Lima tahun yang lalu, Alex dipaksa untuk mengorbankan diri demi keluarganya. Lima tahun yang lalu, pemuda dengan masa depan gemilang itu dijebloskan ke penjara oleh keluarganya sendiri. Tunangan dan orang-orang terdekat berpaling darinya dan melabelinya sebagai aib dari keluarga Wealthy, keluarga terkaya dan paling berpengaruh di dunia.
Namun mereka yang berpaling tidak mengetahui rencana Alex untuk membalas mereka. Dengan sistem dalam kendalinya, ia akan menjadi sosok tiada tanding yang akan menuntut balas kepada mereka semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaze Riku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah memastikan Dino mendapat perawatan segera dari rumah sakit, Liam segera bergegas pulang karena mendapatkan panggilan dari ayahnya.
Di ruangan kerja ayahnya, Liam mendapati dirinya duduk di sofa ruang kerja ayahnya dan tidak dapat menahan diri untuk tidak bernostalgia tentang masa kanak-kanaknya.
Baron yang setia mengikuti Paul membacakan sebuah laporan, "Tuan muda Dino telah dilarikan ke dokter spesialis ortopedi terbaik di dunia, namun hasilnya tetap tidak terlalu cerah. Sepertinya tidak ada kemungkinan untuk lutut tuan muda kembali seperti semula."
"Anak itu akan berakhir pincang huh ?" Paul bergumam pelan tanpa emosi menatap pada laporan di tangannya, "Saya tak menyangka Alex memiliki kemampuan sebaik ini."
Liam meringis karena tak sedikitpun menemukan adanya simpati atau kepedulian pada nada bicara ayahnya saat berbicara tentang masa depan putranya yang telah terganggu sekarang.
"Ayah ... ini masalah serius," ujar Liam lemah.
"Lanjutkan laporannya," instruksi Paul mengabaikan protes dari putranya itu.
"40 personil keamanannya dilumpuhkan Alex dengan keadaan kedua kaki dan lengan mereka patah sehingga tak memungkinkan mereka untuk melanjutkan karir mereka dalam pekerjaan keamanan seperti ini lagi. Untuk 40 orang ini, keluarga Wealthy terpaksa memberikan kompensasi yang cukup besar untuk menanggung kehidupan mereka yang telah kehilangan masa depannya," jelas Baron sama sekali tak memberi muka pada Liam.
Paul bersiul takjub ketika membaca laporan tentang Roger yang mengalami koma dan tak dapat menahan diri untuk berkomentar, "Roger tak salah lagi adalah salah satu personil terbaik kita, namun di hadapan Alex, orang ini bukanlah apa-apa."
Setelah mendengar laporan ini secara keseluruhan, Paul mengeluh kepada Liam, "Bagaimana kamu mengatur putramu ini? Bayangkan jika kamu bisa membuat Dino bekerjasama dengan Alex, bukankah saya bisa pensiun dengan tenang sekarang ?"
Liam hanya menundukkan kepalanya dan tak berani menatap mata ayahnya. Ia tak memiliki jawaban untuk keluhan ini.
Paul mendengus melihat Liam yang terdiam seribu bahasa dan meninggalkan topik keluhannya. Ia bertanya,
"Bagaimana pengaturanmu untuk Alex ?"
Liam segera menjawab dengan kesal, "Saya hanya melanjutkan apa yang telah Dino rencanakan. Hasil persidangan besok pasti akan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada anak itu."
"Kamu ini masih terlalu emosional," desah Paul dengan penuh penyesalan.
"Emosional ? Anak kurang ajar dan tak tahu diri ini membuat putra saya cacat! Dia adalah cucu anda, bagaimana bisa anda berkata seperti itu ?" Liam yang sejak datang tadi tak bisa menahan emosinya lagi. Dalam sudut pandangnya, Liam sudah menyerah untuk mendapatkan kasih sayang atau kepedulian dari Paul, namun ia masih berharap Paul memiliki rasa ini kepada Dino. Kasus ini tidaklah langka, kebanyak seorang pria tidak dapat berprilaku baik kepada anaknya, namun ketika mereka menjadi kakek, perbuatan mereka kepada cucunya akan sangat jauh lebih baik dibandingkan kepada anaknya.
