Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.
Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.
Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20-Konsul Sama Om Galak
“Om tahu. Tapi, Cil, kalau kamu terlalu berlebihan jatuhnya obsesi bukan suka. Siapa yang tahu kalau dia justru enggak nyaman sekaligus geli sama sikap kamu.”
Episode 20-Konsul Sama Om Galak
Di dalam kamar yang bernuansa biru, beberapa menekin pun ada di sana terbalut baju rancangan manis hasil karya sang designer yang tak kalah manis. Jelita tengah jungkir balik di atas ranjangnya. Ia tidak peduli bahwa matahari telah menyingsing dan bersinar terang.
Ingatan semalam perihal kebersamaannya dengan Reza masih saja membuatnya geregetan. Sekalinya jatuh hati, justru rasanya sulit sekali. Tidak cukup ia membuang malu, dan hasil pun belum ia dapatkan hingga saat ini.
“Kenapa sih?! Sok jual mahal banget! Sebeeel!” pekik Jelita sembari mencengkeram geram selimut, sembari membalikkan badan—tengkurap.
“Asli Jeli tuh sayang, cinta, suka sama Kakak! Jeli nyaman bahkan sering rindu, masa' masih dikatain belum yakin sama perasaan sendiri?”
Gadis itu meringkuk, bersujud kemudian melompat dengan posisi demikian. “Emang definisi jatuh cinta bagi Kak Reza itu kayak gimana? Jeli nyampe kayak gini, kenapa masih enggak percaya?! Aaargh!” geramnya.
“Uh!” Jelita menjatuhkan dirinya—merebah kembali—dengan posisi badan yang lurus meski masih dalam keadaan tengkurap. Ia menghela napas dalam sembari terpejam sebentar. “Malas kerja, pengen Kak Reza.”
Tiba-tiba, mata Jelita reflek membelalak. Ia bangkit dari posisinya, duduk bersila sembari mengacungkan telunjuknya. “Om Galak! Iya, juga.” Gadis itu manggut-manggut. “Bener! Om Arlan pasti pernah kesulitan buat dapetin Tante Fanni. Maybe, aku bisa konsul asmara sama Om Arlan.”
Senyum Jelita merekah, seiring harapan yang muncul pada pria yang merupakan suami dari sahabatnya itu. Mengingat Arlan sebagai seorang duda beranak satu, sementara Fanni memiliki badan gempal layaknya Reza. Tampaknya, ada kemiripan di antara Jelita dengan Arlan, tentunya mengenai asmara yang dijatuhkan pada orang dengan fisik besar.
Diraihnya ponsel dari atas nakas oleh Jelita. Kemudian, kedua ibu jarinya begitu sibuk menekan tombol-tombol yang ada di dalam layar benda tersebut. Nomor kontak yang bernama “Om Badas” ia cari. Detik berikutnya, gadis itu melakukan panggilan keluar.
“Mm ...?” Jawaban pertama yang Jelita dapatkan, dengan suara yang parau seperti baru terbangun dari tidur.
“Selamat pagi, Om ganteng!” sapa Jelita, tetapi bibirnya mencibir setelahnya.
“Assalamu'alaikum ... kenapa? Pagi-pagi telepon? Istri masih di dapur.”
Jelita menggeleng, meski Arlan tidak dapat melihatnya. “Wa'alaikumssalam ... enggak, Jeli nyari Om.”
Di atas ranjang yang berada di dalam kamar, Arlan mengerjabkan mata sembari mengernyitkan dahi. Tak biasanya gadis nakal itu mencari dirinya. “Ada apa? Saya udah punya istri, yang lebih cantik dan lebih sexy daripada kamu. Jangan coba-coba goda saya,” ucapnya.
“Hiii ....” Jelita bersikap seperti orang yang ingin muntah, sesaat setelah mendengar ucapan menggelikan dari Arlan. “Jeli juga enggak mau sama aki-aki!”
“Jangan salah, sekalipun udah aki-aki, Om ini tetap menawan.”
Jelita menghela napas panjang, diiringi desisan dan gerak mata yang memutar. Detik berikutnya, ia kembali berkata, “terserah Om aja deh! Mm ... nanti Om libur? Ini ‘kan hari sabtu.”
“Setengah hari, Cil! Kenapa?”
“Mau makan siang bareng Jeli, enggak?”
Dahi Arlan berkerut samar. “Tumben?”
“Jeli mau konsul sama Om.”
“Hmm ....” Arlan mengusap kumis tipisnya sembari mempertimbangkan jawaban atas permintaan bocah nakal itu. “Boleh, tapi makan siangnya yang enak. Dan kamu yang bayar, ya?”
“Dih! Matre' banget sih?!”
“Mau enggak?”
“Iya, iya, tenang aja! Om mau yang restoran mana? Tapi Om sendiri aja, jangan bawa rombongan. Jeli malu kalau ada yang denger.”
“Iya, iya, terserah kamu. Kirim alamat aja, nanti Om samperin.”
“Oke siap! Kalau gitu Jeli tunggu, tepati janji ya! Assalamu'alaikum, Om!”
