"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Menghindari Pertanyaanku
Rafif segera menerima telpon yang berasal dari Kakaknya, Daffa.
"Halo, kak Daffa" sapanya begitu panggilannya terhubung
"Rafif, kakak sudah ingin berangkat. Tolong jaga Mama. Walaupun tegas, Mama juga wanita yang rapuh" Pesan Daffa yang sebentar lagi akan melakukan penerbangan meninggalkan Negara ini bersama Zeline
"Kabari aku jika kakak sudah sampai ditujuan kakak dan jangan lupa untuk terus menghubungiku, apalagi jika kakak sedang kesusahan" ucap Rafif dengan suara yang berat, seperti ada sesuatu yang mencekat di tenggerokannya.
"Baiklah, kakak sudah ingin masuk ke pesawat. Salamkan pada Zahra"
"Baiklah kak"
Rafif mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Menatap Zahra sesaat dengan tatapan sendu lalu beralih mengambil tas kerjanya
"Kak Daffa sudah berangkat?" tanya Zahra yang dapat melihat ekspresi lesu dari wajah suaminya
"Iya, kak Daffa sebentar lagi berangkat" jawabnya tersenyum singkat berusaha menyembunyikan rasa sedihnya, tetapi tatapan matanya tidak dapat membohongi istrinya itu
***
Seharian ini, Rafif terlihat murung setelah menerima telpon dari Daffa mengenai keberangkatannya. Ia merasa khawatir dengan kakaknya itu, sampai ia tidak sadar Zahra sudah masuk ke dalam ruangannya
"Zahra.. " ucapnya saat sadar Zahra sudah ada didepannya
"Permisi Pak Rafif, saya mengantarkan berkas titipan dari Bu Cindy" Zahra meletakkan dokumen itu tepat dihadapan Rafif
"Berbicaralah dengan santai padaku jika kita sedang berdua saja" pinta Rafif seraya mengambil dokumen itu dan mulai membacanya
"Saya harus profesional Pak" jawab Zahra dengan senyum kecil diwajahnya yang mampu membuat Rafif menjadi sedikit lebih baik
"Duduklah, biar ku baca dokumen ini dulu" perintahnya yang langsung dituruti oleh Zahra
"Baik Pak" mendengar tanggapan Zahra, membuatnya merasa aneh di panggil dengan sangat hormat oleh istrinya sendiri
"Dirumah kau memanggilku kakak, di kantor kau memanggilku Pak" gumam Rafif yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Zahra
"Itulah gunanya profesionalitas" jawabnya tanpa di minta
"Yah terserah kau saja" ucap Rafif dengan senyum yang tertahan merasa gemas dengan semua tingkah laku Zahra
Saat tengah memeriksa dokumen yang dibawa oleh Zahra, mata Rafif tidak sengaja menangkap ekspresi bingung Zahra sambil melihat ke arahnya
"Apa ada yang mengganggu mu? kenapa wajahmu terlihat serius begitu?" tanya Rafif yang sadar tengah diperhatikan oleh Zahra
"Aku ingin menanyakan kenapa raut wajah atasanku ini murung seperti tadi, tapi saat ini aku tidak bisa mencampuri urusan pribadi Bapak sebagai atasan ku. Nanti saja jika sudah selesai bekerja, aku akan menanyakannya sebagai istri Bapak" Jelasnya yang jelas-jelas sudah mengetahui penyebab dari wajah murung suaminya seharian ini
"Jadi kau sudah mengakui dirimu sebagai istriku?" tanya Rafif tersenyum menggoda Zahra
"Ehmm, apa sudah selesai membacanya?" Zahra berusaha mengalihkan pembicaraan menghindari pertanyaan Rafif
"Kenapa menghindari pertanyaanku" tebak Rafif tepat pada sasaran
"Karena itu pertanyaan yang menyangkut privasi ku sebagai bawahan Bapak" jawabnya berusaha mencari alasan yang tepat
"Ya sudah, nanti saja aku bertanyanya diluar jam kerja sebagai suamimu" kata Rafif sembari memberikan dokumen yang baru saja ia tanda tangani, perkataan Rafif sukses membuat Zahra menjadi merona dan salah tingkah, ia lalu segera beranjak berdiri dan berniat berlalu dari sana
"Dasar menyebalkan" gumam Zahra pelan namun tetap bisa didengar oleh Rafif yang terlihat sedang menahan senyumannya. Zahra lalu berlalu dari sana dengan wajah memerah karena tersipu akan perkataan Rafif tadi.
***
Seperti biasa, Zahra beralasan lembur untuk menunggu Rafif selesai bekerja. Sampai saat ini, keduanya belum mengungkapkan hubungan mereka karena permintaan Zahra dan Rafif tetap menghargai keinginan istrinya itu, terlebih lagi ia tau betul bagaimana bisa sampai Zahra menjadi istrinya sekarang
"Kenapa tidak masuk ke ruanganku?" tanya Rafif saat menghampiri Zahra yang tengah sibuk menyusun beberapa dokumen di mejanya
"Aku tidak ingin mengganggumu kak. Apa kau sudah selesai?"
"Iya, kau sendiri?"
"Aku sudah selesai sejak dari tadi, hanya saja beralasan lembur untuk menunggu mu" jawab Zahra seraya berdiri dan berjalan ke arah Rafif
"Wah, istriku ini sangat baik dan pengertian" ucap Rafif menggoda Zahra, rasanya seperti ada kesenangan tersendiri bagi lelaki itu saat melihat wajah Zahra yang tersipu malu karena salah tingkah dengan sikap ataupun perkataannya
"A-ayo pulang, jangan menggodaku terus" cebiknya gugup, merasa kesal tapi juga sedikit senang dengan candaan Rafif
"Baiklah" Rafif mengikuti langkah Zahra yang berjalan mendahuluinya lalu merebut tas jinjing yang di bawa oleh Zahra dari tangannya
"Tasku" Zahra mencoba meraih kembali tas nya itu, tapi Rafif dengan cepat berjalan mendahului Zahra
"Cepatlah, nanti kita kemalaman pulangnya" ucap Rafif yang dengan sengaja mempercepat langkah kakinya agar Zahra tidak dapat mengambil kembali tas yang di rebut Rafif dari tangannya tadi karena memang dari awal Rafif berniat membawakan tas istrinya yang terlihat berat itu.