NovelToon NovelToon
Skenario Semesta Di Jari Manis

Skenario Semesta Di Jari Manis

Status: tamat
Genre:Slice of Life / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
​Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
​Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Ngidam, Keringat Dingin, dan Cilok Bumbu Kacang

​Tiga bulan setelah "Proyek Genesa" dijalankan (tanpa Excel), hasilnya positif.

​Dua garis merah di test pack pagi itu sukses membuat Dhandy Abimanyu—pria yang biasa menghadapi krisis pasar saham global dengan wajah datar—hampir pingsan di kamar mandi. Dia menatap benda plastik kecil itu seperti menatap artefak alien, tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.

​"Valid?" tanyanya serak pada Naya waktu itu.

​"Valid, Mas. Akurasi 99%," jawab Naya sambil nyengir lebar.

​Dan dimulailah era baru di kediaman Abimanyu: Era "Bumil Ratu, Suami Babu".

​Trimester pertama kehamilan Naya ternyata penuh drama. Bukan morning sickness biasa, tapi all day sickness. Naya mual mencium bau parfum mahal Dhandy (Dhandy terpaksa tidak pakai parfum ke kantor), mual mencium bau kulkas (Dhandy harus membersihkan kulkas tiap hari), dan mual melihat dasi Dhandy yang bermotif garis-garis (Dhandy terpaksa pakai dasi polos).

​Tapi yang paling parah adalah: Ngidam.

​Pukul 02.00 WIB. Dini hari.

​Dhandy sedang tidur nyenyak, memimpikan grafik keuntungan kuartal tiga yang menanjak indah. Tiba-tiba, dia merasakan guncangan gempa lokal di bahunya.

​"Mas... Mas Dhandy..." suara merengek itu terdengar horor di telinganya.

​Dhandy membuka mata satu. "Apa? Gempa? Kebakaran?"

​"Bukan..." Naya duduk di sampingnya dengan wajah memelas, air mata sudah menggenang di pelupuk mata. "Aku pengen..."

​Dhandy langsung duduk tegak, waspada. "Pengen apa? Ke rumah sakit? Perut sakit?"

​"Bukan... Aku pengen Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih."

​Dhandy melihat jam digital. 02.05.

​"Naya," Dhandy mengusap wajahnya kasar. "Ini jam dua pagi. Kebon Sirih itu jauh. Dan mereka mungkin sudah tutup atau habis."

​"Tapi dedek bayinya mauuuu..." isak Naya mulai keluar. Senjata pamungkas: menyalahkan janin yang belum bernama itu. "Dedeknya bilang dia bakal ileran kalau Papanya pelit nggak mau beliin nasi goreng."

​Dhandy menghela napas panjang. Dia menatap perut Naya yang masih rata.

​"Nak," Dhandy bicara pada perut Naya dengan nada serius. "Kamu belum lahir saja sudah merepotkan Papa. Bagaimana nanti kalau sudah minta uang kuliah?"

​"Mas! Jangan dimarahin! Buruan beliiiii!" Naya menggoyang-goyang lengan Dhandy.

​"Pesan ojek online saja," tawar Dhandy, meraih ponselnya.

​"Nggak mau! Nggak anget! Maunya Mas yang beli langsung, naik motor, pake helm!"

​Dhandy melongo. "Naik motor? Saya? Naik apa? Harley Davidson koleksi saya yang cuma dipanasin doang itu?"

​"Iya! Biar perjuangannya kerasa!"

​Dhandy memijat pelipisnya. Ini tidak logis. Ini penyiksaan. Tapi melihat bibir Naya yang bergetar mau menangis lagi...

​"Oke. Baik. Saya berangkat," Dhandy turun dari kasur dengan gontai. Dia mengganti piyamanya dengan jaket kulit (di atas kaos tidur) dan celana jeans.

​Malam itu, warga Jakarta Pusat mungkin melihat pemandangan langka: Seorang pria dengan setelan mahal dan motor gede mengkilap, antre di depan gerobak nasi goreng, wajahnya datar dan mengantuk, sementara di sekelilingnya banyak abang-abang ojek yang menatapnya heran.

​Satu jam kemudian, Dhandy pulang membawa bungkusan nasi goreng.

​"Nih. Makan," Dhandy meletakkan bungkusan itu di meja makan.

​Naya membuka bungkusnya. Baunya harum semerbak.

​"Makasih Papa Dhandy!" seru Naya senang. Dia menyendok satu suap.

​Dhandy menunggu dengan harap-harap cemas.

​"Hm..." Naya mengunyah, lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah mual.

