Ketika dua gadis kembar jatuh cinta pada pria yang sama. Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arni, ternyata pertemuan keduanya dengan Agni membuatnya semakin jauh pada Arni. Saat menjelang pernikahannya dengan Agni, Andra mendapat informasi bahwa Agni sedang hamil. Reno asisten pribadi sekaligus sahabat dekat Andra dituduh sebagai ayah dari anak yang di kandung Agni karena kepergok satu kamar bersama Agni dalam keadaan mabuk. Arni yang bercadar terjebak masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya ada Andra di dalamnya membuat Andra harus menikahinya. Kebencian demi kebencian muncul terhadap wanita bercadar yang tidak diketahui Andra bahwa dia adalah wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Arni yang merasa sangat sakit hanya bisa menerimanya. Nasibnya berubah saat Andra mengetahui bahwa wanita di balik cadar itu adalah cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Arni pulang dengan wajah lesu.
"Non kenapa? Ini makan dulu." Ucap Nenti.
"Iya mba makasih. Agni mana?" Tanya Arni.
"Ada non di kamarnya, tadi selesai makan Non Agni masuk ke kamar." Jawab Nenti.
Selesai makan Arni masuk ke kamar Agni untuk membicarakan mengenai perusahaan papanya.
"Dek, kakak boleh masuk?" Tanya Agni sambil mengetok pintu kamar Agni.
"Masuk kak." Jawab Agni dari dalam kamar.
"Ada yang mau kakak bahas sama kamu dek." Ucap Arni.
"Kakak mau bahas apa sih? Kuliah? Aku udah mutusin buat berenti kuliah." Jawab Agni.
"Apa? Kenapa?" Tanya Arni.
"Kak, aku gak mau. Aku pengen seneng-seneng." Jawab Agni polos.
"Dek, tujuan kita kesini buat kuliah. Lagian kamu kenapa sih jadi gak tau waktu dan aturan?" Arni mulai kesal.
"Ayolah kak, ini Amerika. Jangan norak deh ah!" Ucap Agni.
"Dek, asal kamu tahu sekarang perusahaan papa lagi devisit. Pak Hasan nelepon kakak katanya kita harus mengontrol kartu kredit kita." Ucap Arni.
"Apa?" Agni shock.
"Ayolah Dek, ini demi papa." Bujuk Arni.
"Bangkrut dong kita? Aku gak mau jadi orang susah ahh. Aku udah gak mau kuliah lagi. Aku berenti aja. Biar jatah kuliah aku bisa buat jalan-jalan." Ucap Agni.
"Apa-apaan kamu dek?" Arni marah.
"Aku mau berenti kuliah. Aku gak mau." Jawab Agni cuek.
Arni yang sudah sangat kesal keluar dari kamar Agni tanpa pamit dan membanting pintu.
Nenti yang kaget langsung mengikuti Arni ke kamarnya.
"Non, boleh saya masuk?" Tanya Nenti.
"Masuk mba, ada apa?" Ucap Arni.
"Non kenapa? Menurut saya non jangan terlalu mengekang Non Agni, dia malah akan lebih bersikap seenaknya dan semaunya sendiri." Nenti mencoba memberi saran.
"Mba aku takut. Apa mba tahu kalau perusahaan papa devisit 50 persen?" Tanya Arni dengan raut cemas.
Nenti hanya mengangguk.
"Apa kita perlu pindah apartement mba?" Tanya Arni.
"Boleh non, ide bagus." Jawab Nenti.
"Besok aku cari yang lebih sederhana ya mba." Ucap Arni.
Nenti pamit keluar dan meninggalkan Arni sendiri di kamarnya.
Malam yang dingin dan suasana yang sepi menemani Arni di kamarnya. Dia memainkan pulpen di tangannya menunggu Wandi menghubunginya dan memberi kabar baik.
Tring
Sebuah pesan baru masuk ke handphone Arni.
"Hai!" Chat masuk.
"Siapa?" Balas Arni.
"Coba tebak siapa?" Chat masuk.
"Gak tahu." Balas Arni.
"Jangan jutek dong." Chat masuk.
"Bodo Amat." Balas Arni.
"Gak kangen sama aku? Hehe" Chat masuk.
Lama Arni menduga-duga. Apa mungkin dia Andra? Tiba-tiba pikirannya melayang pada pertemuan bahagia yang sangat membuatnya rindu.
"Kok gak bales?" Chat masuk.
"Kak Andra?" Tanya Arni.
Kriiiing
Panggilan masuk dari nomor yang sama.
Arni sudah tersenyum lebar berharap kalau yang menghubunginya benar-benar Andra.
"Hallo." Ucap Arni.
"Siapa kak Andra? Pacar kamu ya?" Suara di balik telepon itu mengagetkan Arni.
"Kak Wandi?" Arni benar-benar terkejut.
"Ko gak di jawab? Pacar kamu?" Tanya Wandi.
"B.. Bukan Kak." Jawab Arni.
"Lalu siapa?" Tanya Wandi.
"Temen lama kak." Jawab Arni.
"Ah aku jadi gak mood. Tadinya aku mau ngobrolin tentang beasiswa itu." Ucap Wandi.
"Kak ayolah maafin aku, aku bener-bener butuh." Ucap Arni.
"Kalau kamu mau tahu, sebagai ganti mood ku besok kamu ke kampus bawakan aku sesuatu yang bisa mengubah mood ku." Tantang Wandi.
"Siap kak, besok aku ke kampus nemuin kakak. Makasih banyak ya kak." Ucap Arni.
"Ok, sampe ketemu besok ya!" Wandi mengakhiri teleponnya.
Arni mendekap handphonenya dan menutup mukanya. Malu rasanya sudah penuh percaya diri menyangka bahwa Andra merindukannya.
Sedangkan di sana, Andra memang benar-benar rindu padanya. Hanya saja Andra terus menghubungi Agni yang dia kira Arni. Handphone Agni yang masih belum baik, membuat Andra berpikir kalau Arni sengaja tidak mau dihubungi.
"Gue balik duluan ya!" Andra pamit pada Reno yang masih membereskan berkas-berkas.
"Buru-buru banget yang ada nona cantik di rumah." Goda Reno.
"Sialan Lo. Dia gak ada di rumah gue." Jawab Andra santai.
"Kok bisa?" Tanya Reno.
"Gue bilang malem ini gak bakalan pulang makanya dia minggat. Hahhaha" Jawab Andra dengan puas.
"Cowok cerdas. Bisa banget ya ngerjain anak Singa." Ucap Reno.
"Kecil. Lo kayak gak tahu gue aja." Andra menyombongkan diri.
"Iya pak bos Andra Atma Geraldo." Ucap Reno sambil menunduk hormat meledek Andra.
Andra pergi meninggalkan kantornya untuk kembali ke rumahnya. Seperti dugaan Andra, Lexa pergi dari rumah.
"Bi, siapkan makan malam ku! Aku mau makan di kamar." Perintah Andra.
"Siap Tuan, segera saya antarkan." Jawab Noni.
"Saya mau nasi goreng." Pinta Andra.
"Baik Tuan, akan saya buatkan." Ucap Noni.
Andra menaiki tangga masuk ke kamarnya. Dia membuka dasinya dan merebahkan tubuhnya. Malam ini Andra sedang merindukan ibunya.
Tak lama Noni mengantarkan makan malamnya. Setelah mandi, Andra langsung melahap makan malamnya. Sedikit rindunya mulai terobati dengan nasi goreng.
Selesai makan Andra mengambil handphone dan menghubungi Arni, apa daya sampai saat ini masih belum ada jawaban. Nomornya masih tidak aktif.
Andra sudah mulai pasrah dan menyerah bahkan sampai berniat akan melupakan Arni karena merasa kecewa.