HAI... Readers nya LeoRa_
Author cuma mau kasih tau kalo novel yang ini bakal di buat ulang dan tentunya perlu waktu.
Semoga, perbaikan kali ini menarik perhatian kalian... aku tunggu dukungannya...
Mengetahui fakta bahwa ia lahir di luar nikah akibat perbuatan jahat ayah biologisnya yang dengan tega menghancurkan masa depan wanita yang dicintainya -ibu- membuatnya bertekat untuk membalaskan rasa sakit ibunya tersebut dengan caranya sendiri.
Terlebih ketika dia tahu bahwa skenario yang Tuhan ciptakan begitu menarik, membuatnya bersedia mengambil peran yang sudah di siapkan untuknya.
Peran yang mengizinkannya untuk memegang kendali penuh atas hidupnya.
Seperti ketika keluarga ayah biologisnya memaksa untuk menggantikan nama keluarga di belakang namanya. Dengan lantang dan tegas ia menekankan.
"I AM SHIENOLL DALLETRA!!!"
😊ini karya pertamaku, semoga kalian suka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeoRa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IASD-19
Ada banyak paper bag di letakkan dihadapan Shienoll, membuat bocah tampan itu membelalakkan matanya tak percaya melihat tumpukan hadiah yang cukup murah hati untuk diberikan padanya.
Menatap Naomi dan Efendy bergantian. "Ini semua untuk Noll?" tanya Shienoll agak ragu walau sebenarnya sudah jelas milik siapa kado-kado itu diberikan.
Pasangan tua itu tersenyum mendengarnya dan Naomi membenarkan. "Iya, ini semua untuk Noll. Cucu nenek suka dengan hadiahnya 'kan?"
Shienoll mengangguk polos. "Iya, Noll suka. Terimakasih, kakek-nenek!" ucapnya yang semakin membuat pasangan tua itu menyukai kepribadian Shienoll yang terlihat jelas bila selalu di didik dengan baik.
Shienoll mulai bergerak untuk melihat apa isinya. "Aku buka, ya..."
"Tentu buka saja. Semuanya sudah jadi milik cucu kakek yang tampan ini. Jangan sungkan." kali ini Efendy yang berkata. Dia senang bisa menjadi kakek walau bukan kakek kandung. Maklum, berharap pada dua anak laki-lakinya benar-benar tak bisa dipercaya.
Jadi, biarkan saja.
Tangan mungil Shienoll dengan pasti membuka kado pertamanya. Setelah beberapa saat, mulai tampak isinya. Ternyata kado pertama adalah sekotak mainan lengkap Lego. Mata Shienoll membesar berbinar melihatnya.
Lego mungkin terlihat seperti mainan bongkar pasang pada umumnya, tapi sebenarnya Lego jauh lebih efektif untuk mengasah kreativitas anak saat memainkannya.
Dan ini, Shienoll menyukainya sampai bibirnya menarik senyum bahagia.
Melihat itu, pasangan tua yang sejak dari mengawasi dari samping turut tersenyum. Senang kalau hadiahnya sesuai. Ini membuat mereka ingat akan pemberitahuan dari putri mereka -Namika- yang mengatakan kalau anak Sherina tidak suka mainan yang tidak berguna.
Meski awalnya agak tidak percaya, pasangan itu memilih mengikuti instruksi putri mereka. Siapa yang menyangka kalau mereka membuat keputusan yang benar dengan menurut. Terbukti dari bagaimana bahagianya Shienoll menerima hadiah tersebut.
Dengan begini mereka yakin kalau sisa kado yang lain pasti tak akan ditolak.
Lanjut, Shienoll bergerak untuk membuka kado keduanya. Begitu dibuka, ternyata isinya adalah buku-buku lama koleksi Sherina. Terlihat agak usang, membuat Shienoll bertanya-tanya mengapa buku usang diberikan padanya?
Bukan meremehkan buku-buku lama, hanya saja sebagai hadiah. Buku lama tidak bisa menjadi barang antik sehingga tidak pantas digunakan sebagai hadiah.