"Bukankah Alex juga cucu saya ?" tanya retoris Paul tanpa emosi.
Liam hanya terdiam dan protes dalam hati, 'Untuk anak ini anda hanya mengenalnya kurang dari setahun, apakah bisa anda membandingkan perlakuan anak ini dengan Dino yang telah anda kenal selama 27 tahun?!'
Paul yang dapat mengetahui apa yang Liam proteskan dalam hatinya menghela nafas panjang dan dengan nada tanpa emosi memutuskan, "Saya memutuskan untuk menangguhkan sementara statusmu sebagai penerus saya. Melihat keadaan keluarga sekarang, saya tidak memiliki kepercayaan diri dengan kemampuan anda untuk memimpin keluarga sekarang."
Liam terpaku mendengar keputusan ini. Sebelum sempat protes, Paul mengangkat tangannya dan menjelaskan, "Sejak kasus terjadi, kamu menempatkan putramu yang berada dibelakang semua skenario ini di atas segalanya sehingga membuat keluarga kita menderita kerugian yang besar, baik itu di bidang sosial maupun ekonomi."
Paul menjeda sebentar dan memberikan instruksi ke Baron untuk menyalakan televisi.
Berita tentang penangkapan Alex telah tersebar luar hingga ke luar negeri. Selain itu, tim public relation keluarga Weallthy yang seharusnya mengendalikan arus informasi tentang Alex pun tak bisa membendung ketika para peretas handal dan para rival bisnis keluarga Wealthy menggunakan kesempatan ini untuk menghubungkan tindakan Alex dengan keluarga Wealthy. Walaupun hasil yang terburuk dapat dicegah, namun tetap saja reputasi dan nama baik keluarga Wealthy tercoreng.
Liam yang tentunya telah mendengar bagaimana saham-saham perusahaan mereka anjlok ke titik terbawah bersamaan setelah berita ini tentu mengerti mengapa ayahnya sama sekali tak menyinggung tentang kerugian finansial ini. Hal ini karena bagi keluarga besar seperti keluarga Wealthy, kerugian finansial bukanlah masalah yang besar. Mereka memiliki kendali dalam pasar mereka sehingga kerugian ini dapat segera ditanggulangi, namun kerusakan citra dan nama baik adalah sesuatu yang sulit diperbaiki.
Sebelum Liam sempat memberikan pembelaan diri, tayangan di telivisi yang seketika berubah menjadi berita terkini menarik permintaan mereka.
"Kami membawa berita terbaru tentang tersangka penembakan massal Universitas Kota Metro, Alex Pratama. Ada kabar bahwa tersangka mengalami kecelakaan saat dalam proses pemindahan dari penjara kota ke penjara negara. Tembakan dari pihak yang tak dikenal tepat menyasar jantung tersangka. Saat ini, kami masih menunggu konfirmasi dari pihak kepolisian tentang status terbaru Alex Pratama," lapor pembawa acara tersebut.
Paul dan Baron segera menatap kepada Liam yang mereka curigai sebagai otak dari perbuatan ini.
"Tidak, itu bukan saya! Mengapa saya harus melakukan ini setelah yakin bahwa anak ini akan dijatuhkan hukuman mati besok?!" bantah Liam yang segera mengerti arti tatapan Paul dan Baron.
Baron segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan beberapa panggilan. Tak butuh waktu lama hingga Baron mendapatkan informasi, "Pelakunya telah teridentifikasi sebagai seorang tentara veteran. Motif pelaku adalah korban dari salah satu 'penembakan' yang dilakukan Alex adalah cucunya. Pelaku ini dengan sukarela menyerahkan dirinya kepada kepolisian."
"Bagaimana dengan kondisi Alex ?" tanya Paul.
"Terkonfirmasi tewas ditempat"
Liam menahan diri untuk menyahut gembira mendengar berita ini. Baginya ini berita terbaik hari ini. Ia sama sekali tak menyangka jebakan dari putranya sangatlah ampuh hingga dapat membunuh Alex secara langsung. Sekarang, mereka tak perlu bersusah payah lagi! Mengenai status pewarisnya yang ditangguhkan, Liam hanya memiliki sedikit kekhawatiran. Lagipula di generasinya sekarang sama sekali tak ada yang menyetarai bakat dan kompetensinya sehingga hanya menunggu waktu hingga Paul mengembalikan statusnya.
