SEOLAH SEMUA INI MIMPI!!
YA, INI PASTI HANYA MIMPI!
Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa aku sudah berubah status dari gadis biasa menjadi seorang istri pria tua buruk rupa yang lebih pantas kupanggil paman atau bahkan ayah!!
Namun sial!
Nasibku sejak lahir tidak sebaik nasib kedua kakakku yang cantik jelita dan disayang Ayah dan Ibu. Kelahiran ku tidak pernah direncanakan. Katanya saat aku lahir seluruh bisnis keluarga kami hancur berantakan. Padahal bukan kesalahanku, tapi mereka (ayah,ibu, kedua kakak bahkan sampai nenek buyutnya pamanku) menyebut aku sebagai anak pembawa sial.
Selama tujuh belas tahun hidup, aku diasingkan di gubuk tua yang jauh di belakang rumah. Dan hebatnya, saat aku diasingkan, bisnis keluarga kami kembali membaik. Apa mungkin aku benar benar seorang pembawa sial?
Kesialan itu tidak berakhir, hingga aku dipaksa menikahi seorang pria tua yang datang ke rumah untuk melamar. Kenapa aku dipaksa? padahal aku anak kandung mereka juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 Satwa Liar
Sementara itu, di kediaman keluarga Falcon, tampak suasana tegang memenuhi ruangan keluarga.
Tuan Baron menatap tajam ke arah putra keduanya yang dengan santainya duduk di sofa tanpa merasa kalau cara bicaranya beberapa saat lalu sudah menyalahi aturan.
Jelas Ruby adalah anggota keluarga Falcon, tetapi Gama malah menyebutnya sebagai orang luar. Bahkan orangtuanya sendiri tidak mengatakan hal bodoh itu, karena mereka menerima Ruby dengan tulus, tetapi setelah pernikahannya selesai, Gama mulai menunjukkan sikap keras kepalanya!
"Apa apaan sikapmu tadi!?" senggak tuan Baron.
Gama melirik pun tak mau," Bukankah sudah jelas ucapanku? Jangan membicarakan masalah keluarga Falcon dengan orang luar!" tukas Gama seraya menatap sang ayah dengan tatapan tajam yang sama.
"Orang luar!? Dia istrimu Gama!" ucap tuan Baron.
"Apa kau tidak paham perkataan Papa!? Istrimu bukan orang luar, dia berhak tahu segala sesuatu yang terjadi pada keluarga ini!!" ketus tuan Baron.
"Cih... Sudah ku bilang dia bukan bagian keluarga ini!! Istri dari Gamaliel Falcon hanyalah Kiara Peter seorang!" tukas Gama dengan nada tegas dan jelas.
"GAMALIEL!!" kali ini tuan Breta yang membuka suara.
Tampak jelas kekecewaan di sorot mata pria yang berusia hampir satu abad itu.
Dia menatap cucunya dengan tatapan penyesalan karena memaksa Gama menikah sampai terjadilah hal seperti ini.
"Kenapa Kakek!? Bukankah aku sudah menikah seperti keinginan kalian!? "
"Ini kan yang kalian mau!? Aku menurut dan memilih pasangan sendiri, bukankah itu cukup!? Jangan lagi mencampuri urusanku!" tegas Gama tanpa ada rasa menyesal mengatakan kata-kata itu.
"Sudah ku bilang, aku akan mencari siapa pembunuh Kiara dan membunuhnya dengan tanganku sendiri!! "
"tidak seorang pun dari kalian sanggup menghentikan aku!! Ingat ini, jangan mencampuri urusan rumah tanggaku lagi, semua kacau karena campur tangan kalian, Kiara mati karena campur tangan kalian juga!!!" pria itu berteriak marah, melampiaskan emosinya dan melemparkan semua kesalahan itu pada keluarganya.
Tuan Breta dan tuan Baron sangat syok mendengar ucapan pria itu. Mereka menatap Gama dengan tatapan tak percaya.
Di sisi lain, Johan sudah menahan amarahnya. Semua perkara sembrono yang keluar dari bibir Gama membuatnya naik darah.
"Keparat sialan, kalau kau menikah untuk main-main lebih baik kau lepaskan gadis malang itu bodoh!!!" Johan menarik kerah baju adiknya dan...
Bughh!!!
Dia melayangkan satu pukulan telak tepat di wajah Gama dan berhasil melukai bibir pria itu.
"Apa hakmu mengurus urusanku Johan, rumah tanggamu saja hancur karena keras kepala..." Seketika perkataan Gama terhenti saat tuan Baron sendiri yang melayangkan pukulan pada putra keduanya yang sudah gelap mata itu.
"Bodoh, kenapa kau berbicara seperti itu pada kakakmu Gamaliel Falcon!!" habis sudah kesabaran tuan besar Baron.
Tangannya mengepal kuat, dia menatap Gama dengan wajah kesal. Siapa sangka Gana yang bersikap sangat patuh dan mudah tersenyum beberapa hari belakangan ternyata menyimpan udang di balik batu.
"Apa rencanamu!? Apa yang kau pikirkan Gama!?" tanya Johan. Kali ini dia angkat bicara.
Gama hanya menatap mereka dengan tatapan dingin, sama persis dengan tatapannya beberapa tahun lalu, ketika penyelidikan terhadap kecelakaan yang dia dan mendiang istrinya alami.
Padahal Gama sebelum nya adalah sosok yang sangat ramah, murah senyum, lembut dan juga pria yang disukai banyak orang.
Tetapi setelah kejadian itu dia berubah drastis menjadi iblis bermuka dua.
"Aku akan menemukan pembunuh istriku!! Akan ku bunuh dia dengan tanganku sendiri!!! Satu pun dari kalian tidak boleh ikut campur jika tidak ingin melihatku mati menyusul Kiara!!" tegas Gama.
Mereka semua tahu betapa Gama mencintai mendiang istrinya, dan hari ini kegilaan Gama semakin merajalela.
Ancamannya itu membuat mereka takut kehilangan Gama, tetapi di sisi lain tak ingin seorang gadis polos menjadi korban atas keegoisan Gama.
"Tapi Gama, kau bisa kan tidak memanfaatkan gadis kecil itu!? Dia tidak tahu apa-apa!!"
"Dia sudah melewati kehidupan yang menyakitkan!! Apa kau mau menambah penderitaan nya!?" tanya Johan tak setuju dengan pemikiran liar adiknya.
Gama berdecih, menatap remeh pada Johan yang sebenarnya tak ada bedanya dengan dirinya.
"Cih... Jangan sok suci Johan!" umpat Gama.
"Justru dengan latar belakangnya yang seperti itu lebih mudah memanfaatkan dia, di bukan anak yang disayangi keluarganya, juga bukan anak yang diharapkan!!"
"Setelah bertemu denganku bukankah hidupnya sedikit berguna!? Kalaupun dia jadi korban, tak akan ada yang bersedih!!" ucap Gama dengan wajah tebalnya.
Dia sudah membulatkan tekadnya memanfaatkan Ruby yang tidak memiliki siapapun.
"Kejam!! Kau manusia yang kejam Gama!!!"
Mereka tidak habis pikir dengan pikiran Gama. Ingin mereka mencegah Gama, tetapi ancaman pria itu tidak main-main.
Dalam kondisi ini, dia bisa saja melakukan hal nekad dan memilih menyusul mendiang istrinya daripada dia harus hidup dengan rasa bersalah.
Gama menghukum dirinya sendiri, menilai bahwa dia lalai melindungi orang yang sangat dia cintai, menilai bahwa dirinya tidak pantas hidup bahagia.
Jika mengorbankan orang lain akan memuaskan dendamnya, maka dia akan melakukan itu tak peduli seorang gadis tak bersalah menjadi korban.
Tanpa seorang pun menyadari, Ruby mendengar semua pembicaraan mereka.
Gadis itu berdiri dengan wajah datar menatap ke arah Gama, pria bermuka dua yang tak ada bedanya dengan keluarga Magenta.
Dia menatap Gama, entah apa yang sedang gadis itu pikirkan. Di sampingnya ada nyonya Mita yang menunduk malu dan tak kuasa menahan tangisnya atas sifat keras kepala putranya.
"Maaf Ruby, kamu boleh memilih setelah mendengar semua ini, Mama tidak masalah nak," ucap nyonya Mita.
Ruby menatap seluruh keluarga Falcon yang penuh dengan masalah.
Dia melihat ketulusan seorang Ibu yang berharap putranya berubah. Dia melihat tatapan frustasi seorang ayah yang tak ingin anaknya jatuh dalam dosa besar.
Dia melihat kesedihan seorang pria hampir berumur seabad tetapi harus mendengar dendam tak berujung dari mulut cucunya.
Di merasakan kegelisahan seorang kakak yang takut adiknya jatuh dalam buaian balas dendam dan kehancuran seorang gadis kecil karena keluarga yang berantakan.
Ruby menarik semua beban itu pada dirinya, menanyakan pada alam apakah masih ada kesempatan bagi keluarga itu untuk berubah?
Dia mencari jawabannya dari keluarga Falcon itu sendiri.
Dia hanya berdiam diri, tak mengatakan satu patah kata pun hingga dia menatap ayang tuan Breta lakukan.
Pria tuan itu turun dari kursi rodanya lalu menatap Gama dengan wajah memelas," Gama... Kakek Mohon! Sadarkan dirimu!!!" ucapnya.
"Kiara sudah lama meninggal, dan kau masih terjebak di cerita lama, Kami hanya ingin kau bahagia, bukan hidup tidak jelas seperti ini!!" ucap pria itu dengan nafas terengah-engah.
"Kakek, jangan paksakan dirimu!" Johan merangkul sang kakek dengan tatapan khawatir.
" Aku menjalani hidup yang sangat jelas Kakek, aku harus menemukan pembunuh istriku!!! Sampai saat itu terjadi, Gama yang dulu tidak akan pernah kembali!!" tegas pria itu.
"Papa mohon nak, jangan begini, kau hanya menyakiti dirimu sendiri, apa gunanya kau menghukum dirimu!!" imbuh tuan Baron tak habis pikir.
"Biarkan Pa!!"
"Aku memang layak mendapatkan ini!!! Aku tidak bisa menjaga istriku!! Aku pantas di hukum!!" ucap Gama.
"Lalu apa Ruby pantas kau jadikan alat balas dendam mu Gamaliel Falcon!!!" senggak Johan dengan emosi membludak.
Siapa yang tidak kesal menghadapi sikap keras kepala pria itu. Bahkan keluarganya sendiri tak dia hiraukan.
"Pantas!! Sangat pantas, karena dia tidak punya keluarga yang menyayanginya, hidupnya hanya sebagai alat, lebih baik dia ku gunakan!!" ucap Gama dengan lantang.
Tiba-tiba...
Plak!!!
Sebuah tamparan keras akhirnya meledak dan membuat pipi Gama membengkak dan memerah.
Semua orang terdiam membisu menatap perempuan yang dengan berani menampar wajah bertopeng Gamaliel Falcon itu.
"Aduh, tanganku reflek paman!! Gatal pengen nampol satwa liar!!"
" Maaf kalau itu menyakiti wajahmu!!!" ucap Ruby seraya menggoyangkan tangannya sambil meniupnya karena rasa sakit setelah memukul wajah Gama.
Deghh!!!
Seluruh anggota keluarga Falcon terdiam membeku. Wajah Tuan Baron dan tuan Breta tak tahu lagi mau ditaruh ke mana. Johan tercengang, nyonya Mita menangis sedih, sedang Gama terbujur kaku sambil menatap Ruby yang tiba-tiba muncul di hadapannya.