Bagaimana rasanya apabila kita bisa melihat kejadian masa lalu dan kejadian masa depan juga selalu di hantui mahluk halus yang menjadikan dirinya alat untuk balas dendam
Tiara Wulandari seorang siswa SMA mengalami keanehan pada dirinya setelah gadis itu selamat dari aksi pembunuhan yang hampir merenggut nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ⸙ᵍᵏTℹ️Tℹ️🅰️N B⃟c♏ENT🅰️RI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN 20
Tiara dan Dimas memandangi kotak kecil itu, Tiara menceritakan apa yang di lihatnya di bayangan itu kepada Dimas, pria itu mendengarkan sambil memikirkan siapa yang tega membunuh kedua orangtua Tiara.
"Jangan terlalu di pikirkan Tiara! Pelan-pelan kita cari tau tragedi yang menimpah dirimu, istirahat ya aku pamit pulang dulu" kata Dimas kepada Tiara.
Dimas pamit kepada pak Bowo dan istrinya sepanjang perjalanan Dimas mencerna cerita Tiara, Dimas tiba di rumahnya namun pria itu langsung jalan menuju kekamarnya tanpa menyapa papanya yang sedang duduk diruang tengah.
Dr Cahyo merasa heran dengan anaknya karena Dimas selalu menyapa dirinya jika bertatap muka, Cahyo memanggil putrannya namun Dimas diam saja seakan tidak mendengar ucapan papanya membuat Cahyo mengikuti anaknya sampai kekamarnya.
Pikiran Dimas masih bercabang memikirkan masalah Tiara, Dimas masuk kekamarnya tanpa menutup pintu dan langsung duduk di meja kerja sambil memandang kalung milik Tiara yang sempat di fotonya tadi.dengan handphonenya.
Dimas mengamati gambar itu dengan serius tanpa menyadari sang papa yang juga mengamati gambar itu, Cahyo memperhatikan kalung itu seakan pernah melihatnya namun pria itu lupa dimana dan melihat putranya serius membuat Cahyo akhirnya bertanya.
"Kalung siapa itu Dim? Papa seperti mengenalnya!" kata Cahyo.
"Astaga papa... bikin kaget aja kapan papa masuknya?" kata Dimas kaget mendengar suara sang papa yang tiba-tiba ada di belakangnya itu.
Cahyo ketawa melihat anaknya kaget dan hampir menjatuhkan handphonenya itu, bukannya menjawab Cahyo kembali bertanya siapa pemilik kalung itu karena dirinya penasaran.
Dimas menceritakan apa yang tadi di ceritakan Tiara juga menunjukan gambar kalung itu, Cahyo memperbesar gambar itu menyakinkan apa benar kalung itu milik seseorang yang dia kenal apa bukan.
Saat melihat ukiran kecil di kalung itu Cahyo yakin kalau kalung itu milik sahabatnya Prayoga.
"Kalung ini milik sahabat papa namanya Prayoga Sebastian, waktu itu dia mengajak papa untuk membeli perhiasan ini untuk melamar kekasihnya Lastri." kata Cahyo sambil membayangkan kenangan bersama Prayoga.
"Lalu bagaimana kabar om Prayoga pa?" tanya Dimas.
"Setelah menikah Prayoga tinggal di kota B dan meneruskan perusahaan papanya sedangkan aku melanjutkan sekolah kedokteran ku" jawab Cahyo.
"Berarti om Prayoga seorang pengusaha ya pa? Coba aku lihat sosial media apa namanya cukup terkenal apa tidak" kata Dimas dan langsung membuka laptopnya mencari tau identitas Prayoga Sebastian dan langsung keluar semua data tentang pria itu.
Dimas membaca profil pengusaha sukses di usia muda itu, dan ada sebuah berita menyatakan jika pengusaha itu meninggal karena bunuh diri menembakkan kepalanya sendiri dan juga istrinya yang ikutan meninggal di sebelahnya.
Berita itu menuliskan bahwa pria itu bertengkar dengan istrinya bahkan istrinya di pukulnya hingga meninggal karena pendarahan hebat dan banyak luka memar lalu bunuh diri karena menyesal sudah membunuh istrinya.
Dimas mengambil sebagian data pria itu juga alamatnya, bahkan semua foto-fotonya bersama keluarganya. Dimas merasa ragu dengan pemberitaan itu karena menurut bayangan yang di lihat Tiara pria itu di bunuh seseorang namun di lihat pemberitaannya pria itu bunuh diri.
"Terimakasih pah! Dengan alamat rumah ini sudah cukup mengetahui kebenarannya nanti perlahan peristiwa itu akan terungkap kembali, karena sudah malam waktunya kita istirahat!" kata Dimas dan mengingatkan papanya untuk istirahat.
"Iya nak, semoga peristiwa itu terungkap" jawab Cahyo dan langsung kembali kekamarnya.
Di dalam kamar Cahyo membuka album foto lama saat dia bersama sahabatnya, pria itu sangat terkejut dengan pemberitaan itu yang mengabarkan sahabatnya kini sudah meninggal dengan cara yang sadis.
"Kamu orang baik yoga, kenapa kisahmu tragis seperti ini?" ucap pria itu sambil mengusap wajah sahabatnya itu.
Cahyo yakin Prayoga tidak mungkin berbuat kasar apalagi kepada Lastri istrinya, yoga sangat mencintai Lastri bahkan perjalanan cintanya Cahyo ada di samping sahabatnya itu hingga pesta pernikahannya.
Karena lelah seharian di rumah sakit akhirnya Cahyo menutup album itu dan meletakan kembali di tempat semula lalu pergi tidur,
Keesokan harinya Dimas bersiap-siap ingin menjemput Tiara dan mengantarnya ke kampusnya, saat Dimas akan berangkat Cahyo memanggil putrannya itu dan memberikan sebuah surat dari sahabatnya itu yang sempet dia terima beberapa tahun lalu.
"Apa ini pah?" kata Dimas heran.
"Itu surat terakhir yang papa dapat dari yoga, mungkin Tiara bisa melihat bayangan setelah menyentuh surat itu" jawab Cahyo.
"Terimakasih pah, semoga kasus kali ini bisa kita lewati karena pasti akan sangat rumit karena berhubungan dengan orang-orang berduit dan biasanya kebal hukum" kata Dimas dan langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Tiara.
Sesampai di rumah Tiara Dimas melihat gadis itu duduk termenung di sebuah kursi kayu, siang ini Tiara Engan berangkat ke kampus karena pikirannya lagi galau semenjak gadis itu tau berita kejadian yang menimpah keluarganya.
"Kamu kenapa melamun Tiara? Pasti belum mandi ya soalnya belum ganti baju" kata Dimas menghampiri Tiara.
"Kakak tau aja, aku lagi malas ke kampus ka aku belum bisa menemukan bayangan baru tentang keluargaku" jawab gadis itu.
Tiara merasa kesal jika dia ingin melihat bayangan tentang keluarganya seutuhnya namun bayangan itu tidak datang namun ketika masalah orang lain dia selalu di hantui bayangan-bayangan kejadian orang lain kadang Tiara ingin membuang kemampuannya itu karena selalu merasa terganggu dengan mahluk halus.
Dimas mengeluarkan surat pemberian papanya itu, Tiara merasa heran kenapa Dimas memberinya sepucuk surat sedangkan mereka saat ini sedang bertatap muka.
"Itu surat terakhir yang diberikan papamu kepada papaku Tiara!" jawab Dimas menjelaskan seakan tau kalau gadis di hadapannya ini seakan meminta penjelasan Dimas tentang surat itu.
"Om Cahyo kenal sama papa?" tanyanya penasaran.
"Iya mereka sahabat akrab selagi masih kuliah" jawab Dimas.
Tiara hanya menjawab dengan anggukan kepala saja tanpa banyak bertanya kepada Dimas, gadis itu langsung membuat amplop berwarna coklat itu.
Saat Tiara ingin membaca surat itu tiba2 dirinya melihat bayangan dua orang yang sedang bertengkar di sebuah perkantoran, di dalam bayangan itu Tiara melihat papanya sedang memarahi seorang pria namun pria itu tidak suka di marahi akhirnya mereka bertengkar.
Sang pria di seret keluar oleh security kantor tersebut, Tiara tersadar saat bayangan itu pergi dia menatap Dimas penuh tanda tanya dan menceritakan apa yang di lihatnya.
Lalu Dimas juga memberikan sebuah penggalan berita yang sempat dia ambil di sosial media semalam kepada Tiara, gadis itu membaca berita itu sambil menangis karena isi berita itu hanya sebuah rekayasa bukan cerita sebenarnya karena pada kenyataan papa dan mamanya di bunuh.
"Ka aku ingin membalas kematian orang tuaku" kata Tiara tegas.