Jadi, Shienoll bertanya. "Kakek-nenek, ini buku lama 'kan? Kenapa diberikan pada, Noll?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Naomi terhenyak dan bergegas mendekat untuk melihat bungkusan kedua yang tengah dibuka cucu tampannya.
"Oh, ini. Nenek berpikir kau pasti akan menyukainya. Soalnya, semua buku lama ini milik ibumu. Dia suka mengoleksi berbagai jenis buku bacaan. Saat dia memutuskan untuk pergi, dia tak membawa satupun dari mereka. Jadi, nenek berinisiatif membawanya ke sini. Terlebih mendengar dari Bibi mu, kalau Noll suka membaca seperti ibumu sewaktu muda dulu. Siapa tahu, ini berguna untuk mu." jelas Naomi penuh pengertian dan lembut.
Efendy dibiarkan menonton dari samping.
Mendengar penuturan tersebut, antusiasme Shienoll tersulut. Baginya, segala sesuatu yang berhubungan dengan ibunya sudah seperti obsesi. Dia tak bisa menahan diri untuk masuk lebih jauh kedalam hal-hal yang berkaitan dengan ibunya. Alhasil, mendengar buku-buku lama itu adalah koleksi ibunya, Shienoll tak ragu lagi untuk menerimanya dengan suka cita.
Menyaksikan antusiasme Cucu tampannya, Efendy dan Naomi tak bisa menahan haru. Jarang bisa melihat ada anak yang begitu mencintai ibunya hingga segala hal tentang ibunya menjadi prioritas utamanya.
"Lihat dia... Dia sangat manis. Nana beruntung memilikinya." tutur Naomi lirih yang hanya didengar oleh suaminya, tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Benaknya tak sengaja memutar kilas masa lalu saat Sherina terpuruk.
Efendy mengangguk membenarkan, seraya mengusap pundak istrinya sambil merangkulnya. "Ya, dan suatu hari nanti. Dia pasti akan menjadi orang hebat yang mampu mengangkat derajat ibunya. Sherina tidak gagal." timpalnya.
Naomi dalam diam setuju, kemudian keduanya lanjut menyaksikan lagi cucu mereka membuka beberapa paper bag yang tersisa dengan hati riang.
Usai membeli beberapa barang, Namika menyeret Sherina untuk bernostalgia bersamanya.
Awalnya, Sherina tak mau karena merasa tak nyaman lagi bersikap begitu apalagi dia kini sudah memiliki anak. Tapi, Namika tidak menyerah. Kapan lagi bisa mengulang masa muda hanya dengan nongkrong di cafe. Karena sejujurnya, Namika justru ingin membawa Sherina ke tempat-tempat yang dulu sering mereka datangi di kota pusat. Jadi, berhubung dia pesimis bisa membawa Sherina pulang ke kota asal mereka, lebih baik disini dan tak memaksakan Single Mama ini agar tidak terlalu tidak nyaman.
"Pulang saja, Mika... Malu, ih!" beberapa kali ia ingin menarik lepas lengannya yang di genggam erat.
"Tidak. Jarang-jarang kita bisa begini. Sudah menurut saja." Namika acuh dan tak peduli akan penolakan sahabatnya.
"Tapi, Shienoll pasti menunggu ku dirumah." Sherina masih mencoba mencari-cari alasan.
Namika mendengus mendengarnya. "Jangan coba-coba, Nana. Lagipula, ada Papi dan Mami. Belum lagi ada dua kakak ku dan kenalan mu. Apa yang ditakutkan? Keponakan tampanku itu pasti tak akan keberatan. Sudah sekali ini saja... Hmm..." diakhir Namika menggunakan jurusnya yang paling ampuh bila meminta sesuatu pada Sherina.
Lihat. Sherina langsung tak berdaya melihatnya bertingkah memelas begitu.