Paul hanya menatap kosong pada layar televisi dan mengeluh dalam hati, 'satu lagi bakat dalam keluarga yang terbuang sia-sia!'
Sementara itu, di pangkalan militer kota Metro, Gwen dan Rudi yang telah bertemu hanya menatap diam pada 'mayat' Alex yang telah sampai di pangkalan tersebut. Untuk bisa mengatur agar mayat tersebut diantarkan ke sini, Rudi yang sebelumnya merupakan kepala panti asuhan tempat Alex berasal mengaku sebagai satu-satunya wali untuk mengurus pemakaman. Namun, tentu saja ia sama sekali tak berniat untuk melakukan pemakaman.
"Efek obatnya seharusnya menghilang 5 menit yang lalu, mengapa orang ini masih belum bangun?" tanya Gwen khawatir.
Situasi yang terjadi sebenarnya adalah tentara veteran yang menembak Alex dengan motif membalas dendam merupakan bawahan dari Rudi. Ia tidak menembak Alex dengan peluru sesungguhnya, namun peluru yang telah didesain untuk menyemprotkan obat khusus untuk menonaktifkan fungsi organ tubuh selama 3 jam cukup untuk membuat semua peralatan medis memutuskan kematiannya.
Rudi yang sama sekali tak menunjukkan reaksi pada wajahnya hanya mengetuk-ngetuk kakinya dengan tak sabar. Tepat ketika ia akan memanggil tim risetnya untuk memeriksa apakah ada kesalahan dengan peluru yang ditembakkan kepada Alex, pemuda itu terbatuk dan membuka matanya.
Saat matanya menatap Rudi untuk pertama kalinya selama 11 bulan ini, tubuhnya segera rileks dan mengeluh, "Anda benar-benar mengambil waktu untuk menjemput saya!"
"Hmm, semua butuh persiapan bocah. Bagaimana dengan permintaan pertama saya?" tanya Rudi tak sabaran.
Alex memeriksa tubuhnya dan sedikit panik ketika melihat kalungnya tidak berada di tubuhnya.
Gwen yang menyadari Alex mencari sesuatu di lehernya dengan ragu mengulurkan kalung dengan cincin yang menjadi liontinnya, "Apakah anda mencari ini ?"
Alex yang melihat Gwen memegang kalungnya segera menerima kalung tersebut dan mengucapkan terima kasih.
Di hadapan kedua orang tersebut, ia mengeluarkan cincin tersebut dari rantai kalungnya dan menunjukkan kalung tersebut memiliki port USB, "Semua datanya ada di sini. Kecerdasan buatan saya telah mengaturnya semuanya."
Rudi segera mengambil cincin tersebut dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Alex dan Gwen.
Gwen segera memperkenalkan dirinya, "Nama saya Gwen, putri dari George, saya sangat berterima kasih atas apa yang anda lakukan untuk ayah dan saya!"
Alex sedikit terpaku ketika mendengar Gwen adalah putri George. Ia mengingat lagi tampang George yang sangar, tubuhnya yang gempal dan kerutan di wajahnya. Hal ini sangat kontras dengan Gwen yang memiliki paras wajah yang cantik dan mulus. Rambut hitam panjangnya lurus menyentuh hingga bahu dan tubuhnya sangat ramping tak menunjukkan adanya kelebihan lemak. Bagaimana bisa gadis secantik ini adalah putri dari George ?
"Apakah George mengadopsi anda ?" tanya Alex penasaran.
Gwen segera tertawa mendengar pertanyaan ini. Sepertinya pertanyaan ini tidak datang pertama kalinya.
Sebelum keduanya dapat berbincang lebih lama lagi, Rudi kembali dengan beberapa tentara dan menatap Alex, "Jika kau sudah cukup kuat untuk menggoda seorang gadis, maka kau sudah siap dengan pelatihanmu ?"
Alex menyipitkan matanya mendengar instruksi dan sama sekali mengabaikan raut wajah Gwen yang bermasalah.
Rudi yang melihat tatapan Alex memberikan senyuman keji, "Bersiaplah untuk neraka bocah!"
jelaskan yg penting2 saja jangan sampai panjang2 jadinya percakapannya kuranh