NovelToon NovelToon
THE ORIGIN : ZERO

THE ORIGIN : ZERO

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: R14

Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.

​Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.

UNTUK: 13+

"MOHON DILAKUKAN"

-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya


~•KARYA: R14•~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : UMPAN DARAH

THE ORIGIN : ZERO

​ARC 1 : THE PARASITE PROJECT

​BAB 18 : UMPAN DARAH

Di dalam sebuah ruangan istirahat eksklusif di fasilitas Laboratorium Sektor 4, suasana terasa begitu santai, berbanding terbalik dengan ketegangan darurat militer di luar sana.

​Sang Ketua Asosiasi duduk menyandarkan tubuhnya di sofa kulit yang mahal, menikmati secangkir kopi hitam panas. Di seberangnya, Arlandi Varga Guardian Kelas Alpha Peringkat Dua, tampak bersandar dengan raut wajah bosan luar biasa.

Pria berjuluk Sang Penakluk Ruang itu sedang memainkan sebuah koin perak yang terus melayang, berputar, dan berhenti di udara hanya dengan manipulasi gravitasi dari ujung jarinya.

​Tidak ada kepanikan atau persiapan terburu-buru. Keduanya tahu betul bahwa di bawah lantai tempat mereka berpijak, ribuan pasukan elit Asosiasi sudah bersiaga penuh di dalam Penjara Tartarus.

​Pintu geser otomatis di ruangan itu berdesis terbuka. Seorang agen berpangkat tinggi dari Divisi Intelejen melangkah masuk dan langsung memberi hormat dengan kaku.

"Lapor, Ketua. Tuan Arlandi," lapor agen tersebut dengan suara tegas.

"Aktivitas di sekitar perimeter gedung lab ini meningkat drastis. Sensor kami menangkap pergerakan lusinan mata-mata yang terus memperhatikan titik buta dari penghalang luar fasilitas kita. Identifikasi pola pergerakan memastikan bahwa mereka adalah intelijen dari Black Cross."

​Mendengar laporan itu, koin perak yang melayang di atas jari Arlandi berhenti berputar. Ia melirik agen itu dari sudut matanya, mendengus pelan, lalu membiarkan koin itu jatuh ke telapak tangannya.

​"Tikus-tikus itu akhirnya mulai mengendus keberadaan wakilnya." desis sang Ketua, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Sebuah senyum tipis yang mematikan terukir di wajahnya.

"Mereka pasti sudah mulai curiga bahwa Wakil mereka tidak pernah dipindahkan dari lokasi penyerangan awal."

​"Sepertinya begitu, Ketua," jawab sang agen.

"Namun, mereka masih bersembunyi di bayang-bayang. Mereka terus memverifikasi struktur pertahanan dan memastikan letak fasilitas ini sebelum benar-benar melancarkan serangan."

​"Kalau begitu, mari kita beri mereka sedikit dorongan" sela Arlandi dengan nada malas, meregangkan lehernya hingga berbunyi gemeretak.

"Aku bisa keluar ke sana dan meremukkan paru-paru mereka semua dalam radius satu kilometer sekarang juga."

​"Tahan dirimu, Arlandi. Membunuh lalat-lalat kecil itu tidak akan menyelesaikan masalah," sang Ketua mengangkat satu tangannya, matanya menyala oleh kalkulasi yang licik. Ia menatap agen di depannya.

​"Kirimkan Unit Pembunuh kita. Bantai semua mata-mata itu malam ini juga." ​Agen itu mengangguk.

"Dimengerti, Ketua. Kami akan menyapu bersih"

​"Tunggu, aku belum selesai," potong sang Ketua.

Senyum di wajahnya semakin melebar, memperlihatkan taring keangkuhan Asosiasi.

"Sisakan satu orang."

​Agen itu mengangkat wajahnya, menatap atasannya dengan sedikit kebingungan.

​"Biarkan satu tikus itu hidup," lanjut sang Ketua, tawanya terdengar dingin dan penuh tipu daya.

"Biarkan dia melihat pembantaian teman-temannya dengan matanya sendiri, lalu berikan dia celah kecil untuk melarikan diri, seolah-olah pasukan kita melakukan kelalaian. Pastikan dia pulang membawa informasi yang tepat."

