“Melukai orangku, jangan harap mati dengan tenang.”
— Zeon Ashviel Arken
“Berhentilah bicara… atau kuledakkan mulutmu itu.”
— Zyra Ashviel Arken
Dua anak kembar yang pernah hidup sebagai agen bayaran mematikan tiba-tiba kembali ke masa lalu, ke waktu di mana keluarga asli mereka masih ada.
Namun masa lalu bukan tempat yang aman. Setiap langkah mereka bisa mengubah takdir, dan setiap keputusan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang tidak seharusnya dibuka kembali.
Di antara keluarga yang dulu mereka kenal… dan kehidupan baru yang mereka jalani, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan memperbaiki masa lalu, atau menghancurkan segalanya sekali lagi?
happy reading 🐢
Don't Copy!!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maiaqua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Cemburu
Kenapa Semua Jadi Aneh?
Matahari sore menyinari halaman belakang Mansion Arken.
Angin berembus pelan.
Burung-burung kecil beterbangan di sekitar taman bunga yang dirawat Mama Zelvyna.
Suasana damai.
Setidaknya sebelum satu keluarga mulai bertingkah aneh.
Di bawah pohon besar dekat kolam ikan.
Zyra sedang jongkok di samping Leo.
Tangannya memegang ranting kecil.
"Teruc..."
"Teluc..."
"Cih..."
Zyra mengerucutkan bibirnya.
Leo memperhatikannya.
"Kau sedang apa?"
"Aku lagi gambar peta lacia."
"Maksudmu rahasia?"
"Iya itu."
jawab Zyra percaya diri.
Leo menatap coretan di tanah.
Lalu diam.
Lama.
Sangat lama.
"..."
"Itu gambar ayam."
"Bukan."
"Itu peta."
"Peta apa?"
"Peta menuju harta kalun."
"Itu ayam."
ulang Leo.
Zyra langsung melotot.
"Peta!"
"Baik."
"Itu ayam."
"LEO!"
Di teras.
Sean menyaksikan semuanya.
Lalu perlahan menoleh pada Sian.
"Kau lihat?"
"Hm."
"Dia ketawa."
"Hm."
"Dia ngomong banyak."
"Hm."
"Dia bahkan ngajak Leo main."
Sian menutup bukunya.
"Sean."
"Apa?"
"Kau mengulang kalimat yang sama selama lima menit."
"Aku syok."
"Itu masalahmu."
"Tapi kau juga syok."
"Tidak."
"Kau bohong."
"Tidak."
"Kau bohong."
"Tidak."
"Kau—"
"Diam."
ucap Sian.
Sean langsung menunjuk.
"Nah! Kalau tidak kesal kenapa suaramu naik?"
"..."
Sian diam.
Karena dia tidak punya jawaban.
Tidak jauh dari mereka.
Raven sedang membaca buku.
Atau setidaknya mencoba.
Karena setiap beberapa menit.
Matanya selalu bergerak ke arah yang sama.
Zyra.
Dan Leo.
Raven menghela napas.
"Masalah."
gumamnya.
Zeon yang sedang duduk di sebelahnya menoleh.
"Siapa?"
"Zyra."
"Itu bukan hal baru."
"Benar."
jawab Raven.
"Tapi sekarang dia membawa masalah baru."
"Maksudmu Leo?"
"Hm."
Zeon mengikuti arah pandangnya.
Lalu melihat Leo yang sedang dipaksa mendengarkan cerita Zyra.
Kasihan.
Sangat kasihan.
Tapi juga lucu.
"Menurutku dia cuma senang punya teman."
ucap Zeon.
"Itu masalahnya."
jawab Raven.
"..."
Zeon langsung tertawa kecil.
Untuk ukuran Raven.
Kalimat itu sudah sangat emosional.
Di balkon lantai dua.
Alfa sedang berdiri sambil menyilangkan tangan.
Tatapan blue sapphire miliknya tertuju ke halaman.
Tepatnya ke satu anak laki-laki tertentu.
"Sayang."
panggil Zelvyna.
"Hm."
"Kau sedang apa?"
"Melihat."
"Aku tahu."
"..."
"Yang aku tanya, kenapa kau melihat Leo seperti itu?"
"Aku melihat biasa saja."
"Kau bohong."
"Aku tidak bohong."
"Kau bohong."
"..."
Zelvyna tertawa.
Karena ekspresi suaminya sekarang persis seperti Sean saat berbohong.
Saat itulah Gavin datang membawa secangkir kopi.
"Alfa."
"Apa?"
"Kalau terus melihat anakku seperti itu..."
"..."
"Dia bisa bolong karena ditatap."
Sean langsung tertawa.
Sian ikut menunduk menyembunyikan senyum.
Bahkan Raven terlihat menahan tawa.
Alfa menatap Gavin datar.
"Anakmu terlalu dekat dengan putriku."
"Putrimu sedang menggambar ayam."
"Itu peta."
teriak Zyra dari bawah.
Semua menoleh.
Leo menunjuk tanah.
"Itu ayam."
"ITU PETA!"
Gavin langsung tertawa keras.
"Astaga."
"Dia lucu sekali."
"Jangan memuji dia."
ucap Alfa cepat.
"Kenapa?"
"Nanti dia makin percaya diri."
"Papaaa!"
teriak Zyra.
"Aku dengel!"
"Aku memang ingin kau dengar."
jawab Alfa.
Zyra langsung cemberut.
Lalu berjalan cepat menuju mansion.
Sean panik.
"Mampus."
Sian mengangguk.
"Misi penyelamatan dimulai."
"Kau juga sadar?"
"Hm."
Mereka sudah mengenal pola itu.
Kalau Zyra cemberut.
Berarti sebentar lagi akan ada korban.
Dan benar saja.
Zyra berhenti tepat di depan Alfa.
Lalu mengangkat kedua tangannya.
"Papa."
"Apa?"
"Gendong."
"..."
Alfa langsung mengangkatnya tanpa berpikir.
Sean memegang kepala.
"Itu dia."
"Jurus andalan."
gumam Sian.
Zyra yang sekarang sudah berada dalam pelukan Alfa langsung tersenyum puas.
"Papa paling baik."
"Barusan aku jahat."
"Itu tadi."
"Dan sekarang?"
"Sekalang baik."
"..."
Gavin sampai hampir menjatuhkan kopinya.
"Dia memutar balik keadaan dalam tiga detik."
Zeon mengangguk.
"Itu masih termasuk lambat."
"MASIH TERMASUK LAMBAT?!"
teriak Sean.
Sementara itu.
Leo memperhatikan semuanya.
Diam.
Keluarga ini aneh.
Sangat aneh.
Terlalu berisik.
Terlalu ramai.
Terlalu hangat.
Dan entah kenapa...
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama.
Ia tidak merasa keberatan berada di tengah keramaian itu.
Sedangkan Zyra?
Dia sama sekali tidak sadar.
Bahwa hanya dalam dua hari.
Dia berhasil membuat satu keluarga Arken kompak cemburu pada Leo.
Dan itu adalah prestasi yang bahkan tidak ia sengaja.
...****************...
Taman belakang mansion masih ramai.
Setelah insiden "peta harta karun" yang lebih mirip gambar ayam menurut Leo, Zyra sekarang duduk di ayunan sambil memakan es krim stroberi.
Sedangkan Leo duduk di bangku taman.
Seperti biasa.
Diam.
Terlalu diam untuk anak seusianya.
"Aku cape."
ucap Zyra sambil mengayunkan kaki pendeknya.
"Kau dari tadi hanya duduk."
jawab Leo.
"Itu juga melelahkan."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu."
Leo menghela napas pelan.
Sejujurnya dia masih belum mengerti bagaimana cara kerja otak Zyra.
Kadang masuk akal.
Kadang tidak.
Kadang keduanya sekaligus.
Tidak jauh dari sana.
Sean terus mengawasi.
"Sumpah."
gumamnya.
"Aku tidak suka."
"Apa?"
tanya Sian.
"Dia terlalu dekat."
"Siapa?"
"Leo."
