Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 ~ Penawaran Baru
Usai sarapan, Evelyn berpamitan singkat, lalu keluar dari kediaman Harley. Sesampainya di depan gerbang, ia segera memesan taksi online melalui ponselnya. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya.
"Selamat pagi, Pak," sapa pengemudi itu ramah.
"Pagi," jawab Evelyn singkat seraya masuk ke kursi belakang.
Mobil pun perlahan melaju meninggalkan kediaman Harley. Sepanjang perjalanan, pandangan Evelyn tak pernah lepas dari jendela. Pikirannya dipenuhi begitu banyak hal. Kehamilannya. Keberangkatannya ke London. Dan... misi terakhir yang baru saja diberikan sang ayah. Entah mengapa, dadanya terasa semakin sesak setiap kali membayangkan harus berhadapan dengan Damian pagi ini.
Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan gedung Foster Group. Evelyn membayar ongkos perjalanan, lalu turun sambil membawa tas kerjanya. Ia mendongak menatap gedung megah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bekerja sebagai sekretaris Damian Foster. Perasaan berat tiba-tiba menyelimuti dadanya. Mungkin... ini benar-benar hari terakhirnya menginjakkan kaki di tempat itu.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah memasuki lobi.
"Selamat pagi, Tuan Evan," sapa beberapa karyawan yang berpapasan.
"Selamat pagi," balas Evelyn sambil melemparkan senyum tipis.
Ia terus berjalan menuju lift hingga akhirnya tiba di lantai paling atas. Baru saja hendak meletakkan tas di atas meja kerjanya, sebuah suara memanggil dari belakang.
"Evan!"
Evelyn menoleh. Haris berjalan menghampirinya sambil membawa beberapa map di tangan.
"Syukurlah kau sudah datang," ucap Haris. "Perwakilan perusahaan dari Singapura sebentar lagi tiba. Tuan Damian sudah menunggumu di ruang kerja."
"Baik, aku akan segera menemuinya," jawab Evelyn.
Haris mengangguk pelan. "Kalau begitu aku ke ruang rapat dulu. Masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan," jelasnya sebelum berlalu meninggalkan ruang sekretaris.
Setelah memastikan Haris benar-benar pergi, Evelyn mengembuskan napas pelan. Ia menyalakan komputer kerjanya, lalu membuka surel yang baru saja masuk.
Pengirimnya adalah orang kepercayaan Nyonya Chatarina. Isinya hanya satu lampiran, yaitu surat pengunduran diri. Evelyn segera mengunduh berkas itu dan menyimpannya ke dalam folder pribadinya. Surat tersebut belum ia cetak. Masih ada satu tugas yang harus ia selesaikan sebelum meninggalkan Foster Group.
Setelah mengunduh surat pengunduran diri, ponsel Evelyn bergetar.
Sebuah pesan dari orang kepercayaan Tuan Harley masuk.
["Evan. Berikan datanya."]
Evelyn memejamkan mata sejenak. Ia membuka kembali map penawaran yang semalam ia simpan di memorinya.
Dengan cepat ia mengetik angka-angka penting yang masih diingatnya, lalu mengirimkannya menggunakan aplikasi yang langsung menghapus percakapan beberapa detik setelah terkirim.
Beberapa saat kemudian muncul balasan.
"Diterima."
Evelyn menghapus seluruh riwayat percakapan, lalu mematikan ponselnya.
Namun tepat saat ia baru saja akan mematikan layar komputer, interkom di atas mejanya berbunyi.
"Evan," panggil Damian dari seberang.
"Ya, Tuan," sahut Evelyn sigap.
"Masuk."
"Baik, Tuan," jawab Evelyn seraya bangkit dari kursinya.
Sesampainya didepan ruangan Damian, Evelyn langsung mengetuk dan membuka pintu tersebut perlahan.
"Evan. Masuk."
"Baik, Tuan," jawab Evelyn patuh sebelum melangkah memasuki ruang kerja Damian.
Ruangan itu masih sama seperti biasanya. Rapi, tenang, dan dipenuhi aroma kopi hitam yang samar. Damian berdiri di depan jendela kaca besar sambil membolak-balik beberapa lembar dokumen. Mendengar suara langkah kaki Evelyn, ia perlahan menoleh.
"Kondisimu sudah membaik?" tanya Damian singkat.
"Sudah jauh lebih baik, Tuan," jawab Evelyn sopan.
Damian mengamatinya beberapa saat. Wajah sekretarisnya itu memang masih tampak sedikit pucat, tetapi pria itu memilih tidak berkomentar lebih jauh.
"Bagus," ucapnya datar.
Ia kemudian menyerahkan sebuah map berwarna biru tua ke tangan Evelyn.
"Dokumen final kerja sama dengan perusahaan Singapura," jelas Damian. "Kau yang menyusun revisinya kemarin. Periksa sekali lagi. Aku tidak ingin ada satu halaman pun yang tertukar."
"Baik, Tuan," sahut Evelyn sambil menerima map tersebut.
Tangannya terasa sedikit gemetar saat membuka halaman pertama. Namun bukan karena ia belum mengetahui isinya. Justru sebaliknya. Seluruh angka, nilai penawaran, hingga batas akhir negosiasi masih melekat jelas di dalam ingatannya. Semalam, ia sendiri yang mengetik setiap perubahan sesuai arahan Damian.
Damian kembali duduk di kursinya sambil menandatangani beberapa berkas lain.
"Lima belas menit lagi mereka tiba," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Setelah semua hadir, rapat langsung dimulai."
"Baik, Tuan," jawab Evelyn.
Damian kembali mengangkat kepalanya. "Dan satu lagi."
Evelyn menatap atasannya.
"Hari ini adalah kerja sama terbesar Foster Group tahun ini." Nada suara Damian terdengar lebih serius dari biasanya. "Aku tidak ingin terjadi kesalahan sekecil apa pun."
DEG. Jantung Evelyn kembali berdegup kencang. Kalimat itu seolah berubah menjadi beban yang menghimpit dadanya.
Ia menggenggam map di tangannya semakin erat. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan," jawabnya lirih.
Damian mengangguk tipis.
"Ayo."
Keduanya pun berjalan keluar menuju ruang rapat. Haris telah lebih dulu berdiri di depan pintu bersama beberapa staf lainnya. Tak lama kemudian, rombongan tamu dari Singapura tiba dan saling berjabat tangan dengan Damian.
"Selamat datang di Foster Group," ucap Damian sambil menjabat tangan pria paruh baya yang menjadi pimpinan rombongan.
"Terima kasih atas sambutannya, Tuan Damian," balas pria itu ramah.
Mereka kemudian memasuki ruang rapat. Evelyn berdiri di samping Damian seperti biasa. Dengan cekatan ia membagikan dokumen kepada seluruh peserta rapat, menyalakan layar presentasi, lalu mencatat setiap poin penting yang dibahas.
Selama hampir satu jam, pembahasan berlangsung lancar.
Hingga akhirnya salah satu ponsel peserta rapat bergetar. Pria dari perusahaan Singapura itu melirik layar ponselnya sekilas. Ekspresinya yang semula tenang perlahan berubah.
Ia meminta izin sejenak, lalu keluar menerima panggilan.
Damian mengernyit tipis. Entah mengapa perasaannya mendadak menjadi tidak tenang.
Pria itu baru kembali sekitar dua menit kemudian. Namun kali ini, raut wajahnya jauh berbeda. Ia menoleh kepada rekan-rekannya, seolah meminta pendapat, sebelum akhirnya kembali duduk.
Damian menangkap perubahan itu.
"Apa ada masalah?" tanyanya tenang.
Pria tersebut tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Tidak ada yang serius, Tuan Damian. Hanya ada sedikit informasi yang baru kami terima dari kantor pusat."
Damian mengangguk pelan, meski nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan," ucapnya.
Rapat kembali berjalan. Evelyn tetap berdiri di samping Damian sambil mencatat seluruh pembahasan. Namun sesungguhnya, pikirannya sama sekali tidak fokus.
Dadanya terasa semakin sesak. Ia tahu, cepat atau lambat, masalah itu akan segera datang.
Beberapa menit kemudian, pembahasan akhirnya sampai pada tahap penandatanganan kerja sama.
Damian mendorong map kontrak ke arah pimpinan perusahaan Singapura. "Kalau tidak ada lagi yang ingin didiskusikan, kita bisa langsung menandatangani kerja sama ini," ucap Damian mantap.
Pria itu tidak segera menyentuh map tersebut. Ia justru saling berpandangan dengan beberapa rekannya.
Suasana ruang rapat mendadak menjadi hening.
Damian mengernyit tipis. "Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?" tanyanya.
Pria itu menarik napas panjang. "Sebelumnya kami ingin meminta maaf, Tuan Damian."
Permintaan maaf itu membuat seluruh isi ruangan terdiam.
"Apa maksud Anda?" tanya Damian dengan nada yang mulai dingin.
"Kami baru saja menerima penawaran baru dari perusahaan lain."
Alis Damian langsung bertaut. "Perusahaan lain?"
Pria itu mengangguk pelan. "Nilai investasi yang mereka tawarkan lebih menguntungkan bagi kami."
DEG. Jantung Evelyn seolah berhenti berdetak. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang kini memenuhi wajahnya.
Sementara itu, Damian masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Perusahaan mana?" tanyanya tajam.
Pria tersebut terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan jujur.
"Harley Group."
Seketika suasana ruang rapat berubah menjadi tegang. Tatapan Damian perlahan mengeras. Rahangnya mengatup kuat.
Ia sangat mengenal Harley Group. Mereka adalah pesaing terbesar Foster Group.
Namun yang membuatnya merasa janggal bukanlah nama perusahaan itu. Melainkan penawaran yang diajukan Harley Group hampir mustahil disusun dalam waktu sesingkat itu.
Seolah-olah mereka telah mengetahui isi penawaran Foster Group sejak awal.
Damian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun sorot matanya perlahan menyapu seluruh ruangan.
Berhenti sesaat pada Haris. Lalu berpindah kepada Evelyn yang masih berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.
Hanya sesaat. Kemudian Damian kembali mengalihkan pandangannya.
Belum ada bukti. Dan Damian bukan tipe pria yang akan menuduh seseorang tanpa alasan.
Sejak menjabat sebagai Direktur Utama Foster Group, baru kali ini ia merasakan firasat bahwa ada seseorang di dalam perusahaannya yang telah membocorkan rahasia terbesar mereka.
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya