Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Keesokan harinya, saat makan malam bersama antara ibu dan anak, yaitu Bagas dan mamanya, mereka kelihatan begitu sangat bahagia. Tidak dipungkiri bahwa Bagas merupakan anak yang sangat membanggakan orang tuanya, begitu peduli dan dermawan serta tidak sombong.
Mama Rima terlintas mengingat wajah Ayra saat Bagas membawanya kerumah. Ada tanda tanya yang ingin diketahui oleh mama Rima. Sesuatu yang membuat mama Rima begitu penasaran dan memang ada sesuatu yang berbeda dari Ayra saat pertama kali wanita paruh baya itu melihat kembali Ayra. Terlintas bayangan masa lalu yang mungkin saja jawaban benar atas pikiran mama Rima.
"Kamu ketemu Ayra itu sejak kapan, Bagas? Dia hanya sekretaris atau...?" begitulah pertanyaan yang diajukan oleh mama Rima untuk Bagas.
"Pertama bertemu dengan Ayra itu saat kuliah, dia satu kampus sama Bagas dan...mantan Bagas juga Ma," ujar Bagas terus terang dan sedikit kikuk.
"Mantan pacar?" tanya mama lagi, sedikit terkejut.
"Iya Ma," Bagas tersenyum nyengir.
Mama Rima pun menggelengkan kepalanya setelah mendengar perkataan anaknya, Bagas. Bisa-bisanya Bagas sesantai itu mengajak Ayra datang ke rumah dan dikenalkan kepada mama Rima. Padahal status mereka sudah putus. Kenapa tidak dari dulu saat mereka pacaran mengajaknya ke rumah, lalu kenapa harus sekarang datang sebagai mantan bukannya calon istri. Mama Rima tak habis pikir oleh kelakuan Bagas.
"Jadi maksud kamu menjadikan Ayra sekretaris itu pasti ada alasannya, supaya balikan lagi sama dia, kan?" tanya mama Rima lagi. Mama Rima seperti tau kelakuan Bagas sedari kecil. Sifatnya yang sangat teguh pendirian jika menginginkan sesuatu.
"Pengennya sih gitu, Ma. Tapi Ayra sepertinya tidak mau lagi sama Bagas," ucap Bagas sedikit lesu.
"Kalian putus karena apa?" tanya mama Rima ingin tahu.
"Itu masalahnya, sampai sekarang Bagas pun nggak tau apa salah Bagas hingga Ayra putusin Bagas. Ayra selalu menghindar saat Bagas bertanya hal itu," ujar Bagas menjelaskan.
"Mungkin kamu selingkuh?" ucap mama Rima dengan asal.
"Nggak lah, Ma. Bagas nggak pernah selingkuh sejak pacaran sama Ayra. Apalagi Bagas ini orangnya setia kok," kata Bagas dengan percaya dirinya.
"Mama itu kalau melihat Ayra seperti mengingat seseorang, tapi Mama lupa siapa orangnya. Pas Mama tanya Ayra, katanya baru kali ini dia lihat Mama," ujar Mama Rima sambil mengingat wajah Ayra lagi dan lagi.
"Mungkin pernah lihat di jalan atau ada yang mirip sama Ayra kali, Ma!" sangkal Bagas dengan santai sambil menyantap makanannya.
"Ya mungkin saja itu hanya perasaan Mama doang, tapi Mama sangat yakin melihat seseorang dari wajah dan matanya Ayra, Mama juga lupa siapa orang yang mirip Ayra itu," mama menghela nafasnya sedikit berat.
Mama Rima masih saja mengingat sosok wajah Ayra tak hentinya. Wanita paruh baya itu sangat penasaran dengan Ayra. Mama Rima begitu kekeh dengan ingatannya dan diakuinya bahwa dia sangat penasaran sekali dengan sosok Ayra.
"Besok kamu ajak Ayra kesini lagi, mama mau ngobrol sama dia, bisa nggak?" pinta mama Rima.
Mama Rima menginginkan Ayra datang ke rumahnya untuk bisa berbicara banyak mengenai apa yang mengganjal di pikirannya. Semenjak melihat Ayra untuk pertama kali masuk ke rumahnya, mama Rima begitu langsung mengingat sesuatu, tatapan Ayra penuh keteduhan yang pernah dia liat dari seseorang, tapi entah itu siapa. Apalagi saat melihat Ayra yang sangat sederhana dan ramah. Mama Rima sangat menyukainya.