​"Kenapa?" tanya Dhandy panik.

​"Bau kambingnya... kuat banget..." Naya menutup mulutnya, lalu berlari ke wastafel dan memuntahkan semuanya. Huek.

​Dhandy berdiri terpaku menatap nasi goreng yang sudah dia perjuangkan dengan menerobos angin malam itu.

​"Nggak jadi deh, Mas. Aku mau bubur kacang ijo aja," kata Naya setelah selesai muntah, wajahnya polos tanpa dosa.

​Dhandy memejamkan mata, merapal mantra kesabaran. "Proyek Genesa... butuh pengorbanan... Proyek Genesa... butuh pengorbanan..."

​Dua Hari Kemudian. Kantor Abimanyu Group.

​Dhandy sedang memimpin rapat direksi yang sangat penting. Suasana ruangan tegang. Grafik penjualan sedang dibahas.

​Tiba-tiba, ponsel Dhandy yang diletakkan di meja (dalam mode silent) menyala.

​Pesan WhatsApp dari: Istriku (My Boss).

​Dhandy melirik sekilas. Biasanya dia mengabaikan pesan saat rapat, tapi sejak Naya hamil, pesan Naya adalah prioritas VVIP. Siapa tahu darurat medis.

​Istriku: Mas... pengen cilok.

​Dhandy menghela napas lega. Bukan pendarahan. Cuma cilok.

​Dhandy: Nanti pulang saya belikan.

​Istriku: Nggak mau nanti. Maunya sekarang. Yang di depan SD Inpres deket kantor Mas.

​Dhandy: Saya sedang rapat, Naya. Suruh Pak Ujang beli.

​Istriku: Maunya Mas yang beliin! Terus Mas harus video call pas lagi beli, biar aku tau itu beneran dari abang-abang SD, bukan cilok mall!

​Dhandy memijat keningnya. Para direktur menatapnya bingung.

​"Ada masalah, Pak Dhandy?" tanya Pak Budi cemas.

​Dhandy menatap para bawahannya. Wajahnya serius.

​"Saya harus keluar sebentar. Ada urusan... logistik mendesak yang menyangkut stabilitas dalam negeri," kata Dhandy sambil berdiri dan mengancingkan jasnya. "Rapat diskors 30 menit. Pak Budi, pimpin sementara."

​Dhandy berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, meninggalkan para direktur yang bingung. "Logistik apa? Minyak bumi? Batubara?"

​Di depan gerbang SD, di bawah terik matahari siang bolong.

​Dhandy Abimanyu, dengan setelan jas seharga puluhan juta, berdiri di antara anak-anak SD yang sedang jajan. Dia antre di depan gerobak "Cilok Mang Asep".

​"Mang, beli cilok," kata Dhandy datar.

​Mang Asep, penjual cilok, melongo liat pelanggan necis ini. "Eh, iya Pak. Berapa?"

​"Sepuluh ribu. Bumbunya dipisah. Kecapnya dikit aja."

​"Siap, Bos!"

​Dhandy mengeluarkan ponselnya, melakukan Video Call.

​Wajah Naya muncul di layar, sedang tiduran di sofa sambil maskeran.

​"Mas! Beneran di SD?" pekik Naya girang.

​"Ya. Ini buktinya," Dhandy mengarahkan kamera ke gerobak cilok dan anak-anak SD yang menatapnya aneh.

​"Ih, Mas Dhandy ganteng banget sih antre cilok! Luv youuu!"

​"Cepet, Naya. Saya kepanasan," keluh Dhandy, tapi dia tetap menunggu sampai cilok itu dibungkus.

​Saat Dhandy hendak membayar, dia sadar dia tidak punya uang receh. Dompetnya hanya berisi kartu Black Card dan lembaran merah seratus ribuan.

​"Mang, ada kembalian seratus ribu?"

​Mang Asep garuk-garuk kepala. "Waduh, Pak. Baru buka. Belum ada receh segitu. Pake QRIS bisa nggak, Pak? Eh, saya nggak punya QRIS deng."

​Dhandy melihat jam tangannya. Rapat sebentar lagi mulai.

​"Ambil saja kembaliannya," kata Dhandy, memberikan lembaran seratus ribu. "Anggap saja beasiswa cilok buat anak-anak ini."

​"Alhamdulillah! Makasih Bos Sultan!" seru Mang Asep girang. Anak-anak SD langsung bersorak, "Horeee! Makan gratis!"

​Dhandy berjalan kembali ke kantor dengan menenteng plastik kresek hitam berisi cilok, diiringi sorakan anak-anak SD yang mengelukan namanya seperti pahlawan nasional.

