NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Pagi ini, janur kuning Anis dan Abdi melambai indah dan mengejekku dengan congkak. Pengucapan janji suci pernikahan di antara keduanya pun telah selesai digelar berbalut sorak. Gegap-gempita sanak saudara semakin memenuhi telingaku bersamaan dengan tercetusnya kata 'SAH' dari semua saksi yang terdengar serentak.

Ya, Lord!

Gugur sudah harapanku. Gugur sudah kesempatan itu. Hari ini sudah mutlak bahwa Anis tak bisa lagi bersamaku.

Oh, takdir!

Setelah ini, kemanakah engkau akan membawaku?

Sore harinya dilanjutkan dengan acara resepsi. Aku ... dengan segenap kekuatan hati, mengusahakan hadir ditemani oleh Didi. Mau bagaimanapun aku tak mungkin bisa lari dari kenyataan pahit ini. Barangkali bisa menjadi sejarah hidup yang mungkin akan aku kisahkan kepada anak-anakku nanti.

Apa?

Anak-anak?

Anak dengan siapa?

Haha!

Aku mulai lagi ...!

Setelah bersalaman dengan kedua mempelai itu, mereka mengajakku berfoto bersama. Ditemani oleh Didi dan mamanya Anis, kupaksakan diri untuk tetap memainkan drama. Drama sok kuat yang sudah pasti membuat hatiku terbakar bara.

Itulah kali pertamanya aku berkomunikasi dengan Abdi. Walaupun hanya sekedar mengucapkan kalimat, "Selamat, semoga pernikahan kalian diberkahi."

Abdi tersenyum lebar, lalu merespon, "Terima kasih." Ia menoleh sekilas ke arah Anis, mungkin ingin bertanya kepada istrinya itu, siapakah aku sebenarnya?

Apa?

Istri?

Oh, ya, sepertinya aku kembali lupa bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan halal, mulai hari ini. Membayangkan apa yang akan terjadi pada Anis malam ini, membuatku begitu frustrasi.

Aku tak rela!

Sungguh, aku tak rela hati. Tetapi, mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah sah menjadi suami-istri. Jadi, tentu saja mereka berhak melakukan apa pun tanpa perlu izin dariku lagi.

Oh, tidak!

Aku sontak menuruni pelaminan, lalu bergegas menuju panggung mini di pojok kiri. Kuminta salah satu penyanyinya untuk melantunkan sebuah lagu yang mewakili isi hati. Lagu yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi yang bernama Ridho, yang merupakan putra dari Bang Haji.

Ketika musik mulai mengalun, aku sengaja melintas di depan pelaminan. Sesuai harapanku, sepertinya pandangan Anis sedang mengekoriku dan mengerti akan tembang yang sedang dinyanyikan.

🎶🎶🎶

HARUSKAH BERAKHIR

Putik yang sedang berbunga

Harum yang sedang mewangi

Haruskah gugur ke bumi?

Hati yang sedang bahagia

Cinta yang sedang bersemi

Haruskah berakhir kini?

Baru saja kureguk, manis madu cinta

Kini harus kutelan, pahitnya juada

Oh-oh

Kalau harus berpisah mengapa berjumpa?

Awal bahagia berakhir merana

Bukan karena salahmu

Bukan karena salahku

Tetapi kita tiada berdaya

Putik yang sedang berbunga

Harum yang sedang mewangi

Haruskah gugur ke bumi?

Hati yang sedang bahagia

Cinta yang sedang bersemi

Haruskah berakhir kini?

Baru saja kureguk, manis madu cinta

Kini harus kutelan, pahitnya juada

🎶🎶🎶

Bersamaan dengan terkonyaknya hatiku, bait demi bait syair lagu itu juga terasa menghujam sanubari. Terlihat kuat di luar belum tentu kuat juga di dalam sini. Aku masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja, walaupun sebenarnya aku tak tahan lagi.

***

Berkumpul dengan teman-teman di lahan parkiran membuatku lebih baik dari sebelumnya.

Kalian tahu apa yang membuatku lebih baik?

Ya, minuman keras!

Tanpa berpikir lagi, kutenggak sebotol air haram itu hingga tandas. Didi yang datang terlambat, sudah tak bisa lagi menghalangiku, yang saat ini dalam mode tertindas. Tertindas oleh perasaan dan harapanku sendiri yang tak kunjung berbalas.

Dimana letaknya iman?

Sekali lagi, aku telah berbuat dosa!

Satu jam kemudian, acara resepsi pernikahan Anis dan Abdi pun selesai. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh tidak jauh dari posisiku saat ini. Didi yang penasaran dan mendengar suara yang tidak asing lagi, lalu menghampiri mereka yang tampak sudah dikerumuni.

Dan ternyata, keributan itu terjadi antara Melly dan Dini. Entah apa penyebabnya, dua kerabat Anis itu, malah tampak beradu mulut dan salingg tuding, mencari pembenaran diri. Tak ada yang ingin mengalah di sini. Hingga akhirnya Didi membawa Dini menjauh dari Melly. Sementara aku membawa Melly untuk tetap berada di sisi. Jika dibiarkan begitu saja, aku khawatir keduanya akan cekcok kembali.

***

Dalam balut emosi, Dini memandang ke arah Melly dengan tatapan geram. Entah apa yang membuat gadis itu sebegitu marahnya kepada Melly?

"Sebenarnya ada apa, sih?" Aku ... dengan pandangan yang sudah tak fokus lagi, mencoba untuk mengorek informasi. Mana tahu dengan sedikit kalimat pancingan dariku, Melly mau membuka diri.

PeDe sekali aku!

Melly tampak menghela napasnya dengan kasar seraya memejamkan kedua mata. Kobaran api amarah begitu kentara pada setiap inci dari wajah bulatnya. Bisa kupahami, saat ini ia hanya berusaha untuk tenang, karena aku berada di sampingnya.

"Bukan masalah serius, kok, Kak." Dia mencoba menutupi kebenarannya.

Aku mengernyit, tidak terima begitu saja dengan jawabannya. "Kalo gak serius gak mungkin sampe ribut begitu, jadi tontonan para tamu lagi," cibirku seolah sedang menyindir kebohongannya.

"Emmm ... cuma gara-gara motor, kok." Ia kembali bersuara. Sepertinya sentilanku tadi, kena pas di hatinya.

Aku bernapas lega. Mencoba menemukan kebohongan di kedua netranya, namun tidak ada. Ia sudah mengatakan yang sebenarnya.

Berhubung di sana memang ada sebuah motor yang tergeletak di tanah, jadi aku bisa meyakini bahwa ia tidak sedang berpolah.

Setelah sukses menenangkan Melly, aku mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk. Namun, aku masih bisa menyetir dengan baik dalam balutan sabuk. Sesampainya di kediaman kedua orang tuanya, aku langsung pamit dan Melly pun mengangguk.

Malam ini aku akan kemana?

Aku pun tak tahu!

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di samping sungai, dengan hamparan bintang-gemintang di langit malam kota kelahiranku ini. Aku merasa sudah tak punya kekuatan lagi, untuk kembali ke kediaman wanita yang selalu menjadi pujaan hati.

Mengenai bagaimana malam pertama Anis dan Abdi? Aku sudah tak mempermasalahkan hal itu lagi. Aku hanya ingin fokus saat ini. Fokus akan diriku sendiri.

***

Satu minggu setelah hari kiamat lokal itu, aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku dan membantu mengurus pendaftaran sekolah adiknya Melly. Untung saja ... aku menyetujui hal ini. Jika tidak, mungkin aku sudah tenggelam di dalam luka hati.

Sepulangnya dari kantor, aku sengaja mengajak Melly untuk ikut denganku. Berhubung ada beberapa dokumen Suci yang harus segera diserahkan kepada pihak yang membantuku.

Ya, aku sengaja menggunakan jasa orang lain dalam ini. Secara ... aku sangat sibuk dengan pekerjaan, jadi tidak memungkinkan untuk menguruskannya sendiri.

Di saat aku sedang berbicara dengan kedua orang tua Melly, tiba-tiba ponselku bergetar menandakan notifikasi sebuah pesan baru di aplikasi hijauku.

Anis!

Jantungku berpacu kencang ketika membaca nama kontak yang tertera di jendela atas. Tak kusangka ia kembali menghubungiku setelah satu minggu menghilang bak ditelan binatang buas.

Kutarik notifikasi tersebut, lalu membukanya dengan perlahan. Aku tersentak membaca isi pesan itu, lalu menelan saliva kemudian. Ada apakah gerangan? Kenapa ia menuduhku demikian?

^^^Kalo kamu melakukan semua ini cuma pingin bikin aku cemburu, kamu berhasil!^^^

Anis ... rangkaian kalimatnya benar-benar menampar telak relung kalbuku. Apa maksudnya dengan semua itu? Apakah ia benar-benar cemburu? Tetapi ... apa penyebabnya, kalau aku boleh tahu?

Dengan mencoba lebih tenang, kubalas pesannya pada menit kemudian.

Maksudmu apa, Yang?

Aku udah ngelakuin apa?

Kucoba untuk membuatnya lebih terbuka. Jujur, tidak ada petunjuk yang bisa kujadikan sumber untuk menguak kebenarannya. Kesalahpahaman ini terlalu tiba-tiba. Apakah aku sudah melakukan sebuah dosa?

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!