"Bisa kok Ma, dengan senang hati. Sekalian juga puji Bagas di depan Ayra, siapa tau Ayra mau kembali lagi sama Bagas," ujar Bagas bersemangat dan sangat mengharapkan bantuan dari mama Rima.
"Kamu ini, tidak bisa usaha sendiri, hemmm...," mama Rima hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang begitu menggemaskan jika meminta sesuatu.
Di mata mama Rima, walau usia Bagas sudah dewasa, namun mama Rima masih saja menganggap Bagas anak kecil yang menggemaskan. Apalagi melihat Bagas adalah anak semata wayangnya. Mama Rima sangat menyayangi anaknya dan berusaha untuk selalu memprioritaskan Bagas yang paling penting di hidupnya.
Keesokan harinya di kantor, Ayra begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Bagas yang bertahan untuk tidak menggangu pekerjaan Ayra dan lebih menunggu di ruang kerjanya sambil melihat jam ditangannya, memutarkan kursi duduknya berkali-kali seperti orang yang sedang bosan.
Dan tak lama kemudian yang ditunggu pun akhirnya datang ke dalam ruangannya, yakni Ayra. Si gadis cantik pujaan hatinya sedari dulu hingga sekarang. Melihat nya saja sudah merasa bahagia apalagi jika sudah bersama berumah tangga. Pasti lengkap sudah kehidupan Bagas bersama Ayra.
"Ini sudah aku pisahkan semua laporan lama dari tahun kemarin dengan yang baru, semuanya sudah lengkap, Pak!" kata Ayra sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Ya baiklah, terima kasih," ucap Bagas singkat.
Ayra pun hendak pergi meninggalkan ruangan itu, namun Bagas langsung memanggil namanya.
"Ayra!" ucap Bagas sedikit meninggi.
Ayra langsung menoleh ke sumber suara dan menatap Bagas.
"Kenapa?" tanya Ayra.
"Nanti pas jam makan siang ikut aku pulang ke rumah mama ya? Sekalian kita makan siang bareng mama," ujar Bagas menawarkan.
"Emm...tapi mending aku makan siang disini sama staf yang lain deh. Ya tau sendiri lah, aku kan staf baru disini, jadi sekalian aku bisa berbaur sama staf staf yang lainnya juga gitu," jawab Ayra sedikit menolak dengan wajah kikuk.
"Masalah itu nanti saja, pokoknya kamu ikut aku nanti ke rumah. Mama sendirian di rumah nggak ada temen cerita, itu pun juga ada bibi, nggak mungkin juga selalu nemenin mama, sekali sekali kamu ngobrol sama mama. Lagian baru kemarin kamu ketemu sama mama Aku sejak kita pacaran," kata Bagas panjang lebar, sampai Ayra sedikit melotot kan matanya pada Bagas saat mendengar kalimat terakhir.
"Hah, pacaran?" ujar Ayra mengulang kata itu.
"Emm... maksudnya saat kita pacaran dulu, gitu!" jawab Bagas sangat kikuk. Dia baru sadar dengan kalimatnya yang membuat Ayra sedikit syok.
Ayra diam saja tak menjawab ucapan Bagas. Lagi-lagi Bagas mengeluarkan modusnya yang sama sekali Ayra tak peduli. Padahal hatinya Ayra merasakan getaran yang tak karuan, bisa dibilang bahwa dia suka dengan ucapan Bagas. Tapi sayangnya, Ayra begitu gengsi.
"Kamu diam berarti setuju ya, baiklah nanti jam makan siang aku tunggu di parkiran mobil ya," ucap Bagas seenaknya saja. Ya, namanya juga bos, jadi semaunya dia aja.
"Eh, tapi...," ucap Ayra terpotong.
"Tidak ada penolakan, titik!" ujar Bagas to the point.
Ayra kesal dan hanya menghela nafasnya sambil cemberut dan langsung pergi meninggalkan Bagas yang tiba-tiba begitu mencari alasan untuk menghindar dari penolakan Ayra.
Bersambung....