"CK. Baik-baik, aku akan temani kau kesana. Tapi, jangan minta aku melakukan apapun lagi setelah ini dan kita langsung pulang. Oke?!" tekan Sherina yang segera di angguki cepat.
Tapi, dalam hati dia berseru penuh kelicikan dan ketulusan. "Yayaya... Aku akan menurutimu sekali ini saja. Di lain waktu aku akan membuatmu kembali menikmati masa muda mu yang sempat hilang. Aku akan membantumu menebusnya."
Kini keduanya pun melangkah masuk kesebuah cafe yang tak jauh dari tempat mereka belanja. Setelah sebelumnya meletakkan belanjaan terlebih dahulu kedalam mobil, keduanya baru masuk ke cafe untuk menikmati kembali waktu yang pernah terlewat.
Namika senang dengan kesempatan ini, sementara Sherina kikuk. Sudah lama sekali dia tidak menikmati waktu santai seperti ini sejak hidupnya berubah total karena insiden lalu.
Baru saja akan duduk, ponsel Namika berbunyi. Sambil melihat siapa yang berani mengganggu waktu kencannya bersama Sherina.
Dapat dilihat yang tertulis di layar adalah Mami.
Tak ingin membuat wanita yang melahirkannya itu mengamuk, segera Namika mengangkatnya sambil menggunakan isyarat mata agar Sherina memesan menu untuk mereka.
"Hal..." belum usai sapaannya diucapkan, Naomi sudah memekik marah dari ujung telpon sana.
"Hei, anak nakal. Dimana kau? Kenapa belum pulang juga? Kau kemanakan putriku?"
"Astaga, Mami... Aku merasa di anaktirikan." dengusnya mendengar kalimat yang dulu sering ibunya gunakan kalau dia menghabiskan waktu bersama Sherina hingga tak kenal waktu.
Ibunya itu akan mengamuk dan mengatakan kalau dia mempengaruhi putrinya agar menjadi senakal dia. Huh, tiap kali mengingatnya Namika tak pernah tidak menggeram gemas lihat kelakuan wanita paruh baya itu.
"Siapa yang peduli! Mana anak Mami?" nada Naomi diseberang masih berapi-api.
"Ini anak Mami." tahu kalau yang dimaksud bukan dia, tapi sifat jailnya keluar.
"Bukan kau, anak nakal. Putri manis Mami yang pintar dan membanggakan..." tutur Mami dari ujung sana dengan nada manis yang di lebih-lebihkan sampai Namika membuat gerakan muntah. Kelakuannya dilirik oleh Sherina yang tak bisa mendengar lawan bicara sahabatnya itu, tapi dia tahu siapa itu.
Kembali, Sherina lanjut memilih menu sambil mengingat-ingat kenangan lama saat Namika sering membawanya menikmati suasana seperti ini. Tak ayal hal itu membuat ia menarik senyum tipis penuh kerinduan.
"Kalau begitu, maaf Nyonya Jou. Putri anda sedang berkencan dengan saya. Bila tak ada hal lain lagi. Saya tutup telponnya lebih dulu. Bye!" tuut... tanpa menunggu suara sang ibu menyahut, Namika dengan lancangnya langsung mematikan sambungan telepon.
Sherina yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak berdaya, pasalnya ini bukan hal baru lagi untuknya. Sebab dulu, gadis didepannya ini memang sudah begitu diri.
"Kau akan dihukum oleh Mami nanti." kata Sherina mengingatkan sahabatnya yang dibalas mengedikkan bahunya tak peduli.
"Sudah biasa. Paling parah uang jajanku dipotong." jedanya sambil menyandarkan punggungnya santai. "Kalau dulu mungkin aku akan merajuk setelah uang jajanku dipotong. Tapi, sekarang aku tidak takut lagi. Aku punya pekerjaan dan aku punya pacar untuk ku mintai uang." katanya percaya diri, Sherina sampai terkekeh mendengarnya.