​Malam Harinya. Penthouse.

​Dhandy duduk di sofa, kelelahan. Naya sedang menikmati ciloknya dengan bahagia di sebelahnya.

​"Enak, Mas. Kenyal-kenyal gitu," komentar Naya dengan pipi menggembung.

​Dhandy menatap istrinya. Perut Naya sudah mulai terlihat sedikit membuncit (baby bump kecil).

​"Naya," panggil Dhandy pelan.

​"Ya?"

​"Kamu bahagia?"

​Naya menelan ciloknya, lalu menatap Dhandy heran. "Bahagia dong. Kenapa nanya gitu?"

​"Karena... saya merasa saya tidak banyak membantu. Saya cuma bisa membelikan makanan. Saya tidak bisa merasakan sakit punggung kamu, mual kamu..." Dhandy menunduk, menatap tangannya. "Saya merasa tidak berguna."

​Naya meletakkan mangkuk ciloknya. Dia bergeser, memeluk lengan Dhandy.

​"Mas, dengerin aku," Naya menyandarkan kepalanya di bahu Dhandy. "Mas itu berguna banget. Mas sabar banget ngadepin aku yang mood swing-nya kayak roller coaster. Mas rela antre cilok, Mas rela tidur di pinggir kasur karena aku butuh tempat luas..."

​Naya mengambil tangan Dhandy, meletakkannya di atas perutnya yang sedikit buncit.

​"Dan dedek bayi juga tau Papanya hebat. Tadi pas Mas beli cilok, dia nendang dikit lho. Kayaknya dia seneng."

​Mata Dhandy membelalak. "Nendang? Benarkah?"

​"Iya. Coba rasain."

​Dhandy diam, memusatkan seluruh konsentrasinya pada telapak tangannya. Dia menunggu dengan sabar.

​Dug.

​Sebuah gerakan halus, sangat pelan, seperti kedutan otot atau gelembung udara yang pecah, terasa di telapak tangan Dhandy.

​Napas Dhandy tercekat.

​Itu dia. Kehidupan. Anaknya. Darah dagingnya.

​Mata Dhandy, yang biasanya dingin dan tajam, kini berkaca-kaca. Setetes air mata jatuh tanpa bisa dia tahan.

​"Dia... dia menyapa saya," bisik Dhandy, suaranya bergetar.

​"Iya, Papa. Dia bilang 'Halo, Papa Robot'," Naya terkekeh haru, mengusap air mata di pipi suaminya.

​Dhandy menunduk, mendekatkan wajahnya ke perut Naya. Dia mengecup perut itu lama, penuh takzim.

​"Halo, Nak," bisik Dhandy. "Tumbuhlah yang sehat. Jangan nakal kayak Mama kamu. Jadilah pintar kayak Papa. Tapi... kalau kamu mau nakal sedikit kayak Mama juga nggak apa-apa. Asal kamu bahagia."

​Naya mengelus rambut Dhandy. "Mas nangis lagi? Cengeng ah."

​Dhandy mengangkat wajahnya, tersenyum lebar—senyum paling tulus yang pernah Naya lihat.

​"Ini air mata efisiensi," elak Dhandy. "Membuang racun kortisol dari tubuh."

​"Halah, alesan."

​Malam itu, tidak ada drama ngidam aneh-aneh lagi. Hanya ada Dhandy yang membacakan dongeng "Teori Relativitas Einstein" untuk perut Naya (karena dia bersikeras anaknya harus kenal Fisika sejak dini), sementara Naya tertidur pulas dengan senyum di bibirnya.

​Skenario semesta memang penuh kejutan. Siapa sangka, cilok bumbu kacang dan tendangan kecil dari dalam perut bisa mengubah seorang CEO dingin menjadi pria paling lembut di dunia?

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Alissia
ngakak bacanya nay🤣🤣🤣🤣
destiana
ceritanya bagus banget
destiana
lucu banget sih lu nay🤣🤣🤣🤣
Vera Ellen
👍
Septi Lahat
ceritanya indah,,Terima kasih tuk karya nya kak thor,, sukses terus selanjutnya😍😍😍
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
lumayan seru🙂
Riana Zahrah
suka bgt yang gak bertele-tele gini, semoga hidup mu juga gak bertele-tele ya penulis.
ms. S
ceritanya simpel tapi mengena bgt, suasana mendukung bikin suasana hati yg mengggeltik di tiap adegan. suka karena episode nya sedikit tapi bagus bgt. good job. semoga novel ini byk yg baca setelah ini
Pappan Boquet
intinya w suka ceritanya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!