Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Atas Duri
Gema ketukan palu hakim masih terngiang di telinga Tania saat ia melangkah keluar dari gedung pengadilan. Anehnya, ia tidak merasa sedih sama sekali. Beban yang selama tiga tahun ini menghimpit pundaknya seolah menguap begitu saja tertiup angin siang itu. Ia menoleh ke arah Adrian yang berjalan di sampingnya dengan tangan yang sedia menjaga, namun tetap memberikan ruang bagi Tania untuk bernapas.
"Sudah selesai, Tania," ucap Adrian lembut. Suaranya selalu memiliki nada yang menenangkan, seperti pelabuhan setelah badai besar.
Tania tersenyum tipis, senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. "Bukan selesai, Adrian. Ini justru baru dimulai. Aku merasa seperti baru lahir kembali."
Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, Rey masih duduk mematung di kursi rodanya. Ia melihat bagaimana Adrian membukakan pintu mobil untuk Tania—sebuah gestur sederhana yang dulu jarang sekali ia lakukan untuk istrinya sendiri. Ia melihat bagaimana Tania tertawa kecil saat Adrian membisikkan sesuatu. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada prosedur medis mana pun yang pernah ia jalani.
"Tuan, kita harus segera ke bandara. Penerbangan ke Singapura untuk fisioterapi lanjutan dijadwalkan sore ini," asistennya, roni, mengingatkan dengan suara rendah.
Rey tidak menyahut. Matanya masih terpaku pada mobil SUV putih yang kini perlahan bergerak menjauh. "Roni ... apa menurutmu dia akan memaafkan aku?"
Roni terdiam sejenak. Ia sudah lama bekerja untuk Rey dan telah melihat semua drama ini dari baris terdepan. "Memaafkan mungkin saja, Tuan. Tapi untuk kembali ... saya rasa Ibu Tania sudah menemukan dunianya sendiri."
Kalimat itu bagai belati yang menghujam jantung Rey. Dunianya sendiri. Dunia di mana tidak ada tempat lagi untuk seorang pria egois bernama Reynald Pratama.
Satu bulan kemudian.
Tania tidak membuang-buang waktu. Dengan sisa tabungan pribadinya dan dukungan dari koneksi Adrian, ia resmi membuka studio desain interiornya sendiri yang diberi nama “Rembani”. Nama itu diambil dari filosofi matahari yang baru terbit, simbol kebangkitannya.
Hari pembukaan studio itu sangat meriah. Para sosialita yang dulu sempat mencibir Tania karena diselingkuhi, kini berbondong-bondong datang, terpukau dengan rancangan desain interior Tania yang elegan dan berkelas. Tania tidak lagi dikenal sebagai "Istri CEO Reynald", melainkan sebagai "Designer interior Tania Putri".
"Kau terlihat sangat sibuk, Lady Boss," sebuah suara berat yang familiar terdengar di pintu masuk butik.
Tania menoleh dan menemukan Adrian berdiri di sana dengan buket bunga krisan putih besar. Adrian tampak sangat tampan dengan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku.
"Adrian! Kamu menyempatkan datang di tengah rapatmu?" Tania menghampirinya dengan ceria.
"Untukmu, aku selalu punya waktu," jawab Adrian tulus. Ia memberikan bunga itu pada Tania. "Selamat atas pembukaan Rembani. Aku tahu ini akan sukses besar."
Tania menghirup aroma bunga itu. "Terima kasih. Kamu banyak membantuku, Adrian. Kalau bukan karena dorongan mu, mungkin aku masih mengurung diri di kamar."
Adrian menatap mata Tania dalam-dalam. "Aku hanya membukakan pintu, Tania. Kamu sendiri yang memilih untuk berjalan melewatinya dengan kepala tegak."
Di tengah keramaian itu, mereka tidak menyadari bahwa sebuah mobil sedan hitam terparkir di seberang jalan. Di dalamnya, Rey memperhatikan segalanya dari balik kaca jendela yang gelap. Ia sudah bisa berjalan sedikit menggunakan tongkat, tapi dokter melarangnya untuk terlalu banyak bergerak.
Rey melihat Tania yang begitu bercahaya. Ia melihat bagaimana tangan Adrian sesekali menyentuh punggung Tania dengan penuh rasa hormat. Rey merasa seperti hantu yang mengawasi kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya jika saja ia tidak buta oleh nafsu sesaat.
Tiba-tiba, ponsel Rey bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bianca.
“Rey, aku butuh uang. Sewa apartemenku nunggak. Jangan jadi orang pelit setelah kamu menceraikan istrimu itu!”
Rey menatap pesan itu dengan rasa jijik yang luar biasa. Inilah wanita yang dulu ia bela mati-matian. Wanita yang membuatnya kehilangan berlian demi sepotong kaca pecah. Tanpa ragu, Rey memblokir nomor Bianca. Ia tidak ingin lagi ada sangkut paut dengan wanita itu.
Malam harinya, setelah butik tutup, Adrian mengajak Tania makan malam di sebuah restoran rooftop yang tenang. Angin malam Jakarta yang sejuk menerpa wajah mereka.
"Tania, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Adrian setelah mereka selesai menyantap hidangan utama.
Tania meletakkan garpunya, merasakan ada nada serius, tapi hangat dalam suara Adrian. "Ada apa?"
Adrian mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya. Jantung Tania berdesir. Apakah ini terlalu cepat? Akan tetapi, Adrian tidak membukanya untuk melamar. Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk matahari kecil.
"Ini bukan lamaran, jangan tegang dulu," canda Adrian sambil terkekeh melihat ekspresi Tania.
"Ini adalah simbol dukunganku. Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak ingin memilikimu seperti seorang penguasa. Aku ingin berjalan di sampingmu sebagai teman, partner, dan ... jika kamu mengizinkan, sebagai pria yang mencintaimu apa adanya."
Tania terdiam. Matanya berkaca-kaca. Selama ini, hubungannya dengan Rey selalu tentang tuntutan. Rey menuntutnya menjadi istri sempurna, menuntutnya mengerti kesibukannya, menuntutnya menerima pengkhianatannya. Tapi Adrian? Adrian hanya ingin berada di sampingnya.
"Adrian ... aku masih punya banyak luka yang belum sembuh total," bisik Tania jujur.
"Aku tahu. Dan aku punya banyak waktu untuk menunggumu mengobati luka-luka itu. Kita tidak perlu terburu-buru. Kita nikmati saja setiap bab baru dalam hidupmu ini," sahut Adrian lembut.
Tania mengulurkan tangannya, dan Adrian menggenggamnya erat. Di bawah siraman lampu kota, Tania merasa benar-benar dicintai untuk pertama kalinya.
Sementara itu, di kediaman besar keluarga Pratama yang kini terasa seperti kuburan, Rey duduk sendirian di meja makan panjang yang dulu selalu penuh dengan masakan Tania. Ia mencoba menyuap makanan yang dibeli asistennya, tapi rasanya hambar.
Ia teringat malam di mana ia membentak Tania hanya karena sup yang dibuat istrinya itu kurang asin menurut lidahnya yang saat itu sedang emosi karena urusan kantor. Kini, ia merindukan sup itu lebih dari apa pun.
Rey bangkit dengan susah payah menggunakan tongkatnya. Ia berjalan menuju kamar lama mereka. Di meja rias Tania yang sudah kosong, ia menemukan sebuah anting kecil yang tertinggal. Rey menggenggam anting itu dan menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku, Tan ... maafkan aku," isaknya dalam kegelapan.
km hina hrga diri istrimu demi gundik murahanmu..🙄🙄
selamt mnikmati kbodohnmu rey😄😄