Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 33 Pendekar Cebol
Sudah tiga pekan lamanya Demang Bungi Pitam dan Lekar Asih, serta putrinya bersedih lantaran Purwasaga hilang tanpa jejak dan pesan. Kesedihan itu bahkan menular kepada para tetangga dan rekan-rekan.
Bagi yang bukan kerabat dekat, kesedihan hanya berdurasi beberapa hari saja. Namun, bagi sang demang dan istri-anak, kesedihan bertahan hingga berpekan-pekan.
Demang Bungi Pitam pun kini punya kebiasaan baru, terkhusus di malam hari, yaitu berdiri sendiri mematung memandangi lautan lepas.
Demang Bungi Pitam sangat yakin bahwa putranya terjerat oleh amukan badai dan terseret ke laut. Sudah menjadi adat bagi lautan tidak pernah mengirim utusan pembawa pesan jika membawa hanyut korbannya.
Dalam jangka hampir sebulan itu, Demang Bungi sudah mengerahkan semua sumber daya manusianya dan sumber daya hartanya untuk mencari keberadaan sang putra sulung. Namun, satu-satunya petunjuk yang didapat berasal dari guru Purwasaga di Air Terjun Bundar Monyong. Itupun petunjuk yang tidak jelas karena multi tafsir.
“Tidak ada itu bukan berarti sudah mati. Purwasaga itu seorang pendekar dan dia muridku. Katakan kepada Gusti Demang, aku akan sial jika mengajari murid yang cepat mati. Pergi ke negeri orang tidak semudah melihat dasar di dalam air gentong,” kata Gempar Sukma kepada prajurit kademangan utusan Demang Bungi Pitam.
Gempar Sukma adalah seorang pendekar separuh baya yang terkenal secara lokal saja. Popularitasnya belum mendunia karena dia lebih suka hidup tenang di Air Terjun Bundar Monyong. Muridnya hanya tiga orang, yaitu Suap Jangan, Aping Cacikir dan Purwasaga.
Petunjuk dari Gempar Sukma membuat Demang Bungi Pitam menafsirkan positif. Namun, petunjuk itu tetap menyisakan misteri yang sulit ditafsirkan.
“Jika Purwasaga pergi ke negeri orang, kenapa tidak berpamitan? Negeri kerajaan mana yang Guru Gempar Sukma maksud?” pikir Demang Bungi Pitam.
Akhirnya petunjuk itu hanya sekedar menjadi petunjuk yang tidak banyak membantu, toh Purwasaga tidak kunjung pulang dan tidak ada saksi yang menyaksikan kepergiannya.
Pada hari kedua puluh lima hilangnya Purwasaga, Demang Bungi Pitam melakukan sesuatu yang tidak biasa, yakni duduk termenung di pantai, menatap laut tanpa minuman dan camilan.
Termenung di pantai menatap ombak dan suasana laut adalah hal rutin yang dia lakukan. Namun, yang membuatnya tidak biasa adalah waktunya. Kali ini Demang Bungi Pitam memilih waktu di siang tengah hari, itupun di kala puncak terik.
Karena ketidakbiasaan itu, sang istri yang bernama Lekar Asih memerintahkan dua prajurit kademangan untuk berdiri memantau agak jauh di belakang.
“Tumpeng, bukankah lebih baik kita menyediakan minuman kelapa muda untuk Gusti Demang?” usul prajurit pertama yang benama Gudek. Itu bukan nama sesuai akte lahir, tetapi nama panggilan yang artinya Guguk Budek. Gudek memang tidak peka dalam mendengar.
“Setuju,” ucap Tumpeng seraya mengangguk, memberi isyarat bahwa dia setuju dan tidak salah didengar oleh Gudek. Lalu katanya, “Kau yang petik kelapa, aku yang ambil meja!”
“Hahaha! Boleh,” ucap Gudek yang didahului tertawa ringan.
Tiba-tiba Gudek menjitak kepala Tumpeng sambil tersenyum. Tumpeng segera melotot marah kepada Gudek. Dia tahu bahwa rekannya itu salah dengar lagi. Namun, Tumpeng berusaha sabar.
Akhirnya, Tumpeng berbalik pergi dengan kesal, meninggalkan Gudek yang berubah terheran-heran atas tindakan sahabatnya itu.
“Diberi ide bagus dia malah mengambek. Seperti perempuan saja. Biar aku saja yang memetik kelapanya untuk Gusti Demang,” kata Gudek kepada dirinya sendiri.
Dia lalu pergi, langsung menuju ke sebatang pohon kelapa.
Singkat cerita.
Ternyata Tumpeng dan Gudek kembali datang pada waktu yang bersamaan.
Tumpeng pergi ke sisi Demang Bungi Pitam dan meletakkan meja kayu yang dibawanya, membuat junjungan mereka menengok. Hanya menengok. Gudek lalu meletakkan satu butir kelapa yang sudah dia lubangi dengan pedangnya.
“Gusti Demang, hari sangat terik, alangkah baiknya jika Gusti minum air kelapa segar,” ujar Gudek.