“Wa'alaikumssalam.”
Panggilan pun berakhir, sesaat setelah Jelita menekan tombol berwarna merah di layar ponselnya. Senyumnya mulai merekah lagi, bahkan menampakkan gigi-giginya yang putih berbaris rapi. Kemudian, kembali ia jatuhkan tubuhnya untuk merebah. Entah, gara-gara cinta yang tak kunjung dibalas, membuatnya enggan untuk berangkat bekerja. Yang ada di dalam benak gadis itu hanya sosok Reza dan bagaimana cara mendapatkan cinta pria itu.
****
Siang harinya pun datang. Sebuah restoran ternama sudah Jelita singgahi saat ini. Bahkan, hidangan istimewa khas restoran itu sudah tersaji demi menyambut Om Galak alias Arlan. Mungkin untuk dirinya sendiri masih sama layaknya sebelumnya, semangkuk salad sayur dan minuman mineral untuk makan siang.
Jelita menilik waktu pada jam tangan yang ia kenakan. Sudah lima belas menit ia menunggu, tetapi pihak yang ditunggu tidak kunjung muncul. Jelita mulai jenuh. Ya, menunggu memang jenuh layaknya menunggu hati Reza untuk terbuka padanya. Benar-benar membosankan, tetapi enggan untuk meninggalkan.
“Cil!” Arlan pun datang. Langkahnya yang sempat terhenti dilanjutkan lagi sesaat setelah menyerukan nama sebutan untuk gadis designer itu.
Jelita menoleh ke arah Arlan. Bibirnya mengerucut sebab kesal lantaran pria itu baru datang. “Lama banget sih, Om?!” omelnya.
Arlan menarik satu kursi dan menyisipkan diri. Kemudian, ia duduk diiringi tatapan sinis yang diarahkan pada Jelita. “Om ini enggak sekaya kamu, Bocil! Om kerja, masih di tempat orang. Bukan tempat sendiri,” ucapnya.
“Hmm ... yang kaya itu Papa Jeli bukan Jeli. Please deh! Jeli paling sebel kalau disebut-sebut kaya.”
“Iya, iya, jadi gimana? Apa yang mau kamu konsultasi sama Om?” Setelah mengatakan itu, Arlan mulai tergiur akan hidangan di hadapannya. Terlebih, dalam kondisi perut lapar. Tanpa pikir panjang, ia mulai melahapnya.
Jelita menggigit bibir bawahnya. Muncul rasa ragu sebab malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Perihal cara mendapatkan Reza, seperti Arlan mendapatkan Fanni.
“Bilang aja, Om jawab kalau bisa. Percaya sama Om, Om ini pinter,” celetuk Arlan dengan mulut yang masih terisi makanan.
Jelita menghela napas panjang. “Ini soal cara Om dapetin Tante Fanni. Boleh Jeli tahu?”
Gerak bibir Arlan terhenti. Dahinya berkerut samar. Ia menatap manik mata gadis itu. “Kenapa emangnya?”
Jelit berangsur menunduk. “Mm ... Jeli suka sama cowok, Om. Pertama kalinya merasa kayak gini, mungkin dulu pernah cuma dulu Jeli ‘kan gendut, jadi suka-suka aja sama orang. Nah, sama cowok ini beda. Jeli ... Jeli udah berusaha nembak dia tapi dianya enggak mau jawab.”
“Simpel! Berarti dia enggak suka sama kamu, Cil!”
“Enggak, Om!” Tatapan Jelita tajam, juga hatinya menampik ucapan pria 48 tahun di hadapannya itu. “Kelihatan banget kalau dia suka sama Jeli, masalahnya dianya sok jual mahal. Minder mungkin, karena Jeli anak Nur Imran dan cantik ....”
“Hahaha, PD banget kamu, Cil! Tantemu jauh lebih cantik.”
“Ih! Iya, iya karena Om bucin banget sama Tante Fanni. Makanya enggak sadar sama kecantikan Jeli.”
Arlan meredakan tawanya. Ia menatap gadis yang selalu ia sebut sebagai bocah nakal, bahkan kecil itu. Senyum Arlan melebar, tidak habis pikir dengan sikap Jelita yang begitu polos atau memang agak bodoh. Ada syukur yang ia batin dalam hati, sebab setelah sekian lama mengenal Jelita, akhirnya gadis itu tertarik dengan seorang pria.
Beberapa detik kemudian, Arlan melanjutkan aktivitas bersantapnya. Sementara, pikirannya mengenang kisah masa lalunya bersama sang istri. Di mana saat itu, seorang Fanni enggan untuk menerimanya. Di mana Fanni justru terkagum-kagum pada sosok Tuan Muda Celvin Sanjaya. Dan saat istrinya itu masih diliputi rasa minder sekaligus trauma akan kasus pembullyan yang pernah dialami.
Arlan menghela napas. Ia kembali menjatuhkan sendoknya, kemudian berkata, “ya, mendapatkan hati tante kamu itu enggak mudah. Om harus bener-bener tahan sabar dulu itu. Belum lagi menghadapi sifat minderannya. Om dengar kamu suka sama seorang pengacara? Anak dari pelanggan tantemu?”