​Arlandi kembali melemparkan koin peraknya ke udara, tersenyum miring memahami rencana atasannya.

"Kau ingin membuat mereka marah."

​"Ketua Black Cross itu mungkin akan curiga, tapi rasa amarah dan obsesinya yang buta untuk menjemput Elara akan mengalahkan akal sehatnya," ucap sang Ketua, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap.

"Memancing mereka keluar untuk bertempur di satu titik adalah satu-satunya kesempatan emas kita untuk memusnahkan mereka hingga ke akar."

​Sang Ketua mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​"Biarkan dia datang dengan segala kekuatan yang dia miliki. Kita sudah menyiapkan Tartarus bukan hanya sebagai sel tahanan, tapi sebagai kuburan massal untuk seluruh pasukan Black Cross. Malam ini, kita yang akan mengakhiri sejarah mereka."

Di saat sang Ketua Asosiasi dan Arlandi Varga sedang bersulang di atas keangkuhan mereka, kenyataan yang jauh lebih berdarah sedang terjadi di gang-gang sempit yang mengelilingi perimeter luar Sektor 4.

​Angin malam Jakarta yang kering berhembus melewati aspal, membawa bau anyir darah yang menguar tajam dari balik bayang-bayang gedung.

Salah satu wakil komandan regu intelijen Black Cross, berlari terhuyung-huyung sambil memegangi perutnya yang robek. Napasnya tersengal parah, beradu dengan udara malam yang sumpek dan berdebu.

Di belakangnya, sekitar sembilan belas anggota intelijen lainnya ikut berlari menembus kegelapan dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan. Ada yang kehilangan sebelah lengan, ada yang memapah rekannya yang setengah sadar, dan semuanya memiliki raut wajah yang dipenuhi keputusasaan.

​Mereka berhasil lolos, namun tak satu pun dari dua puluh orang itu merasa seperti pemenang. Bagi mereka, malam ini adalah sebuah kegagalan yang amat memalukan.

​Beberapa jam yang lalu, misi mereka berjalan sangat lancar. Mengikuti koordinat yang diberikan oleh sang Ketua, regu mereka berhasil menyusup ke titik buta penghalang sihir fasilitas laboratorium tersebut.

Di sanalah mereka menemukan apa yang mereka cari, jejak Mana milik Elara yang samar, terkubur jauh di bawah fondasi beton gedung medis itu.

​Namun, tepat ketika mereka hendak mengirimkan sinyal konfirmasi ke markas utama, bayangan di sekeliling mereka hidup.

Unit Pembunuh Bayangan Asosiasi menyergap mereka dari segala arah. Itu bukan sekadar pertarungan, melainkan sebuah pembantaian yang dirancang secara sistematis.

Asosiasi tampaknya sengaja mempermainkan mereka, berniat membantai seluruh regu dan hanya menyisakan satu atau dua orang untuk kembali sebagai pembawa pesan yang ketakutan.

​Namun, Asosiasi Guardian meremehkan seberapa fanatik loyalitas anggota Black Cross.

​Melihat pasukannya dibantai untuk sebuah rencana propaganda murahan, Komandan Regu Intelijen mengambil keputusan fatal.

Pria tua yang sudah mengabdi pada organisasi sejak era awal itu meledakkan seluruh sirkuit Mana di jantungnya, mengorbankan nyawanya sendiri untuk menciptakan penghalang sihir yang memblokir serangan tersebut.

​"Pergi! Laporkan pada Ketua bahwa informasi itu benar! Tinggalkan aku!"

​Teriakan terakhir sang Komandan sebelum tubuhnya tertusuk belasan pedang bayangan masih terngiang jelas di telinga wakil Komandan.

Pengorbanan itulah yang membuat dua puluh dari mereka berhasil menembus barikade dan selamat dari skenario pembantaian Asosiasi.

​wakil Komandan dan pasukannya akhirnya tiba di sebuah gudang terbengkalai di Sektor 3, titik kumpul darurat yang telah ditetapkan.

Begitu pintu besi gudang itu terbuka, Sang wakil Komandan langsung jatuh berlutut. Di dalam gudang yang temaram tersebut, sang Ketua Black Cross sudah berdiri menanti bersama ratusan pasukan elit yang bersenjata lengkap.

