Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekerja
Hari ini adalah hari pertama Nadira bekerja setelah kemarin melakukan interview dan dinyatakan bahwa ia diterima. Dari pukul lima ia sudah bersiap, dari mulai mandi hingga memeriksa kembali barang bawaannya. Ia ingin di hari pertamanya bekerja tidak ada kesalahan sedikitpun.
Sekarang jam sudah sudah menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, itu artinya ia harus berangkat sekarang sekalian ia juga ingin menghirup udara pagi kota Jakarta yang belum ada polusi dari kendaraan. Anaknya masih tertidur pulas, semalam ia tidur sedikit lambat karena menonton kartun kesukaannya bersama Meysa tanpa melihat waktu.
"Sus, saya berangkat sekarang ya, saya titip Alta, kalau ada apa-apa langsung hubungin saya," ujar Nadira sambil memakai sepatu kerjanya.
"Baik bu, hati-hati di jalan," balas Sus Rani sambil tersenyum.
Ternyata rumah suster Rani berada tidak jauh dari kawasan apartemennya, jadi saat Nadira memintanya untuk datang lebih cepat dari biasanya suster Rani tidak masalah. Setelah berpamitan wanita itu melangkahkan kakinya keluar gedung apartemen sambil mengutak-atik handphonenya untuk memesan ojek online.
Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya ojek online pesanannya sudah datang. Nadira sangat menikmati perjalanan menuju kantornya. Belum banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga ia bisa menghirup udara segar yang sudah ia bayangkan sedari tadi.
Kantor terlihat masih sepi ketika ia baru datang, ia hanya melihat satpam saja di depan. Selebihnya ia tidak melihat siapapun lagi, mungkin memang benar ia yang terlalu pagi datangnya.
"Loh mbak, pagi sekali datangnya? Ada kerjaan yang belum selesai kemarin?" tanya satpam itu ketika Nadira akan melewat di hadapannya.
"Enggak pak, ini hari pertama saya bekerja jadi gak boleh telat kan pak," jawab Nadira disertai senyum manisnya
"Owalah, yang kemarin direkrut sama pak Gabriel toh. Walaupun hari pertama kerja tapi gak pernah ada yang datang sepagi ini, cuman mbak yang datang sepagi ini."
Nadira baru tahu jika nama CEO tempatnya bekerja atau orang yang kemarin mewawancarainya bernama Gabriel. Ia harus mencari tahu tentang tempatnya bekerja di hari pertama ini.
"Gapapa pak, udara pagi kan baik, apalagi belum banyak kendaraan gini, jadi sejuk. Oh iya pak, ini belum ada yang dateng sama sekali ya pak?" tanyanya
"Tadi sih saya liat sudah ada dua mobil masuk, sepertinya mereka belum menyelesaikan pekerjaan kemarin."
"Kalau begitu saya masuk ke dalam ya pak, sekalian mau kenalan dulu sama gedung kantor ini."
"Silahkan mbak, semangat ya kerja hari pertamanya."
"Terima kasih pak, bapak juga semangat kerjanya. Mari pak," pamitnya yang segera berlalu dari hadapan satpam itu.
Berbicara sebentar dengan satpam yang menjaga kantor tempatnya bekerja mengingatkan ia pada mendiang papanya. Rindunya sedikit terobati, ia harus segera mengunjungi mama dan papanya. Sepertinya umur satpam itu juga hampir sama dengan papanya, ia jadi lupa menanyakan namanya karena keasikan mengobrol.
Kakinya melangkah menuju lift khusus karyawan. Saat ia bertanya tadi, ia langsung disuruh menuju lantai paling atas yang dimana kemarin ia pun di interview disana. Satu kata yang menggambarkan lantai itu sekarang, sepi. Sampai membuat Nadira ragu untuk melangkahkan kakinya lebih jauh.
Mendengar sedikit suara gaduh, ia segera menghampiri asal suara tersebut. "Permisi mbak, mbak gapapa?" tanya Nadira setelah menemukan asal suara gaduh tadi.
Orang yang dihampiri oleh Nadira terlonjak kaget. "Astaghfirullah, aduh, kirain saya setan yang nanya," ujarnya
Nadira tersenyum menampilkan giginya. "Maaf mbak, tadi saya denger suara gaduh jadi saya liat kesini. Mbak gapapa? Ada yang saya bantu gak mbak?" tanyanya lagi
"Saya gapapa, makasih loh udah perhatian. Saya juga udah nemu berkas yang saya cari. Btw, pegawai baru ya?"
"Iya mbak, nama saya Nadira, mohon bantuannya ya mbak, saya gak tau apa-apa disini, makanya daritadi celingukan," kata Nadira sambil mengulurkan tangannya.
Seseorang yang belum ia ketahui namanya itu membalas uluran tangannya. "Saya Nindi, sekertaris pak Gabriel. Pokoknya lo tenang aja, gue bakal bantu lo sampai lo terbiasa," jelasnya
"Sekertaris?" tanya Nadira dengan bingung, seingatnya ia kemarin di interview untuk posisi sekertaris, dan jika tidak salah nama CEO perusahaan ini adalah pak Gabriel.
"Lo bingung kan? Sama gue juga, nanti lo tanya aja sama orangnya langsung. Oh iya, kalau lagi berdua ngomongnya biasa aja ya, gak usah pake saya saya lagi, ribet," pinta Nindi yang di iyakan oleh Nadira
Saat akan kembali bertanya Nadira melihat Nindi sedikit membungkukkan badannya sehingga ia menoleh penasaran. "Selamat pagi pak," sapa Nindi kepada orang yang baru saja dilihatnya
Ketika Nadira sudah memastikan siapa yang dilihatnya, ia langsung ikut membungkukkan sedikit badannya. "Selamat pagi pak."
"Pagi," balas Gabriel lalu menatap keduanya secara bergantian, "kalian berdua, masuk ke ruangan saya," lanjutnya
Ya, yang baru saja datang adalah Gabriel, manusia dingin di kantor tapi banyak omong di hadapan teman temanya. Nadira dan Nindi segera mengikuti langkah besar bos nya itu.
"Nadira, selamat bergabung di perusahaan ini. Semoga kamu betah disini, nanti selesai jam istirahat Nindi akan membawa kamu keliling kantor ini," jelas Gabriel setelah mendudukkan dirinya di kursi kebanggaannya.
"Baik pak," jawab kedua wanita itu secara bersamaan.
"Ada yang ditanyakan Nadira?" tanya Gabriel
Nadira bepikir sebentar lalu terlintas satu hal yang mengganjal di pikirannya. "Saya tidak tau ini penting atau tidak, saya ingin menanyakan posisi saya di kantor ini sebagai apa ya pak? Sedangkan bapak sudah memiliki sekertaris?" tanyanya
Jika sekarang ia akan dimarahi, salahkan saja Nindi yang menyuruhnya untuk bertanya langsung kepada bos nya.
Gabriel menghela nafas sejenak. "Sebenarnya saya membutuhkan personal asisten, tapi karena sekarang sedang banyak sekali projek jadi kamu saya tugaskan sementara untuk membantu Nindi. Ada yang mau ditanyakan kembali?" tuturnya
Meski Nadira sama sekali tidak paham tapi ia tidak ingin merusak hari pertamanya bekerja dan merusak mood bos nya di pagi hari ini. "Tidak pak," ujar wanita itu sambil menggelengkan kepalanya
"Baik. Nindi, nanti kamu ikut saya untuk meeting jadi cek kembali berkas yang akan dibawa. Nanti kamu berikan Nadira file yang seharusnya kamu kerjakan hari ini, untuk disusun ulang agar rapih saat laporan nanti. Seperti yang saya katakan tadi, setelah istirahat kamu ajak Nadira berkeliling untuk melihat kantor. Paham?"
Nindi mengangguk patuh. "Paham pak."
"Kalian bisa keluar sekarang dan mulai kerjakan pekerjaan kalian agar cepat selesai."
Kedua wanita itu buru-buru meninggalkan ruangan Gabriel. Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Nadira dan menurutnya itu perlu ditanyakan.
"Kalau mau tanya jangan sekarang, oke. Nanti kalau lo mau tanya apapun gue akan jawab, sekarang kita kerjain dulu tugasnya sebelum yang di dalem ngamuk," ujar Nindi seolah tahu jika Nadira akan bertanya.
Setelah diberikan file yang dimaksud tadi oleh Nindi, Nadira segera melakukan tugas yang diperintahkan. Ia berharap hari pertamanya dan hari selanjutnya akan berjalan dengan lancar. Dan satu hal yang sepertinya ia patut syukuri pagi ini, ia mendapatkan teman kerja yang baik.