Sian melirik ke arah taman.
Lalu kembali membaca bukunya.
"Hm."
"Hm apanya?"
"Kau cemburu."
Sean langsung menunjuk.
"Kau juga."
"Aku tidak."
"Kau bohong."
"Aku tidak."
"Kau tadi sudah tiga kali melihat ke arah mereka."
Sian langsung menutup bukunya.
Dengan keras.
Sean langsung tersenyum menang.
Raven yang duduk di teras menghela napas.
Berisik.
Adik-adiknya terlalu berisik.
Namun saat melihat Zyra tertawa kecil karena Leo salah menyebut nama bunga yang ditunjuknya...
Tatapannya sedikit melunak.
Sudah lama sejak terakhir kali dia melihat Zyra senyaman itu dengan orang baru.
Di sisi lain.
Papa Alfa dan Gavin masih duduk menikmati kopi.
Atau lebih tepatnya...
Gavin menikmati kopi.
Sedangkan Alfa menikmati mengawasi putrinya.
"Kau sadar tidak?"
tanya Gavin.
"Apa?"
"Sejak lima menit lalu kau tidak melihatku saat bicara."
"Aku mendengar."
"Tapi kau melihat ke sana."
Gavin menunjuk ke arah taman.
Alfa diam.
Itu jawaban yang cukup jelas.
"Hahaha."
Gavin tertawa.
"Dia benar-benar putri kesayanganmu."
"Memang."
jawab Alfa tanpa ragu.
"Tidak malu mengakuinya ya?"
"Kenapa harus malu?"
Gavin langsung terdiam.
Oke.
Dia kalah.
Sementara itu.
Mama Zelvyna datang membawa sepiring buah potong.
"Zyra."
"Iya Mama?"
"Makan ini juga."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Buah tidak seenak es krim."
"Kalau begitu es krimnya Mama ambil."
"Aku mau buah."
jawab Zyra cepat.
Zelvyna tersenyum puas.
Leo yang melihatnya berkedip.
Baru kali ini dia melihat seseorang dikalahkan dalam dua detik.
"Tuh kan."
ucap Zeon yang entah sejak kapan muncul.
"Mama selalu menang."
"Aku cuma mengalah."
bela Zyra.
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Iya."
"Kau kalah."
"Diam."
Zyra langsung menyumpal mulut Zeon dengan potongan apel.
Semua tertawa.
Hari itu terasa hangat.
Terlalu hangat.
Sampai Zeon hampir lupa.
Hampir.
Matanya tanpa sengaja tertuju ke arah pagar luar.
Seseorang baru saja lewat.
Pria biasa.
Tidak mencurigakan.
Namun instingnya yang selama bertahun-tahun bertahan hidup langsung bereaksi.
Terlalu lama melihat ke arah mansion.
Hanya sepersekian detik.
Tapi Zeon melihatnya.
Dan orang itu juga melihat ke arah taman.
Ke arah Zyra.
Jantung Zeon berdetak sekali.
Pelan.
Lalu dia memalingkan wajah.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Karena sekarang berbeda.
Dia bukan lagi Zeon yang hidup sendirian.
Dia bukan lagi pembunuh bayaran yang harus menyelesaikan semuanya sendiri.
Sekarang ada Papa Alfa.
Ada Mama Zelvyna.
Ada Raven.
Sean.
Sian.
Eres.
Dan karena itulah...
Dia tidak boleh gegabah.
"Ze?"
Suara Zyra membuatnya menoleh.
"Kamu kenapa?"
Zeon menatap adiknya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa."
"Kamu bohong."
"Tidak."
"Kamu bohong."
"Belajar dari mana sih itu?"
"Mama."
jawab Zyra bangga.
Zeon hampir tertawa.
Masuk akal.
Sangat masuk akal.
Namun jauh di dalam pikirannya...
Satu pertanyaan terus berputar.
Siapa pria tadi?
Dan kenapa...
Instingnya mengatakan bahwa masalah yang selama ini mereka tunggu akhirnya mulai bergerak?
...****************...
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh singgah profile.. terima kasih 🤭