Aura membunuh yang menguar dari pasukan utama itu begitu pekat hingga membuat udara di dalam gudang terasa membekukan paru-paru.

​"Lapor... Ketua..." Wakil Komandan merintih, darah menetes dari bibirnya dan menggenang di lantai beton yang berdebu. Kesembilan belas rekannya yang selamat ikut berlutut di belakangnya, menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

​Sang Ketua melangkah maju. Topeng besinya menyembunyikan ekspresinya, namun sepasang matanya menatap tajam ke arah sisa-sisa regu intelijennya.

​"Di mana Komandanmu?" tanya sang Ketua, suaranya pelan, namun beratnya seolah mampu meremukkan tulang.

​Wakil Komandan menggertakkan giginya, menahan air mata frustrasi dan rasa bersalah yang mengoyak dadanya.

"Komandan... beliau mengorbankan dirinya. Asosiasi menyergap kami dengan Unit Pembunuh. Mereka berniat membantai kami semua sebagai pesan provokasi, tapi Komandan meledakkan inti Mana-nya agar kami bisa lolos."

Wakil Komandan menempelkan dahinya ke lantai yang kotor, suaranya bergetar hebat.

​"Maafkan kami, Ketua. Kami masih hidup, namun ini adalah kekalahan telak. Kami gagal melindungi Komandan... tapi kami berhasil membawa konfirmasinya." Wakil Komandan menarik napas panjang, menatap lurus ke arah pemimpin mutlaknya.

"Jejak Mana Wakil Ketua Elara benar-benar ada di sana. Koordinat rahasia itu bukan jebakan. Seperti prediksi ketua bahwa itu Penjara Tartarus!"

​Hening sejenak di dalam gudang raksasa tersebut. Hanya terdengar suara napas terengah-engah dari para penyintas intelijen.

​Namun kemudian, suhu di dalam gudang itu anjlok drastis. Batu pijakan di bawah kaki sang Ketua retak dan hancur menjadi debu. Amarah sang Pemimpin Tertinggi Black Cross kini telah melewati batas puncaknya. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Namun niat membunuh yang ia pancarkan membuat seluruh pasukan tanpa sadar menggenggam senjata mereka lebih erat.

​Asosiasi Guardian benar-benar sengaja mempermainkan nyawa bawahannya. Mereka mengira sedang mengarahkan sebuah pertunjukan drama di mana Black Cross hanyalah figuran yang bisa disembelih sesuka hati.

​"Kalian tidak gagal. Beristirahatlah, dan biarkan darah Komandan kalian menjadi sumpah untuk malam ini," ucap sang Ketua dengan nada dingin dan menyedihkan.

​Ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah ratusan pasukan elit yang kini menatapnya dengan mata menyala-nyala. Pasukan yang siap mati hanya dengan satu jentikan jarinya.

​"Asosiasi menginginkan sebuah perangkap," titah sang Ketua, suaranya menggema, menyalakan kobaran api peperangan di dada setiap pasukannya.

"Maka malam ini, kita akan masuk ke dalam perangkap itu, dan menghancurkan rahang mereka dari dalam. Bergerak ke Sektor 4. Ratakan tempat itu tanpa sisa!"

​"Tunggu, Ketua."

​Sebuah suara yang tergolong masih sangat muda memecah gemuruh sorak sorai mematikan di dalam gudang itu.

​Dari barisan belakang ratusan pasukan elit yang bertubuh besar dan berwajah garang, sesosok tubuh kurus melangkah maju. Ia adalah seorang remaja belasan tahun. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa penderitaan yang malang, namun ada sesuatu yang sangat berbeda pada dirinya sekarang.

​Sepasang matanya tidak lagi memancarkan keputusasaan, melainkan kilatan fanatisme yang gelap dan absolut. Udara di sekitarnya mendistorsi, mengeluarkan percikan Mana hitam pekat yang beresonansi dengan nada yang sangat mengerikan.

​Langkah kaki anak itu terhenti tepat beberapa meter di depan sang Ketua. Ia menundukkan kepalanya dengan hormat.

