mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Darah Bangkit, Bayangan Runtuh
Malam menggema dengan dentingan senyap, seolah dunia menahan napas. Empat Penjaga Senyap mengepung Lin Xieng dan Yufei dari empat penjuru mata angin. Tak satu pun mengeluarkan suara. Mereka adalah bayangan—tanpa emosi, tanpa keraguan.
Namun kali ini, Lin Xieng bukan sekadar peserta turnamen. Aura yang mengelilingi tubuhnya tidak lagi tertahan—sebuah pusaran merah darah dengan kilatan emas memancar dari pusat altar naga di tubuhnya.
Penjaga pertama bergerak, melesat secepat panah, pedang hitamnya menebas lurus ke leher Lin Xieng. Tapi sebelum bilah itu mencapai target, tangan Lin Xieng telah terangkat, menangkap pedang dengan jari-jari yang bersinar.
Clang!
Logam terhenti. Mata si penjaga melebar—kaget.
“Tak ada tempat bagi bayangan di tanah leluhurku,” ucap Lin Xieng.
Seketika, kekuatan dari darah naga kuno melonjak keluar. Tangan Lin Xieng mencengkram lebih kuat, dan pedang penjaga itu hancur menjadi abu. Serangan balasannya datang dari siku, menghantam dada musuh dengan ledakan aura naga, melemparkannya ke dinding batu hingga tubuhnya retak.
Tiga penjaga lain segera menyerang bersamaan, menciptakan formasi membunuh berbentuk segitiga, yang dikenal sebagai Bayangan Mati. Udara menjadi berat, dan ruang sekitar mereka bergetar.
Namun Yufei melangkah maju.
“Jangan kira aku akan diam saja!”
Tubuhnya diselimuti kabut ungu. Ia mengaktifkan jurus warisan Kuil Kabut Ilahi: Langkah Kabut Tiga Dunia. Dalam satu lompatan, ia muncul di belakang penjaga kedua dan melepaskan hantaman telapak yang membuat udara sekitarnya memekik.
Penjaga itu berusaha menangkis, tapi Yufei telah berganti posisi—seolah bayangan kabutnya menipu ruang.
Sementara itu, Lin Xieng melawan dua sisanya. Formasi naga dari dalam tubuhnya membentuk sayap samar di punggungnya. Ia melesat rendah, lalu melompat ke udara, memutar tubuh dan menghantamkan dua telapak ke tanah.
BOOOM!
Tanah retak membentuk pola naga kuno. Aura dari altar naga memancar lurus ke langit, menelan penjaga ketiga yang tak sempat melarikan diri. Jeritannya lenyap ditelan tanah.
Penjaga terakhir mundur dengan cepat. Tapi Lin Xieng sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Katakan pada tuanmu,” bisik Lin Xieng, “darahku tak bisa disegel lagi.”
Ia tidak membunuh penjaga terakhir. Sebaliknya, ia mengirimkan aliran energi ke tubuhnya—cukup untuk membuatnya tak sadar dan tak mampu bertarung lagi.
Yufei mengatur napas, menatap sekeliling. “Kau… bukan Lin Xieng biasa sekarang.”
“Aku belum tahu siapa aku sebenarnya,” kata Lin Xieng sambil menatap ke arah puncak gunung. “Tapi aku tahu… aku berasal dari tempat ini. Dan jawabannya ada di dalam sana.”
**
Mereka berjalan melewati gerbang batu kuno, masuk ke koridor panjang yang dipenuhi ukiran naga. Semakin dalam mereka melangkah, semakin jelas suara napas berat dari dalam tanah terdengar—seolah makhluk yang sangat tua sedang bermimpi.
Di ujung lorong, mereka tiba di sebuah ruangan bundar yang diterangi oleh cahaya merah alami dari kristal darah di langit-langit. Di tengah ruangan, terdapat altar batu—dan di atasnya, sebuah peti mati dari giok merah tua.
“Ini…” bisik Yufei. “Ini adalah… makam darah?”
Lin Xieng mendekat. Saat tangannya menyentuh permukaan peti, cahaya meledak. Segel di dadanya terbuka, menampakkan pola naga yang bersinar terang.
Dari dalam peti, suara lembut bergema:
“Pewaris darahku… akhirnya kau kembali.”
Dan Lin Xieng melihatnya—sosok lelaki berjubah merah darah, berdiri di padang perang ribuan tahun silam, dikelilingi naga dan manusia. Di matanya—mata Lin Xieng sendiri.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