NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

​"Pak, foto dulu, yah!" ucapku pelan sembari menyodorkan ponsel.

​Jalal mengangguk setuju. Kami pun langsung mengambil posisi berdekatan dan berpose beberapa kali. Kami sengaja menggunakan jepretan lampu blitz dari ponsel boba milik Jalal, karena kameranya jauh lebih jernih dan tajam dibandingkan dengan ponsel jadul milikku. Setelah puas mengabadikan momen berdua, kami memutuskan untuk kembali menuju area pasar malam.

​Sepanjang perjalanan berjalan kaki kembali menuju mobil, aku merangkul lengan kekar Jalal dengan sangat erat. Mulai detik ini, aku sudah memantapkan hati bahwa duniaku—selain Jayan—adalah pria matang di sampingku ini.

​Tak lama kemudian, mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilat milik Jalal sudah berpindah tempat, kini terparkir dan berhenti dengan rapi di pinggir lapangan kecamatan. Sebelum aku membuka pintu untuk turun, Jalal sempat menahan bahuku dan mencium bibirku secara singkat namun sarat akan perasaan.

​"I love you, Yas," ucap Jalal dengan suara rendahnya.

​Kami berdua keluar dari mobil, lalu berjalan beriringan memasuki area pasar malam. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan kerumunan orang yang tak henti-hentinya menatap kami berdua dengan pandangan yang bermacam-macam. Aku tahu persis apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mereka pasti terpesona sekaligus merasa heran, melihat ada sosok bule matang yang tampan rupawan tersesat di pasar malam sekampung ini.

​"Pak... Kamu lihat tidak pandangan orang-orang itu? Mereka dari tadi memperhatikan kamu terus, loh," bisikku pada Jalal.

​Bukannya rendah hati, Jalal malah balik menatapku jenaka sembari menaikkan satu alisnya. "Bukannya kamu sudah kenal saya sejak lama, hm? Di mana pun saya pergi, saya memang pasti selalu jadi pusat perhatian," jawabnya dengan nada sombong yang khas.

​Aku langsung mengerucutkan bibir, malas menanggapi tingkat kepedeannya yang setinggi langit itu.

​Begitu kami resmi menapakkan kaki di area dalam pasar malam, suara bising dari wahana permainan dan musik langsung menyapa rungu. Saking ramainya lautan manusia di sana, aku sampai mengeratkan pegangan tanganku pada lengan Jalal karena takut terpisah.

​"Sayang, Mama, Bapak, sama Bang Jayan ada di sebelah mana, ya?" tanya Jalal sembari menengok ke sana kemari mencari keberadaan mertuanya.

​"Tidak tahu, Pak. Eh Pak, kita naik itu yuk...!" ajakku tiba-tiba sembari menunjuk ke arah wahana bianglala besar yang sedang berputar pelan, mengangkut beberapa orang di atas stannya.

​Jalal menatap wahana tinggi itu, lalu beralih menatapku ragu. "Memangnya kamu tidak takut ketinggian?"

​Aku menggelengkan kepala cepat, lalu langsung menyeret lengannya mendekati loket. "Kak, tolong dua karcisnya, ya," ucapku ramah pada sang penjaga loket.

​Pria kurus bertopi itu mengulurkan dua lembar karcis kertas ke arahku. "Berapa, Kak?" tanyaku.

​"Dua puluh ribu," jawab si penjaga loket.

​Aku lantas menoleh ke arah Jalal sembari memainkan alis mataku,. Aku mengernyit gemas. Seolah mengerti Arti tatapanku, Jalal tersenyum tipis, lalu perlahan membuka dompet kulitnya yang tebal.

​"Sayang... Saya tidak punya uang dua puluh ribu. Tapi kalau lembaran lima puluh ribu, Mas mau menerima?" tanya Jalal tanpa beban kepada si penjaga loket.

​Aku sampai melongo seketika mendengar ucapannya. "Sayang, apa-apaan sih! Kan cuma dua puluh ribu, masa uang kecil begitu saja tidak punya?" ucapku gemas, hingga tanpa sadar aku ikut memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.

​Mendengar panggilanku, mata Jalal seketika berbinar cerah. Dia terkekeh rendah, tampak sangat puas. "Oke, begini saja... Kembaliannya ambil saja ya, Mas. Istri saya sudah pengen sekali naik wahana ini," kata Jalal santai, langsung menyodorkan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Mas-mas penjual karcis yang seketika tersenyum lebar.

​Setelah sepakat, kami langsung menaiki salah satu bilik bianglala. Perlahan-lahan wahana itu berputar membawa kami ke atas. Aku memejamkan mata sesaat, menikmati embusan angin malam dan indahnya gemerlap lampu warna-warni dari ketinggian.

​"Hah... andai saja aku punya rumah dua lantai, pasti tiap malam aku akan duduk di balkon luar sambil minum Chocolatos panas... Eumm, enak sekali pasti," gumamku pelan membayangkan khayalan sederhanaku.