​"Biarkan saya yang membuka jalan malam ini, Ketua," ucap anak itu dengan nada yang sangat tenang, namun memancarkan tekad yang bisa menghancurkan gunung.

"Asosiasi mungkin memiliki pelindung sihir yang tebal di gerbang depan mereka. Biarkan saya yang menghancurkannya untuk Anda."

Sang Ketua terdiam di balik topengnya. Matanya memindai sosok anak tersebut, mencoba mengingat wajah di balik tudung itu. Sesuatu terlintas di benak sang Ketua.

​"Kau..." sang Ketua memicingkan matanya.

"Bukankah kau anak yang diselamatkan dan dibawa oleh Elara beberapa minggu yang lalu?"

​Anak itu perlahan mengangkat wajahnya. Menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rasa sakit namun kini terisi oleh kekuatan absolut.

​"Benar, Ketua," jawab anak itu dengan mantap.

"Wakil Ketua telah menyelamatkan nyawa saya dari kematian. Beliau memberi saya tempat, hingga akhirnya saya bisa mengendalikan anugerah kekuatan dari Tuan"

​Anak itu mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Aura hitam di sekelilingnya meledak sesaat, meretakkan lantai beton di bawah pijakannya.

​"Oleh karena itu... sebagai balasan atas kebaikan Wakil Ketua, dan sebagai janji saya kepada Sang Tuan" mata anak itu menyala terang.

"biarkan saya yang membuka jalan untuk Anda malam ini. Saya akan meratakan gerbang Sektor 4 dan membebaskan Nona Elara!"

​Sang Ketua terdiam mendengar sumpah setia yang begitu pekat dari anak tersebut. Ia sadar, motivasi anak ini sudah melampaui batas hidup dan mati.

Ditambah lagi, kekuatan di dalam diri anak ini adalah energi yang sama persis dengan yang dimilikinya. Kekuatan yang diberikan oleh Tuan mereka.

​Ketua Black Cross sadar betul, ini adalah momen di mana pengabdian bertemu dengan takdir.

​Sang Ketua perlahan mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada seluruh pasukan elit di ruangan itu untuk membuka jalan bagi sang remaja malang.

​"Pergilah ke garis depan," titah mutlak sang

Ketua, matanya menyala penuh antisipasi.

"Buktikan pada dunia seberapa mengerikan kekuatan yang telah ditanamkan oleh Tuan kita di dalam dirimu. Ratakan pelindung Asosiasi, dan kita akan membawa Elara pulang!"

​"Sesuai perintah Anda."

BAB 18 SELESAI

~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~

~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~

~•KARYA : R14•

1
Aegis
Btw per bab rata-rata berapa kata bang?
Aegis
ya kerna si anak sering disiksa emaknya makanya tatapannya kosong, kerna mentalnya udah rusak🥴
Aegis
langsung teleport ae, terus ringkus
Aegis
ini juga kurang spasi
Aegis
harusnya pake jari aja🥴
Aegis
kurang spasi, dan kelebihan spasi
Aegis
ya, itukan mau lo sendiri
Aegis
dan itu kata penghubung, jadi ditempatinya habis koma, cmiw
Aegis
jangan-jangan sifat ibunya udah diutak atik rey biar sesuai selera🥴
R14: Hmmmm, bisa jadi 🤔
total 1 replies
Aegis
di rumah
Aegis
mau sendiri, orang-orang malah pada nempel🥴
Aegis
Yo Aibo ...🤣🤣
Aegis
beliau berniat untuk ngenolep🥴
Aegis
prolognya kepanjangan bang, harusnya cukup sampe pas rey lahir ae, selebihnya udah masuk episode satu, cmiw
R14: Terimakasih sarannya bro.
total 1 replies
Aegis
harusnya dinolin aja kalo gak mau ribet
Aegis
jadinya kaya saiki, bisa semua kekuatan esper berati
Aegis
enak gajinya doang, kerjanya yang gak enak🥴
Aegis
iya, gwe mau menyembunyikan kekuatan😎
Aegis
ini bapaknya ke aman pas dia lahir🥴
Aegis
404 not found, anonim, kekuatan tersembunyi, rank f, aslinya rank sss🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!