Sherina tidak terkejut lagi saat mendengar kata 'pacar' dari mulut Namika, sebab sahabatnya itu sudah menceritakannya waktu itu setelah pertemuan mereka. Walau ketika mendengarnya dia agak dikagetkan lantaran yang disebut pacar oleh sahabatnya adalah sahabat dari pria itu. Tapi, hanya begitu saja.
Sherina sudah tidak lagi memikirkannya.
"Malang sekali pacarmu punya kekasih yang berani meminta uang padanya." ledek Sherina penuh godaan.
Ekspresi wajah Namika memberengut tak peduli dan berkata pasti. "Dia mencintaiku sepenuh hati. Jadi, dia tak akan merasa malang memiliki ku. Bahkan mungkin dia akan memberikan semua hartanya padaku. Hahaha..." kebanggaan terlihat jelas diwajah Namika.
Sherina tersenyum turut bahagia untuk sahabatnya.
"Syukurlah kalau begitu. Bilang padanya, kalau dia berani menyakiti mu, dia akan berurusan dengan ku." perkataan Sherina agaknya mengejutkan Namika.
Sherina tak tahu kalau sahabatnya masih agak khawatir mengenai dia bila dihubungkan dengan masa lalu kelamnya.
"Nana... Kau tidak masalah?" tanya Namika membuat bingung Sherina.
"Maksudmu? Kau tidak senang aku membelamu?"
"Bukan. Bukan begitu. Hanya saja, kau 'kan sudah tahu siapa pacar ku. Kau tidak merasa canggung atau risih akan hal itu?" baru kemudian Sherina tahu apa yang membebani hati sahabatnya.
Dengan senyum menenangkan Sherina berujar setelah menggelengkan kepalanya. "Masa lalu sudah ku tempatkan pada tempatnya. Memang benar, tidak sepenuhnya bisa membuat ku lupa apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya dan mungkin bisa jadi, siapa yang tahu, Tuhan mempertemukan ku kembali pada masa lalu. Kalau aku tidak belajar mengikhlaskan, aku pasti tidak akan siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa depan." tutur Sherina apa adanya dari hati.
Namika terdiam sesaat usai mendengarnya. Jujur saja, dari lubuk hatinya dia salut dan kagum pada bagaimana Sherina menjalani kehidupan ini. Memang, mengikhlaskan kepahitan adalah sulit. Namun, tidak mengikhlaskannya juga tak kalah sulit. Meskipun begitu, pilihan pertama tetap jauh lebih baik. Karena dengan begitu, masa depan akan lebih mudah untuk dihadapi. Sebab seseorang tidak terbelenggu oleh masa lalu.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Sherina Dalletra. Aku beruntung menjadi teman mu." tulus Namika penuh senyum yang dibalas serupa oleh Sherina.
Dengan semangat yang kembali, Namika lanjut berujar. "Baik. Berhenti menjadi mellow. Kita disini untuk mengenang masa muda kita yang energik. Tidak pantas merusaknya dengan hal-hal buruk seperti itu. Mari, kita nikmati momen berdua kita. Ini sudah lama tidak terjadi." Sherina tertawa renyah menyaksikan antusiasme sahabatnya.
"Tentu, mari pesan. Coba kita lihat menunya."
"Tunggu, biar ku panggil pelayan cafe ini dulu." lalu menoleh dan mengangkat tangannya sebagai isyarat memanggil pelayan yang bertugas. "Pelayan, kami mau memesan."
Sesaat kemudian, yang dipanggil pun datang. "Mau pesan apa, Nona-nona?"
"Kami pesan ..." Namika menyebutkan apa saja yang dia dan Sherina inginkan. Setelahnya, pelayan undur diri guna menyiapkan pesanan mereka.
Keduanya pun menunggu pesanan sambil bersenda gurau, kegiatan seru mereka persis sama seperti keseruan mereka di masa lalu.
Alhamdulillah bisa up lagi.
mohon dukungannya semua...🙏🙏🙏😘😘😘
semangat thor buat up nya 💪💪