedingin ini… Dian? Dian, dengar aku!” serunya sambil mengguncang bahu gadis itu pelan.
Dian tersentak, seolah baru sadar dari lamunan yang menakutkan. Napasnya tersengal-sengal hebat, sementara air mata mulai menetes membasahi pipinya. Rasa takut yang sama persis dengan 14 tahun silam kembali muncul—saat ia masih berusia 12 tahun, terjebak sendirian di lift sekolah. Saat itu juga, semuanya terlihat seperti sekadar gangguan teknis, padahal ia tahu pasti ada orang yang berniat jahat kepadanya. Bahkan ayah dan ibu angkatnya pun tidak melaporkan kejadian itu ke polisi, seolah-olah tidak peduli.
“Dian, tarik napas pelan-pelan… begitu… hembuskan perlahan,” kata Joshua lembut. Ia menuntun Dian bersandar hingga kepala dan tubuh gadis itu beristirahat di pangkuannya. “Tenang saja, aku ada di sini. Tidak akan terjadi apa-apa pada mu.”
Joshua sedikit terkejut sendiri. Ini pertama kalinya ia melihat Dian menampakkan sisi lemah yang selama ini tersembunyi. Dari awal bertemu, gadis itu selalu terlihat tegas, dingin, bahkan kadang bersikap menantang. Meski di hatinya masih ada dendam mendalam terhadap orang tua Dian, kini ia merasakan rasa sesak yang aneh melihat wanita di depannya menderita begini.
Dian mencoba mengerahkan sisa tenaganya untuk bangkit, namun tubuhnya terasa lemas luar biasa. Wajahnya masih pucat pasi, keringat dingin terus membasahi pelipisnya, dan napasnya masih tersengal pendek-pendek. Bahkan saat ia mencoba menggeser bahunya sedikit saja, rasa takut itu kembali merayap di sekujur tubuhnya—mengingatkan betapa sempit dan terkungkungnya ruangan ini, persis seperti dulu.
"Jangan bergerak dulu," ucap Joshua lembut namun tegas, tangannya tetap menahan bahu Dian agar tetap bersandar padanya. "Kamu masih gemetar hebat, lihat saja tanganmu sendiri."
Dian menunduk, menatap jari-jarinya yang masih bergetar tak terkendali. Air mata kembali menetes perlahan, kali ini bukan lagi karena panik melainkan karena rasa lelah menahan segalanya sendirian selama bertahun-tahun.
"Masih... belum bergerak ya?" suaranya parau, hampir tak terdengar. "Takut... takut kalau kejadiannya sama persis seperti dulu..."
Joshua mengusap pelan lengan Dian yang dingin, berusaha memberikan sedikit kehangatan. Tatapannya kini jauh lebih lunak, tanpa lagi ada nada mengejek atau menggoda seperti biasanya.
"Tidak apa-apa. Aku ada di sini, Dian. Percayalah," katanya pelan tepat di samping telinga gadis itu.
Dian mengangkat wajah perlahan, menatap Joshua dengan mata yang masih berkaca-kaca. Di balik ketakutan itu, terlihat keraguan yang mendalam.
Lift kembali berderu dan mulai bergerak naik. Namun ketakutan Dian belum sepenuhnya hilang; tubuhnya masih gemetar ringan, tangannya mencengkeram kuat lengan Joshua. Saat pintu terbuka di lantai tujuan mereka, Joshua langsung menggendong tubuh mungil itu. Dian tak melepaskan pelukannya sedikit pun, matanya terpejam rapat seolah masih ingin menjauh dari segala sesuatu yang baru saja terjadi.
Karena tangannya sibuk menggendong Dian, Joshua menendang perlahan daun pintu ruangannya hingga terbuka. Ia melangkah masuk lalu membaringkan gadis itu di sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Segera ia bergegas mengambil segelas air, lalu kembali duduk di sisi Dian.
“Bangun sebentar, ya. Minumlah sedikit air dulu. Aku akan telepon dokter supaya memeriksamu,” ucapnya lembut sambil menepuk pelan pipi Dian.
Dian perlahan membuka mata, dibantu Joshua duduk sedikit. Ia menerima gelas itu dengan tangan masih gemetar, dan Joshua ikut menopangnya agar air tidak tumpah. Setelah Dian meneguk beberapa kali, Joshua meletakkan gelas kosong itu di meja samping.
“Istirahatlah dulu di sini. Aku akan memanggil dokter datang sekarang.”
Baru saja ia hendak meraih ponsel, tangan Dian menahannya dengan cepat.
“Jangan… Tidak perlu. Aku cuma mau istirahat sebentar saja di sini,” suaranya terdengar serak namun tegas. Ia menatap Joshua, berusaha meyakinkan agar pria itu tidak terlalu khawatir. Sebenarnya ia takut kedatangan dokter akan mengundang perhatian seluruh pegawai kantor, membuat kejadian ini makin heboh.
“Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Joshua ragu.
Dian mengangguk pelan.
“Kalau begitu, biar aku suruh seseorang mengantarmu pulang. Di rumah lebih tenang untuk istirahat, tidak perlu memaksakan diri bekerja hari ini,” usulnya lagi.
Namun Dian menggeleng kuat. Ia tidak ingin pulang—tidak ingin bertemu dengan dua orang yang selama ini membuatnya hidup dalam cemas. Selain itu, sejak Joshua menolongnya tadi, rasa aman mulai tumbuh di hati Dian. Pandangannya yang dulu buruk terhadap pria itu perlahan berubah menjadi lebih baik.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Joshua heran.
“Biarkan aku berbaring di sini saja. Aku akan menunggumu selesai kerja, lalu pulang bersamamu,” jawab Dian pelan, matanya menatap Joshua dengan pandangan yang terlihat mencari perlindungan.
Joshua memahami ketakutan itu. Ia pun mengangguk setuju. “Baiklah. Tidur saja di sini sepuasmu. Nanti saat waktunya pulang, aku akan membangunkanmu.”
Dian kembali memejamkan mata, meringkuk di atas sofa. Joshua mengambil jasnya, lalu menutupinya perlahan agar tidak kedinginan. Melihat Dian sudah tertidur pulas, ia kembali duduk di kursi kerjanya, namun matanya tak lepas dari gadis itu.