​Cukup lama kami berputar di atas bianglala sampai akhirnya waktu giliran kami habis. Begitu turun, aku kembali mengajak Jalal berkeliling. Langkah kami membawa kami ke depan wahana rumah hantu. Tepat di barisan antrean, mataku menangkap dua sosok yang sangat familier; adik kembarku dan pacar mereka masing-masing sedang mengantre membeli tiket masuk.

​"Andra! Andri!" panggilku dengan suara cukup keras.

​Aku menggandeng lengan Jalal lalu berjalan cepat mendekati mereka. Dua adik kembarku itu menoleh serentak.

​"Kakak? Mau masuk ke rumah hantu juga?" tanya mereka kompak.

​Aku menganggukkan kepala mantap, lalu mendongak menatap Jalal. "Iya, Sayang!" sahut Jalal tiba-tiba menyetujui, membuat senyum di wajahku langsung bersinar cerah.

​Kami akhirnya membeli tiket bersamaan lalu melangkah masuk perlahan ke dalam ruangan yang gelap gulita. Di dalam, suasana terasa sangat mencekam. Baru beberapa langkah berjalan, kami dikejutkan oleh kemunculan sosok buatan berbaju hitam yang berdiri diam di sudut ruangan.

​"Bapak... Takut tidak?" bisikku pelan, merapat ke tubuhnya.

​"Tidak, Yas. Tapi saya penasaran... katanya rumah hantu di pasar malam itu seram," balasnya berbisik santai.

​Berbanding terbalik dengannya, aku justru semakin mengeratkan rangkulanku pada lengannya karena bulu kudukku sudah meremang semua. Suara-suara musik mistis mulai terdengar. "Pak, kita balik saja yuk... Aku takut..." ucapku lirih dengan suara bergetar.

​Jalal melirik wajahku yang ternyata sudah pucat pasi di dalam kegelapan. Dia mengangguk maklum. "Baiklah, ayo kita keluar sekarang."

​"Dek, Kakak mau keluar duluan, ya!" pamitku setengah berteriak pada si kembar.

​Mereka dan pacar mereka menoleh dengan raut wajah kaget. "Loh, kenapa, Kak?"

​Aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Hanya sebuah cengiran lebar menahan malu yang kutunjukkan sebelum buru-buru menarik Jalal keluar dari pintu darurat. Begitu sampai di luar, pintu keluar kami langsung disusul oleh tatapan bertanya-tanya dari orang-orang sekitar. Namun, aku sudah tidak peduli lagi saking leganya bisa keluar dari sana.

​Aku kemudian mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, mencari di mana kiranya keberadaan Mama, Bapak, dan anakku.

​"Mama! Bapak!"

​Tiba-tiba suara cempreng seorang anak kecil yang sangat kuhapal luar kepala memanggil dari kejauhan. Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. Itu Jayan! Dia ternyata sedang asyik menaiki wahana mobil-mobilan berputar, ditemani oleh Mama dan Bapak yang menjaga di pinggir pagar pembatas.

​Aku dan Jalal lantas berjalan cepat mendekati mereka. "Abang...! Dari tadi dicari-cari, loh," ucapku lembut begitu sampai di sampingnya.

​Bapak dan Mama langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan kami berdua. "Eh Yas, kamu sudah datang? Sinimi kita pergi beli baju di stan sebelah sana," ucap Mamaku penuh semangat sambil menunjuk deretan baju serba 35 ribu.

​Aku mengangguk antusias, lalu menoleh ke arah Jalal untuk meminta izin. Pria itu menganggukkan kepalanya dengan senyuman hangat. Namun, saat aku baru saja hendak berbalik mengikuti langkah Mama, Jalal tiba-tiba memanggilku kembali.

​"Bawa dompet saya, Yas... Barangkali nanti uangnya kurang," ucapnya sembari menyerahkan dompet kulit tebalnya ke tanganku, lalu menunduk untuk mengecup jidatku dengan singkat namun mesra.

​"Pak, uang yang tadi Bapak kasih ke Mama itu sudah lebih dari cukup, loh," ucapku pelan, merasa tidak enak jika harus memegang dompetnya juga.

​"Syuttt... itu uang tambahan untuk kamu belanja," potongnya cepat dengan suara rendah yang tegas.

​"Tapi saya takut nanti dompetnya hilang, Pak..." jawabku ragu.

​"Kalau hilang juga tidak apa-apa, Yas. Kartu-kartu penting saya semuanya aman ada di rumah," ucapnya menenangkan dengan nada santai.

​Aku akhirnya mengangguk mengiyakan, menerima dompet tebal itu lalu memasukkannya ke dalam tas selempangku. Aku pun berbalik berjalan menyusul Mama, meninggalkan Jalal yang masih berdiri mematung di tempatnya sembari memandangi punggungku dengan tatapan penuh cinta.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!