Kisah ini mengikuti seorang wanita penjelajah novel yang berpindah dari satu dunia cerita ke dunia lain. mulai dari romansa manis, cinta masa sekolah, hingga dunia CEO yang penuh intrik.
Dalam setiap dunia, ia tidak pernah sendirian. Sebuah sistem hologram setia membimbing, membantu, sekaligus menemaninya menyelesaikan berbagai misi yang telah ditentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
......... 🩶🪽... ......
Suasana di lorong St. Joseph Central Hospital di Singapura terasa mencekam. Bau disinfektan yang tajam seolah menusuk indra penciuman Devan dan Clarissa yang baru saja tiba dengan langkah tergesa. Devano dilarikan ke rumah sakit terbaik ini karena cedera parah pada kaki dan benturan keras di kepalanya.
Pintu ruang penanganan darurat terbuka. Seorang dokter dengan raut wajah serius melangkah keluar. "Dengan keluarga pasien?" tanya sang dokter, sambil melepas masker bedahnya.
"Saya, Dok," sahut Devan cepat. Meski sempat berseteru, wajahnya tak mampu menyembunyikan guratan kekhawatiran yang mendalam.
"Pasien mengalami retak tulang yang cukup serius di bagian kakinya. Selain itu, ada trauma kepala akibat benturan hebat saat mobil terguling. Pasien harus segera menjalani operasi besar untuk menangani pendarahan internalnya."
"Lakukan apa pun yang terbaik. Segera operasi," perintah Devan tegas.
"Baik. Mohon segera selesaikan administrasi agar tindakan bisa langsung dimulai."
Devan mengangguk dan segera melangkah menuju bagian resepsionis untuk mengurus segala keperluan data Devano. Sementara itu, Clarissa berdiri mematung di depan kaca ruangan. Ia menatap nanar ke arah Devano yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.
Rasa bersalah mulai merayapi hatinya. Seandainya aku tidak melarikan diri seberani itu, apakah tragedi ini tidak akan terjadi? batinnya gusar. Ia tak menyangka usahanya mencari kebebasan justru berujung pada pertumpahan darah saudara kembar itu.
Tak lama kemudian, Devan kembali. Ia berdiri berdampingan dengan Clarissa, menatap nanar saat ranjang Devano didorong petugas menuju ruang operasi. Walaupun ia membenci ambisi adiknya, ada ikatan darah yang tak bisa ia sangkal. Mereka lahir dari rahim yang sama, berbagi wajah yang sama, dan kini salah satu dari mereka tengah bertaruh nyawa.
Clarissa yang menyadari kegelisahan Devan segera menarik pria itu ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Devan dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan di tengah badai emosi yang melanda suaminya.
Namun, di ujung lorong yang gelap, sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Seorang pria berdiri mematung, menatap interaksi mesra itu dengan tatapan tak terbaca.
"Itu... Tuan Devan yang selalu Luna bicarakan, bukan?" gumam pria itu lirih.
"Kak, kenapa bengong di sini?" Sebuah suara lembut membuyarkan lamunannya. Seorang wanita bernama Desy menghampirinya sambil membawa sebungkus makanan. Pria itu— Rizky—hanya menunjuk ke arah Devan dengan dagunya.
"Desy, itu benar Tuan Devan, kan?"
Desy menyipitkan mata, lalu mengangguk kecil. "Iya, sepertinya itu Tuan Devan dari keluarga Argantara. Pria yang selama ini Kakak cari-cari."
Rizky menghela napas panjang, ada gurat kekecewaan di wajahnya. "Pantas saja. Dia memang terlihat tampan dan sangat kaya. Wajar jika Luna mencampakkan pria biasa sepertiku demi dia," ucapnya getir.
"Tapi, Kak... lihat wanita di sampingnya. Sepertinya itu kekasihnya?" tanya Desy penasaran.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa status wanita itu jauh lebih dari sekadar kekasih; Clarissa adalah istri sah Devan. Kehadiran Rizky dan Desy di rumah sakit itu seolah menjadi pertanda bahwa rahasia masa lalu dan benang merah antara mereka akan segera terurai.
"Bagaimana kalau kita menyapa mereka?" usul Desy, yang langsung dicegah oleh Rizky dengan tarikan pelan di lengannya. Rizky menggeleng kecil; baginya, orang-orang biasa seperti mereka tidak pantas bersinggungan dengan kaum elite seperti yang ada di hadapan mereka saat ini. Ada jarak yang tak terlihat, namun terasa sangat nyata.
Kembali ke sisi Devan dan Clarissa.
"Sebaiknya kita pulang dulu, Sayang. Kau butuh istirahat," ucap Clarissa lembut, memecah keheningan di antara mereka.
Devan menghela napas panjang, mencoba membuang sisa ketegangan. "Kau benar. Mari kita kembali, kau juga belum beristirahat sama sekali sejak tadi, kan?"
"Iya," jawab Clarissa singkat.
Keduanya bergegas meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil, Devan mencoba menghubungi Kenzo, sekretaris Devano, untuk memberi tahu kondisi tuannya. Namun, nomor Kenzo tidak dapat dihubungi, seolah pria itu lenyap ditelan bumi. Akhirnya, Devan memutuskan untuk menghubungi sekretaris pribadinya sendiri, Liam.
"Liam, tolong tempatkan beberapa pengawal terbaik untuk menjaga di depan kamar operasi dan ruang perawatan Devano nanti."
"Kamar Tuan Devano?" Liam terdengar bingung di seberang sana.
"Ah, aku lupa memberitahumu. Devano mengalami kecelakaan hebat, saat ini dia di rumah sakit."
"Oh, baik Tuan. Segera saya laksanakan."
"Hm." Devan menutup teleponnya dengan pikiran yang masih berkecamuk.
Sementara itu, di sebuah gudang bawah tanah yang pengap dan gelap, suasana jauh lebih mengerikan.
"Sialan! Apa maumu sebenarnya?!" teriak Felix Argantara dengan suara parau.
"Ckk... Tuan Felix Argantara yang terhormat. Aku menginginkan nyawa yang kau bangga-banggakan itu," ucap sosok pria di depannya sambil memainkan mata pisau bedah yang berkilau tertimpa cahaya lampu yang remang.
"Bangsat! Aku sudah memenuhi semua perintahmu sesuai perjanjian kita!" raung Felix, berusaha memberontak meski kaki dan tangannya terikat rantai besi yang dingin.
"Hush! Jangan berisik. Apa kau sebodoh itu sampai percaya dengan ucapan penjahat sepertiku?" Pria itu terkekeh sinis.
Felix terdiam, napasnya memburu. Ia menatap pria seusianya di depannya itu dengan tatapan penuh permusuhan dan dendam yang membara.
"Sekarang, saatnya membuatmu menderita secara perlahan," bisik pria itu dingin.
Tanpa peringatan, ia menyayatkan ujung pisau bedahnya ke bahu Felix, tidak dalam, namun cukup untuk membuat darah segar merembes keluar. Felix mengerang tertahan. Tak berhenti di situ, pria itu mengambil seember air garam dan mengguyurkannya tepat ke arah luka tersebut.
"ARGHHH!" teriakan Felix menggema di ruangan kedap suara itu.
Pria misterius itu hanya tersenyum puas, menikmati pemandangan korbannya yang menggeliat kesakitan. "Ini baru permulaan, Felix. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, sebelum akhirnya aku mengirimmu ke neraka."
Bersambung.....