“Terima kasih, Gudek,” ucap Demang Bungi Pitam seraya mengangguk. Tanpa senyum.
Setelah itu, kedua prajurit tersebut kembali pergi seusai menjura hormat. Mereka kembali ke posisi awalnya.
“Kenapa tidak diminum?” tanya Gudek kecewa saat melihat kelapa muda suguhannya tidak kunjung diraih oleh Demang Bungi Pitam.
“Gusti Demang sedang susah hati. Kondisi seperti itu, makanan dan minuman enak tetap tidak bisa memancing selera,” kata Tumpeng tanpa memandang Gudek.
“Kalau bicara jangan sembarangan. Demang masih hidup, ngawur dibilang sudah mati!” hardik Gudek.
Tumpeng tidak membalas Guguk Budek demi kebaikan bersama.
“Hei hei hei! Lihat! Siapa itu yang menunggangi kambing?” kata Gudek tiba-tiba sambil mencolek lengan Tumpeng, sementara pandangannya memandang ke satu arah. Tangannya kemudian menunjuk.
Orang yang ditunjuk oleh Gudek di arah pantai adalah seorang manusia yang duduk di punggung seekor kambing tanpa lapisan pelana dan tanpa tali kekang. Orang yang duduk adalah seorang lelaki berwajah tampan. Rambutnya pendek berwarna hitam dan berikat kepala merah terang. Ia mengenakan baju putih dan bercelana hitam. Sabuknya terbuat dari bahan kulit berpola sisik ular, karena itu memang terbuat dari kulit ular berwarna hitam. Namun, dia adalah seorang pendek atau katai bin cebol.
Kambing warna serba hitam yang ditunggangi orang cebol itu berkuping panjang terkulai. Kambing itu sedikit lebih tinggi dari kambing kebanyakan.
“Sepertinya itu seorang pendekar, meski cebol,” ucap Tumpeng lirih, tetapi tidak didengar oleh Gudek.
“Orang itu pasti pendekar. Model pakaiannya seperti seorang pendekar. Mungkin dia hanya lewat saja,” kata Gudek pula, suaranya lebih jelas dari Tumpeng.
Kedua prajurit kademangan itu hanya memerhatikan lelaki cebol yang menunggangi kambing.
Lelaki cebol tampak bergaya santai di punggung kambingnya. Terik matahari tidak membuatnya mengerenyit karena tersejukkan oleh angin laut. Kedua makhluk berbeda jenis tersebut lewat tidak jauh di depan Demang Bungi Pitam melamun.
Meski melamun, Demang Bungi Pitam masih memerhatikan apa yang melintas di depannya. Namun, dia membiarkan hubungan agak aneh kedua makhluk tersebut berlalu.
Si cebol dan kambing sudah melintas dan terus pergi tanpa menengok sedikit pun kepada Demang Bungi Pitam. Lelaki tampan cebol itu hanya melirik sekali saja tanpa tertarik kepada si demang yang tidak dikenalnya.
Namun, setelah lewat kisaran sepuluh tombak dari depan Demang Bungi Pitam, tiba-tiba lelaki cebok menengok kepada sang demang dengan mata mendelik seperti orang kaget.
“Berhenti, Cantik!” seru lelaki cebol kepada kambingnya. Suaranya sampai terdengar oleh Demang Bungi Pitam dan kedua prajuritnya.
Si kambing hitam pun berhenti. Ia bahkan ikut menengok ke arah Demang Bungi Pitam. Tidak berapa lama, tanpa ada perintah atau paksaan, si kambing tiba-tiba berjalan tapi berbelok arah. Dia berjalan ke arah posisi Demang Bungi Pitam.
Sang demang hanya diam memandangi kedatangan si cebol dan si kambing.
Melihat hal itu, Tumpeng dan Gudek segera berlari lebih mendekat ke belakang junjungannya. Tangan mereka segera menggenggam gagang pedang di pinggang.
Lelaki cebol tampan hanya tersenyum melihat tindakan siaga kedua prajurit itu.
“Gusti Demang!” panggil lelaki di atas kambing setibanya satu tombak di depan Demang Bungi Pitam.
Terkejut Demang Bungi Pitam mendengar pendekar asing itu tahu bahwa dirinya seorang demang. Sama halnya dengan Tumpeng dan Gudek.
“Bolehkan aku meminta kelapa mudamu? Sepertinya kau tidak tertarik untuk meneguknya,” tanya lelaki cebol yang ujung kakinya jauh dari tanah.
Sing!
Gudek langsung cabut pedang mendengar perkataan lelaki cebol. Dia segera maju ke depan kambing dengan pedang terhunus.
Agak terkejut lelaki cebol melihat reaksi Gudek yang sepertinya berlebihan.
“Berani-beraninya kau meminta kepala Gusti Demang. Hadapi dulu aku!” bentak Gudek kepada lelaki cebol.
Lebih terkejut si lelaki cebol mendengar bentakan Gudek. Sama halnya dengan Demang Bungi Pitam dan Tumpeng.
Tumpeng cepat maju dan menarik tangan kiri Gudek menjauh dari depan kambing. (RH)
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi