Mimpi dan cita-cita harus terbang begitu saja bagai layangan putus, saat pujaan hati mengatakan jika sedang hamil. Lalu bagaimana bisa Elza bertanggung jawab atas semua yang terjadi, sedangkan keduanya masih berstatus siswa SMA. Menikah adalah solusi terakhir yang diambil kedua belah pihak keluarga setelah kehamilan tersebut diungkap oleh pihak sekolah.
Lantas, mampukah Elza dan istrinya mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang sangat muda ini? Mampukah mereka menjadi orang tua yang baik untuk anaknya nanti? Atau justru mereka gagal menjadi orang tua karena masih terlalu muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluhan Dua Wanita
Semilir angin pengantar senja mulai berhembus mesra. Rona jingga perlahan hadir di cakrawala, mengiringi sang raja sinar menuju singgasana. Suasana di komplek perumahan tempat tinggal Benny mulai ramai, karena beberapa orang memilih bercengkrama di sepanjang jalan yang ada di depan rumah. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menikmati sore dengan bertemu tetangga, karena setiap pagi mereka bekerja dan melakukan aktivitas lainnya.
"Tarik, El! Tarik!" teriak beberapa orang yang sedang menemani Elzayin bermain layang-layang.
Liburan di malang telah berlalu dua minggu yang lalu. Kedua sejoli itu pun semakin harmonis dan tentunya romantis. Seperti sore ini, Yollanda dengan telaten menyuapi Elzayin yang sedang bermain layang-layang bersama beberapa tetangga.
"Kamu harus menang kali ini, El! Jangan sampai kalah dengan Putra!" ujar Yollanda sambil mengamati layang-layang yang sedang terbang di atas awan.
"Minggir dulu, La! Aku udah kenyang!" Elzayin sedang berusaha menarik ulur layangannya karena tidak mau kalah dengan Putra.
Permainan itu terus berlanjut hingga Elzayin lah yang menjadi pemenangnya. Dia tertawa lepas karena berhasil memenangkan permainan ini. Para tetangga pun ikut bersorak saat Elzayin memenangkan permainan anak-anak itu.
"Ternyata kamu belum lupa cara bermain layang-layang, El. Aku kira udah gak mahir setelah jadi bapak muda," seloroh Putra sambil menggulung benangnya.
"Ck. Jangankan bermain layang-layang. Bikin anak aja aku bisa, Put," timpal Elzayin dengan diiringi tawa lepas. Mereka berdua adalah teman di masa kecil sehingga bercanda pun cukup bebas.
"Ya ya ya ya. Kalau untuk itu memang kamu yang paling hebat di komplek ini," jawab Putra sambil menatap Elzayin sekilas.
Suara gelak tawa terdengar di sana. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah para anak muda itu. Mereka melepas penat dengan bercengkrama setelah seharian penuh melakukan aktivitas masing-masing.
Sementara itu di teras rumah ada Fina dan Benny yang sedang duduk santai sambil mengamati anak dan menantunya. Mereka mengembangkan senyum bahagia tatkala mengamati situasi yang ada jalan komplek. Sesekali Benny mengajak ngobrol Rizhan yang ada di atas pangkuan Fina.
"Terkadang aku masih menganggap Elza itu seperti anak kecil, tetapi setelah melihat Rizhan, aku kembali sadar jika anak kita sudah bisa membuat anak sendiri. Ya Allah," gumam Fina seraya mengembangkan senyum manis.
"Iya juga, Ma. Ya, tetapi memang kenyataannya seperti itu, dia belum tujuh belas tahun. Masih remaja yang sedang mencari jati diri," balas Benny sambil mengamati Elzayin.
"Untung saja dia bukan playboy seperti kamu," sarkas Fina sambil tersenyum smirk.
"Gak usah mengungkit masa lalu. Nanti marah- marah gak jelas. Inget tuh ada cucu!" Benny berdecak kesal setelah mendengar sarkasme sang istri.
Pada akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah setelah sang raja sinar hampir sampai di singgasana. Tak lama lagi adzan magrib pasti berkumandang di segala penjuru komplek. Sudah menjadi kebiasaan di sana di kala menjelang magrib semua masuk ke dalam rumah.
...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...
Suara tangis Rizhan menggema di dalam kamar tatkala Yollanda beranjak dari tempat tidur. Rupanya bayi berusia delapan bulan itu tidak mau ditinggalkan oleh ibunya. Tangisnya tak kunjung reda sampai Yollanda kembali ke tempatnya. Padahal, ibu muda itu ingin membuatkan susu untuk Rizhan.
"El, tolong buatkan susu dong. Ini si Izhan gak mau ditinggal," pinta Yollanda sambil menoleh ke arah sofa yang ditempati Elzayin saat ini.
Tanpa banyak bicara lagi, Elzayin bergegas mengambil botol susu dan segera keluar dari kamar. Suasana di lantai dua terasa sunyi sepi karena saat ini penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas malam. Jelas penghuni rumah ini sudah beristirahat di kamar masing-masing.
"Pintu belakang kok masih terbuka ya? Apa Papa dan Mama masih di belakang?" gumam Elzayin setelah sampai di dapur. Dia berjalan menuju pintu penghubung ke teras belakang untuk memastikan keadaan.
Langkah pemuda tampan itu harus terhenti tatkala mendengar suara kedua orang tuanya di sana. Mungkin karena penasaran, pemuda tampan itu tiba-tiba saja mencari tempat untuk mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya. Dia berusaha keras mendengarkan keluh kesah yang sedang disampaikan oleh ibu sambungnya itu.
"Aku harus bagaimana ya, Pa? Kalau aku mengingatkan Olla, takut dia tersinggung, tetapi kalau tidak diingatkan dia tidak tahu waktu. Aku capek loh, Pa, kalau seharian penuh menjaga Rizhan. Kalau Olla repot sih gak masalah, tetapi kalau di kamar terus sambil main handphone, ya gimana?"
"Sabar. Kalau capek istirahat dulu. Serahkan Rizhan ke Olla. Masa iya dia gak mau menjaga Rizhan sama sekali?"
"Ya Allah, Pa, terkadang ini ya, pas Mama tinggal sholat dzuhur saja, belum selesai Mama sholat, si Rizhan udah nangis kejer. Tahu sendiri kan kalau cucu kita itu gak mau dicuekin. Dia maunya diajak interaksi, diajak bermain gitu. Kalau sama Olla mah digendong aja, tetapi dia sibuk dengan ponselnya."
"Ya nanti coba bicara pelan-pelan. Memang agak susah momong mantu itu, Ma. Sini pundaknya biar Papa pijat,"
Semua pembicaraan di antara Fina dan Benny berhasil membuat Elzayin terkejut. Dia segera berlalu dari sana dan mengayun langkah menuju dapur untuk membuat susu. Semua penjelasan dari Fina yang tak sengaja didengar itu pun berhasil mengusik pikirannya.
"Apa iya setiap hari Olla seperti itu? Padahal setiap malam dia ngeluh capek karena seharian menjaga Rizhan. Lalu yang benar yang mana?" batin Elzayin sambil menunggu air hangat.
Ada rasa iba yang hadir dalam hati setelah mendengar keluh kesah ibu sambungnya. Selama belasan tahun hidup bersama Fina, baru kali ini Elzayin mendengar Fina mengeluh. Pemuda tampan itu menjadi bingung karena hal ini.
"Aku harus tahu apa sebenarnya yang terjadi saat aku tidak ada di rumah," gumam Elzayin setelah selesai membuat susu untuk Rizhan.
Pemuda tampan itu kembali ke kamar dengan membawa sebotol susu untuk Rizhan. Dia termenung di depan pintu sambil mengamati Yollanda yang sedang berusaha turun dari tempat tidur. Sepertinya wanita cantik itu ingin kabur dari Rizhan yang sedang terlelap.
"Hah! Akhirnya si Izhan pulas juga," gumamnya dengan suara lirih saat menghempaskan diri di atas sofa.
Elzayin pun ikut duduk di sana setelah meletakkan botol susu Rizhan di atas meja. "Kenapa dia mendadak rewel gitu? Padahal biasanya enggak," tanya Elzayin seraya menatap Yollanda.
"Ya mungkin dia lagi ingin dimanja, El," jawab Yollanda sambil mengubah posisi, "pijitin pundak dan tanganku dong, El. Capek aku. Sekarang Rizhan berat banget lagi," pinta Yollanda sambil mengarahkan tangan kanannya di hadapan Elzayin.
Hampir setiap malam, pemuda tampan itu diminta untuk memijat tangan Yollanda. Dia tidak pernah protes karena menyadari jika menjaga anak memang melelahkan. Apalagi Rizhan sendiri sangat aktif meski dengan kaki yang masih digips. Akan tetapi setelah mendengar keluh kesah ibu sambungnya, Elzayin pun ragu dengan keluh kesah yang disampaikan oleh istrinya.
"Memangnya setiap hari apa sih yang terjadi di rumah ini? Kenapa Mama dan Olla mengeluh capek? Gak mungkin mereka melakukan pekerjaan rumah, karena ada ART juga 'kan?" batin Elzayin sambil memijat pundak Yollanda, "Aku harus mencari tahu," lanjutnya sambil berpikir untuk mencari cara yang tepat.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
eh kita udah berteman pa belum yah, lupa lupa inget 🤭✌lop sekebon terong ❤❤
tak perlu di sesali tapi anggap sebagai pendewasaan diri.
happy end.
Elza Yolanda Rizhan ❤❤
Semangat buat othor,,sehat selalu
Bertanggung jawab pada keluarga..
Menempuh pendidikan tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga
dari kisah Elza Yola byk hal yg bisa dipelajari
terutama utk para org tua 😍🙏
sehat dan sukses slalu thor..ditunggu karya selanjutnya 🥰🥰
Terkadang kita sebagai orang tua akan lebih sakit saat putra putri kita di sakiti orang lain..
semua tak lepas dari Bu Fina sebagai pendamping 🥰🥰
keluarga P Ben - b Fina mmg the best lah 😍😍😍
tapi si emak fina wajar sih msh dongkol.. anaknya dihina, disepelekan..jadi kapan lagi bisa balas tu hinaan 🤭😂😂✌️
Balas dendam terbaik memang dengan sukses
Salut...Salut banget malah..