Jelita berangsur menatap Arlan. Kemudian ia mengangguk pelan sembari berkata, “iya, Om. Tante udah cerita ya?”
“Udah, kita ‘kan demen gibah.”
“Ish! Dosa tahu!”
“Hahaha, Tuhan yang tahu, Cil!” Arlan menyesap air putihnya. Sesaat setelahnya ia kembali menatap Jelita. “Beri waktu buat dia. Dan kamu stop usaha kamu dulu.”
Jelita menelan saliva. “Enggak bisa, Om. Jeli suka kangen sama dia.”
“Om tahu. Tapi, Cil, kalau kamu terlalu berlebihan jatuhnya obsesi bukan suka. Siapa yang tahu kalau dia justru enggak nyaman sekaligus geli sama sikap kamu.”
“Tapi, dia peluk-peluk Jeli, Om. Mana ada jijik sama Jeli?”
“Heh?! Kamu mau dipeluk-peluk sembarangan sama cowok?”
“Mau .... ‘kan Jeli suka sama dia dan Jeli malah pengen dipeluk lagi.”
Senyum Jelita mengembang seiring ingatan perihal rengkuhan yang Reza berikan padanya. Benaknya berpikir liar, gadis itu benar-benar sudah candu.
Sementara, Arlan justru menggelengkan kepala tidak habis pikir. Kata istighfar pun ia ucap sampai beberapa kali. Baginya, Jelita bukan polos lagi melainkan bodoh dan tidak tahu malu. Namun, mengingat ia pernah nakal terhadap istrinya saat masih berpacaran rasanya tidak terlalu mengherankan. Hanya saja, Jelita sebagai pihak wanita kesannya justru lebih liar daripada pihak pria.
“Jangan kayak gitu. Jangan dibiasain, kamu itu anak gadis. Belum pernah pacaran, ‘kan? Jangan seenaknya mau dipegang-pegang sama cowok, Cil! Ya kalau cowoknya bertanggung jawab dan bisa menahan gejolak aneh, kalau enggak gimana? Kamu yang rugi,” ucap Arlan panjang.
Dahi Jelita mengernyit. “Gejolak aneh? Maksudnya yang gimana?” tanyanya.
Arlan memejamkan matanya, sembari menghela napas panjang. “Gejolak aneh itu timbul kalau kamu bikin cowok itu ....” Tak bisa, ia melanjutkan perkataannya yang mengarah pada hal dewasa.
“Apa, Om?!”
“Nikah dulu, baru tahu.”
“Iya, makanya Jeli konsul sama Om, biar bisa dinikahin Kakak itu.”
“Haduh, haduh!” Arlan menepuk jidatnya. “Kata Om, hilang dulu aja. Biar dia tahu rasa, gimana rasanya kalau gadis yang biasanya ngejar tiba-tiba enggak ada. Biar dia sadar butuh kamu apa enggak!”
Jelita menunduk lagi, bimbang. “Jeli yang enggak bisa hilang dari dia, Om.”
“Tahan, Om dulu juga gitu sama tantemu. Karena minder mulu', sampai hampir gagal nikah. Jadi, Om ngilang biar tantemu mikir, biar dia sadar butuh Om apa enggak. Dan yah, butuhlah secara Om kamu ini pesonanya luar biasa. Tapi, ... nyeselnya tantemu jadi sakit gara-gara usaha diet.”
“Tuh, ‘kan!” pekik Jelita. “Kalau Kakak Gembulku juga sakit gimana?! Enggak mau ngilang, Jeli enggak mau!”
Inginku berkata kasar pada gadis ini, batin Arlan. Sementara, kedua tangannya mengepal menahan rasa sabar sekaligus geregetan. Minta konsultasi macam apa? Sedangkan diberikan nasehat dan saran saja, gadis itu enggan menerima.
Namun, senyum Arlan menjadi melebar beberapa detik kemudian. Menatap gadis yang sempat frustasi menjadi ceria bahkan dengan ambisi seperti itu, rasa syukurnya diucapkan lagi. Tentu, untuk Jelita yang sudah bisa berubah, tak lagi seperti dulu.
Sayangnya, perasaan lega Arlan tiba-tiba berubah gusar ketika menyadari bahwa hidangan yang Jelita santap sejak tadi hanyalah sayur-sayuran.
“Cil? Kamu kenyang makan kayak gitu? Masih diet? Kamu udah terlalu kurus lho,” ucap Arlan.
Jelita menelan saliva. Tak menyahuti pertanyaan itu dan memilih diam.
“Kamu masih takut?”
“....”
“Jeli?”
Jelita menggigit bibir bawahnya. Ia tidak mau membahas hal selain Reza. Terlebih, mengenai traumanya. Ia tidak mau dianggap gila, sekalipun oleh Arlan yang sempat membantu hidupnya.
****
Jangan lupa jempulnya, ya!
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.
bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.